
"Gadis baik.. tak peduli seberapa kotor dirimu, tapi saat ini kau telah menjadi istriku, istri seorang Maxilian Jade Lunox. Kau bukan lagi seorang gelandangan. Jadi angkat kepalamu karena harga dirimu dan derajatmu terangkat berkat nama keluarga Lunox.
Julia tertawa miris dengan kenyataan ini. Pria ini adalah pria yang baru saja dia temui di bar. Pria yang menurutnya kejam dan tidak punya perasaan. Pria ini seakan membuat sangkar untuk memasung hidupnya. Dia yakin akan sangat berat untuknya mengambil langkah ke depannya. Apakah dia akan diam saja diperlakukan seperti ini? Apakah dia akan diam saja seperti kehidupan dulu? Sebagai Julia atau Angel, sama-sama memiliki kisah hidup yang sama. Dikhianati, ditikam dari belakang dan disingkirkan, sampai akhirnya kejadian tragis mereka alami bersama.
Tidak! dia tidak boleh membiarkan ini terjadi. Dia harus berjuang lebih keras lagi untuk lepas dari jerat neraka pria ini. Mencoba tenang, dia menarik nafas perlahan dan menenangkan gemetar tubuhnya. Tangannya terangkat untuk mengancingkan kemeja rawatnya satu persatu. "Aku tak ingin menjadi istrimu." ujarnya kemudian. Dia menyeret tatapan matanya yang tenang dengan menatap kembali tatapan Maxilian yang menghujam. "Aku tak akan pernah mau menikahi seorang pria sepertimu!"
"Kau berani? Kau benar-benar punya nyali?" tanya Maxilian lirih.
Tangan Julia sampai pada kancing bajunya bagian atas. Dia menurunkan tangannya dan menatap Maxilian dengan tenang. Perlahan tangannya terulur dan menyentuh leher Maxilian, turun perlahan dan sebuah dada bidang dengan otot-otot perut yang menonjol menyambut matanya. Dia tersenyum licik dengan jari-jari yang menyentuh otot perut-otot perut pria ini.
"Kau benar, aku menikmatinya. sangat menikmati setiap sentuhanmu. Lalu apakah kau lupa? Siapa yang paling menginginkan diriku?"
Julia melangkah mengitari tubuh Maxilian dengan tangan yang memeluk pinggang Maxilian. "Tuan Lunox, kau memelukku, menggigit bibirku saat aku menolakmu, dan menciumku dengan ganas. Menelanjangi tubuh bagian atasku lalu mengambil alih atas tubuhku."
Maxilian terdiam saat suara pelan namun jelas itu terucap dari bibir Julia. Dia melirik jemari Julia yang menyentuh otot-otot tubuhnya, sehingga tubuhnya kembali menegang. Dia melihat wanita yang baru saja dibuatnya ketakutan sekarang sangat tenang menghadapi semua ancamannya. Bahkan saat ini dia bicara dengan tenang bahkan tersenyum seperti memiliki sejuta rencana. Membuatnya makin waspada dan hanya terpaku saat tangan mungil itu memeluknya.
"Apakah kita perlu mengulang kembali agar semuanya jelas?" Tanya Julia dengan senyum tipis. Dia saat ini telah berdiri tepat di hadapan Maxilian. Dengan sengaja, dia melingkarkan kedua tangannya dengan manja. Perlahan dia jatuhkan kepalanya dalam dada bidang Maxilian. Matanya terpejam dengan kutukan yang terus terucap dalam hati.
Kau gila Julia! Kau benar-benar gila! Kau lakukan ini sengaja untuk menantang serigala lapar untuk kembali memangsamu. Apa kau waras? ujar Julia dalam hati, namun tetap memperlihatkan ketenangan.
"Jadi tuan Lunox, aku tak merayumu. Tidak, sama sekali tidak! Jadi bagaimana kau bisa kau membandingkan diriku dengan para wanita murahan di sekelilingmu? Bukankah kau yang terlihat tertarik padaku?"
Tiba-tiba Julia menarik kembali tangannya dan melepaskan pelukannya. Dia menatap Maxilian yang diam tak membalas ucapannya. Ketenangan dan ketakutan dia sembunyikan sekuat tenaganya. Dia adalah Angel Zhao, seorang artis besar, tidak menjadi masalah baginya untuk sedikit bermain karakter dengan pria ini. Dia harus main cantik untuk dapat melepaskan diri dari cengkeraman pria kejam ini.
"Bukankah itu dirimu?" sambungnya lirih namun dengan nada jelas. "Bukankah sikapmu tadi tidak jauh beda dengan sikap serigala liar di luaran sana? Tidak ada bedanya dengan pria breng**k lainnya yang tak menghargai wanita."
"Kau!" tegur Maxilian tak terima. Dia tak menyangka bahwa gadis di depannya ini berusaha membalikkan keadaan. Kini dia terlihat seperti pria penggoda yang seakan haus akan sentuhan wanita. Memikirkan itu membuatnya makin geram dengan wajah yang gelap.
Tapi Julia hanya tersenyum tipis. Dia tak mempedulikan ekspresi Maxilian yang mulai garang. "Kenapa? Bukankah aku benar? Kau merayuku tuan Maxilian."
"Mulutmu!" Tekan Maxilian mulai kembali mendekat. "Kau benar- benar berani melawanku?"
"Itu," sanggah Julia cepat. Dia menarik dirinya kebelakang agar memiliki jarak dengan pria ini. "Pernikahan itu, aku ingin membatalkannya."
Maxilian terdiam, bibirnya tertarik tipis. Menatap wajah cantik di hadapannya yang terlihat tenang. Dia akui wanita ini adalah satu-satunya wanita yang berani melawannya. Dan apa tadi, membatalkan pernikahan? Wanita itu pasti bermimpi!
__ADS_1
"Memohonlah." potoong Maxilian. Tangannya bergerak mengancingkan kemejanya lalu merapikan jasnya. Dia perlahan mundur dan kembali duduk. Menarik penanya, lalu segera menggoreskan tinta di atas surat pernikahan yang tergeletak di atas meja. Kini sudah selesai.
"Kau! Apa yang kau lakukan?" Tanya Julia dengan gusar. "Pria tampan," rayunya dengan lembut. "Dengarkan aku, kau bisa menikahi atau memiliki wanita mana pun, tapi tidak denganku."
"Maxilian mengerutkan keningnya berusaha mencerna kata-kata Julia yang menimbulkan pertanyaan."Kenapa? Kenapa tidak bisa denganmu?"
"Itu karena kau tak cocok untukku,"
Karena kau tak cocok untukku!
Karena kau tak cocok untukku!
Hati Maxilian kian dingin mendengar kata-kata itu terus menerus. Dia menatap Julia lekat. Seorang Maxilian yang terkenal dengan ketampanannya, kekayaannya, tak cocok dengan gadis seperti Julia? Apakah otaknya sudah terbalik?
"Katakan sekali lagi."
Julia naik lagi ke atas tempat tidur rawatnya dan bersandar. Melirik Maxilian dan menyadari bahwa semua tak akan berjalan sesuai keinginanya. Tapi dia tak akan menyerah. "Karena kau tak cocok untukku."
"Siapa?" tanya Maxilian dingin, tatapannya jatuh untuk mendalami maksud Julia.
"Jadi siapa yang cocok untukmu"
"Itu,,"
"Akan kupastikan kau melihat kepala mereka di hadapanmu. Mereka yang berani mencoba mencocokkan dengan dirimu."
"Kau bre****k\, bukankah kau sangat keterlaluan?"
Maxilian terlihat tak tertarik saat mendengar perlawanan Julia. Dia hanya menatap Julia sesaat lalu pada pintu yang tertutup. "Berbaringlah,. dokter akan datang."
"Ta--
"Sejak kau menyetujui pernikahan ini, maka jangan pernah kau bermimpi untuk membatalkannya."
"Bagaimana dengan kontrak yang sudah kita bicarakan sebelumnya? Tanya Julia cepat. Dia ingin segera melepaskan diri dari pria ini.
__ADS_1
"Kontrak?" ulang Maxilian untuk mengingatnya. "Oh, aku lupa tentang itu."
"Tapi Tomas mengatakan kau juga menginginkan kontrak itu. Kau--"
"Kita diskusikan lain waktu."
"Kau--"
"Julia,"
Kata-kata Julia tertahan saat ketukan pintu dan teriakan dari luar terdengar. Dia menatap pintu lalu berbaring patuh. Beberapa menit berlalu dan Maxilian tak berniat untuk membukakan pintu, hingga suara ketukan pintu kembali terdengar.
"Tuan."
"Kau bisa masuk." jawab Maxilian datar. Dia duduk santai dan melirik kursi rodanya. Sepertinya rencananya gagal karena wanita yang baru saja menjadi istrinya. Kursi roda itu, rasanya tidak perlu lagi dia pakai untuk mengelabui kakek neneknya.
Pintu itu langsung terbuka dan Sely adalah orang pertama yang menatap ke dalam ruangan. Dia menatap Julia yang terbaring lesu lalu pada kursi roda yang tak jauh dari ranjang inapnya. Selanjutnya, tatapannya jatuh pada pria tampan yang tengah duduk dengan acuh di sebuah kursi. Pria itu tampak dingin dan sama sekali tak tertarik pada sekelilingnya.
"Ayoyo, cucu menantuku." Mery menyela dan mendorong Sely agar menyingkir dari jalannya. Dia langsung masuk diikuti Lucas, Tomas dan terakhir Sely yang terlihat tak nyaman berada di antara orang asing yang baru saja ia temui.
Namun semua langkah terhenti saat melihat kursi roda kosong lalu Maxilian yang tengah duduk di kursi lain.
"Tuan, ini.."
"Lian,,apa yang terjadi?" tanya Mery tak mengerti. Dia langsung mendekati Maxilian dan memeriksa kaki cucu kesayangannya. "Kau baik-baik saja? Kau--"
"Apakah kalian bodoh?" potong Lucas dingin. Dia dekati Maxilian dan langsung memukul kepala Maxilian berkali-kali. "Anak nakal ini sudah membohongi kita! Beraninya kau!"
Maxilian langsung menutupi kepalanya secara refleks. "Ah kakek, hentikan! hentikan!"
Mery mengerutkan keningnya mencoba mengingat sesuatu saat melihat kursi roda. Seketika dia mengerti semua, saat suaminya memukuli kepala cucunya. Mery tak mencoba membelanya.
"Kau! dasar nakal!" amuk Mery kemudian. "Beraninya kau membohongi kakek nenekmu. Jadi selama ini kau membohongi semua orang! Kau tidak pernah lumpuh kan?"
Julia yang melihat Maxilian terus dipukuli hanya tersenyum tipis. Dia menahan tawanya saat menyadari bahwa pria kejam yang dianggapnya serigala lapar kini terlihat seperti anak kecil yang mencari perlindungan. Wajah sangar yang baru saja ia lihat kini berubah sangat menggemaskan dengan mencebikkan bibirnya berkali-kali. Kini dia tahu harus seperti apa untuk bisa bertahan hidup bersama pria sepertinya. Karena dia tak berniat untuk selamanya berada dalam genggaman pria ini.
__ADS_1