Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Rencana Yang Gagal


__ADS_3

Sabar.. hari ini aku kasih doble


***********************************


Harvey mulai jengah, kemudian dia mencoba mempercepat segalanya agar mereka semua mendapatkan jawaban sesuai dengan prediksi mereka. "Sepupu, kau memang tidak memberi istrimu cincin pernikahan bukan? Mana mungkin istrimu ini buta, menganggap di jarinya ada cincin."


"Tidak. Kurasa aku tidak buta, kalianpun demikian. Jari-jariku tak memakai cincin pernikahan."Ungkap Julia sambil tersenyum.


"Julia, apa maksudmu?" tanya Rose dengan senyum dingin.


"Kalian pasti juga mengerti apa maksudku. Kami tidak memiliki cincin pernikahan."


"Apa?" tanya mereka semua kompak. Semua mata melihat Julia lalu berganti menatap Maxilian.


"Anak nakal ini, apa kau tak berniat memberikannya cincin pernikahan?" tanya Mery marah. DIa menunjuk Maxilian dengan wajah merah.


"Julia melirik Maxilian yang diam. Tangannya di bawah meja jelas menunjukkan kode yang tak Maxilian pahami. Tapi saat matanya menatap mata Julia entah kenapa dia mengerti. Tatapan Maxilian kian waspada, dia dengan sigap berdiri, membuat ke lima sepupunya terkesiap.


"Nenek, kau sebaiknya pulang bersama Tomas." ujar Maxilian lembut. Dia mendekati Mery dan menarik lembut tangan Mery. "Aku akan menjelaskan semua nanti di rumah, tapi saat ini nenek harus pulang."


"Apa? Kenapa? kau anak nakal, aku tak akan pulang." tolak Mery tak mau mengalah.


Semua mata menatap bagaimana Maxilian membujuk Mery. Sedangkan Julia hanya tertawa tipis, melihat kelima sepupu Maxilian dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Ini sudah berakhir. Dia telah memperhatikan keadaan sedari tadi dan telah waspada sejak awal. Tapi dia sudah mempertimbangkan sebelumnya saat pertama kali dia melihat tatapan Hanna seolah itu pertanda peringatan. Dia sudah menyangka bahwa Hanna sudah seperti artis besar yang tengah berakting sama seperti dirinya. Tapi semua tanda yang Hanna berikan lewat ekspresi dan emosi, Julia tahu bahwa di ruangan ini sangat berbahaya.


"Nenek benar kakak sepupu, kenapa nenek harus pulang?" tanya Lindsey sambil menarik tangan Mery agar terduduk.


Carren dan Rose saling berpandangan. Mereka cukup terkejut, saat melihat Maxilian tiba-tiba berubah dingin dan meminta nenek mereka segera pulang. Lalu tatapan mereka berdua mencapai Julia, yang terlihat bersandar di tempat duduk dengan memutar jarinya di pelipis. Mengisyaratkan mereka untuk berpikir. Dan seketika wajah mereka berubah tegang


"Nenek. Tomas telah menunggumu," bujuk Maxilian sekali lagi dengan manis.


Mery menggeleng. "Tidak, aku ingin melihat kalian memakai baju pernikahan."


Tiba-tiba Julia tertawa, dia melirik Rose, Carlen, Lindsey bergantian. Lalu tatapannya jatuh pada Mery. "Nenek, tak akan ada percobaan gaun pernikahan."

__ADS_1


"Apa? Kenapa?" tanya Mery kaget.


"Kakak ipar, apa maksud--"


"Carlen, aku bukan kakak iparmu. Kau bukan adik suamiku." potong Julia kembali mengingatkan.


Melihat situasi kembali memanas, Tomas mendekat. "Nyonya, tuan muda akan menjelaskan nanti. Aku akan mengantar nyonya terlebih dahulu."


Kini Mery menatap Tomas yang menunduk dan menunjukkan jalan keluar dengan sopan. Tatapannya jatuh pada Julia yang tersenyum berkali-kali dan menganggukkan kepala berkali-kali. Ini aneh, batinnya. Dia tak pernah melihat Julia yang sedikit memiliki tatapan jahat, tapi dalam satu waktu kilasan tatapan itu, ia menyadari ada hal yang tidak beres dan cucu serta cucu menantunya itu tengah menyelamatkannya. Jadi akhirnya Mery menyerah, dia menatap Maxilian yang masih memegang satu tangannya.


"Kau anak nakal,! Aku akan memberitahu kakekmu agar dia menghukummu."


Maxilian tak bereaksi. Dia hanya melihat Tomas dan berkata. "Pastikan nenek selamat."


"Nenek, nenek,..kau tak boleh pulang. Kami--"


"Lindsey."


"Lindsey yang tengah menahan neneknya langsung terdiam saat Maxilian memotong kata-katanya. Dia melihat tatapan Maxilian yang tajam dan langsung terduduk diam tanpa alasan. Bibirnya terkatup rapat dengan ketakutan yang merambat. Dia akhirnya hanya menatap Rose sebagai gantinya.


Carlen pun berdiri dan menepukkan tangannya. "Kakak ipar, kau luar biasa. Aku sangat penasaran, dai mana kau tahu bahwa kami berniat menjebakmu. Kau tak perlu berkecil hati karena sepupu kami, cepat atau lambat dia akan melenyapkanmu."


maxilian mengerutkan keningnya. Dia menatap carlen dengan mendengus ringan. Dari mana Carlen memiliki pemikiran seperti itu?


"Oh benarkah?" tanya Julia tak terkejut. Tapi dia merentangkan lima jari kanannya tiba-tiba. Menatap Maxilian dia kemudian menundukkan wajahnya. "Sayang, kau benar-benar memiliki keluarga yang merepotkan!"


Maxilian tersenyum sedikit. "Yah, kompensasi yang akan kamu miliki, aku akan menambahkannya dua kali lipat."


Julia mendongak. Bibirnya membentuk senyum lebar. "Karena suamiku sudah mengatakannya, maka aku tak memiliki alasan untuk menolaknya."


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Harvey tiba-tiba. Dia tak mengerti kenapa rencana mereka berubah sesuai keinginan Julia dan Maxilian. Tapi saat mendengar Maxilian bicara tentang kompensasi dan Julia menyetujuinya, ia tak bisa diam.


"Oh itu," ungkap Julia dengan tersenyum kian lebar. Dia menatap Hanna dengan mata berbinar. "Hanna kau cukup membantu,"

__ADS_1


Dan saat Julia mengatakan itu semua, Hanna berdiri. Dia melihat Julia dan entah kenapa bergidik ngeri. "Aku tak ikut campur. Aku memiliki jadwal syuting hari ini. Maxilian, kau bisa melakukan apapun di gedungku, tapi ingat untuk menggantinya."


"Hanna." panggil Rose, Carlen, dan Harvey bersamaan saat mereka melihat Hanna berjalan dan mencapai pintu keluar.


Hanna menoleh kebelakang dan menatap empat sepupunya. "Aku sudah mengatakannya dari awal. Aku akan berdiri sebagai penonton. Dia," Liriknya pada Julia lalu pada Rose. "Tak akan mudah seperti yang kalian bayangkan."


Melihat Hanna yang pergi, Rose menatap Julia yang duduk tenang. Dia tak mengerti kenapa tiba-tiba semua rencananya berubah. Tapi saat mendengar peringatan Hanna, dia menjadi sedikit berhati-hati.


"Aku tak tahu kalian selalu menungguku untuk mencampakkan calon-calon istriku." buka Maxilian dingin. Dia melangkah dan kembali duduk di kursinya. Melirik Julia yang duduk bersandar dengan anggun.


"Sepupu, itu.. " ucap Carlen tak nyaman. "Kami tak mengerti apa maksudmu."


"Carlen benar, sepupu apa maksudmu? tanya Rose pura-pura tak tahu.


"Ah, aku bosan." Julia berdiri dan memukul meja di depannya. Dia melihat empat sepupu Maxilian yang masih tertinggal. "Kalian tak perlu bekerja keras untuk menyingkirkan aku. Karena dia," tunjuknya pada Maxilian. "Tak akan melepaskanku."


Mendengar itu Carlen menepukkan tangannya. "Kakak ipar, kau keren." Matanya berbinar penuh kekaguman. Semakin dia melihat Julia, semakin dia menginginkan Julia.


"Yah, karena kalian mempertanyakan cincin pernikahan, maka aku akan menjelaskannya. Tak ada cincin pernikahan di antara kami. Karena aku benci cincin pernikahan." takan Julia dingin. Matanya dalam dengan taburan air yang mulai menggenang. Itu seperti langit malam penuh bintang.


Cincin pernikahan?Julia tertawa miris dalam hati. Hal-hal seperti ini, dia tak akan memimpikannya. Luka yang diberikan Aaron padanya cukup dalam. Karena sejak cincin pertunangan itu melingkar di jari manisnya, dia merasa seluruh dunia menjadi miliknya. Tapi nyatanya nerakalah yang disambanginya.


Dia mulai membenci hal-hal yang membuat dia mengingat segala yang membuat dia mati. Bahwa ia pernah terluka karena percaya pada seseorang. Seperti saat ini, tak peduli meski ini adalah kontrak pernikahan, dia tak akan pernah memakai cincin pernikahan. Tidak akan pernah meski Maxilian memaksa sampai ingin menenggelamkannya.


Emosi Julia yang awalnya tenang berubah mendung dalam satu waktu. Tatapan penuh luka penuh rasa sakit terlintas hingga membuat bibir merah cherry nya bergetar pelan. Tatapannya kosong untuk sesaat dengan wajah Aaron yang terbayang sekilas. Membuat rasa sakit dan sesal kembali datang. Dan itu tak luput dari pandangan Maxilian.


"Wow," Ungkap Carlen terkejut. "Aku baru mendengar sekali ini bahwa seorang wanita tak menginginkan cincin pernikahan."


Mata Julia berkali-kali berkilat penuh amarah. Namun satu detik kemudian kembali menjadi tenang. Dia tersenyum menatap Carlen. "Aku memang tak menginginkannya. Tapi Maxilian tetap memberikan cincin itu. Yah, karena baginya itu terlalu berharga maka aku akan menyimpannya."


"Menyimpannya?" ulang Harvey ingin tahu.


Julia mengangguk. "Aku takut untuk menghilangkannya."

__ADS_1


"Seperti apa cincinnya? aku ingin tahu pilihan sepupuku," tanya Rose dengan menahan gejolak di hatinya.


Mendengar pertanyaan itu Julia tersenyum manis. Wajahnya memerah dengan menatap Maxilian penuh cinta. "Cincin itu sangat sederhana. Tanpa taburan berlian ataupun di tempa emas yang mahal. Benar-benar sangat sederhana namun hanya satu-satunya. Karena itu adalah cincin pernikahan ibunya. Sangat berharga di matanya tapi dia memberikannya padaku sebagai tanda rasa cintanya yang besar." Kali ini matanya mengerling nakal. Tangannya menyentuh pipi Maxilian pelan. "Bukankah menurut kalian, priaku ini sangat pendiam? Dia selalu bertindak tanpa banyak berucap.


__ADS_2