
"Apa kau gila!" Tanya Julia sambil berusaha melepaskan diri. Dia menyingkirkan tangan Jordan dari pundaknya. "Apakah Janet tahu bahwa kau seperti ini? Apakah Janet tahu kau memiliki hubungan gelap dengan Sely?"
Jordan tersentak. Dia mundur perlahan dengan tatapan heran. "Ju-Julia, darimana kau tahu tentang itu semua?"
Julia bernafas lega saat tangan Jordan lepas dari pundaknya. Dia mundur pelan dengan penuh waspada tapi terkejut dengan tubuhnya yang membentur sesuatu di belakangnya. Menoleh, dia kembali tertegun saat melihat wajah tampan dengan bola mata biru yang tengah menangkap tubuhnya agar tak terjatuh. Rambut rapi sedikit pirang, dengan balutan jas hitam yang makin membuat wibawanya terpancar.
"Jason,"
"Apa kau baik-baik saja? Apa baj*****an ini menyakitimu?" Tanya Jason dingin. Matanya jatuh pada perban di kening Julia.
"Lepaskan tanganmu dari tubuhnya!" Sentak Jordan emosi. Dia memukul wajah Jason dengan sekali hantaman.
Tangan Jason sontak menggeser tubuh Julia untuk menjauh darinya. Membuat tubuh gadis itu oleng dan lagi-lagi sebuah tangan asing menangkap tubuhnya. Dia terbelalak saat Jason membalas pukulan dari Jordan tanpa ampun. Perkelahian mereka membuat keributan hingga pihak keamanan dari rumah sakit datang untuk memisahkan.
"Kau baj****an tak tahu malu!"Tegur Jason dengan sedikit senyuman mengejek.
"Jangan ikut campur!" Balas Jordan tak kalah sengit. Dia menatap Julia yang matanya jatuh menatap Jason. Tertawa kecil, entah kenapa tatapan Julia itu membuat hatinya kian panas. "Oh, apakah itu dia?"
Julia menoleh. "Tutup mulutmu!"
"Katakan padaku, apakah itu dia? Apakah pria ini yang menyentuhmu?"
Jason mengerutkan keningnya tak mengerti. Tapi pada saat melihat tatapan mata Julia yang begitu dingin dan tak peduli, dia cukup tertegun.
"Jordan," panggil Julia tanpa minat. "Apa lagi yang kau inginkan dariku? Semua sudah ku berikan padamu, perlukah kau mengusikku lagi?"
"Tidak," Jawab Jordan tanpa pikir panjang. "Itu dirimu, dirimu yang belum kudapatkan!"
Bukkk! satu hantaman dari tangan Jason kembali melayang ke wajah Jordan. "Aku sangat jijik melihatmu! Bagaimana ada pria sepertimu? Kau membuatku cukup malu menganggapmu seorang pria."
__ADS_1
"Kau.."
"Hentikan!" Lerai Julia berteriak. Dia menatap Jordan dan Jason bergantian. Keadaan ini, dia tak pernah memikirkan sebelumnya. Dia bahkan lupa ada seseorang yang lain, yang memperhatikan kejadian ini dari sudut lain.
"Julia, kau tak bisa seperti ini padaku! Katakan padaku, apakah pria ini yang sudah menyentuhmu?" Tanya Jordan sekali lagi.
Jason mengerutkan keningnya sekali lagi. Nafasnya memburu dengan dada naik turun. Dia melihat Julia yang menggeleng dan saat angin menerpa rambut Julia, matanya jatuh pada tanda merah di leher Julia. Seketika tubuhnya menegang, seperti akan ada banjir bandang di depan matanya yang akan menghanyutkan dirinya. Dia tidak bodoh, dia tahu tanda apa itu. Namun dia tak menyangka melihat tanda itu di leher Julia, tanda kepemilikan yang terlihat jelas dan sangat banyak. Tubuhnya makin menegang, pikirannya melayang tentang hal yang sudah Julia lakukan.
"Gadis ini," ujarnya dalam hati. "Jason..selamat, kau benar-benar bodoh dengan mengkhawatirkan gadis ini."
Jason menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana dia berlari seperti orang bodoh saat mendengar Julia kecelakaan. Dia tak dapat tidur nyenyak selama beberapa hari ini, karena terlalu memikirkan gadis ini. Mencari bahkan mendatangi Jordan berkali-kali hanya untuk mencari keberadaan Julia. Tapi pada saat tahu ada bekas sentuhan pria lain di leher Julia, hatinya mendingin dan rasa jijik menghampirinya. Kenapa dia bisa lupa segala sikap Julia yang terlihat murahan di matanya.
"jadi seperti ini?" Tanya Jason tiba-tiba. "Julia, apa kau menjual tubuhmu?" Tanyanya dingin.
"Jadi bukan kau yang menyentuhnya?" Timpa Jordan menimpali pertanyaan Jason. Dia menatap Julia yang terlihat tenang. "Wah, apa ini? Julia, apa itu benar? Kau jual diri? Pria mana yang membelimu? Beri tahu aku."
"Kenapa?" Tanya Julia dingin. Ini untuk kedua kalinya dia merasa seluruh harga dirinya hancur. Pria ini, dan Maxilian sama-sama berpikir buruk tentangnya. Kenapa? Kenapa orang selalu menghakimi sesuatu tanpa pembuktian terlebih dahulu.
Plakk! tangan Julia melayang cepat dan singgah di pipi Jordan. Kedua matanya berlinang air mata, dengan mengeratkan giginya gemas. "Jordan, kau benar-benar menunjukkan dirimu yang seperti binatang."
"Kau!"
"Dengar," ucap Julia dingin. "Apakah itu ada hubungannya denganmu? Jika aku menjual tubuhku, apakah kau bisa membeliku? Pria ini memberikan segalanya untukku."
Dan perasaan Jason makin jatuh saat mendengar ucapan Julia. Gadis ini tak menyangkalnya dan tak menjawab. Tapi pernyataan dari Julia tersebut membuat hatinya makin dingin. Benar-benar murahan!
"Siapa dia!" Teriak Jordan kalap.
"Nona, tuan telah menunggu di mobil."
__ADS_1
Semua orang menoleh saat suara asing memecah suasana. Julia menoleh kebelakang dan baru sadar bahwa sosok yang telah menangkapnya adalah Tomas. Menghapus air matanya yang jatuh, dia menoleh menatap Jason dan Jordan sekali lagi. Kemudian menatap Tomas dan melangkah.
"Kita pergi."
"Julia!" Tahan Jordan cepat. "Kau tak bisa seperti ini padaku!" Kejarnya menarik tangan Julia kasar. Sedangkan Jason hanya diam melihat semuanya dengan tangan terkepal erat.
Tomas dengan sigap menangkap tangan Jordan dan menekannya. "Tuan, kau bisa menyakiti nona mudaku. Tuan mudaku, tak akan senang."
Jordan menoleh dan menatap Tomas dengan mata berapi-api."Oh jadi tuan mudamu? Di mana dia? Aku akan,--"
"Tomas, kita pergi." sentak Julia hingga tangannya terlepas. Dia berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Dia tak berniat memberikan penjelasan apapun atau sekedar menatap Jordan dan Jason.
Tomas melepaskan tekanan tangannya dan tersenyum melihat Jordan yang terlihat sangat marah. Dia menepuk pundak Jordan pelan beberapa kali dengan senyum tipis. "Tuan, biarkan aku memberikan peringatan padamu. Tuan mudaku, bukanlah orang yang bisa kau sentuh. Dan mulai saat ini, perhatikan sikapmu pada nona mudaku, atau kau akan menyesal."
Jordan menendang kakinya pada udara kosong dan lantai beberapa kali. Dia tak pernah merasa semarah ini sebelumnya. Tatapan matanya terus mengikuti punggung gadis itu yang mulai menjauh dan memasuki sebuah mobil mewah tanpa menoleh sedikitpun padanya. Julia, sejak kapan gadis itu tak mempedulikan kata-katanya? Sejak kapan gadis itu memandang jijik padanya? Dimana Julia yang dulu? Julia yang lugu dan polos. Entah kenapa hal itu membuatnya sangat marah.
Tatapan Jason menepi saat melihat Tomas memperlakukan Julia dengan begitu istimewa. Pria ini, bukankah pria ini yang melamar Julia untuk tuan mudanya saat berada di perusahaan? Dia ingat bahwa pria itu adalah wakil dari pemegang saham terbesar di perusahaan Brasco. Jika Julia pergi dengannya, apakah itu artinya Julia menerima lamaran tuan muda pria tersebut. Apakah itu artinya laki-laki itu yang memberikan tanda kepemilikan di tubuh Julia?
Tanda merah itu?
Jason mengeratkan katupan giginya tanpa sadar. Dia mendengus dan mengabaikan Jordan dan pergi dari halaman rumah sakit begitu saja. Mobil mewah itu, dia harus tahu, kemana Julia pergi dan tinggal.
Perjalanan itu terasa panjang saat Julia hanya duduk diam di samping Maxilian. Dia menatap jalanan melalui jendela kaca dan sama sekali tak berniat mengusik ketenangan serigala di sampingnya. Tapi nyatanya semua tak sesuai yang diharapkan, sejak pertanyaan dingin itu terlontar dari bibir tipis sempurna di sampingnya
"Jadi, apa mereka berdua termasuk klienmu?"
Julia menoleh. Ini lagi! Teriaknya dalam hati. Kenapa pria ini selalu mengucapkan kata-kata tak jelas seperti tadi? Kata-kata yang selalu merendahkan harga dirinya. Tapi saat ini, dia sangat lelah. Dia tak berniat menjelaskan apa pun mengenai hidupnya kepada orang lain. Apalagi pada seorang pria paling menjengkelkan yang pernah ia temui di dunia ini. Sangat tidak penting, sehingga dia hanya melirik sekilas Maxilian tanpa minat.
"Apakah kau baru tahu? Jika kau menyesal, kau bisa membatalkan pernikahan kita. Aku akan sangat senang menyetujuinya."
__ADS_1
"kau masih berpikir untuk pergi dari genggamanku? julia, sekali pun kau berlari ke ujung dunia mana pun, aku akan tetap membelenggumu sebagai istriku."