Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Hadiah Sang Suami


__ADS_3

Belum fit, besok up nya di banyakin kok. tenang aja.


****************


"Bagaimana dengan Aaron?"


"Dia saudara tiri maxilian. Aku tak jelas dengan masalah yang mereka miliki, yang kutahu hanya Maxilian begitu membencinya. Maxilian juga membuat hidupnya hancur. Mungkin saat ini Aaron sedang menderita dengan penyakit menular yang disebabkan oleh perintah Maxilian.


"Penyakit menular?"


"Ya, Maxilian memberikan perintah untuk mencarikan wanita pengidap penyakit HIV/AIDS untuk berhubungan intim dan membiarkan Aaron tertular."


"Lalu Lusi?"


"Maxilian hanya memulangkan dirinya ke cina. Hanya itu yang kutahu." jawab Jack santai. "Tunggu di sini, aku akan membelikanmu vitamin." ucap Jack berhenti di depan apotek.


Julia dengan patuh menunggu di dalam mobil. Kilatan matanya tampak dingin dan penuh dengan kekecewaan. "Jadi ini yang kau bilang akan membalaskan dendamku? Lian, kau sudah sangat mengecewakanku. Kupikir mereka sudah mati mengenaskan dan aku hidup bahagia. Tidak salah keputusanku untuk pergi. Karena aku sendiri yang akan mengambil alih. Nyawaku tidak boleh hilang dengan percuma."


"Lima belas menit kemudian Jack kembali dengan beberapa barang di tangannya. Ia mengetuk kaca mobil sebelah Julia, sedikit menunduk dan memberikan bungkusan. "Ganti pakaianmu dengan pakaian yang tertutup. Setelah ini aku akan mengantarmu."


Julia menurut dan mengganti pakaiannya. Mengenakan hoodie berukuran besar dan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Selesai, Jack kembali masuk ke mobil dan kembali melanjutkan perjalanan. Saat di bandara, Jack tak membiarkan Julia sendirian. Ia membelikan tiket kelas bisnis dan menemani Julia hingga waktu keberangkatan pesawat. Mereka berpelukan ringan sebelum akhirnya berpisah.


"Jack, terima kasih atas segalanya."


Jack mengangguk. "Senang bisa membantumu. Kau tak perlu khawatir dengan uang, kartu itu memiliki banyak di dalamnya, jadi jangan sungkan menggunakannya. Jaga dirimu dan anakmu baik-baik. Jangan biarkan maxilian dengan mudah menemukan kalian. Aku ingin sekali melihatnya gila karena kehilanganmu. Oh, aku sangat tidak sabar. Itu sangat menyenangkan bukan.."


Julia tertawa tipis. Dia berjalan dan melewati pemeriksaan sebelum akhirnya benar-benar pergi. Jack masih berdiri di tempat yang sama dan memastikan Julia sudah menghilang dari pandangannya.


"Ya, aku sangat menantikan Maxilian menggila. Melihatnya memohon padaku, adalah kado terindah dalam hidupku. Hahahaha!" Namun tawanya sirna saat melihat sekelilingnya. Tampak beberapa orang menatapnya dengan penuh tanda tanya, karena melihatnya tertawa sendiri. Kemudian dia mengembalikan ekspresinya ke semula.


**


Kota Linzhi, cina.


Julia berjalan dengan mengeratkan hoodie yang dipakainya. Berjalan dengan santai di tengah teriknya sinar matahari cina, tak membuatnya melepas hoodie dan masker yang membungkus tubuhnya walaupun keringat sudah mulai membanjiri tubuhnya. Dia berjalan santai meski merasakan beban yang amat berat di pundaknya. Balas dendam ini seperti beban hidup yang belum terselesaikan dalam hidupnya.


"halo cina.." ujarnya dengan senyum tipis. "Lusi, ayo lanjutkan permainan kita."


Saat ini ia tengah berjalan masuk ke dalam kantor pusat informasi cina. Berbekal pin keluarga Lunox, ia yakin dengan cepat dapat mendapatkan segala informasi yang sedikit rahasia.


Saat ini Julia berhadapan dengan salah satu petugas. Seorang pria sedikit tua yang nampak begitu penasaran menatapnya. Membuka hoodie dan maskernya, Julia mulai membalas tatapan pria itu.


"Nona, adakah yang bisa kami bantu?"

__ADS_1


"Aku ingin tahu sebuah informasi tentang keluarga Zhao."


Pria itu beralih memandang layar laptopnya setelah mendengar permintaan Julia. "Aku akan mencarinya sebentar, nona tunggu saja."


Hening. Lalu pria itu kembali menatap Julia dan berkata. "Beberapa bulan lalu seluruh harta Zhao beralih pada keponakannya yang bernama Lusi Zhao. Semua pengalihan berjalan tanpa hambatan karena ceo Aaron sendiri yang mengaturnya. Tuan Aaron adalah pemegang kuasa atas keluarga Zhao karena nona Angel Zhao sendiri yang memberinya kuasa sebelum dia meninggal."


Julia mengeratkan genggaman tangannya. Dia memaksakan bibirnya untuk berucap, "Apakah ada informasi lainnya?"


"Satu minggu ini, data tersebut berubah. Seluruh harta yang dimiliki keluarga Zhao telah berpindah tangan ke keluarga lain di Las Vgas."


Julia mengerutkan keningnya. "Las Vgas?"


Pria itu menghela nafasnya. "Hanya itu yang dapat kami sampaikan."


"Aku ingin lebih."


"Nona, informasi lainnya sangat rahasia. Anda harus memiliki akses untuk dapat mengetahuinya."


Tanpa ragu Julia mengeluarkan pin dari dalam tasnya lalu menyeretnya ke depan pria itu. "Apa ini cukup?"


Seketika matanya terbelalak atas apa yang dilihatnya. Sebuah pin berbentuk LX yang terbuat dari emas dan satu titik berlian di tengahnya. "Nona anggota keluarga Lunox? Oh, maaf saya tidak tahu. Apakah bisa nona sebutkan nama nona?"


"Julia Brasco."


Pria itu terhenti menatap laptopnya dan kembali menatap Julia hati-hati. Julia menggigit bibir bawahnya frustasi.


Pria itu beralih menatap laci di meja kerjanya. Membukanya dan mengambil beberapa barang. Menyerahnya dokumen dan beberapa kunci pada Julia. "Nona, kenapa tak mengatakan ini dari awal. Ini adalah beberapa dokumen aset, kunci rumah dan kunci mobil yang kami simpan."


Mengernyit heran. Tatapannya jatuh pada kunci itu. Ingatan masa lalu menghantam pikirannya. Kunci ini, adalah kunci rumahnya dan beberapa kunci apartemen miliknya.


Belum selesai keterkejutan Julia, matanya terbelalak saat ia membuka dokumen itu. Ini adalah surat-surat penting kepemilikan seluruh kekayaan keluarga Zhao yang dengan jelas nama Julia Brasco tertera sebagai pemilik sahnya.


Julia sedikit memiringkan kepalanya untuk mencerna. Dia menarik pinnya dan memasukkannya kembali ke dalam tasnya."Maaf, aku masih tak mengerti semuanya."


"Nona, suami nona, tuan Maxilian Jade Lunox telah mengambil alih seluruh harta keluarga Zhao dan meletakkan nama nona sebagai pemegang dan pengelola."


Julia tertegun kaku saat nama suaminya disebut. Dia tak menyangka pria itu telah mengembalikan semua miliknya. Pria yang menjadi suaminya tak pernah mengatakan apapun soal ini. Dia memang selalu melakukan apapun dengan diam. Kini, apa yang harus dilakukannya?


'Lian, maaf aku tak bisa berhenti meski semua telah kembali. Karena seluruh harta ini tak bisa mengembalikan nyawaku. Jadi mereka pun harus mendapatkan kematian yang sama menyakitkannya dengan yang kualami.' ucapnya dalam hati.


Julia menatap rumah besar yang kini ada di hadapannya. Rumah yang memiliki banyak kenangan indah bersama keluarganya. Bayangan masa lalu saat ia menangisi kepergian ayah dan ibunya, dan juga tentang Aaron yang telah berencana untuk membunuhnya dan seluruh keluarganya.


Kemudian ia langkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu, namun suara lain menghentikannya.

__ADS_1


"Angel."


Julia terhenti dengan menoleh ke belakang. Dia terdiam dan menatap seseorang yang tengah memanggil namanya.


"Angel, apakah ini kau? Kau kembali? Angel..." tanpa sadar Aaron terus maju dengan mata berkaca kaca hingga ingin memeluk tubuh Julia.


Julia mundur dan mengangkat tangannya ke depan. "Aaron, jangan mendekat." matanya menelisik sosok pria di hadapannya. Penampilan Aaron yang berantakan membuatnya mengernyitkan kening. Lalu tatapan mata itu, mengingatkannya pada seseorang. Kemudian dia tersenyum saat sebuah nama terlintas di benaknya.


Sely!


Aaron dan Sely memiliki tatapan mata yang sama. Dan kini ia tahu, Aaron selain sakit HIV/AIDS, ia juga terkena gangguan jiwa. Ya, pria ini telah gila.


Aaron terhenti. Tatapan matanya sendu. "Aku tahu. AKu tahu kau pasti marah padaku. Tapi satu yang harus kau tahu bahwa semua kulakukan atas pengaruhnya. Dia mendekatiku dan merayuku untuk membuatmu terluka. Sayang, apakah kau tahu, kalau aku sangat merindukanmu? Seharusnya sejak awal aku tahu bahwa kau dan dia tidaklah sama. Ini membuatku sadar bahwa hanya kau yang kucintai."


Senyum Julia terukir, matanya menatap penuh minat. "Aaron, kau juga tahu kan kalau aku juga sangat mencintaimu? Kita bahkan sudah hampir menikah. Tapi dia datang untuk mengacaukannya. Lusi telah menghancurkan mimpi kita. Tapi kini dia hidup dengan nyaman. Tidakkah seharusnya ia menyesal telah membuat kita kehilangan segalanya?"


Aaron seakan tersihir dan mengangguk beberapa kali. Tatapan matanya kosong dan bibir bergumam. "Lusi, Lusi Zhao. Ya, Lusi Zhao"


"Benar, itu Lusi! Kini setelah mendapatkan semuanya ia begitu saja membuangmu. Apa kita akan diam saja? Kenapa kau tak memberinya pelajaran atas semua sikapnya yang telah merugikan kita? Setelah semuanya selesai, kita bisa membicarakan lagi urusan kita. Bagaimana?


Kepala Aaron mengangguk beberapa kali.


"Kau masih ingat kan saat dia memutuskan pertunangan kalian, dan dia merayu pria lain? Kenapa tak kau hamili saja dia agar tak ada satu pun pria yang mau dengannya."


Kepala Aaron mengangguk lagi. "Ya, ya, kau benar. Angel...Angel.." ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


Julia mundur dan mengangguk. Tatapannya sendu dan air matanya lolos begitu saja. "Aaron, aku tak mau kau sentuh sebelum kau memberi pelajaran pada wanita jahat itu."


"Angel.."


"Hancurkan Lusi. Perkosa dia sampai hamil. Berikan dia hukuman agar dia menyadari kesalahannya. Setelah itu baru aku bisa tenang dan kita bisa bahagia kembali."


Bagai tersihir pria itu mengangguk dan berjalan. Bibirnya mengucapkan nama Lusi berkali kali lalu meninggalkan Julia begitu saja. Berjalan ke depan, menuju rumah besar di hadapannya dan terus melangkah ke dalam. Julia menghapus air matanya, saat senyum licik terlintas di bibirnya.


"Lusi, aku tak perlu mengotori tanganku untuk menyelesaikanmu. Kekasihmu sendiri yang akan bertindak."


**


Las vgas


Maxilian berteriak marah saat tahu Julia tak ditemukan di manapun. Seluruh orang suruhannya pun tak satupun memberinya hasil. Ini bahkan ke empat kalinya ia berdiri di depan apartemen Jack dan memencet bel pintu berulang kali. Tak mendapatkan hasil, ia bahkan menelusuri rumah sakit tempat Jack bekerja.


"Maaf tuan, dokter Jack telah mengambil cuti untuk beberapa pertemuan dokter di beberapa negara."

__ADS_1


Maxilian menggeram marah dan mendobrak meja resepsionis dengan keras. Dia berbalik dengan langkah lebar dan tatapan dingin. Tangannya berkali kali menghubungi Tomas dan anggotanya yang lain. Ia kerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Julia.


"Jack, kau telah menggali lubang kuburanmu sendiri!"


__ADS_2