
Bukan karena tidak mau up, tapi server platform yang sedang trouble.
***********************
Julia kemudian menyimpan kertas yang sudah ditandatangani suaminya itu baik-baik dengan senyum puas. Ini adalah gaji pertama Julia di kehidupan keduanya.
"Apa yang Carlen katakan?"
Julia kembali menoleh ke arah Maxilian, "oh dia, dia hanya mengatakan bahwa aku hanya istri sesaat bagimu, karena itu kau tak memperkenalkanku pada semua sepupumu."
"Apa jawabanmu?" tanya Maxilian lagi.
"Aku bilang kalau aku tak tertarik untuk mengenal sepupumu karena yang kunikahi adalah dirimu." jelas Julia sambil kembali duduk di samping tempat tidur.
"Oh,"
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan kata-kataku?"
Maxilian menggeleng, dia berjalan keluar dari kamar dan tak mengatakan apa-apa. Masuk dalam ruang kerjanya, dia memanggil Tomas dan Jeni bersamaan.
"Tuan muda." sapa mereka berdua.
"Jaga Julia dengan baik karena Carlen mulai muncul. Informasi tentang pernikahanku dan tentang jati diri Julia pasti sudah mereka ketahui. Karena tak ada jalan lain, maka buatkan pesta besar untuk merayakan pernikahanku. Kakek dan nenek pasti sangat senang.
"kami mengerti tuan."
Keesokan harinya Julia mendapatkan informasi kalau dia dapat kembali melanjutkan study nya yang tertunda. Dan Julia sangat senang mengetahuinya. Maxilian sudah mengurus semua hal yang dia butuhkan terkait kekosongan kehadirannya selama lebih dari satu minggu. Akhirnya, saat ini ia dapat menikmati waktu santainya tanpa pengawal atau pun orang yang selalu mengawasinya.
Dia menyelesaikan ketertinggalannya dalam waktu singkat hingga jam mata kuliah berakhir hari ini. Berniat untuk menikmati hidupnya yang memiliki status baru, dia tak mengira bahwa Carlen telah menunggunya di luar kampus. Akhirnya kini ia berakhir di sebuah cafe bersama Carlen.
"Kakak ipar, aku tak tahu bahwa kau belum lulus."
"Yah, itu karena aku sangat bodoh. Ngomong-ngomong kau tak perlu memanggilku kakak ipar. Kau bukan adik suamiku."
__ADS_1
Carlen terkikik geli mendengar nada ketus Julia. Kemudian ia melirik Julia sekilas. "Apakah sepupuku sudah memberitahumu tentang kami?"
"Julia menggeleng pelan. "Aku tak tertarik."
"Jika begitu kau harus berkenalan dengan kami." sambung suara asing lainnya.
Seorang wanita dengan hak tinggi berkulit putih terlihat dan langsung duduk di samping Carlen. Matanya yang selalu memakai smokey eyes tampak sangat indah. Dia tersenyum, mengulurkan tangannya pada Julia. "Haruskah kupanggil kakak ipar? Aku Rose, Roselia Amanda Lunox."
Julia menjabat tangan Rose. "Aku yakin aku tak perlu menyebutkan namaku."
"Oh Julia, kau sangat kaku." timpa Rose sambil melepaskan tangannya.
Carlen menatap Rose sesaat. "Kau tak memberitahuku kalau kau akan datang. Apakah itu artinya yang lain juga akan datang."
Rose mengendikkan bahunya. "Aku memiliki sedikit waktu senggang sebelum pemotretan. Kudengar kakak ipar kuliah di sini, jadi aku tak menyangka akan bertemu denganmu. Apakah kalian sudah membuat janji sebelumnya?"
Julia menatap wanita cantik di samping Carlen dan tersenyum. Sepertinya semua anggota keluarga Lunox benar-benar memiliki wajah yang rupawan. "Tidak, jadi kau seorang model?"
Rose mengangguk. "Hmm, kudengar kakek dan nenek sangat menyukaimu."
"Oh, aku belum pernah melihat kakek dan nenek begitu dekat dengan orang asing sebelumnya. Itu pasti karena kau sangat pandai mengambil hati mereka."
Orang asing? orang asing kepalamu! Julia tersenyum dalam hati saat mendengar Rose menyebutnya orang asing. Sepertinya kini ia tahu siapa lawannya jika ingin dekat dengan keluarga Lunox. Namun meski begitu ia tetap tenang dan tersenyum tipis.
"Aku tak sebanding dengan cucu-cucu kesayangan kakek dan nenek. Lebih tepatnya aku tak berani. Tapi aku baru tahu bahwa nenek sangat kesepian. Itu pasti karena kalian tak pernah mengunjunginya bukan?"
Carlen tertawa saat mendengar kata-kata Julia. Gadis yang dipilih Maxilian, memang berbeda dari yang ia kira. Bahkan gadis ini berani melawan kata-kata Rose. "Yah, aku sedikit sibuk."
Sedangkan Rose melihat ketenangan Julia dan tertawa kecil. "Aku juga mendengar kau telah menghancurkan perusahaan keluargamu sendiri. Julia, apakah itu benar?"
"Oh benarkah?" timpa Carlen terkejut. Dia melirik Julia yang masih bersikap tenang. Gadis seperti apa yang begitu tega menghancurkan keluarganya sendiri? Minatnya tanpa terasa meningkat pesat. Julia, dia ingin tahu lebih banyak lagi tentang segala hal tentangnya.
Julia mengetukkan tangannya di atas meja dengan malas. "Rose, kau pasti memiliki informasi yang akurat mengenai diriku."
__ADS_1
"Itu," jawab Rose tak nyaman. Dia tak menyangka bahwa Julia adalah orang yang sangat terus terang.
"Itu benar, aku sudah menghancurkan perusahaan Brasco." Jawab Julia ringan tanpa beban. Dia meminum minumannya dengan anggun. Bibir cherinya tersenyum tipis, menampilkan sikapnya yang misterius.
"Kau benar-benar menghancurkan perusahaan keluargamu?" tanya Carlen sekali lagi memastikan.
"Keluargaku?" Julia terkekeh geli mendengar kata keluarga. Hendri dan Janet tidak pantas mendapatkan sebutan keluarga. Andai Hendri dan Janet dapat bersikap selayaknya keluarga, ia pasti tak akan mati mengenaskan. Kesakitan yang sudah Hendri dan Janet berikan, menuntun ia untuk balas dendam. Tak peduli sebagai Angel atau Julia, di dunia ini tak ada yang bisa ia percayai. Dia lebih suka menyebut dirinya sebatang kara.
Namun meski begitu, ia tetap tenang. Menyembunyikan semua kebenciannya dalam hati terdalam. Mata hitamnya yang berbinar tampak berkedip dua kali sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Sejak aku menikah dengan Maxilian, maka Lunox adalah keluargaku. Dan untuk urusan bisnis, aku akan memandang mereka berbeda. Jika itu bisa membantu suamiiku naik lebih tinggi, maka aku akan membantunya dengan menjadi sayapnya."
Rose dan Carlen tertegun. Kata-kata dingin dan tanpa perasaan itu entah kenapa terasa familier dan membuat mereka berdua bergidik ngeri. Mereka berdua menatap Julia yang terlihat tenang dan tak terganggu sama sekali. Entah kenapa, mereka merasa Julia sangat identik dengan Maxilian. Keduanya sama-sama tak berperasaan dan hanya memandang hal yang dianggap benar oleh pemikiran mereka sendiri.
Lunox adalah keluargaku
Dan aku akan menjadi sayapnya
Dua pernyataan itu selalu terngiang di telinga mereka. Mereka saling memandang sesaat sebelum akhirnya kembali menatap Julia. Entah mengapa mereka merasa kata-kata yang Julia lontarkan adalah peringatan untuk mereka. Bahwa di antara mereka, tak ada kata keluarga jika itu menyangkut posisi Maxilian di keluarga Lunox. Julia akan ada di samping Maxilian untuk mempertahankan posisinya sebagai penguasa keluarga Lunox.
"Wah, kau luar biasa." seru Carlen memberi pujian. Senyumnya tampak lebar dan membuat wajahnya makin tampan. Namun kilatan dingin terlintas di matanya walau sesaat.
Rose tersenyum kaku. Tangannya meremas jari-jarinya sendiri tanpa sadar. "Kau benar-benar seperti sepupu kami."
**************
Julia dapat keluar dari cafe setelah mendengar teleponnya berdering berkali-kali. Dia menaiki sebuah taksi dan berakhir di sebuah jalan yang sepi. Di kejauhan ia melihat Ben tengah berbicara dengan seorang gadis. Tak perlu mendekat, ia tahu bahwa gadis itu adalah Sely.
Samar ia mendengar percakapan di antara mereka, namun hal itu tak membuatnya mendekat. Dia lebih memilih berjalan berbelok ke sebuah tikungan dan duduk di sebuah bangku taman. Matanya menatap lurus ke depan, dengan ketenangan yang dalam.
Sementara itu, Ben terlihat dingin menatap Sely yang penuh dengan derai air mata. "Berikan."
"Ben, aku tak mengambil stempel milik keluargamu."
__ADS_1
Ben tertawa kecil. "Sely, aku tak akan tertipu. Aku sudah menyelidiki semuanya. Kau membatalkan menjual semua aset milik keluargaku bukan? Itu artinya, kau masih memiliki stempelnya."