
Dua minggu kemudian Julia menemui Ben di penjara. Setelah kejadian penusukan yang dilakukan Ben terhadap Sely, akhirnya Ben menyerahkan diri ke kantor polisi. Pada sebuah meja berwarna hitam yang selalu diawasi ketat oleh beberapa sipir penjara, Mereka duduk diam saling berhadapan.
"Apa kau bodoh? ucap Julia dengan marah.
"Itu yang terbaik untuknya."
"Aku memberimu pisau itu untuk menggertaknya. Tapi kenapa kau harus benar-benar melukainya."
Ben terkekeh, "aku tak bisa membiarkannya begitu saja setelah apa yang dia lakukan terhadap keluargaku. Aku juga tak bisa membiarkannya terus berkeliaran di sekitarmu."
Tatapan Julia menyipit, "jadi apa yang harus kulakukan selanjutnya?"
"Aku serahkan semuanya padamu. Julia, kau tahu bahwa aku sangat bersalah. Aku tak bisa meminta sesuatu lagi padamu. Tapi jika ini soal Sely, kurasa kau tahu apa yang harus kaulakukan."
Dia menarik tangannya dari atas meja dan dia lipatkan di atas dadanya. Ia menoleh ke samping untuk menatap Tomas sejenak. Jika bukan karena dukungan keluarga Lunox, dia pasti ikut terseret dalam kasus Ben. Tapi siapa sangka Tomas dapat mengatasi semuanya, bahkan Ben bersaksi untuknya, bahwa pisau yang ia pakai untuk menusuk Sely dia dapatkan dari dalam tas Sely.
"Kau lagi-lagi memanfaatkanku bukan?" tuduh Julia langsung.
Ben terkekeh lagi. "Aku tahu kau memiliki sesuatu dengan Sely. Bagaimana kabarnya?"
"Cih, apa yang kau harapkan? Dia sudah pasti gila setelah mendapati wajahnya yang terluka."
Tawa Ben menyambut. Matanya menatap Julia dengan jejak penuh kepuasan. "Itu adalah hal yang pantas dia dapatkan."
__ADS_1
"Paman tak mengunjungimu akhir minggu ini bukan?"
Saat orang tuanya disebut, Ben terdiam. Ekspresi wajahnya berubah. Begitu banyak penyesalan yang ia rasakan kepada keluarganya. Dia tak bisa mengharapkan banyak hal, terutama maaf orang tuanya. Kesalahannya sudah sangat fatal. Meski stempel keluarga sudah ia dapatkan kembali, tapi beberapa properti telah Sely jual. Dan ayahnya tidak akan memaafkannya dengan mudah.
"Apakah ayah ibu baik-baik saja? Kurasa ibu akan kembali mengalami hari yang berat." Ada rasa rindu yang begitu besar di matanya. Bibirnya tersenyum getir dengan segala penyesalan.
"Dasar bodoh!" maki Julia geram. "Aku tak akan membantumu kali ini."
Ben mengangguk. Matanya jatuh pada sosok Tomas yang berdiri di sebelah Julia, kemudian kembali menatap Julia di hadapannya. "Aku tahu kau menikah dengan keluarga Lunox."
"Jangan mengalihkan pembicaraan."
"Tapi aku bisa sangat tenang saat melihat suamimu memperlakukanmu dengan sangat baik."
"Jaga dirimu baik-baik." tahan Ben saat Julia akan bangkit dari duduknya. "Aku tahu tak mudah hidup di sebuah keluarga baru, apalagi keluarga Lunox."
Julia melihat Ben yang menghawatirkannya. " Khawatirkan dirimu sendiri."
Setelah itu Julia meninggalkan Ben dan kembali pada sebuah tujuan. Bangunan besar itu tampak sunyi dari luar. Julia turun dari mobil dengan didampingi Tomas dari belakang. Mereka memasuki gedung bernuansa putih bersih, dan sejak itu Tomas mulai berjaga di samping Julia.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Julia memulai pembicaraan.
Tomas berjalan cepat mengikuti langkah Julia. Dia menahan beberapa orang yang akan datang pada mereka. "Tak ada perubahan. Nona Sely tetap berteriak histeris setiap hari. Dia menggosok-gosokkan wajahnya dengan kukunya. Membuat luka tusuk itu selalu mengeluarkan darah dan bernanah. Lukanya belum kering, namun makin parah karena selalu ia lukai lagi dengan kukunya. Cakaran kukunya juga menyebabkan luka makin infeksi sehingga menimbulkan bau tak sedap."
__ADS_1
Julia terdiam, ia melewati beberapa tangga dan mengikuti seorang perawat yang mengantarnya. Berdiri di depan pintu, lalu bergeser pada kaca tebal pembatas di samping pintu itu.
Di sana ia melihat Sely tengah menjerit kesakitan, lalu tertawa, menangis dan meraung. Kedua tangannya terikat dengan besi yang dikaitkan dengan tempat tidur agar tak terus menerus melukai dirinya sendiri. Kakinya pun mengalami hal yang sama dan mulai mengeluarkan darah karena tubuhnya selalu meronta.
Wajahnya yang terkenal cantik kini tampak sedikit mengerikan. Rambutnya yang panjang dan biasa tergerai cantik kini tampak usang dan berantakan. Dengan tubuh yang kurus, dan mata yang mulai menghitam, Sely kini terlihat mengenaskan.
Melihat ini semua, hatinya mendingin. Tak ada jejak kasihan atau simpati di matanya. Dia hanya menatap datar kesengsaraan Sely dengan bibir tertarik halus. Mata hitamnya tampak puas melihat Sely sedemikian rupa. Namun dalam benak terdalam, Julia masih ingin menuntut lebih.
Tak ada ampun bagi orang-orang yang telah menyakitinya. Dia tak akan memberikan ampun ataupun menyudahi dendamnya sebelum melihat lawan-lawannya mati mengenaskan. Sely, dia harus menderita lebih dari ini. Dia harus membalaskan dendam agar semua penyesalan dari pemilik tubuh asli ini terbayar.
Karena jiwanya adalah Angel, maka jangan mengharapkan memiliki perasaan simpati terhadap temannya. Sely bukan temannya, melainkan teman Julia. Dia ingin melihat Sely menggaruk lukanya sendiri hingga kuku-kuku tajam itu menggali daging hingga ke tulangnya. Dia ingin Sely merasakan dan tahu kematian Julia adalah sebuah kesalahan yang gadis itu buat.
Menghianatinya dengan tunangannya bahkan memanfaatkan kebaikan Julia. Bahkan kematian Julia, Sely memiliki andil di dalamnya. Dan sekarang dia terjebak pernikahan kontrak dengan seorang pria yang kejam. Semua itu karena Sely yang sudah bekerja sama dengan tunangannya untuk merebut seluruh harta warisan orang tuanya.
Julia tanpa sadar mendekatkan dirinya dan menggerakkan tangannya menyentuh kaca tersebut. Dia menatap Sely tanpa berkedip dengan senyum yang sangat tipis. Saat matanya bertemu dengan mata Sely, Sely membeliakkan matanya dan tubuhnya makin kuat memberontak. Berteriak kencang memanggil namanya dengan sumpah serapah yang tak terdengar jelas.
"Oh Sely, betapa malangnya dirimu."
Tomas melirik Julia saat kata-kata simpati keluar dari bibir nona mudanya itu. Dia tak yakin pada pandangannya karena saat ia melihat Julia lebih teliti, dia hanya melihat kekejaman. Di mata nona mudanya nampak kepuasan meski bibirnya berucap kasihan. Apakah ini salah satu sifat tersembunyi dari nona mudanya? Membuat tubuhnya kaku seketika. Bulu kuduknya berdiri, tak percaya dengan sikap nona mudanya. Nona mudanya tak mungkin sekejam itu bukan?
Julia akan berkunjung selama dua puluh lima menit atau bahkan lebih setiap harinya untuk melihat perkembangan Sely. Di hadapan semua orang dia terlihat sebagai sahabat baik yang peduli dengan temannya yang tengah dirawat di rumah sakit jiwa dimana semua orang tak tahan berada di sana terlalu lama. Memanfaatkan keadaan untuk memperbaiki citranya, dengan mudah ia menyembunyikan maksud tertentu di dalamnya. Di balik kepolosannya, ia menyembunyikan kekejamannya.
Tak ada yang tahu niat Julia sebenarnya. Bahwa ia sengaja datang setiap hari untuk memperparah kejiwaan Sely. Untuk memastikan Sely menderita setiap harinya. Untuk membuat Sely semakin memperparah luka cakarannya. Dia tak akan dengan mudah membiarkan luka tusukan itu sembuh. Dia ingin Sely gila seumur hidup. Dia ingin Sely tahu bahwa kecantikannya tak akan bertahan lama. Dan dia ingin wajah Sely membusuk, kalau perlu sampai ulat menggerogoti dagingnya yang lain.
__ADS_1
Satu-satunya orang yang memahami segala tindakan Julia hanyalah Ben. Itu kenapa Ben hanya tersenyum dan tak akan menyeret Julia untuk semua hal yang telah terjadi. Ben ingin Sely hidup menderita. Dan satu-satunya orang yang mampu melakukan itu hanyalah sepupunya. Julia! seorang wanita kejam yang memiliki dukungan kuat dari pria yang tak kalah kejamnya. Bukankah mereka pasangan yang sempurna?