
Saat tiba di parkiran mobil, Julia masuk ke dalamnya. Namun Julia tidak menemukan siapa pun di sana. Dia menatap Jeni sembari menuntut penjelasan.
"Nona, maaf saya melakukan itu karena tuan muda memerintahkan langsung. Para sepupu tuan muda sangat berbahaya."
"Aku tahu. Kau tak perlu khawatir, aku akan waspada dan bisa jaga diri." Julia paham dengan tugas Jeni yang berusaha untuk menjaganya.
Jeni bernafas lega, kemudian tidak lama ia menjalankan mobilnya untuk membawa Julia pergi. Namun di tengah jalan, Maxilian menghubunginya untuk membawa Julia ke perusahaan. Karena awal tujuan mereka adalah tempat perawatan, namun pada akhirnya di sinilah mereka berada sekarang. Di perusahaan keluarga Brasco bersama Tomas.
"Nona, maaf telah mengganggu waktu bersenang-senang anda. Namun ada sedikit masalah di sini, ini terkait dengan rapat pemegang saham."
Julia mengangguk paham namun kemudian bertanya, "Tapi aku tak memiliki saham di sini."
"Tapi tuan muda memilikinya." jawab Tomas.
Julia tersadar dan kemudian tersenyum. Benar, kenapa dia bisa lupa poin ini? "Maksudnya, kini aku harus menggantikannya pada rapat pemegang saham?"
Tomas mengangguk tak nyaman. "Ini, karena tuan muda sangat sibuk hari ini. Jadi--"
"Tomas, aku istrinya." Sela Julia dengan tenang. "Aku tak harus bekerja dan aku hanya harus berada di rumah untuk merawat diri dan anak-anaknya kelak. Apa itu kau? Kau yang merencakan aku untuk mewakilinya bukan?"
Mendengar tebakan Julia itu, Tomas langsung berlutut. "Nona, nona, aku salah. Aku tak memiliki pilihan lain. Ini tak mungkin karena seluruh pemegang saham ingin tuan datang."
Julia sama sekali tak bergerak dan menatap acuh pada Tomas yang sedang berlutut meminta maaf.
Dia menyilangkan kedua tangannya di dadda dengan wajah datar. "Kau benar-benar berani memerintah nona mudamu bekerja? Bagaimana tanggapan nenek dan kakek saat mereka tahu kalau--"
"Nona, nona, saya salah, kumohon jangan lakukan. Jangan beritahu tuan dan nyonya besar." Potong Tomas kian berlutut. Ini akan berdampak buruk pada karirnya. Ia yakin tuan dan nyonya besar tidak sungkan untuk memecatnya bila menyinggung nona mudanya. Nona muda sudah memegang kendali atas restu keluarga. Bila nona mudanya ingin, maka dia benar-benar selesai.
"Nona , tolong jangan laporkan kesalahanku pada tuan dan nyonya besar."
Julia berpikir sesaat dan tiba-tiba senyum tipisnya sedikit tersungging. Dia menyalakan ponselnya dan membiarkan Tomas berlutut di lantai. Saat telepon itu tersambung, nada ketus langsung Julia lontarkan.
__ADS_1
"Kau menyuruhku bekerja?"
Di seberang sana Maxilian terdiam sesaat. "Kau hanya perlu datang dan diam.""
"Maxilian, aku istrimu! bukan karyawanmu. Aku tak peduli pada seluruh urusan sahammu atau perusahaanmu."
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Karena sudah seperti ini, maka biarkan aku bekerja untukmu."
"Apa?" tanya Maxilian tak percaya dengan ocehan di seberang sana.
"Kau tahu bukan, pernikahan kita hanya tiga bulan. Aku tak ingin setelah bercerai darimu hidupku menjadi menyedihkan. Aku butuh uangku sendiri untuk hidup nyaman. Jadi karena kau memintaku untuk hadir menggantikanmu, kenapa kau tak mempekerjakan aku?"
"Julia apa kau sadar dengan semua kata-katamu?"
Julia mengangguk meski Maxilian tak bisa melihatnya. "Aku akan datang menggantikan setiap pertemuan penting yang tak bisa kau tinggalkan. Aku tak akan membuat masalah, dan aku akan membuat sahammu naik beberapa persen.
"Lupakan." tukas Maxilian tak setuju dan ingin menutup teleponnya. Tapi suara Julia menyusul cepat.
Maxilian tertahan dan kembali menempelkan benda persegi panjang itu ke telinganya.
"Sepupumu yang bernama Caren, datang menemuiku tepat satu jam lalu."
"Apa yang ia katakan."
Julia tertawa saat melihat Maxilian tertarik. "Maxilian, keluargamu, aku tahu posisimu sangat sulit, bukan? Biarkan aku menangani sebagian masalahmu, sebagai gantinya kau harus mempekerjakan aku dan sebagai bonus kau harus melindungi keselamatanku."
Maxilian diam tak menjawab. Membuat Julia kembali melanjutkan.
"Tomas masih berlutut di depanku. Di halaman perusahaan ayahku. Oh bukankah itu juga menjadi ayah mertuamu? Maxilian kau menantu yang buruk."
__ADS_1
"Julia," tekan Maxilian tak suka. Gadis licik ini, tak menyangka bahwa saat ini dia bisa di tekan hanya karena satu nama sepupunya. Sepertinya ia terlalu meremehkan Julia.
"Jika kau tak setuju, maka aku akan melanjutkan acara bersenang-senang, atau menghabiskan waktu bersama kakek dan nenek di perkebunan jauh lebih baik dari pada melihat tumpukan kertas yang membosankan."
Dengan ******* berat, akhirnya Maxilian mengalah. "Kau dapatkan apa yang kamu mau. Kau puas?"
Mata Julia terbelalak. Dia memainkan kukunya dengan jarinya sendiri dan tersenyum. "Gajiku, aku ingin--"
"Kau bisa meminta pada Tomas sebanyak yang kau mau." potong Maxilian kesal lalu menutup teleponnya.
Julia berjingkrak senang tanpa sadar tepat setelah telepon itu tertutup. Dia melihat Tomas yang masih berlutut. "Tomas bangunlah, dia telah menyetujui."
Tomas dengan sigap bangun dan merapikan bajunya. Dia mengikuti Julia yang mulai masuk ke dalam perusahaan. "Nona, saya tak mengerti apa yang anda katakan."
"Maxilian, dia setuju untuk mempekerjakan aku. Dia berkata aku bisa meminta gaji sebanyak yang kumau padamu."
Tomas terkejut. Mereka berdua memasuki lift hingga pintu lift itu tertutup. Melihat Tomas yang diam Julia kembali menjelaskan.
"Pernikahan ini, aku yakin kau tahu bahwa ini hanyalah kontrak. Aku hanya tak ingin menjadi gelandangan setelah berpisah darinya."
"Nona, tuan tak akan membiarkan hal itu terjadi."
Julia mengangguk. "Aku tak ingin bergantung pada tangannya. Aku ingin pergi dan hidup dengan uangku sendiri. Tomas, bukankah kau punya impian?"
Tomas mengangguk dan hanya melihat Julia yang menatap lurus ke depan dengan tatapan luka yang dalam.
"Impianku, itu sangat sederhana. Hanya saja itu sedikit sulit. Maka dari itu, aku harus berdiri di atas kakiku sendiri."
Tomas tak mengerti tapi saat pintu lift itu terbuka dia melihat tatapan Julia yang kembali tenang. Sangat tenang dan dingin. Seperti tatapan luka yang pernah dia lihat sebelumnya tak pernah ada.
Ruangan rapat pemegang saham itu telah tertutup rapat. Tepat saat akan dimulai, Tomas membuka pintu lebar-lebar membuat semua mata yang berada dalam ruangan itu menoleh ingin tahu. Dia menyingkir, membiarkan Julia melangkah dengan tenang dan ia mengikuti di belakang. Menarik kursi untuk Julia, dan membukakan beberapa lembar dokumen di depan Julia yang langsung Julia pelajari tanpa mempedulikan tatapan aneh dari setiap orang.
__ADS_1
Janet, Jordan, dan Hendri beserta beberapa orang lainnya yang merupakan pemegang saham juga anggota penting sangat terkejut saat melihat kedatangan Julia. Tapi saat melihat Tomas yang patuh melayani Julia. mereka semua tak berani angkat bicara. Hanya Janet yang langsung menggelap dan bersuara.
"Kau ******! Apa yang kau lakukan di perusahaanku!"