
Beberapa dokter terbaik di datangkan atas perintah langsung dari keluarga Lunox. Di luar ruangan, Mery tampak terlihat sangat khawatir dan tak dapat duduk tenang. Tomas berkali-kali meminta Mery untuk pulang dan istirahat sedangkan dia akan menangani sisanya. Sedangkan Sely, hanya duduk menunggu dengan memperhatikan dua orang asing yang baru saja dia temui. Tak berani bertanya apa pun, terlebih melihat kekhawatiran wanita asing itu, membuatnya diam dan hanya menunggu.
Beberapa jam kemudian, Lucas datang dan terlihat tergesa-gesa. Mery menangis cukup keras hingga akhirnya sebuah telepon membuat Tomas memberikan pada Mery. Maxilian memerintahkan neneknya untuk pulang karena sisanya Tomas yang akan menangani dengan baik. Mery menurut, suaminya Lucas Alexander Lunox membawa Mery pulang agar sedikit lebih tenang.
Di bangku antrian tunggu, Sely melirik Tomas yang berdiri patuh di samping pintu dengan raut tenang. Bergeser sedikit, dia terbatuk pelan sebelum akhirnya membuka suara.
“Maaf, apakah kau salah satu teman Julia?”
Tomas menoleh dan mengangguk. Lalu kemudian menatap lurus ke depan dalam diam.
“Aku tak pernah melihatmu sebelumnya.”
Tomas kembali menoleh. “Apakah kau salah satu teman nona mudaku?”
“Nona mudamu?” tanya Sely memastikan.
Tomas mengangguk. “Nona Julia,”
:Aku baru tahu bahwa Julia,” ujar Sely terhenti. Dia tak melanjutkan kata-katanya dan berpikir sejenak. Seketika matanya terbelalak lebar dengan pemikiran hati yang keras.
Apakah wanita tadi ibunya Jordan? Tapi pria ini, terlihat sangat asing untuknya. Tunggu, jika benar seperti ini, itu artinya wanita asing tadi adalah calon mertuanya. Tapi bagaimana, bagaimana bisa calon ibu mertuanya begitu dekat dengan Julia? Apakah wanita itu belum tahu sesuatu?
Merasa penasaran dengan pemikirannya sendiri. Dia akhirnya memperhatikan Tomas lagi. “Apakah kau dari keluarga Clovis?” tanyanya hati-hati.
Mendengar nama keluarga Clovis disebut, Tomas mengerutkan kening dan menatap dingin. “Keluarga Clovis? Tanyanya memastikan sekali lagi dengan nada remeh.
Sely mengangguk dan menunggu. Tapi dia tak tahu bahwa anggukan kepalanya membuat Tomas menjadi sedikit kesal. Siapa itu keluarga Clovis? Pemikiran itu membuat Tomas menatap pakaiannya sendiri dari atas hingga bawah. Dia merasa tak ada yang salah dengan pakaiannya karena setelan jas nya masih sangat rapi. Lalu dari mana wanita asing di sampingnya ini menyebutnya dari keluarga yang tak dikenal.
Tak mendapat jawaban, Sely menggigit bibir bawahnya. Bayangan bulu mata panjangnya terlihat di bawah matanya. Menampilkan sosoknya yang lemah lembut dan cantik. Beberapa helai rambutnya tampak tak teratur karena kepanikan beberapa saat lalu. Namun anehnya, itu membuat sosok lemahnya kian menonjol.
__ADS_1
“Aku tak tahu siapa keluarga Clovis.” Jawab Tomas tiba-tiba.
Sely menoleh, mengerutkan kening dan mencoba mempercayai pendengarannya. Pria ini tak mengenal keluarga Clovis. Sebuah keluarga yang cukup kaya bagi Sely. Lalu siapa wanita asing yang memanggil Julia dengan sebutan cucu menantu? Bisakah Julia telah menemukan seseorang dalam waktu dekat dan membantu semua kesulitannya? Memikirkan lagi, hal ini kian membuat rasa penasarannya meningkat.
“Lalu bagaimana—“
“Dokter, bagaimana keadaan nona mudaku?”
Belum selesai perkataan Sely, pintu ruangan yang semula tertutup rapat itu terbuka. Membuat Tomas bergerak cepat dengan penuh rasa kekhawatiran. Tanpa sadar Sely ikut mendekat,
“Aku ingin berbicara dengan walinya.” Ujar sang dokter menatap keduanya.
Tomas menepuk dadanya tanpa sadar. “Dia adalah nona mudaku. Aku bertanggung jawab sementara tuan mudaku tengah di Nivada.”
Sely menoleh, menatap Tomas dan mengernyitkan kening dengan kebenaran baru yang dia dengan. Jadi dia hanya diam, saat melihat Tomas pergi bicara dengan sang dokter. Berniat masuk dengan memegang gagang pintu, Sely menghela nafas dalam sebelum menyiapkan hatinya untuk melihat keadaan Julia. Dia jelas melihat Julia mengeluarkan banyak darah. Harusnya itu menjadi luka yang serius. Membayangkan ini, entah kenapa ada rasa sedih yang merambat tapi juga rasa kepuasan tersendiri.
“Berhenti di sana!”
“Nona mudaku butuh istirahat.” Peringat Tomas datar,
“Aku adalah temannya.” Pangkas Sely tak terima.
Tomas tersenyum tipis. “Aku tak peduli siapa dirimu. Tapi di dalam sana adalah nona mudaku. Dan dia harus istirahat!”
Kembali Tomas menatap sang dokter yang menunggunya melangkah karena berhenti untuk memberi peringatan. Akhirnya dia masuk dalam sebuah ruangan dan duduk berhadapan dengan sang dokter.
“Dokter, apakah ada luka yang serius?”
Sang dokter menimbang dan mengangguk. “Kepala, punggung dan kakinya terluka. Tak ada luka dalam yang cukup serius, hanya saja beberapa lukanya harus dijahit. Lalu, tulang kakinya juga retak. Nona muda anda juga membutuhkan istirahat yang cukup. Keadaannya juga tak terlihat begitu baik. Sepertinya dia memiliki banyak pikiran yang berat.”
__ADS_1
Tomas mengangguk dan merenung. Dia kembali bertanya dengan hati hati. “Dokter, luka itu, apakah meninggalkan bekas?” Dia tahu, betapa bermasalahnya sebuah bekas luka di tubuh seorang wanita.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin, tapi—“
“Lakukan yang terbaik.” Potong Tomas cepat. “Operasi, laser atau apapun. Berikan perawatan terbaik untuk nona mudaku. Keluarga Lunox kami akan sangat berterimakasih jika nona muda kembali sehat seperti semua.
Mendengar tekanan pada nama Lunox, sang dokter mengangguk mengerti. “Tak perlu khawatir, beberapa perawatan kami sudah sangat maju. Kami akan menangani agar semua luka itu tak meninggalkan bekas.”
Tomas tersenyum. “Keluarga Lunox kami sangat berterimakasih pada dokter.” Berdiri, dia menundukkan kepalanya sedikit lalu keluar dari ruangan tersebut.
Tanpa menunggu, dia mengetuk pintu kamar Julia pelan lalu membukanya. Tatapan matanya jatuh pada Sely yang telah duduk dengan menyilangkan tangannya di dadda. Matanya langsung jatuh pada Julia yang terlihat lemah dengan perban di kepala, kaki dan bagian lainnya. Meneliti sekali lagi, dia berjalan mendekat dan menundukkan kepalanya sedikit.
“Julia, kau benar-benar mengenalnya?” pecah Sely mencairkan suasana.
Mata Julia yang terpejam terbuka sedikit. Dia mengerutkan keningnya saat tatapannya bertemu dengan Tomas. Dia ingat pria ini, pria pemilik saham terbesar juga pria yang melamar dirinya untuk tuan mudanya yang tengah ia layani. Mengingat ini dia mencoba bangun namun terhenti saat peringatan itu sampai di telinganya.
“Nona, kau tak perlu bangun. Kau harus banyak istirahat.” Peringat Tomas mendekat dan menahan tubuh Julia yang baru saja akan bangun.
Sely memperhatikan itu dan semakin curiga. “Julia, kau tak mengenalnya bukan?”
Julia menoleh lemah ke arah Sely. Dia baru saja akan menjawab tapi suara Sely lebih dulu menyala.
“Nona, apa yang mau kau tanyakan? Nona Julia adalah nona muda kami. Bagaimana mungkin dia tak mengenalku dengan baik?”
Julia beralih menoleh dan menatap Tomas yang sangat yakin pada kata-katanya. Nona muda? Dia? Kapan? Tanyanya dalam hati. Tapi dia tak bisa menjawab saat suara Sely menimpali.
“Jangan bercanda! Kau dari tadi selalu mengatakan hal tersebut bahkan melarangku untuk masuk. Jika di pikir-pikir, kapan temanku ini menikah dan menjadi nona muda keluargamu?”
“Itu,” ucap Tomas ragu. Dia tak bisa menjawab karena memang semua belum pasti.
__ADS_1
“Itu benar!” jawab Julia tiba-tiba melerai perdebatan. “Aku telah menikah. Dan aku memang nona muda keluarganya.”