
Malam itu, Janet merasakan keanehan di rumah yang ia tinggali. Sesuatu seperti mendesis saat ia berada di dapur. Matanya mengedar, menggeliat waspada menatap di sekeliling. Saat ia melangkah, kakinya membuat suara langkahan, suara desisan itu kian jelas. Detak jantungnya terpacu, saat ia melihat jendela kaca. Sesuatu menggantung, dan bergerak cantik di sana.
Bergerak lambat sambil menjulurkan lidahnya menelusuri batang tumbuhan yang ada di halaman belakang. Mata Janet terbelalak, ia mundur perlahan tanpa sadar. Saat ia tahu bahwa sesuatu yang ada di sana tak hanya satu.
"U..ular.."
Terus mundur dan mencoba tak membuat suara. Ia berbalik dan tertegun saat ia melihat seekor ular kecil masuk ke dalam rumah melalui celah pintu bawah. Ular kecil itu bergerak lambat dan waspada. Begitupun yang dilakukan Janet, matanya terus mengitari ruangan sekitar dengan teliti. Tubuhnya bergetar dan menahan hembusan nafas sesaat lalu menghembuskannya perlahan. Lalu saat langkah kakinya tak memperhatikan belakang, tangannya menyentuh sesuatu dan jatuh. Membuat suara nyaring hingga ia melompat ke arah lain.
Satu desisan kian terdengar dan satu ular berbisa terlihat menggeliat. Mendirikan tubuhnya penuh kewaspadaan saat menatap sosok Janet di depannya. Membuat Janet berteriak ketakutan. Jatuh ke belakang sesaat, dia tersadar lalu berdiri lagi dan mundur hati-hati agar langkahnya aman. Saat terlepas dari area dapur, ia berlari sekuat tenaga.
Beberapa langkah kemudian ia berhenti. Menatap ke bawah dari atas tangga untuk memastikan. Dan lagi-lagi matanya mendapati sesuatu. Membuat jantungnya seakan ingin melompat. Di lantai ruang utama, ia melihat beberapa ular nampak menggeliat dengan begitu menjijikkan. Dia hampir berlari namun satu kakinya tersandung kaki yang lain. Ia pun terjatuh, dan terguling dari atas tangga.
Teriakan kesakitan terdengar nyaring. Tubuh Janet sampai di bawah dengan beberapa luka dan seakan remuk di seluruh tubuhnya. Dia menangis, menatap anak tangga ke delapan, di mana asal ia berdiri sebelum ia terjatuh. Haruskah ia bersyukur karena tidak berdiri di ujung terakhir anak tangga? Karena jika itu terjadi, dia yakin seluruh tubuhnya beserta tulang-tulangnya pasti remuk, dan siap menjadi santapan para hewan.
Ia sadar lalu berdiri dengan kesulitan. Sebelum ular-ular itu mendatanginya, ia segera menyeret kakinya untuk menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas. Tanpa disadari, ia mencari telepon rumah di kamarnya dan langsung bicara tanpa jeda.
"Jordan, tolong aku. Aku takut disini. Banyak ular di rumah ini. Aku juga terluka. Kumohon cepatlah datang."
Setelah beberapa saat, ia menyadari bahwa tak ada jawaban dari telepon itu.Wajahnya memucat, ia baru ingat bahwa seluruh jaringan telepon di rumah ini terputus.
"Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin aku terkurung disini."
Dia menyeret kakinya, membuka jendela balkon kamarnya lalu berdiri di ujung pagar balkon. Jantungnya bagai teremas saat melihat ketinggian balkon. Matanya mengukur seberapa tinggi ia berada. Saat ini yang ada dipikirannya adalah melarikan diri. Namun lagi-lagi sesuatu di bawah sana membuatnya menjerit ketakutan.
Tangisannya pecah. Janet menyeret kakinya untuk duduk di lantai balkon dengan menatap ngeri lantai halaman di bawah sana. Ular-ular itu tak terhitung jumlahnya terus merayap dan bertumpukan. Berlomba untuk memasuki rumah itu, Dia tak mungkin berlari dengan melewati semua ular-ular itu. Nyawanya sudah pasti hilang kapan saja hanya karena gigitan sekian banyak ular di bawah sana.
"Tidak, aku tidak mau mati. Tidak secepat ini. Bagaimana mungkin hidupku harus berakhir seperti ini? Kenapa!"
Janet berteriak histeris dan sangat ketakutan. Rasa sakit karena jatuh dari tangga tak dirasakannya karena rasa takut dengan segala yang terjadi di sekitar lebih mendominasi. Tak peduli seberapa keras ia berteriak meminta tolong, tak akan ada seorang pun yang akan datang menyelamatkannya. Saat ini yang bisa dilakukannya adalah bertahan.
Dia tak dapat memejamkan matanya untuk tertidur. Dia terus menangis, sampai akhirnya ia menyadari sesuatu. Julia! Ya, gadis itu sedang melaksanakan ancamannya. Gadis polos itu telah menjadi iblis. Julia benar-benar menyiksanya sampai ingin gila. Tubuhnya bergetar, ia terus mengucapkan kata-kata ampunan dan memanggil Julia berkali-kali. Sayangnya ia tak tahu, bahwa keadaan ini akan berlangsung selama satu minggu lamanya.
**
Di tempat lain, keluarga William mengalami kemunduran saat keluarga Lunox melancarkan aksi penuntutan terhadapnya. Tak peduli sekeras apapun langkah yang diambil Aston, ia tak mendapat jalan keluarnya. Proses hukum terus berlanjut hingga akhirnya dia berakhir di penjara. Jessi yang melihat itu terus meratapi penyesalannya. Ia tengah berusaha menemui Julia yang tak diketahui keberadaannya. Begitupun Jasson, dia mencoba mencari keberadaan Julia, meski tak menemukan hasil.
Di satu tempat lain, Hanna sepupu Maxilian, tengah menikmati segelas teh hangat dengan tangan bergetar takjub. Entah karena perasaan takut atau sesuatu yang tak dapat ia jelaskan dengan banyak kata. Yang jelas, ucapan bawahannya tentang Julia, terus terngiang.
**Flashbackon**
"Nona, bolehkah saya bertanya terlebih dulu siapa wanita yang anda selidiki ini?"
"Dia istri Maxilian, sepupuku."
Pria yang berdiri di hadapannya nampak terkejut, dan Hanna menyadari itu.
__ADS_1
"Ada apa? Informasi apa yang kau dapatkan?"
"Nona, sebelum saya mengatakan semuanya, saya sarankan untuk jangan pernah berhadapan dengannya."
Kening Hanna mengerut. "Ada apa? Apa yang dilakukannya?"
"Nona, ia mendatangi tuan muda Carlen. Anda tahu sendiri bagaimana kondisi tubuhnya yang penuh luka membusuk dari cambukan. Gadis ini, yang awalnya kupikir berempati dan ingin membebaskan tuan Carlen, ternyata membuat luka tuan Carlen makin parah. Seseorang menaburkan garam di luka-luka tuan Carlen.
"Apa?" tanya Hanna tak percaya. Jantungnya terpacu kencang dengan wajah memucat.
"lalu soal sahabatnya bernama Sely yang tengah dirawat di rumah sakit jiwa. Nona Julia ini terus memperburuk keadaan mentalnya dengan terus mendatangi Sely. Nona Julia terus merongrong kejiwaan Sely dengan berkedok kunjungan sabahat. Sely adalah sabahat nona Julia yang telah menghianatinya. Sely adalah salah satu orang yang mengakibatkannya kehilangan semua hak di keluarga Brasco. Sely mendapatkan luka tusukan di wajahnya akibat pertengkarannya dengan kekasihnya yang tak lain adalah sepupu nona Julia sendiri yang bernama Benjamin. Yang akhirnya Sely gila. Setiap hari nona Julia mengunjunginya, tanpa ada yang menyadari kedatangannya telah memperburuk keadaan Sely.
"bagaimana mungkin? Bukankah itu di rumah sakit jiwa? Jadi bagaimana mungkin keadaannya memburuk?"
"Nona Julia berdiri di depan pintu kaca kamar Sely. Terus mengamati segala tingkah polah Sely di dalam. Namun setiap Sely melihatnya, ia akan berteriak histeris hingga tangannya terus melukai wajahnya yang sudah terdapat luka tusukan. Dan itu menyebabkan luka di wajahnya makin memburuk bahkan lebih parah dari sebelumnya."
Hanna terhenyak. Tubuhnya bergetar ngeri. Tatapannya penuh dengan tanda tanya. Apa benar gadis cantik dan lembut seperti Julia sanggup melakukan hal-hal seperti itu? Gadis yang selalu tenang dan anggun itu menyimpan iblis di hatinya. Kekejamannya seperti bukan berasal dari manusia. Ini benar-benar tak berperasaan. Membuat semua musuhnya mati perlahan dengan cara yang amat mematikan.
"Nona, saya juga mendapatkan informasi soal Janet, sepupu nona Julia. Nona Julia mendatangkan ratusan ular di rumah yang Janet tinggali. Menurut nona, segila apa Janet saat merasakan ketakutan yang terus menerus ia rasakan akibat hidup di sekeliling hewan itu?"
Hanna tak menjawab, ia duduk dengan manahan tubuhnya yang bergetar.
"Bayangkan saja nona, seorang wanita yang melihat satu ular saja sudah ketakutan. Apalagi ini, ratusan ular berbisa. Melihat pemandangan setiap hari di sekeliling rumah yang ia tempati penuh dengan ular, sudah pasti membuat jiwanya terguncang. Apalagi siksaan ini berlangsung selama satu minggu lamanya.
"Nona, saya juga mendapatkan informasi kalau orang kepercayaan tuan Maxilian tengah mencari racun mematikan. Dan itu adalah pesanan nona Julia. Racun ini bukanlah racun biasa. Jadi saya menyarankan, agar anda lebih hati-hati."
**Flashbackoff**
Julia benar-benar membuktikan ucapannya. Bagaimana caranya membalas semua orang yang menyentuhnya, adalah bukti bahwa ia pantas berdampingan dengan sepupunya. Namun ia cukup khawatir dengan keadaan Julia bila ia berhadapan dengan kekasih masa kecil Maxilian. Kekasih masa kecil Maxilian ini, selalu bisa membalikkan keadaan. Kelicikannya belum ada yang menandingi. Apakah Julia bisa mengatasinya?
Hanna berdiri menatap halaman luas rumahnya dari balik balkon jendela. "Karena aku telah memutuskan untuk berdiri di sampingnya, maka aku akan menjadi mitra yang baik."
**
Meninggalkan kekalutan dari diri Hanna yang sempat terjadi, Julia kini tengah berada di halaman depan kantor polisi. Julia masuk dengan anggun ke dalam untuk menemui sepupunya, Ben. Dan disinilah Julia berada, duduk berhadapan dengan Ben yang entah mengapa selalu tersenyum menatapnya.
"Apa yang membuatmu senang?" tegur Julia langsung.
Ben hanya menunduk sesaat lalu menatap Julia lagi. "Sepupu, apakah kau sadar sesuatu? Kau terlihat makin cantik setelah menikah."
"Pembual!" Julia mencibir. Ia menatap Ben tak berminat. "Kurasa kau sudah bosan memandang atap penjara, hingga tiba-tiba memujiku."
Ben tertawa lepas. Dua sudut matanya bahkan hampir menangis. "Aku serius. Kamu semakin cantik. Apakah karena kau sekarang menjadi istri konglomerat?"
Ben menahan tawanya saat melihat Julia merona. Ia meletakkan tangannya di atas meja hitam yang memisahkan dirinya dan Julia. "Aku senang kau bahagia. Aku senang kita bisa duduk berdua meski berada di dalam penjara."
__ADS_1
"Apakah kau sudah bosan?" tanya Julia datar. Tangannya mengetuk ngetukkan jari di atas meja.
ben tak menjawab. ia hanya menatap Julia lekat. Cahaya matanya redup dengan senyum lembut. "Julia, aku sepupumu. Bisa dikatakan aku adalah kakakmu. Aku sangat mengenal dirimu melebihi siapapun dari dulu. Aku benar-benar tak menyangka bahwa kamu akan berubah secepat ini. tenyata sepupu kecilku ini telah berubah menjadi serigala betina. Aku benar-benar kagum dengan ini semua.
Julia kian bersemu merah. "Apa kau membenturkan kepalamu?'
Ben tertawa lembut. Ia menatap Julia yang malu. Setidaknya sepupunya ini masih mempunyai rasa malu saat dipuji. Satu hal yang tidak berubah dari dulu. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau bisa mengandalkanku. Aku tak akan mengecewakanmu lagi. Kakakmu ini akan melindungimu jika sudah keluar penjara."
"Kau itu bicara apa? Siapa melindungi siapa? Ada-ada saja."
Ben kian menahan tawanya. Melihat Julia yang begitu menawan karena pipinya yang merona, perasaannya menjadi makin baik. "Aku tahu kau memiliki hari yang berat. Kau bisa datang kepelukanku. Menangislah sepuasnya. Tak usah takut kalau orang lain mengetahuinya. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri."
Julia tertegun. Dia menatap Ben lekat kemudian menarik nafas dalam. Kata-kata 'Jadilah dirimu sendiri' begitu menghantam hatinya. Sebagai seorang wanita, sekuat-kuatnya ia berdiri, ada satu waktu ia merasa akan terperosok. Dia adalah Angel Zhao yang selalu mengalami kesulitan dalam setiap perjalanan hidupnya. Selalu bertopeng ketenangan dan terlihat kuat di depan semua orang. Dan tiba-tiba pria di depannya ini bersikap sebagaimana kakak yang semestinya.
Dia tahu Ben saat ini memeluk dirinya melalui kata-kata hangatnya. Bahwa ia tak perlu berpura-pura kuat di depannya. Ia bisa menjadi dirinya sendiri. Sebagai Angel Zhao atau sebagai Julia Brasco, kata-kata dan sikap Ben membuat hatinya tersentil. Air matanya perlahan jatuh membasahi wajah cantiknya.
"Ben, aku takut. Aku selalu ketakutan akan kematian yang sewaktu waktu menjemputku. Aku bahkan baru saja melewati maut sebelum aku berhadapan denganmu."
Ben tertegun. Melihat bulir bening mengalir di pipi halus sepupu kecilnya itu. Membuat perasaannya kian teremas pilu. Awalnya, ia hanya mengingatkan sepupunya bahwa ia akan terus berada di dekat Julia untuk melindunginya. Tapi saat melihat Julia yang bermandikan air mata di depannya, membuatnya makin paham bahwa Julia terlihat kuat hanya di depan orang lain. Julia tidak punya pilihan lain untuk terus membuat orang lain berpikiran bahwa dirinya kuat dan ganas. Kata-kata tajam yang sering Julia lontarkan hanyalah kedok dari kerapuhan yang ada dalam dirinya. Ben meraih tangan Julia yang berada di atas meja, dan menggenggamnya hangat.
"Tak apa. Kau baik-baik saja sekarang. Aku akan menjadi kakak yang terbaik untukmu. Tunggu aku keluar, dan aku tak akan membiarkan siapapun menyentuhmu. Kau adalah wanita cerdas dan kuat. Kau wanita terbaik yang pernah kukenal. Jadi percayalah, kau akan selalu baik."
Mendengar kata-kata penenang yang penuh ketulusan itu, tangis Julia makin pecah. Air mata itu tak bisa ia tahan. "Ben, kau sia*lan! Beraninya kau membuatku menangis! Aku, aku selalu sendirian. Aku tak memiliki siapapun dalam menjalani kehidupan ini. Semua yang terlihat padaku adalah palsu."
"Apa maksudmu?"
Julia menarik tangannya. Matanya menatap Ben lama. "Ben, pernikahanku hanya pernikahan kontrak."
"Apa??" Ben terkejut dan refleks berdiri. "Julia Brasco, apa kau sadar apa yang sudah kau ucapkan?"
Julia mengangkat tangannya dan merentangkan telapak tangannya agar Ben tidak lagi berteriak. "sstt, pelankan suaramu Ben."
Ben tersadar lalu duduk kembali dengan tatapan penuh selidik pada Julia. "Apa kau gila? Pernikahan bukan untuk kau permainkan, Julia."
Julia menunduk saat tatapan tajam itu menusuk. Harusnya ia tak mengatakan itu, agar Ben tak khawatir padanya. Tapi semua sudah terlambat. Jadi ia hanya menyeka air matanya dan bersikap tenang kembali.
"Aku tak punya pilihan lain. Dan kini aku adalah incaran para sepupu suamiku. Hanya karena perebutan kekuasaan, mereka tidak segan membunuhku. Aku, aku, aku.." tubuh Julia bergetar namun terus berusaha menjaga ketenangan. Dia berusaha mengendalikan diri dan emosinya dengan sangat baik.
"Di mana pria yang menikahimu? Beraninya ia mempermainkanmu! Biarkan aku melihatnya! Biarkan aku memberinya pela--"
"Lalu apa?" potong Julia datar. "Apa yang bisa kau lakukan? Apa kau lupa dia siapa? Dia adalah pemimpin keluarga Lunox. Apa otakmu bisa berpikir?"
Ben tertegun sadar. Dia memukulkan tangannya di atas meja. "Sial!!"
Keluarga Lunox tak akan pernah bisa ia sentuh. Dan dia? Siapa dirinya hingga berani berhadapan dengan pemimpin keluarga Lunox. Apakah ia mampu menuntut keadilan saat sepupunya diperlakukan buruk? Bagaimana bisa sepupu kecilnya ini menjadi istri kontrak? Setelah lepas dari jeratan Baj**ngan seperti Jordan\, sekarang Julia masuk ke dalam pasungan lelaki baj**ngan lainnya. Mana ada pria terhormat yang menjadikan wanita hanya sebagai istri kontraknya? Sia!! Sial!! Sial!! Kenapa ia tak bisa memperjuangkan sepupunya ini. Mengapa ia harus selemah ini.
__ADS_1