
"Aku sangat tersanjung telah membuatmu sangat tertarik padaku. Lindsey, kau yakin ingin menjadikanku bonekamu? Coba saja kalau kau mampu."
"Berani sekali boneka baruku ini" ucap Lindsey sambil menyeringai.
Julia hanya tersenyum saat Lindsey menarik tangannya hingga cincinnya ikut masuk dalam genggaman Lindsey. Yang tanpa Lindsey sadari bahwa racun yang ada di dalam cincin itu, kini telah masuk ke dalam tubuhnya. Lewat jarum-jarum kecil yang ada di atas permukaan permata cincin itu, akhirnya dapat menembus kulit Lindsey tanpa ia sadari.
Lindsey yang menarik tangan Julia kasar, akhirnya memelan dengan sendirinya. Ia merasa sangat bersalah memperlakukan kasar pada tangan halus Julia. Lalu ia mendekat dan mengelus tangan Julia dengan lembut. Bahkan sampai menyentuh ujung permata cincin yang dipakai Julia.
Lindsey, kau menggali kuburmu sendiri! batin Julia tak menyangka.
Ia pikir akan sangat sulit baginya keluar dari keadaan ini. Tapi siapa sangka obsesi dan kegilaan Lindsey membuat rencananya makin mudah. Ia hanya menatap jijik saat Lindsey mengelus pelan tangannya. Tatapan mata Lindsey berbinar saat meraba kulit mulus itu.
Namun kegiatan Lindsey terjeda saat suara langkah kaki terdengar. Pintu itu terbuka. Membuat semua orang menoleh dan terdiam saat Jeni masuk dan menunduk dalam sopan. Seakan tak tahu bahwa Julia telah diculik.
"Nyonya besar, nona muda. Salam." sapa Jeni ringan. Begitu terlihat patuh dengan ekspresi datar seakan melakukan segala sesuatu seperti yang ia lakukan sehari-hari. Begitu santai meski ia tahu Julia tengah ditahan.
"Siapa yang menyuruhmu masuk ke sini!" tanya Rose sambil berteriak.
"Apakah itu perlu di pertanyakan? Dia orangku, tentu saja dia tahu di mana aku." bela Julia ringan. Dia menatap Zelin. "Bibi, kau tentu tahu siapa dia bukan? Dia adalah bodyguard yang ditugaskan oleh kakek dan nenek langsung untuk mengawalku. Maxilian bahkan memberinya hak istimewa. Jadi, apakah aku harus tetap berdiri di sini?"
Jeni mendongak dan tersenyum tipis saat mendengar pembelaan dari Julia untuknya. Dia menatap Rose sesaat dan menunduk. "Nona Rose, nona Hanna sendiri yang memberitahu nyonya besar bahwa nona membawa nona besar kami ke sini. Jadi nyonya besar mengutusku langsung untuk membawa nona besar pulang karena ini sudah jamnya untuk meminum vitamin.
"Vitamin?" tanya Lindsey memastikan. Ia menyembunyikan pisau tajamnya dengan sangat cepat.
"Itu," jawab Jeni ragu. Dia menatap Julia sesaat dan kembali pada Lindsey. "Vitamin untuk kesuburan nona besar kami."
"Siapkan. Aku akan meminumnya. Karena nenek sudah sangat perhatian, jadi aku tak akan mengecewakannya."
Jeni mendongak, dia sangat gugup mendengar jawaban Julia. Sejujurnya ia berbohong mengatakan itu semua. Tapi ia tak menyangka bahwa nona besarnya akan menyambut kebohongannya. Ia melirik dua pria berbadan besar yang menahan nona mudanya, juga pada Zelin, Rose dan Lindsey. Ia dapat meraba situasi sulit nona mudanya. Tapi sepertinya ia datang di waktu yang tepat. Sedangkan tuan mudanya? itu tak perlu ditanyakan lagi. Saat Zelin kembali nanti, pasti ia terkejut melihat seluruh keluarganya mati mengenaskan.
Baru saja Jeni akan berbicara lagi, namun suara teriakan terdengar membuyarkan seluruh perhatian semua orang di sana. Semua orang melihat ke arah Lindsey yang berteriak kesakitan sambil menggaruk seluruh tubuhnya. Namun Julia seakan tak bergeming. Ia menatap datar saat kuku-kuku Lindsey menggaruk kasar dan dalam pada tangan hingga lengannya. Meninggalkan jejak merah dengan luka gores.
"Lindsey, apa yang terjadi?" tanya Rose dengan panik.
__ADS_1
Lindsey hanya berteriak, ia menggaruk seluruh tangannya. Awalnya itu hanya telapak tangannya yang gatal lalu menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasa gatal itu seperti ribuan semut mengerubungi tubuhnya, berjalan di seluruh kulitnya dan menggigit keras. Geli, gatal, panas dan menyakitkan.
Rasa gatal itu tak berkurang meski Lindsey menggaruknya. Teramat gatal hingga ia merasa hampir gila.
"Ahk!! gatal!! Tubuhku gatal semua!"
Rose mundur dengan menutup mulutnya, saat melihat bagaimana tangan Lindsey berusaha menggaruk seluruh tubuhnya hingga merah dan membengkak. Tak peduli rasa gatal itu, ia melihat Lindsey seperti orang gila yang berusaha menancapkan kuku-kuku tangannya hingga ke permukaan kulit. Menyebabkan luka ringan, dan semakin tajam saat kuku-kuku itu selalu melintas di tampat yang sama dan membuat luka ringan itu mendalam.
Bahkan dua pria berbadan besar itu mundur tanpa sadar. Melepaskan tangan Julia hingga Jeni bergerak cepat. Membawa Julia mundur, dan melindungi tubuh Julia.
"Nona jangan mendekatinya."peringat Jeni waspada. Dia tahu hal apa yang tengah Lindsey alami dengan melihat senyum tipis pada bibir nona mudanya. Cincin itu telah mengeluarkan racunnya. Namun ia sangat terkejut dengan reaksi orang yang terkena.
"Aku ingin melihat wajahnya." pinta Julia dingin. Tentu saja ia ingin melihat bagaimana ekspresi wajah dari orang yang ingin bermain-main dengannya.
Jeni tak mengindahkan kata-kata Julia. ia terlalu terpaku hingga tak menyadari bahwa Julia telah berdiri di sampingnya. Pemandangan di depannya ini, sangat mengerikan.
"Lindsey hentikan! Jangan menyakiti dirimu sendiri." peringat Rose mundur dan menjauh. Tubuhnya bahkan sedikit terhuyung karena terkejut dengan yang dilihatnya saat ini.
"Kalian, tahan tangannya! Hentikan dia melukai dirinya sendiri!"
Dua orang pria yang awalnya mundur karena ngeri, kini maju dan menahan tangan Lindsey. Namun hal yang terjadi selanjutnya adalah Lindsey semakin menjerit saat tangannnya tak dapat menggaruk bagian tubuhnya. Dia berteriak seperti orang gila dan terus meronta mencoba melepaskan diri. Dua pria itu menahan tangannya bahkan merasakan kesusahan hingga harus terima, saat Lindsey menggigit salah satunya agar dapat melepaskan diri.
Melihat itu Rose terus mundur dan menggelengkan kepalanya. Pada akhirnya ia harus kembali melihat Lindsey yang berteriak kesakitan hingga menggaruk bagian tubuhnya yang mulai membengkak. Luka yang awalnya hanya memerah dengan goresan ringan, kini semakin dalam hingga beberapa kulit mengelupas dan mengeluarkan banyak darah. Dan makin terasa aneh saat aroma busuk menguar, tercium samar namun kian kuat saat luka itu makin dalam. Membuat semua orang di sana mundur dan hanya bisa menyaksikan Lindsey yang tak terkendali.
Di antara semua orang yang berada di sana, Julia adalah orang yang paling tenang. Ia sama sekali tak terlihat terkejut namun lebih menantikan hal apa lagi yang akan dialami Lindsey. Melihat Lindsey menderita, mengingatkannya pada saat ia dengan terpaksa menelan racun yang diberikan Carlen padanya. Begitu menusuk sampai ke tulang, hingga membuat nafasnya seakan berhenti saat itu juga. Tapi kini, ia melihat racun yang sama ganasnya, bahkan bisa dibilang efeknya lebih tajam daripada yang ia rasakan dulu.
Jeni mencoba mengesampingkan ketegangan itu. Ia menoleh dan menatap Julia. Masih bisa ia lihat jejak jari yang tertinggal di pipi putih nona mudanya. Seketika perasaannya mendingin, tangannya dengan sigap terulur dan menarik tangan Julia. Memeriksa dengan teliti atas jejak luka yang ada di wajah nona mudanya.
"Nona, apa kau baik-baik saja?"
Julia menarik tangannya dan menggeleng. "Apa yang dilakukan suamiku saat ini?"
Jeni melirik Zelin dengan perasaan tak nyaman. Ia mendekatkan bibirnya pada telinga Julia dan berbisik. "Tuan Carlen dan seluruh keluarganya telah dimusnahkan. Kini hanya tersisa nyonya Zelin. Lalu nona Rose, ia resmi dikeluarkan dari daftar keluarga Lunox. Juga,--"
__ADS_1
"Cukup." potong Julia sambil tersenyum. Sepertinya tidak sia-sia suaminya itu menjadikannya umpan.
Jeni mengangguk. Ia menjauhkan wajahnya dan menunjuk pipi nona besarnya. "Tapi nona, pipi anda.."
Belum selesai pertanyaan itu, terdengar suara teriakan.
"Aaahhhhkkkk!!!!"
Belum selesai perbincangan Jeni dengan Julia, namun harus terjeda saat mendengar Rose berteriak ketakutan. Gadis itu bahkan menangis dengan wajah pucat dan tak dapat menopang tubuhnya dengan baik. Zelin bahkan lebih terkejut hingga menangis dan jatuh dari kursinya. Matanya tak berkedip melihat semua yang ada di depannya. Sontak Jeni menatap Rose lalu berpindah pada Lindsey. Melihat hal di depannya, Jeni mundur dengan sedikit ketakutan. Tubuhnya bergetar bahkan mulai tak dapat menahan gejolak yang terjadi di dalam perutnya.
Di sana Lindsey terdengar merintih dan mendesis. Rambut panjang yang biasanya cantik, kini harus rontok secara paksa karena dua tangan yang menggaruk kulit kepalanya dengan keras. Bahkan terlihat tetesan darah yang keluar dari tiap untaian rambut. Bahkan terlihat jelas beberapa daging yang mengelupas menempel pada sela-sela kukunya. Tak peduli sesakit apa, hal yang lebih dirasakannya adalah gatal dan gatal. Hingga ia tak menyadari bahwa ia menggaruk daging kepalanya sendiri.
Dua pria yang menahan Lindsey sebelumnya kini bahkan sudah mundur dan ketakutan. Mereka tak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Melihat orang menguliti tubuhnya sendiri tanpa segan. Mereka bahkan sudah muntah saat mencium aroma busuk yang keluar dari luka Lindsey.
Jeni terlihat pucat dan menoleh ke arah nona mudanya. Ia ingin segera membawa nona mudanya ini pergi. Namun anehnya, ia tak melihat ekspresi takut atau jijik di wajah nona mudanya. Mata Julia bahkan dengan sangat tenang menatap setiap hal yang dilakukan Lindsey. Sangat menikmati hingga menjadikan ini semua hiburan yang sangat menyenangkan baginya. Senyum tipis di bibirnya menandakan rasa puas atas segala yang terjadi pada Lindsey.
Nona mudanya ini seperti sedang menantikan hal yang lebih dari yang terlihat di depannya. Ia sangat tahu bagaimana kekejaman nona mudanya, namun ia tetap terguncang bila harus menjumpainya lagi. Nona mudanya ini terlihat lembut dan lemah. Tapi dengan santainya ia melihat hal mengerikan di depan matanya dengan tatapan mata yang datar. Sebenarnya, seberapa kejam nona muda yang ia layani?
Julia, nona muda Lunox, ternyata bukanlah orang yang harus ia khawatirkan.
Seketika ia merasa miris dengan semua orang yang mencoba mencari masalah dengan nona muda atau tuan mudanya. Karena keduanya tampak memiliki karakter yang sama. Sama-sama kejam dan berhati dingin. Tak akan main-main memberikan hukuman pada orang-orang yang berusaha menyakiti mereka. Memikirkan ini membuat tubuhnya merinding. Terlebih saat ia melihat senyum Julia kian terkembang membuatnya merasakan perasaan yang lebih buruk lagi. Benar saja, baru saja ia menatap wajah Julia, kini matanya terbelalak saat tatapan matanya kembali jatuh pada Lindsey.
Ia melihat tangan Lindsey yang berlumuran darah dengan kulit kepala tanpa rambut kini tengah menggaruk wajah cantiknya. Kulit halus dan lesung pipi yang selalu hadir itu kini harus terluka dalam dan terus kian dalam saat dua tangan mungil itu terus menggaruk bahkan mencongkel daging kenyal pipinya, seakan ingin mengeluarkan sesuatu yang ada di dalamnya. Dan tidak ada yang dapat menghentikannya meski rasa sakit itu jelas terasa.
"Keluar! Keluar dari tubuhku! Jangan menggerayangiku!" teriak Lindsey tanpa sadar. Tangannya terus mencari dengan menggaruk bahkan mencongkel daging di tubuhnya sendiri.
"Bukankah itu sesuai?" gumam Julia sangat pelan. Matanya menatap Lindsey dengan rasa dingin yang kejam. "Lindsey, kini kau menjadi boneka yang rusak."
Tak cukup sampai di sana, Lindsey membawa tangannya ke arah perut untuk menggaruknya. Mengorek bagian perutnya untuk mengeluarkan sesuatu di dalamnya. Membuatnya berteriak kesakitan namun rasa gatal itu lebih hebat dari rasa sakitnya. Hingga tercipta luka baru di bagian perutnya. Yang awalnya lecet, kini menjadi luka menganga atas setiap goresan kuku-kuku Lindsey yang ditorehkannya di tempat yang sama berulang-ulang.
Racun itu juga kini menimbulkan luka-luka yang di derita Lindsey membusuk dalam waktu singkat. Dengan mata terbelalak kesakitan dan tubuh yang tak berdaya di lantai yang bersimbah darah, tangannya tetap tak berhenti menggaruk seluruh tubuhnya hingga seluruh organ tubuhnya tak berfungsi dengan baik. Pada akhirnya, ia meregang nyawa dalam keadaan buruk dengan keadaan tubuh yang tak lagi utuh.
Lindsey, ia lebih seperti boneka buruk rupa yang mengenaskan. Seluruh orang yang ada di dalam ruangan itu, terdiam. Mereka terhantui dengan rintihan kesakitan Lindsey sebelum kematian. Membuat seluruh desah berat dalam ruangan terdengar satu sama lain. Meski begitu, tak satupun dari mereka yang memulai untuk bicara. Mata mereka semua jelas melihat bagaimana Lindsey melukai dirinya sendiri hingga mati.
__ADS_1