
Maaf kemarin belum bisa up. 3hari othor sakit, ini masih agak lemes tapi diusahakan up dua kali untuk hari ini. terimakasih untuk para pembaca yang setia menunggu.
*****************************
Pagi ini rumah utama keluarga Luxon terasa hangat dan berwarna. Mery duduk di kursi meja makan dengan wajah berseri, ditemani suaminya Lucas yang tengah menikmati secangkir teh hangat. Suara ketukan lantar terdengar diikuti sosok Julia yang berjalan mendekat. Wajah Julia terlihat segar dan nampak siap dengan tantangan lain yang sudah menunggunya di depan. Begitupun juga Maxilian yang berjalan di belakang Julia yang terlihat rapi dengan setelan baju kerjanya.
Mereka berdua ikut duduk di kursi meja makan bersama mery dan Lucas dengan tersenyum hangat. Melihat itu, Mery tak bisa menahan rasa bahagianya karena ini adalah pertama kalinya Maxilian ikut sarapan bersama setelah kepergian ibunya beberapa puluh tahun yang lalu. Dan yang paling mengejutkan Mery adalah sikap Maxilian yang sangat tenang dan memakan semua hal yang Julia ambilkan. Tanpa bicara dan sesekali mengangguk setuju saat sang kakek memberikan instruksi.
Sedangkan Julia nampak baik dalam mengambil hati Mery. Dia tersenyum ceria dengan obrolan kecil yang penuh pujian untuk menyenangkan hati Mery. Maxilian akui bahwa Julia sangat pintar mengambil hati kakek neneknya yang sebenarnya tidak mudah. Julia mampu mengolah berbagai ekspresi serta membawa emosi pada tempatnya. Gadis ini, benar-benar berbeda.
Bagaimana tidak, mulut kecil yang selalu mengeluarkan kata-kata tajam dan kejam itu kini tengah tersenyum sangat manis dengan kata-kata penuh pujian yang manis pula. Tawa kecil serta ketenangan yang Julia tunjukkan membuatnya menilai bahwa Julia dibesarkan dan dididik dengan sangat baik di keluarganya. Jadi dia mampu mengambil langkah yang tepat saat duduk di antara kalangan keluarga kelas atas. Gadis mungil ini, benar-benar membalikkan seluruh keadaan menjadi sesuatu yang diingingkannya. Dan sepertinya ia telah menemukan seseorang yang tepat untuk semua keadaannya.
Melihat senyum kakek dan neneknya serta obrolan kecil mereka, harusnya itu bukanlah suatu masalah untuk menunjukkan Julia pada keluarga Lunox lainnya. Cepat atau lambat mereka semua dan seluruh dunia akan tahu tentang pernikahan mereka. Ini hanya masalah waktu dan dia lebih suka bertindak lebih dulu dari pada menunggu.
Setelah ritual sarapan bersama terlewatkan, Julia dengan semangat menemani nenek serta kakek Maxilian mengunjungi salah satu perkebunan anggur milik keluarga Lunox. Tindakan ini cukup menarik bagi Julia tapi siapa sangka kedekatan ini membuat keluarga Lunox lainnya tahu. Mereka semua berlomba mencari informasi lain tentang dirinya jauh lebih cepat dari yang Maxilian pikirkan.
Wajah-wajah tampan serta cantik yang pernah menjadi calon pewaris keluarga serta calon istri untuk Maxilian telah berkumpul di sebuah cafe. Terlihat beberapa foto Julia berserakan di meja tersebut. Dua atau tiga foto ada dalam genggaman masing-masing dari mereka. Ada senyum ejekan, ada juga rasa tak peduli, namun juga tak kurang rasa marah yang ada dalam diri mereka masing-masing. Yang pasti senyum sinis merendahkan lebih ketara terlihat pada wajah mereka.
"Dia kakak iparku?" ujar seorang pria bermata abu-abu dengan bulu mata lentik dan hidung menjulang. Pria setinggi seratus delapan puluh sentimeter dengan kulit putih dan darah campuran asia dan amerika bertanya dengan sedikit remeh. Alisnya melengkung rapi dihiasi mata lentik yang mempercantik bola matanya ini terus menelisik gambar seorang wanita.
__ADS_1
"Kakak iparmu? Aku lupa kapan kau pernah menjadi adik Maxilian." cibir gadis berkulit putih dengan wajah oval dan rambut panjang lurus sepinggang. Mata coklatnya tampak sangat tajam dengan riasan eyeliner yang kuat. Bibir tebalnya diwarnai peach coral membuat wajahnya sangat cantik. Jelas, karena wanita ini adalah seorang model terkenal.
Pria bermata abu-abu itu menoleh. "Yah, aku akan menganggap dia kakak iparku. Apa kau marah? Karena kau tak bisa menikah dengan Maxilian? Ups, aku lupa dia pernah menolakmu." Ada senyum ejekan yang terlihat di wajah jenakanya. Dia melirik dua gadis cantik lain di sampingnya. "Apa? Kenapa kalian memelototiku?"
Seorang gadis dengan kulit sedikit coklat itu mencibir. "Yah, aku tak tertarik dengan berita ini. Lagipula kita tahu sepupu kita itu adalah pria yang tak biasa. Dia adalah pria yang berhati dingin dan kejam. Aku ragu dia bisa bertahan lama dengan gadis polos seperti wanita ini. Cepat atau lambat, wanita ini pasti akan dicampakkan."
Anggukan lain terlihat. Kali ini gadis ketiga terkikik. Wajah Chubby yang tampak menggemaskan dengan mata bulat dan lesung pipi di kedua pipinya saat tersenyum benar-benar manis. Gadis yang mirip boneka hidup ini, tidak terlihat seperti sekilas pandang. Gadis ini menyimpan banyak rahasia gelap dalam dirinya. Kegelapan yang tersembunyi dari balik kecantikannya, meski masih sangat muda. "Yah, aku juga tak akan ikut campur. Siapapun dari kita akan menantikan untuk menjadi adik yang baik baginya.
Gadis pertama yang merupakan model terkenal itu bergidik ngeri. "Kau tak berniat menjadikannya salah satu koleksimu kan? Lihatlah dia sangat polos dan lemah. Kau bisa membuatnya ketakutan. Gadis cantik berlesung pipi itu langsung mengurungkan senyumnya. Dia menarik lengan seorang pria bermata biru yang tampak diam mendengarkan ocehan mereka semua dari tadi. "Kakak, apakah kau juga melarangku? Bonekaku kehilangan satu tangannya di rumah. Dan kakak iparku, lihatlah dia." Dia menyerahkan selembar foto Julia. "Bukankah kakak iparku memiliki tangan yang cantik? Tangannya kecil, putih dan mulus.."
Pria bermata biru itu menoleh. Mengelus rambut panjang bergelombang adiknya dengan lembut. "Kau tak boleh menyentuhnya.. maxilian menikahinya secara resmi. Dan dari informasi yang kudapat, gadis itu telah mengantongi restu kakek dan nenek besar."
Pria itu menggeleng sekali lagi. "Apa kau ingin Maxilian menghancurkan semua koleksimu hmm?"
Gadis itu menggelang cepat. "Baiklah, aku akan menunggu sampai kakak besar mencampakkannya."
Mendengar percakapan itu, pria mata abu-abu bergidik ngeri. Siapa yang tahu tentang hobi sepupu termuda di keluarga Lunox? Gadis itu memiliki hobi mengoleksi semua boneka yang terbuat dari manusia nyata.
"Ah kau ini sungguh menakutkan." keluh gadis ke dua. Dia segera bagun dari duduknya dan meletakkan foto Julia di meja. "Aku hanya akan jadi penonton yang baik saja. Jangan ikutkan aku dengan urusan kalian. Aku yakin Maxilian tak akan mencampakkan wanita ini dengan mudah." usai mengatakan itu dia menarik tas nya dan pergi.
__ADS_1
"Aku tak memiliki rencana, aku akan melihat keadaan lebih dulu." Kali ini pria terakhir, pria bermata biru itu berdiri. Dia melihat adik cantiknya kemudian berkata, "Ayo pergi."
Gadis berlesung pipi itu berdiri. Dia menarik satu foto Julia dan menyimpannya. "Kakak, bukankah dia mempunyai jari yang lentik?"
"Jangan berani memikirkan itu," Peringat kakaknya sambil berjalan. Mereka berjalan beriringan keluar dari cafe bersama.
Kini di tempat itu hanya tinggal mereka berdua. Pria bermata abu-abu itu tersenyum manis. Dia menatap gadis cantik di sampingnya. "Kudengar Maxilian menikahinya tepat setelah dia kehilangan seluruh hak di keluarga Brasco.
"Cih, hanya keluarga kecil. Apa yang dia miliki sampai sepupuku menikahinya?"
"Yah,, kau tak perlu menyingkirkan gadis ini kan? Dia cukup cantik dan seksi."
"Sejak kapan kau mengganti seleramu?"
Pria itu tertawa kecil. Membuat wajahnya makin tampan. "Hei, hanya kau yang tahu aku telah memakai semua gadis yang akan menjadi istri Maxilian terlebih dahulu."
'Gadis itu mencibir, "Kali ini, aku juga ingin kau melakukan tugas itu untukku." Menarik tas nya dan berdiri melangkah pergi.
Pria tampan itu tersenyum tipis. Dia menatap lekat foto Julia yang ada di tangannya dan menyentuhnya pelan. "Julia Brasco, ayo kota lihat sekuat apa pertahananmu. Semakin kau berarti untuk Maxilian, semakin kuat keinginanku untuk menghancurkanmu."
__ADS_1