
Jordan, pria itu adalah salah satu alasan pemilik tubuh ini mati mengenaskan. Dirinya sebagai Angel dan Julia yang memiliki nasib yang sama tak akan semudah itu menyerah. Dendam ini harus diselesaikan meski harus terlihat tunduk pada pria serigala ini. Tentang pernikahan kontrak yang dia inginkan, akan dia bicarakan lagi nanti. Saat ini yang terpenting adalah membuat semua orang yang menyakitinya akan menerima pembalasan yang setimpal.
Julia membalas pelukan Maxilian tiba-tiba. Matanya menatap Sely dan merasa ini adalah jalan yang harus dia lakukan. Dia akan memanfaatkan pria serigala ini untuk membalas semua yang telah dia alami. Dan pria ini adalah kandidat yang tepat dari semua pria tampan yang pernah ia temui. Dengan hanya wajah suaminya saat ini, dia bisa melihat amarah dari setiap wanita yang melihat posisinya sebagai istri dari pria tampan di sampingnya. Dan pria itu, adalah Maxilian Jade Lunox!
Maxilian melepaskan pelukannya dan menatap mata Julia datar. Dia menekan kata-katanya agar Julia tidak lagi membuat masalah baru. Dia tak akan melepaskan gadis ini dengan mudah. "Kau dengar, kakek dan nenek sedang menunggu kita pulang."
Julia manatap mata Maxilian lalu melirik pada Sely sesaat. Kepalanya mengangguk patuh. "Hmm, aku akan mendengarkanmu. Tapi," ujarnya menggantung. Matanya menatap Sely dengan senyum lebar. "Sayang, aku tak bisa meninggalkan temanku begitu saja di sini."
Hati Maxilian kian dingin saat melihat perubahan Julia. Julia berubah sangat lembut saat menatap Maxilian dan bicara dengannya. Gadis ini benar-benar pandai memainkan karakter. Saat merayunya di bar, kemarahannya di apartemen, lalu sikap licik yang baru saja dia lihat. Sayang? kata-kata yang menjijikkan itu terus terngiang. Bibirnya tanpa sadar bergerak sedikit. Dia berbalik dan menatap seorang gadis cantik lainnya. Tersenyum, tangannya merengkuh pinggang Julia rapat.
"Oh, dia benar-benar temanmu?"
Julia cukup terkejut saat tangan Maxilian kian erat merengkuhnya. Tapi saat mendengarkan nada bicara Maxilian, dia tahu harus bicara apa. "Hmm, bukankah aku sudah bercerita banyak hal padamu?" ujar Julia dengan manja, dua tangannya memeluk tubuh Maxilian kuat. Dia menjatuhkan kepalanya di atas dadda Maxilian dengan lembut.
"Kau tak ingin mengenalkannya denganku?" tanya Maxilian sedikit tak nyaman saat tangan Julia membalas rengkuhannya. Tangan Julia memeluk pinggang Maxilian dengan bibirnya yang tersenyum lebar dan wajah penuh persahabatan.
Selu terlihat bingung pada awalnya. Julia temannya itu baru saja memberontak dan berusaha keras menginginkan perceraian. Tapi kini kenapa mereka terlihat baik-baik saja? Ini sangat aneh, sehingga dia merasa ada sesuatu di balik semua ini. Dia harus mencari tahu tentang ini semua.
"Tentu," jawab Julia tiba-tiba sambil melepaskan tangannya.Dia menarik Sely yang terlihat kaku agar mendekat dengan Maxilian. "Sely, dia adalah suami yang pernah aku katakan padamu. Perkenalkan, suamiku."
__ADS_1
Sely terseret dan tertegun saat berada tepat di hadapan Maxilian. Dia sedikit mendongak untuk menatap wajah tampan Maxilian. Tersenyum manis dengan wajah malu-malu dan merona merah samar. Dia mengulurkan tangannya pelan. "Sely"
"Maxilian." Balas Maxilian membalas uluran tangan Sely.
Sely menahan nafasnya saat melihat wajah tampan di hadapannya dengan begitu nyata. Dia tak menyangka bahwa Julia dapat menikah dengan pria yang sangat tampan. Sebenarnya ada berapa banyak hal yang di rahasiakan Julia padanya? Semakin dia pikir, semakin dia ingin tahu.
Melihat keduanya saling berjabat tangan, Julia diam-diam menyelinap keluar dari ruangan. Langkahnya dengan cepat memburu untuk keluar dari rumah sakit. Rasanya, kali ini Sely bisa berguna untuknya. Sely benar-benar cantik dan anggun. Dengan wajah meronanya, pria manapun pasti akan terjerat oleh pesonanya. Dan dia pun yakin, bahwa Maxilian akan mengalami hal yang sama seperti pria lainnya.
Di halaman rumah sakit yang besar, Julia melangkah ringan. Kepalanya bahkan masih terbalut perban. Dia hanya menatap ke depan dan terhenti saat langkahnya di hadang. Dia mendongak. melihat wajah Jordan yang sejak kapan kini berada tepat di hadapannya. Pria ini, kenapa ada di sini? Setelah semua yang telah terjadi di antara mereka, masihkan pantas untuk mereka saling bertemu lagi?
"Julia,"
Julia terdiam, tatapan matanya dingin. Benar, rasa sakit di hatinya perlahan naik. Dia tak berniat berkata apa pun dan memilih menyingkir. Lalu kembali ke melangkah ke arah lain, namun tangannya tertarik ke belakang dengan genggaman lembut yang tak ia kenali.
Pertanyaan itu membuat hati Julia tertawa. Apakah Jordan peduli? Baru kali ini dia mempertanyakan keadaannya. Bukankah kematiannya jauh lebih baik untuk dirinya? Julia menarik tangannya dan menatap pria di sampingnya tanpa minat.
"Apakah keadaanku ini tidak sesuai ekspektasimu? Aku belum mati Jordan."
Jordan menghela nafas. "Julia, aku datang karena mendengar kau mengalami kecelakaan."
__ADS_1
"Oh, apakah itu Sely?" Tebak Julia pada intinya.
Jordan diam, dia melihat tubuh kurus di hadapannya. Jejak kelembutan terlihat di matanya. Gadis ini adalah calon istrinya. Di mana dia tak menyangka gadis lugu nan polos ini berubah dalam waktu semalam hanya karena sebuah kecelakaan. Bagaimaanpun dia telah menguasai seluruh harta warisan orangtua gadis ini, dan ingin membuatnya lebih menderita lagi. Namun saat dia melihat tak ada luka sedikit pun di hati calon istrinya ini, dia menjadi kecewa.
gadis ini benar-benar melepaskannya dengan mudah dan lapang dada. Dengan senyum dan kebanggaan yang tak terduga. Dan dengan bangga mengatakan bahwa seluruh harta yang kini menjadi miliknya, telah ia sumbangkan tanpa amarah sedikit pun. Tapi dia tak tahu kalau Janet masih tak puas dengan semua itu, dan masih berencana menghabisi Julia tanpa sisa.
"Julia,,aku--"
Julia menaikkan satu alisnya saat kata-kata Jordan berhenti."
"Siapa yang melakukan ini padamu?" Tanya Jordan dingin. Tangannya menyibakkan rambut Julia yang sedikit menjuntai menutupi sebagian wajahnya. Saat rambut panjang itu dia sibakkan, terlihat leher putih yang halus. Membuat seluruh nafasnya tertahan saat melihat jejak-jejak kepemilikan di sana. "Julia, siapa yang melakukan ini padamu? Kau--"
"Itu suamiku." Potong Julia cepat. Senyum miringnya terlihat penuh kemenangan. Dia menghempaskan tangan Jordan dari pundaknya dan kembali menarik rambutnya.
Jordan mendengus dan tertawa kecil. Dia memegang pundak Julia dan menghentakkan beberapa kali. "Suamimu? Jangan bercanda! Kau, darimana kau dapatkan jejak-jejak menjijikkan itu!"
Pertanyaan Jordan awalnya pelan dengan nada tak percaya, tapi semakin lama semakin keras dengan penuh tekanan emosi. Dia tak percaya jawaban Julia. Di mana dia tak pernah menyentuhnya sama sekali. Dan kali ini pria mana yang berani menyentuhnya? Sampai terlihat jelas bekas sentuhan pria itu di tubuh Julia. Tidak masuk akal.
"Kau, kau selalu menolak saat aku ingin menyentuhmu. Kau bahkan selalu tegas menolak saat aku ingin menciummu. Tapi tanda ini.. Julia, kau--"
__ADS_1
"Lepas!" potong Julia memberontak karena merasakan sakit akibat remasan tangan Jordan di pundaknya.
"Katakan padaku, pria mana yang melakukan ini padamu! Pria mana yang berani menyentuhmu!" ulang Jordan mulai kehilangan kendali. Dia bahkan lupa dengan kandasnya hubungan mereka berdua. Yang dia rasakan saat ini adalah rasa tidak terima saat melihat tanda kepemilikan pada leher Julia. Membuat seakan akan nyawanya ditarik paksa dari tubuhnya.