Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Kejutan Yang Melimpah


__ADS_3

Hari-hari berikutnya nampak begitu indah bagi kebersamaan Lian dan Julia. Hal pertama yang ingin ia lakukan setelah sembuh dari lukanya adalah menemui sepupunya, Ben. Namun siapa sangka ia tak dapat menemuinya di kantor polisi. Informasi yang ia dapatkan adalah Ben telah dikeluarkan dari penjara oleh para pengacara keluarga Lunox.


Menunggu di samping mobil, Julia menghubungi Maxilian tepat setelah ia keluar dari kantor polisi. Saat nada tersambung, Julia tersenyum hangat meski Maxilian tak dapat melihatnya.


"Lian, kau penjamin Ben?"


"Apa kau suka kejutannya?"


Julia tersenyum mendapati nada dingin Maxilian, namun dia sudah sangat memahami maxilian. "Hmm, terima kasih sudah mengeluarkannya."


"AKu akan pulang malam, tidak perlu menungguku."


"Apakah kau begitu banyak urusan? Kalau begitu, bisakah kau ijinkan aku keluar sampai malam? AKu memiliki banyak urusan untuk kuselesaikan."


"Jeni akan ikut bersamamu, pulang sebelum malam."


"Hmm, baiklah."


Julia baru saja menutup teleponnya saat sebuah mobil berhenti di tepat di sampingnya. Ben keluar dan langsung memeluk tubuh Julia erat.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ben khawatir.


Julia terhenyak, ia belum bisa menyesuaikan posisinya namun pelukan Ben benar-benar kuat hingga tubuhnya sedikit terangkat. Sepupunya ini memang mempunyai tubuh tinggi dan kuat.


"Kau belum menjawab. Apakah kau baik-baik saja? Bagian mana yang terluka? Suami br**sekmu itu sudah menceritakan semua. Kau terluka bahkan hampir mati di tangan saudara-saudara gilanya."


Mendengar Ben yang mengoceh panjang, Julia tersenyum tanpa sadar. Tangannya membalas pelukan Ben sesaat. "Hmm, aku baik-baik saja. Itu sudah dua minggu yang lalu. Ben, sekarang kita sedang di jalan."


"Lalu kenapa jika di jalan? Kenapa kau selalu bermain api? Bagaimana jika kau mati? Dengar, kau hanya memilikiku saat ini, sudah kubilang jangan banyak berulah selama aku masih di dalam penjara."


"Kau benar-benar khawatir padaku?"


Ben melepaskan pelukannya dan menangkup ke dua pipi Julia. "Aku sudah memukulnya untukmu. Lain kali jika ia membuatmu dalam bahaya lagi, maka aku akan menyembunyikanmu darinya."


Julia tertawa. "Baiklah, lakukan saja. Tapi, sejak kapan kau keluar dari penjara?"


"Dia tak memberitahumu?"


Julia menggeleng. "Dia tak pernah mengatakan apapun padaku."


"Satu minggu lalu. Apa dia tak memberitahukan hal lain padamu?"


Julia menggeleng sekali lagi." Memang ada kejadian apalagi?


Ben mengangguk. "Aku akan menceritakan semuanya. Ikut aku."


"Tapi aku masih memiliki urusan lain."


Ben menarik tangan Julia menuju mobilnya. "Urusanmu itu bisa menunggu. Aku tahu hal apa yang ingin kau lakukan."


"Nona."


Langkah Ben terhenti saat tiba-tiba Jeni menghadang Ben dengan tangan tepat di atas tangan Ben yang tengah menggenggam tangan Julia. Jeni menatap Ben tajam dan setelahnya memastikan bahwa nona mudanya masih baik-baik saja.


"Jeni, dia..."


"Jauhkan tanganmu." tegur Ben dingin.


Namun Jeni bergerak sangat cepat. Menekan tenaganya keras di lengan Ben lalu membalikkan badannya sedikit dan satu tendangan telah sampai tepat di rahang Ben. Membuat pria itu terpental dan pada akhirnya Julia hanya bisa tertegun melihat semuanya.


"Nona, menjauhlah darinya."


Belum selesai keterkejutan Julia, Jeni sudah menarik tubuhnya ke belakang.


"Yak! Gadis macam apa kau!" maki Ben keras. Ia bangun dan segera mendekat. Menatap Jeni penuh dengan permusuhan.


"Jangan dekati nona mudaku."


"Siapa yang kau sebu.."


"Berhenti!" lerai Julia keras. "Jeni hentikan, dia sepupuku."

__ADS_1


"Apa?"


"Jeni, pria yang kau pukul itu adalah sepupuku."


"No-nona, maaf, maaf. Aku sungguh tak tahu. Kupikir dia akan membawamu pergi."


"Siapa wanita ini?" tanya Ben berdiri di samping Julia.


"Jeni, orang yang diutus Maxilian untuk menjagaku."


"Tuan, aku minta maaf. Sungguh aku tidak tahu bahwa anda adalah saudara nona."


Ben menatap sekeliling. "Ayo pergi, ini kantor polisi. Mereka bahkan mulai keluar karena keributan yang penjagamu ini buat."


"Nona, tuan memintaku untuk.."


"Hari ini aku akan pergi dengan sepupuku."


"Tapi nona,"


"Ini perintah."


Jeni terdiam dan menunduk patuh saat Julia masuk ke dalam mobil bersama Ben dan berjalan pergi. Di dalam mobil Ben melirik Julia.


"Kau selalu dikawal?"


Julia mengangguk. "Musuhnya tak sedikit. Aku bisa menjadi kelemahannya."


"Suami kontrakmu itu, apakah tak menceritakan apapun padamu?"


"Aku benar-benar tak diberitahu. Memangnya apa yang terjadi?"


"Dia mengeluarkanku dari penjara dan membuat bisnis keluargaku membaik."


"Itu bagus. Ayo kita pulang, aku lama tak bertemu tante Maria."


"Ada lagi. Ini tentang mantan tunanganmu, Jordan."


"Jordan? ada apa dengannya?"


"Oh ayolah, kenapa tidak kau ceritakan saja. Untuk apa kita menemuinya."


"Kau benar-benar tak tahu?" ulang Ben berkali-kali. Dia hampir tak percaya bahwa JUlia tak mengetahui apapun.


"Lalu Janet, apa kau tahu bahwa sepupumu itu mati mengenaskan?"


"Mati? Bukankah ia dikurung di rumah pinggiran kota?"


Ben menggeleng. "Seseorang mencoba melepaskannya, hingga akhirnya dia ditemukan tewas dengan tubuh tak terbentuk. Bahkan bau busuk keluar dari tubuhnya."


Julia tercenung. Ia hanya terdiam dan berpikir. Tubuh Janet tak terbentuk dan mengeluarkan bau busuk dari tubuhnya. Itu artinya ia juga diracuni seperti yang telah terjadi pada Lindsey.


"Jordan, suamimu itu membuatnya menjadi pria tak berguna. Suamimu meremukkan bagian inti tubuhnya dan dia tak dibiarkan mati. Sebenarnya pria seperti apa yang kau nikahi itu? Kenapa dia sangat kejam?"


"Apa yang kau tahu tentang Jordan?" tanya Julia dingin.


"Dia datang mencarimu dalam keadaan mabuk. Berteriak memanggil namamu dan mengatakan kalau dia ingin menidurimu. Dia akan menggagahimu sampai kau tak bisa bangun dari tempat tidur. Apa laki-laki itu id*ot? Dan yah, pada akhirnya suamimu meremukkan master kecilnya hingga dia sekarat namun tetap dibiarkan hidup. Aku akan membawamu menemuinya."


Julia tanpa sadar tersenyum samar. Hatinya tiba-tiba menghangat. Dan saat mobil tiba di rumah sakit, Julia berjalan masuk bersama Ben. Mereka masuk ke salah satu ruang perawatan dan melihat sosok Jordan yang tengah berbaring lemah.


"Lihatlah akibat perbuatan suamimu."


Mata Julia menatap wajah Jordan yang terlihat lemah dan terpejam. "Dia pantas mendapatkannya."


"Apa?"tanya Ben terkejut. Dia menatap Julia untuk memastikan pendengarannya.


"Kapan peralatan ini dilepas?"


"Julia, dia akan mati jika semua alat ini dilepas."


Julia mendengus kesal. "Bukankah itu lebih baik. Akan lebih baik lagi jika dia mati mengenaskan."

__ADS_1


"Kau, Bagaimana bisa kau.."


"Tunggu," potong Julia tiba-tiba. "Biarkan dia hidup. Itu akan lebih baik saat ia hidup dan menyadari bahwa ia menjadi laki-laki tak berguna. Aku ingin tahu, wanita mana yang mau mendampinginya."


Ben tercengang. Ia tahu bahwa sepupunya telah berubah. Tapi dia tak paham benar tentang sikap kejamnya selama ini. Lalu ia menatap miris Jordan. Hidup tanpa bisa menggunakan master kecilnya, benar-benar mengerikan. Julia dan Maxilian, bagaimana bisa sekejam ini? Sejenak ia bergedik ngeri.


**


Setelah mengunjungi Jordan, Julia membawa Ben mengunjungi Sely. Membuat gadis itu kembali hsiteris dan ketakutan. Dan seterusnya, Ben akan mengambil alih tugas tersebut hingga Sely kian tak terkendali dan mati bunuh diri.


Mendapati Julia yang pergi, Ben hanya menatap mobil mewah yang menjemput Julia. Dia juga bisa melihat seorang gadis yang sangat cantik di sana. Meski khawatir, namun Julia terus meyakinkannya kalau sepupu Maxilian ini, tak akan membuat masalah. Hingga ia hanya mengawasi diam-diam hingga mobil itu melaju meninggalkan halaman rumahnya.


Di dalam mobil, Julia menatap Hanna sesaat. "Kau tak perlu menjemputku langsung."


Hanna tersenyum. "Itu menyenangkan melihatmu pergi tanpa pengawal. Aku memiliki satu informasi baru, tapi aku memiliki jadwal pemotretan setengah jam mendatang. Itu tak lama, apa kau bisa menungguku?"


Jantung Julia berdebar kencang saat satu kata itu terdengar. Pemotretan, adalah salah satu hal sangat ia rindukan. Matanya tampak berbinar bahagia dan tanpa sadar ia berujar. "Bisakah aku ikut ke lokasi itu? Aku ingin melihatmu bekerja."


Hanna menoleh. "Tentu saja, aku akan mengatur agar seseorang tak mengganggumu."


Julia hanya diam, pikirannya melayang. Ia saat menjadi Angel Zhao, bintang besar yang mempunyai banyak penghargaan, selalu memiliki jadwal padat untuk beberapa pemotretan. Dia tak menyangka, bahwa dalam kehidupannya ini, ia masih bisa memasuki lokasi yang ia rindukan. Kali ini ia berniat melihat Hanna bekerja dan menikmati setiap momen dalam diam. Dengan senyum tipis, ia membuang pandangannya ke luar jendela. Menatap jalanan yang ramai dan.."


"Hanna hentikan mobilnya!" teriak Julia tiba-tiba.


Hanna menginjak pedal rem segera. Membuat tubuhnya terantuk kedepan. "Julia, apa kau gila?" tanyanya pada Julia tak mengerti.


Namun Julia hanya diam. Matanya terus menatap keluar dan mengelilingi sekitar. Dia tak yakin namun dia benar-benar menyadari apa yang dilihatnya.


"Tak mungkin. Tak mungkin dia."


"Ada apa? Siapa yang kau lihat?" kini Hanna ikut penasaran. Ia menundukkan sedikit kepalanya untuk memandang ke arah pandang Julia.


Julia tak mejawab. Namun matanya jelas menangkap sosok Lusi Zhao di sana. Sepupunya itu seharusnya berada di cina, kenapa dia berada di Las Vgas? Kenapa ini sangat kebetulan. Awalnya Aaron, kini Lusi pun ada di sini. Apakah ini kesempatannya balas dendam, atau ini hanya sebagai pengingat dendamnya?


"Apa? apakah itu Maxilian?" gumam Hanna saat tahu arah pandang Julia. Matanya hanya mengunci sosok tinggi yang baru saja memasuki mobil. "Dengan siapa ia keluar? Aku yakin dia tak sendiri."


Pikiran Julia makin tak menentu. Ia menoleh pada Hanna dan mengatur emosinya. Tersenyum dan berkata. "Ayo kita pergi."


"Kau tak ingin memastikannya? Aku yakin itu suamimu."


Julia mengeratkan genggaman tangannya. Kata-kata 'suami' itu menyadarkannya. Mana mungkin Maxilian mengenal Lusi. Tidak, itu tak mungkin! Ya itu tak mungkin.


Hanna kembali menjalankan mobilnya. Namun pikiran Julia melayang kacau. Sesuatu yang aneh mulai berdatangan dalam isi kepalanya, membuatnya tanpa sadar menggigit bibir bawahnya pelan.


"Kita sampai." ujar Hanna menyadarkan Julia dalam diam. "Kita ke lokasi pemotretan dulu. Setelah itu kita ke lokasi syuting. Kau tak keberatan bukan?"


Julia menggeleng. Ia turun dan menatap sebuah gedung tinggi yang berada di depan matanya. Beberapa poster artis ternama tampak di pajang di beberapa tempat. Ia mengingat saat ia menjadi Angel dan seluruh rasa khawatir yang sebelumnya ia rasakan pun menghilang.


"Ayo masuk."


Julia mengangguk dan mengikuti Hanna. Mereka melewati beberapa tingkat gedung untuk sampai pada tujuan. Hingga saat lift terbuka, seorang pria yang tampak cukup dewasa namun tampan sudah menunggu kedatangan Hanna.


"Hanna, oh syukurlah. Kupikir kau akan langsung ke lokasi syuting."


Hanna tersenyum samar. "Kakak, aku sudah membaca pesanmu."


"Itu bagus, ayo ke tim make up, pemotretan akan segera dimulai."


karena sangat tergesa, kehadiran Julia seperti tak terlihat. Julia pun hanya mengikuti Hanna dan duduk di ruang make up tanpa banyak bicara. Dia duduk di bangku samping dan hanya melihat Hanna tengah di make up.


"Julia, apakah kau kurang nyaman?" tanya Hanna tiba-tiba.


"Julia menggeleng pelan. "Tidak, aku sudah terbiasa dengan itu. "Jawabnya tanpa sadar. Benar, dulu ia sudah terbiasa berada di dalam ruangan itu. Jadi kali ini pun ia duduk dengan santai dan anggun. Tangannya mengambil majalah role mode dan ia tertegun saat membuka halaman utama. Wajah Lusi ada di sana.


"Wah apa ini?" gumamnya takjub. Tangannya sontak menutup majalah tersebut dan meletakkan ke tempatnya kembali.


Julia meletakkan jarinya ke pelipis dan memijatnya pelan. Apa ini? Apa yang sudah terjadi? Kenapa ada wajah Lusi di majalah ini?


Julia menggelengkan kepalanya pelan. Tangannya kembali terulur ke tumpukan buku dan kali ini mengambil sebuah majalah tren fashion terbaru. Ia menenggelamkan dirinya pada dunia yang telah lama ia rindukan hingga tak sadar Hanna telah meninggalkannya untuk pemotretan. Pelan ia balikkan tiap halaman majalah itu. Lagi-lagi tatapannya terkunci pada gambar di majalah itu. Tangannya bergetar.


"Lusi Zhao." gumamnya jelas.

__ADS_1


Dia hampir saja tertawa karena tak mempercayai semuanya. Namun sayangnya keterkejutannya itu sangat tak bisa ia kuasai. Menatap kosong pada wajah yang tengah tersenyum cantik di dalam majalah itu. Ekspresinya memburuk dengan sangat cepat. Wajah ini.. meski berpuluh kali ia mati, ia tak akan pernah lupa pada wajah Lusi. Kenapa banyak sekali kejutan hari ini untuknya.


"Jadi ini benar dirimu, Lusy?"


__ADS_2