
"Apakah paman juga mengirimu hari ini? Ini masih sangat pagi."
Jason terbatuk pelan dan melihat arloji di pergelangan tangannya. Dia mengangguk tanpa ragu. "Ayah menyuruhku untuk menemanimu dalam rapat perusahaan pagi ini."
"Ayah sedang tak enak badan, jadi dia mengalihkan semua urusan tentang keluargamu padaku. Jadi bisa dibilang bahwa saat ini aku adalah pengacara sah keluarga Brasco."
Julia menganggukan kepalanya. "Aku tak tahu bahwa ada rapat pagi ini."
"Benarkah? Bukankah harusnya ada orang yang memberitahumu? Ini tentang rapat para pemegang saham, dan kau memiliki sebagian di salamnya."
Julia terdiam tak menanggapi. Itu bukanlah hal baru baginya. Sudah sangat jelas di ingatan pemilik tubuh ini kalau dia selalu ditinggalkan dalam rapat apapun. Tapi dia masih tak menyangka bahwa tak ada yang memberitahukannya tentang rapat sepenting ini. 'Ya, ini pasti karena Janet.' ungkap Julia dalam hati.
Bukankah sudah sangat jelas mereka semua mengira nona muda keluarga Brasco adalah Janet. Pemilik dari seluruh saham yang dia miliki. Dan kali ini, pasti Janet akan kembali melakukan hal yang sama. Janet, selalu menggantikannya pada rapat penting dan rapat besar keluarga atas. Mengingat hal itu, Julia mengeratkan genggaman tangannya tanpa sadar.
Janet, apakah selalu menyenangkan untuk menjadi diriku? Apakah kau sangat senang saat semua orang mengenalmu sebagai diriku? Bukankah sudah sangat lama kau bermain-main sebagai diriku? Saat ini aku tak bisa membiarkanmu lebih jauh.
Ingatan tentang Janet yang menggantikannya dalam beberapa acara terbayang. Saat itu dia berpikir bahwa semua akan sangat merepotkan, Jadi dia membiarkan Janet mengambil alih tugasnya. Tapi dia tak menyangka bahwa semua telah direncanakan Janet. Dan dia tak akan membiarkan itu terus terjadi. Dia tak akan membiarkannya terus ditindas. Kali ini dia akan membalikkan semua fakta.
Julia menatap Jason sesaat dan berkata pelan, "Aku akan mengganti pakaianku. Kau bisa pergi lebih dulu."
__ADS_1
Belum sempat Jason menjawab. Julia telah berlalu. Menyisakan bibir Jason yang terbuka dan kembali terkatup rapat. Dia tak menyangka bahwa dalam waktu dekat dia bisa melihat banyak emosi di diri Julia. Meski gadis ini telah menyuruhnya pergi, tapi kali ini dia tak berminat sama sekali. Jadi dia memilih duduk di ruang tengah sambil menikmati segelas teh hangat dari seorang pelayan yang baru saja datang.
Beberapa menit berlalu, dia menoleh saat melihat Julia turun dari lantai atas dengan balutan pakaian kerja berwarna hitam yang rapi. Rambut gadis tersebut di ikat tinggi menampilkan leher yang ramping dan putih. Dia memperhatikan sedikit lagi, dan cukup terkejut saat melihat wajah cantik tanpa ada bekas merah yang tertinggal di pipi.
"Lukamu." ujar jason ragu.
Julia meraba pipinya tanpa sadar. "Itu baik-baik saja, aku menyamarkannya dengan foundation."
Jason hanya menunjukkan sedikit ekspresi di wajahnya, sebelum akhirnya berlalu begitu saja. Tanpa banyak bicara, Julia mengikuti di belakangnya dan akhirnya mereka berpisah di mobil masing-masing. Menyusuri jalanan, hingga akhirnya mereka sampai di Brasco World Group.
Gedung tinggi pencakar langit dengan lima puluh lantai itu tampak menjulang. Perusahaan ini bahkan awalnya hanya bergerak dalam bidang properti dan sejenisnya, namun akhir-akhir ini mulai melebarkan sayap menuju technology global, hingga sampai merintis ke entertainment. Hanya saja, semua jelas tak berjalan lancar hingga perusahaan besar ini sama sekali tak berkembang.
"Aku pengacara pewaris sah keluarga Brasco, Jason William,": ungkap Jason dengan menunjukkan sebuah kartu nama yang dia serahkan langsung pada orang tersebut.
Anggota keamanan itu menatap Jason sesaat lalu pada Julia yang tampak tenang di belakang tubuh Jason. Melihat tatapan pria tersebut, Jason langsung melanjutkan kata-katanya, "Dia adalah pewaris sah perusahaan ini."
Tak menunggu jawaban orang tersebut, Jason telah melangkah dengan menarik tangan Julia sedikit. Mereka berdua mulai memasuki lantai satu dan Jason mengatur semuanya. Julia hanya perlu berdiri menunggu sesaat dan saat Jason kembali, seorang pegawai wanita dengan pakaian receptionis datang dan menundukkan kepalanya dalam-salam.
"Salam nona muda, maaf atas ketidaknyamanan karena bawahan ini sama sekali tak tahu bahwa nona muda akan datang."
__ADS_1
Melihat sikap patuh itu Julia tersenyum hangat. Dia melirik Jason sesaat dan kembali pada wanita yang masih menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Tak perlu begitu sopan, tunjukkan padaku ruangan rapat hari ini."
Wanita tersebut mengangguk sekali lagi dan menegakkan kepalanya. Memandang Julia sesaat dan tersenyum. "Sebelah sini nona muda. Saya akan mengantar nona menuju ruangan rapat," tunjuknya pada sebuah jalan menuju lift khusus untuk para pemegang saham.
Sementara itu di ruangan rapat, wajah-wajah penting telah terlihat dan duduk dengan tenang di sana. Salah satu di antara mereka adalah Tomas juga terlihat duduk di sana. Dia terlihat mengobrol beberapa kata dengan orang di sampingnya namun matanya selalu tertuju pada wanita muda yang duduk di sebelah Hendri. Dia awalnya mengernyitkan kening saat menyadari bahwa gadis tersebut bukanlah Julia, di mana kursi yang di duduki wanita muda itu harusnya milik Julia Brasco, sang pewaris dari perusahaan keluarga Brasco. Yang membuatnya bingung dan tertawa tipis, sepertinya dia menyadari bahwa ada orang-orang yang terlihat buruk di sekiltar calon nona mudanya. Dan karena perintah tuan mudanya, maka dia harus mulai bergerak hari ini melalui rapat ini!
Saat ini seorang pemimpin tinggi dalam perusahaan Brasco telah membuka rapat pemegang saham secara resmi. Meja panjang berwarna putih dengan nuansa gelap karena lampu-lampu di matikan itu tampak sunyi. Hanya layar lebar di dekat dinding yang menyala dan memperjelaskan semua perjalanan tentang berdirinya perusahaan Brasco hingga hari ini. Janet adalah orang yang pertama kali berdiri dan tepuk tangan menyambut setelahnya. Wajahnya memerah dan dia menatap semua orang yang berada dalam ruangan itu meski tak menemukan Jordan. Dia menghirup nafas dalam, tersenyum lembut dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Saya sangat berterimakasih pada para pemegang saham lainnya, "Buka Janet sedikit gugup. Wajahnya tampak cerah meski hanya tersorot cahaya redup dari layar dinding. Dia terlihat sedikit emosional saat melanjutkan kata-katanya, "Sebagai pewaris keluarga Brasco, saya selalu menyadari kekurangan saya dalam memimpin hingga akhirnya saya menyerahkan kepemimpinan perusahaan pada paman saya, Hendri Brasco."
Mendengar namanya di sebut, Hendri berdiri menundukkan kepalanya sesaat. Dia tersenyum dengan sangat bermartabat lalu memegang pundak putrinya lembut. Dia kembali duduk saat melihat Janet sekilas lalu menganggukkan kepalanya. Matanya menyoroti putrinya, agar seluruh rencana yang mereka miliki harus selesai hari ini.
Janet menganggukkan kepalanya yakin dan kembali menatap setiap wajah yang masih menatapnya. "Kali ini saya mendengar bahwa beberapa saham lain telah jatuh pada pengusaha yang sangatlah bijak. Bahkan saham paman ikut terjual dan menjadi milik seorang di dalam ruangan ini. Saat ini, orang tersebut memiliki saham perusahaan Brasco sebesar tiga puluh delapan persen. Tapi, saya sendiri belum mengenal pemilik saham yang baru. Hingga saya bertanya-tanya, siapa di antara kalian semua yang berada di sini yang memegang saham terbanyak di perusahaan Brasco?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Tomas tersenyum dan berdiri pelan. Dia menundukkan kepalanya sesaat, saat sebuah lampu menyoroti wajahnya. Beberapa tampak terkejut saat menyadari bahwa telah melihat wajah orang asia di tengah rapat. Melihat keterkejutannya itu dia hanya tersenyum samar dan berujar, "Saya adalah Tomas Mahito. Sekretaris dari tuan muda yang telah membeli delapan puluh delapan persen saham keluarga Brasco. Saat ini tuan muda saya sangat sibuk, hingga mewakilkan rapat penting ini kepada saya. Salam untuk seluruh anggota penting dalam rapat pemegang saham kali ini, "Usai mengatakan hal tersebut, dia kembali duduk dengan tenang.
Janet tersenyum dan mengangguk. "Sungguh sebuah kejutan bahwa kini perusahaan Brasco memiliki orang asia yang mulai masuk dan memiliki saham. Saya sungguh berharap perusahaan ini akan berkembang pesat di kemudian hari. Dan untuk mendukung hal ini, saya menyerahkan tiga puluh persen saham yang saya miliki pada paman saya, Hendri Brasco untuk di kelola sebagaimana mestinya. Dengan arti lain,saat ini paman saya, Hendri Brasco memiliki akses penuh dalam kepemimpinan karena memiliki saham terbanyak dalam perusahaan ini, yaitu enam puluh dua persen. Karena sudah begitu, maka seluruh hal yang bersangkutan dengan perusahaan Brasco, saya sebagai pewaris utama tak memiliki hak dalam--"
"Hentikan!"
__ADS_1