
Satu bulan berlalu. Maxilian tampak sangat berantakan. Tak ada satupun berita yang di dapat. Kekalutan yang dialaminya membuatnya tak dapat maksimal dalam menggunakan kecerdasan otaknya. Otaknya benar-benar tak dapat berpikir jernih karena berbagai macam pemikiran negatif terlintas. Rasa sakit mulai merayap di dadanya.
"Tidak, aku tak mungkin gagal menemukan mereka. Aku tidak akan menyerah. Aku harus... Julia tak mungkin terus jauh dariku." ucapnya tanpa sadar.
Namun kemudian semua kata-kata Hanna terngiang. Dan semua keyakinan yang ia miliki pun patah diiringi dengan ketakutan yang besar. Dia bimbang karena sudah satu bulan lamanya, ia tak mendapatkan hasil. Kini semua yang dikatakan Hanna menjadi momok yang menakutkan. Rasanya dia hampir gila.
Pernikahan yang batal dan kabar tentang larinya istri Maxilian telah tersebar luas. "Bagaimana jika sesuatu terjadi pada mereka? Bagaimana jika mereka tak akan pernah kembali? Bagaimana jika..."
Nafasnya tertahan. Dadanya sesak. Namun suara langkah kaki seseorang menyadarkannya. Pintu terbuka dan ia melihat Mery di balik pintu itu.
"Nenek." ujar Maxilian lirih,
Langkah Maxilian melebar dan dengan satu gerakan, ia menekukkan kedua kakinya, bersujud di bawah kaki Mery dan memeluk kaki Mery dengan kuat. Membuat Mery terkejut melihat wajah kacau cucunya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Mery pelan. "Apa kau tak tidur sepanjang hari?"
Maxilian menggeleng dan masih memeluk kaki neneknya. "Tiap aku tidur, aku selalu mimpi buruk. Bagaimana aku bisa tenang tanpa dirinya? Bagaimana aku bisa bernafas dengan baik tanpa dirinya? Nenek, aku hampir gila."
Mery ikut terduduk dan memeluk cucu kesayangannya dengan kuat. Dia tak menduga kalau seorang Maxilian begitu terpuruk hidupnya. "Apakah kau belum mendapatkan hasilnya?"
Kepala Maxilian menggeleng lemah. "Aku sudah mengirim seluruh anak buahku ke seluruh negara. Tapi aku tak mendapatkan berita apapun dari mereka. Nek, bagaimana jika terjadi sesuatu pada bayiku? Bagaimana aku bisa hidup tanpa mereka? Nenek..."
Mery tertegun saat merasakan punggung Maxilian bergetar pelan. "Kau menangis?" tanyanya terkejut.
Maxilian tak menjawab. Hanya isakan lirih yang terdengar di telinga Mery. Membuat sudut hati Mery tersentuh. Cucu kesayangannya ini menangis hanya karena seorang wanita. Hanya karena tak dapat menemukan istrinya.
__ADS_1
"Nenek, kumohon, bantu aku menemukan mereka. Bantu aku dengan segala koneksi yang nenek miliki. Aku..aku merasa seakan bisa mati kapan saja bila tak melihatnya."
Dan hal itu membuat Mery menangis. Ini kali pertama Maxilian datang dan meminta sesuatu padanya. Ini adalah pertama kali cucunya bersimpuh sambil menangis meminta bantuannya. Ini pertama kalinya cucunya berkeluh kesah padanya. Mery menangis terharu namun juga sedikit kecewa,
"Anak nakal.." ucap Mery sambil memukul punggung Maxilian pelan. "Kau tak pernah meminta sesuatu padaku meski kau hidup sulit bersama ibumu. Meski kau hampir mati karena dipukuli ibumu setiap hari. Tapi kini kau menangis di hadapanku hanya karena seorang wanita? Kurasa kau benar-benar sudah gila."
"Nenek, aku tak bisa kehilangan wanita kesayanganku untuk kedua kalinya. Duniaku, duniaku serasa tak berputar lagi. Udara yang kuhirup bukan malah membuatku makin hidup, namun membuatku makin sakit. Aku benar-benar akan mati jik..."
"Hentikan." potong Mery di antara tangisannya. "Kau anak bodoh. Kau sudah sebesar itu mencintainya tapi mengapa tak menyadarinya? Ini namanya cinta cucuku... Kau telah mencintai Julia segenap jiwa ragamu."
Maxilian tak menjawab, namun memikirkan semua yang neneknya katakan.
"Kau merasa hancur kapan saja saat tak melihatnya. Kau merasa seolah bisa menghancurkan seluruh dunia saat melihatnya terluka. Kau berusaha melindunginya dari segala bahaya yang kau rasa bisa melukainya. Dan kau merasa dunia ini begitu indah hanya dengan satu senyumannya saja, hanya dengan satu sentuhannya saja. Bukankah begitu yang kau rasakan?"
Maxilian tertegun namun pada akhirnya dia menganggukkan kepala. Benar, semua yang diucapkan neneknya adalah kebenaran. Dia merasa dunianya hancur bila membayangkan Julia terluka.
"Dasar bodoh! Anak nakal! Tidak perlu kau katakan semua itu."
Keduanya saling berpelukan dan saling menangis. Lucas yang melihat itu semua hanya tersenyum tipis. Dia berlalu dan kembali duduk di halaman sambil menyesap teh hangat dengan senyum tipisnya.
Setidaknya kini ia tahu bahwa cucunya masih memiliki hati. Cucunya bukan lagi mayat hidup yang tak punya hati. Batinnya sangat puas.
Entah berapa lama Mery dan Maxilian berpelukan saling menenangkan diri. Tapi kini Mery masih melihat wajah putus asa cucunya yang terduduk lesu di atas ranjang. Tangannya terulur mengusap pipi Maxilian lembut.
"Kau tak perlu berputus asa lagi. Pergilah temui mereka. Temui wanita yang kau cintai."
__ADS_1
"Aku tak dapat menemukan keberadaan mereka. Aku sudah berusaha sangat keras. Nek, apakah sesuatu terjadi pada mereka?"
Mery menggeleng. "Lian, dengarkan. Ibarat burung merpati. Jika kau terlalu kuat mendekapnya, dia mati. Namun jika kau terlalu melonggarkannya, dia akan pergi. Tapi hal yang kau lakukan saat ini adalah mengurungnya, dan itu salah."
"Aku hanya tak ingin dia mendapatkan bahaya.. Aku tak dapat membayangkan hidupku bila sesuatu terjadi padanya. Nenek tahu kan, aku banyak memberinya luka."
"Dan cintamu yang menggebu juga telah menyakitinya. Kau menyakiti Julia. Percayalah padanya, biarkan dia melakukan banyak hal yang dia sukai, manjakan dia dengan kasih sayang dan kelembutan, dan jadilah sayap untuk membantunya terbang, maka hatinya akan ada dalam genggamanmu. Karena cinta tak memaksa, tapi memberi."
"Jika aku melakukannya, apakah dia akan pergi lagi?"
Mery menggeleng lemah dan menatap cucunya dengan penuh kelembutan. "Tidak. Dia tak akan pernah pergi darimu. Karena ia tahu apa yang kau lakukan adalah untuk dirinya. Saat dia menjadikanmu sebagai batu pijakannya dalam meraih sesuatu, maka ia akan meraih tanganmu dan menunjukkan pada dunia bahwa kaulah satu-satunya pria yang dia cintai seumur hidupnya. kau hanya perlu menunjukkan pada dirinya bahwa dirimulah yang layak menjadi pendampingnya."
"Nenek.."
"Pergilah, bawa mereka pulang. Mereka ada di cina."
Mata Maxilian terbelalak saat Mery mengatakan sebuah kenyataan.
"Bawa mereka pulang dan perlakukan dengan baik. Maka ia akan terus menemanimu sampai tua."
Wajah maxilian tampak lega namun berubah lesu. "Tidak nek, anak buahku sudah mencarinya di sana tapi tak menemukan apapun. Julia tak ada di sana."
"Kalau begitu kau sendiri yang harus datang menemuinya. Dia menggunakan pin keluarga Lunox untuk mengakses informasi tentang keluarga Zhao dan menyewa beberapa pengawal. Pergi dan temui dia, karena Lusi dan Aaron juga ada di sana. Jangan biarkan dia terluka lagi."
"Nenek, bagaimana kau bisa tahu kalau di.."
__ADS_1
"Sudah, jangan banyak bicara. Cepat pergi dan lindungi mereka. Gunakan pesawat pribadi keluarga agar kau cepat sampai di sana."
Maxilian segera beranjak, berlari untuk mengurus semuanya. Sebentar lagi dia akan membawa anak istrinya pulang. Dan akan membuatnya tetap disisinya meski dia harus terus menjadi batu pijakan.