Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Bertemu mantan Tunangan


__ADS_3

Setelah kejadian di rumah itu, Lusi terus mengikuti dan membujuk Maxilian. Akhirnya ia berhasil mendapatkan sedikit waktu dengan Maxilian dan mengajaknya ke mall terbesar untuk membeli tas branded keluaran terbaru. Dan kali ini pun dia tak akan mendiamkan. Dia akan menemui Maxilian dan meminta bantuannya. Hanya Maxilian yang dapat membantunya.


Di suatu tempat, Julia tengah menikmati segarnya teh hangat. Dia heran, sepanjang jalan beberapa orang menghentikannya untuk berfoto atau meminta tanda tangannya. Sepertinya Julia masih belum sadar kalau wajahnya tengah menghancurkan hati seseorang mulai dari tadi malam.


Ia menunduk saat tangannya mengangkat minuman tersebut ke bibirnya, kemudian meletakkannya lagi ke meja.


"Kita bertemu lagi nona.."


Julia menahan tangannya saat sebuah sapaan terdengar. Wajahnya mendongak dan mendapati Aaron yang sudah duduk di hadapannya.


"Itu pasti bukan kebetulan." sahut Julia menanggapi. Ternyata sesuai dugaannya. Ada Lusi di sini, pasti juga ada Aaron mengikuti.


Aaronn meletakkan sebuah majalah di atas meja dan melihat Julia datar. "kau benar, aku datang karena ini." Tunjuknya ke majalah tersebut.


Julia meraih dan membuka majalah itu. Ia mendapati gambar dirinya. "Oh, sudah keluar."


"Apakah kekasihmu yang menyuruhmu?" tanya Aaron pada intinya.


"Aku tak tahu maksud perkataanmu."


"Model yang seharusnya ada di sini, aku yakin kau tahu."


Julia tersenyum miris. Tidak di kehidupan dulu atau kehidupan sekarang, pria ini selalu rela melakukan apapun demi wanita ular itu. "Oh maksudmu teman masa kecil kekasihku? Yang selalu datang kerumahku dan selalu menempel pada kekasihku?"


Aaron menyipitkan matanya. "Julia, kau pasti salah. Artisku bukanlah.."


"Tuan Aaron bukankah dia tunanganmu?" potong Julia dingin. "Tolong jaga tunanganmu agar menjauhi kekasihku."


Julia beranjak, berjalan meninggalkan cafe namun ia tak tahu ternyata Aaron tengah mengikutinya.Saat memasuki lift dan pintu yang tertutup pelan, tiba-tiba tertahan oleh tangan Aaron. Pria itu masuk menyusul Julia. Julia mendesah dengan tawa yang lirih.


"Katakan pada Maxilian utuk menjauhi calon istriku!" pringat Aaron langsung.


Julia termenung lalu tertawa kecil. "Aaron," panggilnya dingin. "Bukankah kau harus merantai kaki Lusi agar dia tak terus berkeliaran di sekitar kekasihku?"


"Kau!" tekan Aaron tak terima namun dia terdiam saat tiba-tiba Julia berdiri tepat di hadapannya dengan jarak yang sangat dekat. Gadis itu mengulurkan tangannya ke dada Aaron lalu bergerak turun dengan sangat pelan.


"Apakah aku penyampai pesan di matamu? Tunanganmu itu selalu mengganggu kekasihku. Emm, apa kau yakin kalau mereka sekedar teman masa kecil? Apa sebatas itu hubungan mereka? Aaron sebegitu besarnya cintamu untuk wanita sepertinya hingga kau tega membunuh wanita yang sangat mencintaimu?" ujar Julia dengan lirih namun penuh emosi.


Kenapa? Kenapa Lusi hadir dalam kehidupan dua pria di dua kehidupannya? Kenapa wanita itu selalu merebut semua hal miliknya? Bahkan kini, ia dapat meluluhkan hati Maxilian berkali-kali. Namun tidak kali ini. Dia tak akan diam lagi.


Aaron membelalakkan matanya saat kata-kata terakhir Julia terdengar seperti pukulan di kepalanya. Dia menahan tangan Julia dan menggenggam tangannya. Mendunduk, hingga dapat terlihat jelas kecantikan di hadapannya ini sungguh memikat. "Apa yang kau katakan?"


Julia tersenyum, menatap mata Aaron dengan senyum menggoda. Menarik dasi Aaron hingga wajah mereka berdekatan. "Bukankah kau yang paling tahu tentang maksud dari perkataanku? Aku bersimpati pada gadis yang pernah mencintaimu, dia pasti sudah buta karena kehilangan segalanya dan mati mengenaskan. Apa kau melakukan semuanya untuk Lusi?"


Aaron terkejut mendengar semuanya. Tanpa sadar ia mencengkeram pundak Julia dengan keras. "hati-hati dengan kata-katamu. Aku bisa membuatmu menyesal karena telah.."


"Aaron, kau mengancamku?" potong Julia dingin. Dia tersenyum dengan satu tangannya menyentuh pipi Aaron lembut. "Oh, kau masih sangat tampan. Aku jadi sedikit merindukanmu."


"A-apa?"

__ADS_1


Julia tersenyum saat merasakan cengkeraman Aaron mengendur. Dia menjatuhkan kepalanya pada dada Aaron lembut. "Aku sangat penasaran bagaimana rasanya dicintai seperti Lusi. Dan aku juga penasaran, bagaimana mungkin gadis secantik Angel tak bisa membuatmu jatuh cinta."


Tubuh Aaron bergetar pelan. Saat nama Angel disebutkan, emosinya meluap cepat. Ini aneh, dia merasa baru pertama bertemu Julia. Dia pun tahu tentang kehidupan Angel. Rencananya ini sudah tersusun sangat rapi hingga tak ada seorang pun yang tahu. Namun gadis di hadapannya ini nampak sangat mengetahui segalanya. Hingga membuat seluruh pikirannya terkoyak


"kau pasti penasaran, bagaimana aku tahu tentang ini semua. bagaimana aku bisa mengenalimu saat pertama kali kita bertemu."


"Ka-kau, siapa kau sebenarnya?"


"Sssttt," jari telunjuk Julia melayang. Menyentuh ujung bibir Aaron dengan lembut. Bibir ini, dulu ia sangat ingin merasakan bagaimana rasanya bibir ini menyentuh bibirnya. Tapi setelah bertemu dengan Maxilian, ia berubah pikiran. Ia muak dan jijik setelah melihat bibir ini. Ia menarik dasi Aaron kembali, mendekatkan bibirnya ke telinga Aaron dengan sangat pelan. "Aku bahkan tahu bahwa kau telah menguasai seluruh hartanya dan mencoba membunuhnya. Aaron, aku tahu semua tentang dirimu, warna faforitmu, makanan faforitmu, dan seluruh aset yang kau miliki. Aku mungkin tahu.." ujar Julia ragu. Tangannya bergerak menyentuh perut Aaron dari atas kemeja Aaron yang masih melekat.


"Aku bahkan tahu bagaimana kau bercinta dengan Lusi setelah pertunanganmu dengan Angel."


Aaron berdiri kaku. Seluruh pikirannya buyar seketika. Matanya tak berkedip memandang Julia lekat. Gadis yang sedang menatapnya, dapat ia rasakan emosi yang tertahan. Gadis ini, siapa dia sebenarnya? Kenapa Julia tahu dengan rinci tentang kehidupannya. Ucapan Julia seakan menelanjangi tubuhnya.


"Springhill hotel 4335, pukul 9 malam."


Belum selesai keterkejutan Aaron, dia melihat Julia telah mencapai sisi pintu lift dan melangkah keluar. Gadis itu mengedipkan satu matanya dengan senyum menggoda. Namun senyum itu, entah kenapa sangat identik dengan senyum yang dimiliki Angel.


"Angel..." Bibirnya tanpa sadar berucap setelah melihat senyum itu.


Julia menahan genggaman tangannya erat saat berjalan menuju mobilnya. Membayangkan semua hal yang telah terjadi, membuat seluruh tubuhnya terbakar karena dendam. Karena sudah seperti ini, tak peduli itu, Aaron atau Lusi, keduanya harus mati.


Satu tangan Julia bergerak mencari ponselnya. Dia langsung mengubungi Ben dengan cepat. Dan saat telepon itu tersambung, dia tersenyum lebar karena mendapat berita bahagia.


"Sely bunuh diri."


Moodnya sedikit membaik dengan kabar berita ini. Namun yang ada dipikirannya saat ini harus ia ungkapkan segera.


"Apa yang harus kulakukan?"


"Carikan aku seorang wanita yang memilki postur tubuh mirip denganku."


"Julia, apa yang akan kau lakukan?"


Julia tersenyum. "Kak, bukankah kau ingat bahwa aku pernah bercerita tentang temanku yang bernama Angel?"


"Aku ingat, apa masalahnya?"


"Masalahnya?" tanya Julia dengan tawa getirnya. "Dia mencintai pria yang salah. Tunangannya berselingkuh dengan sepupunya, merebut seluruh hartanya, dan mencoba membunuh Angel beserta keluarganya. Nasibnya tak jauh beda denganku."


"Astaga! apa benar ada seseorang yang mengalami nasib sepertimu? Para baj**ngan itu harus dimusnahkan!"


"Hmm, kak.. apa menurutmu aku sebagai sahabatnya akan diam saja? Saat melihat dua orang ba**ngan itu ada di Las Vgas dan ternyata aku mengenalnya. Temanku sudah mati, dan mereka hidup dengan nyaman. Ini sungguh tak adil!"


"Apa? Kau bertemu dengan para baj**ngan itu! Katakan padaku siapa mereka! Aku akan membunuh mereka semua!"


Julia menggeleng. Dia menghentikan langkahnya dan tersenyum. "Tidak, aku harus mengambil alih semua dan mengembalikan ke tempat yang seharusnya. Setelah itu aku ingin menyiksa mereka hingga jalan kematian adalah yang menjadi pilihan terbaik mereka. Melihat mereka tersiksa, maka Angel akan tenang di sana."


"Baiklah, kau tenang saja. Aku akan mencarikan wanita sesuai pesananmu."

__ADS_1


"Hm, aku akan menunggu kabarmu."


Julia menutup teleponnya dengan senyum tipis. Dia baru akan melangkah saat tiba-tiba sebuah tangan menahan tangannyaa dan membuatnya menoleh.


"Julia."


Julia tertegun. Wajah tampan di hadapannya ini tampak sedikit kurus. Namun dia bisa yakin, bahwa pria ini terlihat baik-baik saja.


"Jasson."


Di sinilah mereka berdua. Duduk di sebuah cafe dan saling memandang satu sama lain. Tak ada kata terucap, hanya saling tersenyum lalu tertawa bersama. Seperti melepas rindu di mana hanya mereka yang tahu.


"Terima kasih telah mengembalikan semuanya." ujar Jasson tulus. Matanya menatap lekat wajah wanita ini dengan rindu yang dalam.


Julia mengangguk dengan sorot mata sendu. "Aku tak melakukannya, tapi dia. Aku tahu aku telah membuat kalian menderita dan mendapat kerugian yang besar. Aku minta maaf, sampaikan salam rinduku untuk paman."


Nafas Jasson tiba-tiba sesak saat mendengar kata 'dia' lolos dari bibir mungil itu. Dia kecewa. Namun dia sadar dengan posisinya. Dia sudah kalah sebelum berperang. Lalu ia mengerutkan keningnya saat melihat jelas bekas luka di tangan atau pun pundak Julia.


"Suamimu tak akan melakukan itu tanpa permintaan darimu bukan?"


Julia tertawa kecil. " Aku sedikit terlambat. Tapi aku harus berusaha keras atau keluarga kalian akan hilang."


Jasson mende*ah. Dia tahu bagaimana cara kerja keluarga atas. Keluarganya telah hancur dalam waktu sehari hanya karena ibunya menghina Julia. Namun saat ia melihat bekas luka di tubuh Julia, ia begitu penasaran.


"Suamimu, apakah ia memperlakukanmu dengan baik?"


Julia terdiam. Ia mengerutkan keningnya tak mengerti. Tapi dia juga tak akan mengatakan kalau dia tertekan selama menjadi nyonya muda Lunox. "Dia cukup baik."


"Itu, bekas luka itu?"


"Oh, ini bukan darinya." jawab Julia cepat. "yah, kau pasti lebih tahu bagaimana kesulitan beberapa orang di posisi atas. Aku adalah kelemahannya. Beberapa orang gila menculikku dan melukaiku untuk mengancamnya demi kekuasaan."


Jasson terkejut dan tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk menyentuh. "Apa yang dia kerjakan hingga istrinya terluka!" tekannya dingin.


Julia menarik tangannya dengan canggung. Dia tersenyum lembut. "Ya, dia bahkan menjadikan istrinya sebagai umpan."


"Apa?" ungkap Jasson terkejut. "Bagaimana dia bisa melakukan itu? Itu gila!"


"Aku adalah satu-satunya solusi dalam masalahnya. Dengan aku terluka, dapat menjadikannya alasan untuk menghabisi semua orang-orang itu. Dan sebagai gantinya, aku dapat minta apa saja yang kumau dan dia akan memberikan tanpa mempertanyakan alasan."


Mendengar itu bagai menghantam kepalanya. Meminta hal apapun? Apakah itu keluarganya? Apakah keluarganya adalah salah satu permintaan Julia? Hatinya kelu. Menerima kenyataan kalau gadis ini harus bertaruh nyawa untuk dapat mengembalikan seluruh keluarganya. Gadis yang ia selalu hina murahan, ternyata memiliki hati yang begitu tulus.


"Julia..aku.."


"Kau tak perlu mengatakan apapun. Hiduplah dengan baik, dan jauhi aku. Kau tahu bagaimana gilanya dia. Aku hanya tak ingin paman Aston mengalami kesulitan lagi karenanya."


Jasson sadari itu. Dia pun tak ingin membuat Julia mengalami kesulitan karena dirinya yang mencoba hadir di antara mereka.


"Aku tahu. Aku akan menyampaikan semua pada ayahku."

__ADS_1


Julia tersenyum dan mengangguk. Matanya menatap Jasson yang tampak terluka.


"Jasson, sebenarnya aku dan dia berawal dari pernikahan kontrak."


__ADS_2