
"Sekarang aku akan membuatmu hidup dalam genggaman pria berlemak sepertiku. Aku ingin melihat hal apa yang akan kau katakan saat pada akhirnya kau tak memiliki alasan lain selain menikahiku."
Semua kata-kata tajam yang Julia ucapkan kembali terngiang di telinganya. Dia tak bisa menahan emosinya tapi itu juga memberikan rasa tersendiri untuknya. Dia merasa harus mendengarkan mulut tipis itu memaki dan mengucapkan kata-kata tajam untuknya. Saat gadis itu menyadari bahwa dia tak akan melepaskan semua orang yang berurusan dengannya dengan mudah. Maka penyesalan hanyalah sebagai jalan terakhir untuknya.
Dia bangkit dan menarik tirai gorden kamarnya kasar. Angin malam menyambut menggoyangkan rambut hitam kecoklatannya. Dia hanya menatap kosong halaman rumahnya yang sepi, lalu kenangan lama hidupnya datang menyentak memberikan rasa sakit yang perih. Ingatan ibunya, luka itu, dan air mata penyesalan ibunya, membuat perasaannya terengut tak bersisa. Lalu entah kenapa hal itu mengingatkannya pada tangisan Julia saat tidur. Tangisan dan nada penuh rindu, dia benar-benar tahu rasanya. Dia tahu bagaimana rasa sakitnya karena sebuah cinta. Dia telah melihat semuanya. Dan karena itu, dia tak akan membiarkan dirinya seperti ibunya. Bodoh dan mati mengenaskan karena cinta.
Ada senyum tipis di wajah kakunya. Hidungnya yang menjulang membuat bayangan di sisi pipinya putih. Matanya yang tajam saat ini mulai terlihat teduh. Dia benci saat-saat ini. Saat-saat dia mengingat ibunya dan bayangan kesakitan. Luka-luka di tubuhnya kini bahkan terasa pedih kembali. Meski dia merindukan ibunya sampai mati, bibirnya tak akan bisa mengucapkan rindu yang dia tanggung.
Maxilian terkurung dalam kenangan lama yang menyakitkan. Tatapan kosong itu terus saja tak bertuan. Dia hanya merasa seluruh tubuhnya terasa sakit tanpa sebab. Tanpa sadar, tangannya meraba perut datarnya, dan entah kenapa, lagi-lagi perkataan Julia terngiang di kepalanya. Bedanya saat dia merasa seperti Julia secara sengaja mengingatkannya. Bahkan kata-kata itu terasa sangat jelas di telinganya. Berulang dan secara berurutan. Dan semua itu membangkitkan jiwa lelakinya yang terpendam.
"Aku Julia Brasco tak akan tertarik pada pria sepertimu! Bahkan aku tak mungkin merangkak di ranjangmu untuk menyerahkan kesucianku! Kau sangat berpikiran picik!"
"Apa kau menganggap dirimu sempurna? Menggelikan! Ketampananmu bahkan tak bisa membuatku jatuh cinta! Karena aku tak berminat menjadi istrimu! Biar kuralat kata-kataku saat mabuk. Aku tak akan pernah menjadi istrimu! Tak akan pernah!"
"Kenapa aku harus menjadi istri dari pria berlemak sepertimu! Sekalipun seluruh pria di dunia ini musnah, aku tak akan memilih untuk menjadi istrimu!"
Maxilian tertawa pelan tanpa sadar. Dia memejamkan matanya dan mengingat semuanya. Bulu mata yang lentik tampak menyatu dan memberikan bayangan hitam di bawah matanya.Saat nafasnya sangat teratur, namun amarah di hatinya masih menggebu.
"Pria berlemak sepertiku! Tak akan merangkak di atas ranjangku! Dan bahkan tak akan pernah ingin menjadi istriku. Meski seluruh pria di dunia ini musnah, dia telah memastikan untuk tidak akan pernah menjadi istriku. Bahkan ketampananku tak akan pernah membuatnya jatuh cinta."
Tawa dari bibir Maxilian semakin jelas terdengar. Jari lentiknya bergerak menekan pelipisnya tanpa sadar. Saat mata tajam cokelatnya terbuka, udara seakan tersedot turun. Dan seluruh barang yang berasa dalam ruangan itu seakan menggigil ketakutan.
"Julia Brasco, kau benar-benar wanita berlidah tajam! Aku ingin lihat, apakah kau benar-benar bisa menepati kata-katamu, atau kau hanya akan bisa seperti mainan dalam genggamanku! Aku, Maxilian Jade Lunox, akan memastikan bahwa tubuhmu akan membalikkan semua kata-kata yang kau ucapkan!"
**
__ADS_1
Pagi ini rumah utama keluarga Brasco tampak lengang. Hendri dan Janet telah bergegas berangkat ke kantor pagi-pagi karena tiba-tiba telah diadakan sebuah rapat pemegang saham. Janet bergegas karena tak memiliki waktu untuk memperbaiki penampilan diri. Dia terbiasa datang ke kantor dan rapat pemegang saham sebagai pengganti Julia hingga rata-rata orang penting telah mengenalnya sebagai pemilik warisan keluarga Brasco. Saat ini dia juga yakin bahwa Jordan juga ada di sana. Mereka bertiga akan bekerja sama untuk menyingkirkan Julia secara pelan-pelan.
Saat menit itu berlalu dan kesunyian di rumah keluarga Brasco tak bertahan lama, suara seorang pria tampak menggema hingga seluruh ruangan dalam rumah. Beberapa pelayan datang mencoba berbicara baik-baik, namun pria itu tetap dengan keras meneriakkan nama Julia beberapa kali.
Saat ini Julia baru saja turun dengan menuruni tangga dari kamarnya. Dia mengenakan celana jeans pendek dengan kaos oblong pendek yang hanya cukup menutupi sebagian perutnya. Kulitnya yang halus dan putih terlihat sangat segar. Perut ratanya bahkan kini sesekali terlihat dengan seiring gerakan tubuhnya. Menuruni tangga, dia dengan tenang tak menjawab teriakan namanya. Baru saat teriakan keras itu terdengar sekali lagi, dia memejamkan matanya dengan benci.
"Julia!"
"Tuan, kau tak bisa begini di sini. Nona Julia akan turun, kau bisa menunggu di ruang tamu. "Kali ini beberapa pelayan tampak sangat frustasi dengan menahan pria tersebut agar tak semakin membuat keributan. Bahkan di antara mereka sudah ada yang memanggil keamanan.
"Diam, aku harus bertemu dengannya langsung! bantah pria itu tergesa gesa. Dia sama sekali tak melihat tangga, bahwa sosok Julia telah datang dengan menuruni tangga menuju ke arahnya. "Julia! Julia!! Jul--"
"Apakah kau ingin memutuskan saraf otakmu pagi ini?" sela Julia dingin. Dia sampai di anak tangga terakhir dan menatap beberapa pelayan yang menunduk takut. Lalu suara derap langkah kaki lain memasuki ruangan terdengar. Seorang satpam dan beberapa orang yang bekerja sebagai keamanan.
Pria itu menjauh saat tangan seorang anggota keamanan ingin menyentuhnya. "Aku adalah sepupu Julia. Jadi kalian tak bisa memperlakukanku seperti ini!"
Mendengar itu Julia memejamkan matanya sekali lagi. Dia mendengus sedikit keras. "Tinggalkan kami, dia tak akan membuat kekacauan."
Para pelayan, satpam, dan anggota keamanan menyingkir setelah menundukkan kepala hormat.
"Julia, bagaimana bisa kau melakukan ini padanya?" tuduh pria itu langsung dengan nada benci.
Julia menoleh dan menatap pria itu dengan seksama. "Ben, apakah paman tahu bahwa kau membuat keributan di rumahku?"
"Itu tidak penting sekarang, tapi Julia, aku tak percaya kau melakukan ini semua. Kenapa kau melakukan ini padanya?"
__ADS_1
Julia mengerutkan alisnya tak mengerti. "Melakukan apa?"
"Kau meminta Sely pergi dari rumahmu pagi ini bukan?" Kau bahkan tak mengijinkannya tidur bersamamu. Apa yang salah denganmu? Kenapa tak cukup dengan itu, kau masih harus menghinanya dan mencacinya!"
Awalnya Julia mengira ada masalah yang sangat genting hingga sepupunya Ben datang berkunjung pagi-pagi. Tapi setelah mendengar alasan kenapa sepupunya membuat keributan di rumahnya, hatinya menjadi dingin. Dia menatap Ben tak berminat dengan senyum sinis.
"Oh, jadi karena itu? Ben, kau benar-benar membuatku kecewa." Hening sesaat, tiba-tiba Julia menutup mulutnya. "Oh, apakah aku salah mengira bahwa kalian hanyalah teman biasa sebelumnya? Pasti, pasti aku salah kira."
Ben sedikit tertawa. Pagi ini dia cukup terkejut saat mendengar tangisan Sely di tengah sarapan pagi keluarganya. Gadis itu datang pagi-pagi sekali dengan mata bengkak dan menghitam. Lalu tangisnya pecah, seakan akan gadis tersebut telah mengalami hal yang buruk.
Dan dia bergegas saat Sely di bawa masuk oleh ibunya. Ayahnya telah menegurnya sesaat tapi saat mengingat tangisan Sely, dia merasa hatinya tersakiti. Dan pagi ini dia bahkan tak menyangka, Julia terlihat tak perduli padanya apalagi temannya.
Julia, Sely benar, kau benar-benar berubah sekarang. Kau, siapa kau sebenarnya? Apakah kau orang yang berpura-pura menjadi Julia? Julia yang kukenal bukanlah Julia yang seperti ini!"
Ben mengingat kilas kenangan lama, tentang gadis lugu polos yang selalu pemalu dan penurut. Sepupunya ini sangat tertutup dan tak memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia sangat ingat bagaimana Julia dapat dengan mudahnya percaya pada orang-orang terdekatnya. Dan Sely adalah orang pertama yang akan berdiri di belakangnya juga merupakan sahabat terbaiknya. Hubungan mereka baik, dia dan Sely ada sebuah tali ikatan yang tak bisa diungkapkan untuk orang luar. Itu adalah rahasia antara mereka berdua, tapi pagi ini saat melihat kekasihnya menangis karena sepupunya, dia merasa seluruh dunianya telah hancur terbakar.
Tatapan menghina dan jijik yang Ben berikan membuat hati Julia kian dingin. Dia menatap tenang mata Ben dengan senyum sinis. "Oh,, jadi seperti apa Julia yang kau kenal? Julia yang pemalu dan bodoh ataukah Julia yang naif dan mudah dimanfaatkan? Di mana semua orang selalu berusaha menyingkirkannya dengan bermuka dua."
Ben terkesiap, dia tak siap dengan kata-kata balasan yang tajam. Bagaimana pun gaya bicara sepupunya tidak seperti ini. Ini salah, harusnya dia juga menyadari. Sejak dia dikeluarkan dari penjara oleh Julia, dia telah merasa ada yang salah dengan sepupunya ini. Tapi dia tak tahu, bahwa Julia yang berada di hadapannya ini memiliki lidah yang sangat tajam. Juga, terlihat tenang, dingin dan kejam.
Melihat Ben yang diam, Julia kian tertawa dalam hati. "Ben, apakah kau benar-benar mengenal sepupumu? Ataukah kau hanya mempercayai ucapan kekasihmu?"
"A-apa? Siapa yang kau sebut kekasihku?" Elak Ben dengan ketenangan yang masih dia pertahankan.
Menanggapi itu Julia tertawa tipis. "Oh, bukankah kau ke sini karena ingin membela kekasihmu? Kau bahkan tak mendengarkan penjelasan sepupumu. Kau langsung menyerangku tanpa mengetahui yang sebenarnya."
__ADS_1