Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Menuju Awal Perjumpaan


__ADS_3

Tubuh Maxilian tanpa sadar telah bangkit dan mendekati tubuh Julia yang terlelap. Dia menyentuh bulu mata panjang itu dengan mendekatkan wajahnya. Jari-jari lentiknya memainkan bulu mata Julia yang bersatu hingga mata yang tertutup itu bergerak sesaat. Melihat gerakan ringan itu, dia sontak mundur dengan tangan tertahan di udara.


"Apa yang kulakukan?" tanyanya pada dirinya sendiri. Menggelengkan kepalanya, dia kembali duduk dan tertegun. Ini salah! ini sudah pasti salah. Dia tak mungkin ingin menyentuh Julia lebih dari yang pernah ia lakukan. Dorongan dari pikirannya saat menyentuh bulu mata Julia sangat menggebu.


Pikirannya memerintahkan anggota tubuhnya untuk bergerak lebih dari itu. Lebih dari sentuhan dan dia ingin kepuasan!


"Maxilian."


Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Maxilian sampai tak menyadari bahwa Julia telah bangun. Dia mendapati mata bulat hitam itu tengah terbelalak lebar menuntut penjelasan.


"Aku baru saja akan menyeret tubuhmu jika kau tak bangun dalam waktu sepuluh menit." ujar Maxilian dingin.


Julia bangun dan memperbaiki kain yang telah membalut tubuhnya. Dia memeriksa dirinya sekali lagi dan menatap Maxilian penuh tanya. "Apa yang kau lakukan di sini?"


"kau tak lihat? Aku sudah jelas menunggumu."


"Kenapa kau harus masuk ke dalam ruangan ini? Kau kan bisa menungguku di luar atau--"


"Berisik! Kau terlalu banyak bicara."


Julia terdiam dengan rasa kesal yang mulai terlihat. Dia memperhatikan sekitarnya dan telah memastikan bahwa tak akan ada masalah jika dia melawan. "Keluar! Lebih baik kau keluar sekarang, karena aku ingin menikmati waktuku sendiri."

__ADS_1


Tanpa sadar, dia sudah melompat dengan mengacungkan tangannya pada Maxilian. Setiap berbicara dengan Maxilian, amarahnya dengan mudah tersulut dan siap meledak kapan saja. Dengan berapi-api dia sama sekali tak menyadari bahwa kain yang ia pakai untuk menutupi tubuhnya telah terlepas. Sehingga terpampang jelas pakaian dalamnya begitu saja.


"Itu." ucap Maxilian ragu. Dia menunjuk tubuh Julia yang hanya menggunakan pakaian dalam. "Kali ini bukan salahku, oke?"


"Apa?" bentak Julia sambil melihat dirinya sendiri. "Ahhhkkk!! Maxilian..!! kauu!! Ahrghh!!!"


Maxilian menutup telinganya dan keluar dari ruangan saat Julia dengan brutal memukuli tubuhnya. Dia menahan tawanya saat melihat ekspresi Julia saat tahu bahwa tubuhnya telah telanjang. Menunggu di dalam mobil, saat dia duduk di belakang kemudi, tawanya lepas hingga matanya mengeluarkan air mata.


"Julia.. Dia.. Hahaahaha"


Maxilian terbahak sambil memukul stir kemudi beberapa kali. Dia tak tahu jika Julia bisa mengeluarkan ekspresi yang tak dia tahu. Selang beberapa waktu, Julia keluar dari gedung perawatan. Dia menahan tawanya dan bersikap seakan tak pernah melihat apa-apa.


Julia duduk di samping Maxilian dengan wajah merah padam. Rasa malunya tak bisa di tahan tapi dia mencoba bersikap seperti biasa. Dia melirik Maxilian yang mulai menjalankan kemudi dan membawanya ke sebuah tempat yang tak pernah ia datangi sebelumnya. Turun bersama, mereka berdua tak mengira bahwa Mery telah menunggu di sana. Tapi hal yang membuat Maxilian waspada adalah ke lima sepupunya juga hadir di sana.


Melihat perubahan ekspresi yang sangat cepat pada wajah Julia, Maxilian terkesiap. Dia tak menyangka bahwa gadis yang dinikahinya begitu cepat berubah dalam waktu secepat ini. Meski dia pernah melihat sekali di apartemen tapi tetap saja, setiap melihat ekspresi Julia yang berubah sewaktu-waktu itu, maxilian selalu terkejut sampai bergidik ngeri.


"kau tak memberitahuku bahwa nenek akan datang. Kau bilang ini hanya sekedar mencoba gaun pernikahan, tapi dari yang aku lihat, kita seperti akan pergi piknik bersama." Tegur Julia di tengah senyumnya.


Maxilian menundukkan wajahnya sedikit lalu berbisik di telinga Julia. "Aku tak tahu bahwa nenek akan datang. Ingatlah, jangan membuat kesalahan."


Julia menaikkan wajahnya dan mengikis jarak di antara mereka. "lalu bagaimana dengan ke lima sepupumu?"

__ADS_1


Mereka melangkah beriringan, menatap orang-orang yang telah menunggu mereka. Karena langkah Maxilian yang cepat, Julia sedikit sulit menyamakan langkahnya. Kakinya tersandung dan dia melepaskan tangannya. Tapi pada saat yang sama, tangan Maxilian langsung menahan tubuh Julia agar tak terjatuh. Hanya saja, Maxilian meletakkan tangannya pada tempat yang kurang tepat. Tangannya tepat berada di dada Julia hingga membuat Julia memelototkan matanya.


"Apa yang kau pegang\, ba******an?" Tanya Julia dengan suara tertahan namun penuh penekanan. Jika bukan karena dia harus bertindak seperti istri yang sangat mencintai suaminya\, maka dia sudah pasti akan menampar wajah Maxilian. Jika bukan karena pernikahan kontrak ini\, dia tak akan membiarkannya diperlakukan seperti ini. Maxilian\, pria ini selalu pandai memanfaatkan situasi.


Maxilian menarik tangannya dan melihat ke bawah pada kaki Julia. "Aku tak sengaja." jawabnya tanpa rasa bersalah. "Hak tinggimu patah." dia berjongkok dan memeriksa kaki Julia. "Apakah kakimu terluka?"


Julia menahan rasa marahnya dan tetap tersenyum paksa karena melihat Mery tengah meneriaki namanya. "Kau pikir aku akan percaya begitu saja? kau pasti mengambil kesempatan dalam kesempitan."


"Itu tak penting, tapi saat ini kau harus tahu sesuatu. Sepupuku, hati-hatilah untuk berada di sekitar mereka. Mereka semua tak seperti yang terlihat di permukaan." tangannya dengan tiba-tiba menggendong tubuh Julia ke depan tubuhnya.


"Ahk!" pekik Julia pelan. Dia mengalungkan tangannya di leher Maxilian. Tiba-tiba dia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tentang kehidupan prianya. "Ada apa dengan mereka?"


"Jangan banyak bicara, cukup hindari mereka."


Julia diam, dia melihat wajah Maxilian dari bawah. Lalu beralih ke depan dan tersenyum manis. "Menghindari mereka? Kurasa mereka tak akan melepaskanku dengan mudah. Jika terjadi sesuatu pada keselamatanku, kau harus membayar gaji beserta kompensasinya."


Maxilian mendesis pelan. "Apakah kau hanya bisa memikirkan uang?" Seperti yang dia duga, istrinya ini sangat gila uang.


"Tentu saja. Istrimu ini sangat mencintai uang."


Jarak mereka tak lagi jauh. Dari jarak sedekat ini. Julia bisa melihat wajah Mery yang bahagia. Lalu tatapannya beralih pada Rose yang mengapit lengan Mery manja. Di samping Rose seorang gadis tengah menepukkan tangannya berkali-kali. Sorakan riangnya membuat wajah cantik itu memperlihatkan dua lesung pipi yang dalam. Beralih lagi, Julia menyipit saat melihat seorang gadis di sebelah kanan Mery. Tak memiliki ekspresi namun saat bola mata bertemu, gadis itu tersenyum tipis. Dengan tatapan mata yang sama dalamnya. Ada beberapa getaran yang sama-sama mereka tunjukkan.

__ADS_1


Gadis ini, Julia merasa memiliki sesuatu yang akan di sampaikan padanya.


Di belakang Mery, dia melihat Carlen yang tersenyum manis sambil melambaikan tangannya. Matanya berkedip beberapa kali untuk menggoda Julia dengan satu tangan yang lain memegang bunga mawar putih. Di samping Carlen seorang pria bermata biru tampak menatap intens Julia seperti sedang melucuti Julia dalam satu kedipan. Saat mata mereka bertemu, Julia jelas tak mengedipkan matanya hingga pria itu memutuskan tatapan mata mereka.


__ADS_2