
Sementara itu di luar sana. Julia tengah duduk di sebuah bangku taman menikmati kesendiriannya setelah rapat besar pemegang saham. Menenangkan diri, dia merasa sangat lama untuk sekedar menikmati kesendiriannya. Sebagai Angel Zhao, dia telah melakukan banyak hal, tapi sebagai Julia, dia merasa terlalu menekan dirinya sendiri. Dia termenung mengingat semua perjalanan hidupnya yang membuat emosi dan dendamnya melonjak. Namun dia terkejut saat ponsel di genggamannya bergetar pelan.
"Paman," sapanya saat tahu Sam yang telah menghubunginya.
"Julia, ini buruk!"ucap Sam di seberang sana. Membuat kening Julia mengerut.
"Apakah ada sesuatu?"
"Julia, stempel tanda milikmu dari keluarga Brasco telah dicuri dan,,-"
Julia tersentak. Selanjutnya dia tak dapat mendengarkan apa pun dari telepon genggamnya karena telepon tersebut telah meluncur dari tangannya.
"Stempel dari keluarga Brasco." ujarnya pelan dengan tatapan kosong.
Keterkejutannya meremas pikirannya. Julia masih tak dapat bergerak saat kata-kata Sam terngiang di telinganya. Wajahnya memucat dengan ekspresi yang tak dapat dilukiskan.
"Stempel keluarga Brasco? Stempel..."
Tubuh Julia bergetar pelan, perlahan nafasnya terasa sesak. Dia baru saja sedikit tenang karena memberi pelajaran kepada Janet dan pamannya, tapi saat ini dia juga mendapat kejutan yang luar biasa. Stempel sepenting itu, kenapa bisa hilang? Kenapa bisa ada di tangan pamannya, dan kenapa dia baru tahu, bahwa pemilik tubuh ini memiliki hal penting yang tak dia ingat.
__ADS_1
"Stempel, stempel, stempel...ayolah! Berpikir Angel! Berpikirlah!, kau selalu menandatangani kontrak saat tawaran-tawaran iklan itu datang dengan stempel milikmu saat menjadi artis besar. Berpikirlah, berpikirlah Angel..."
Tangan Julia memukul-mukul ringan kepalanya dengan frustasi lalu sekelebat bayangan asing yang sangat lama terbayang di pikirannya. Bayangan itu terjadi tidak lama, karena pemilik tubuh ini terlihat masih berusia sekitar tujuh belas tahun, dan sekelebat bayangan lain terbayang.
"Itu Sely," ujar Julia tanpa sadar dengan menyipitkan matanya. Mencari tahu dalam ingatan asing yang dia kenali.
Dia melihat Julia yang masih sangat polos menunjukkan stempel kecil dan dengan bangga menunjukkan pada Sely. Memberi tahu semuanya bahwa stempel tersebut adalah hal yang penting sebagai pengganti suaranya. Lalu sekelebat bayangan lain terbayang, itu ayahnya yang memberi tahu dirinya, bahwa stempel dan hal lainnya tentang dirinya, telah diserahkan kepada Sam. Meski dia tak tahu alasannya, tapi saat itu dia hanya mengangguk setuju tanpa banyak bertanya. Dan siapa yang menyangka bahwa setelah itu kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan besar.
Dan dia, melupakan segalanya. Semua karena terlalu terkejut hingga tak memikirkan hal penting lainnya. Dia sangat ingat, di mana dua tahun kemudian dia menuntut keluarga pamannya, Sam dan juga Ben hingga kehidupan mereka sulit dan Ben berakhir di penjara. Setelah keluarga pamannya dari pihak ayah berhasil masuk dalam rumah utama keluarga Brasco dan dia mendengar semua perintah pamannya, Hendri Brasco.
"Hahahaha," tawa Julia sekilas. Dia menutup matanya sesaat lalu kembali tertawa dengan keras. Ada air mata di dua sudut matanya tapi tawanya yang keras perlahan berubah menjadi rintihan.
Julia mengacak rambutnya kasar dan menangis pelan. Tak mempedulikan tatapan aneh orang sekitarnya karena dia hanya peduli dengan dirinya sendiri. "Kenapa semua sangat sulit?" rintihnya pelan. "Aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia. Menyingkirkan mereka semua lalu menata kehidupanku tanpa cinta. Tapi kenapa? Kenapa mereka semua tak melepaskanku dengan mudah? Aku marah, aku marah pada pemilik tubuh ini yang sangat bodoh dan bodoh. Julia, kenapa kau sangat bodoh!"
Menangis lepas tanpa bebas, tanpa mempedulikan sekitarnya. Termasuk pada sepasang sepatu hitam yang telah berdiri di depannya. Dia adalah Jason, yang tertegun saat melihat tawa Julia lalu pada tangisan histeris tanpa melihat keadaan sekitar. Tak berniat bersuara atau pun menyentuh untuk menenangkannya.
"Julia, kau sangat bodoh. Lalu apa? Semua telah berakhir!"
Sekali lagi Julia marah pada dirinya sendiri dengan memukul ringan kepalanya dengan tangisan yang tak kunjung reda. Membuat Jason yang melihat itu semua tertegun. Ini adalah kedua kalinya dia melihat Julia menangis setelah di bar. Tangisan dan kemarahan itu, meremas inderanya dan menarik seluruh pikirannya. Tanpa sadar dia menahan tangan Julia untuk tak terus menyakiti dirinya sendiri.
__ADS_1
"Hentikan! Kau menyakiti dirimu sendiri!"
Julia terperanjat. Mata hitamnya menyala waspada dengan tatapan menghujam yang dingin. Dia melihat Jason tanpa ekspresi dan segera menarik tangannya kasar. Menghapus air matanya dengan sekali usap lalu berdiri dengan gusar. Dia tak ingin siapapun saat ini. Tidak Jason atau pun semua pria yang ada di dunia.
Jason melihatnya, bagaimana mata hitam seperti tinta itu membara penuh luka yang tak terlukiskan. Menatapnya seakan menusuk setiap sel tubuhnya. Dia tak melihat ekspresi lembut, riang, atau pun manja yang pernah dia lihat sebelumnya, hanya ada tatapan penuh permusuhan seakan akan gadis di depannya ini ingin memusnahkannya.
"Julia.."
Semilir angin diiringi aroma lembut yang mulai akrab di indera penciuman Jason membuat tangan Jason bergerak lebih cepat untuk menahan tangan Julia tepat saat langkah wanita itu melangkah menghindar. Dia menahannya, tangan putih dan lembut yang terlihat sangat rapuh dan bisa hancur dalam genggamannya. Tapi hawa dingin yang dipancarkan sang pemilik tangan ini benar-benar membekukan seluruh tubuhnya.
Tanpa membalikkan badannya, Jason berkata, "Semua..,ayah baru saja meneleponku, semua saham dan aset milikmu telah,--"
"Aku tak butuh informasimu! potong Julia dingin dengan menghentakkan tangan pria itu hingga terlepas. Dia tahu hal apa yang akan Jason katakan, dia tahu semua. Dan karena itu, dia tak membutuhkan siapapun untuk dirinya. Tak ada satu orang pun yang bisa dia percaya.
Jason hanya bisa berdiri kaku saat genggaman tangannya terlepas dan tangan kecil lembut itu menghilang. Dia merasa ksoong saat siluet Julia kian jauh dari matanya dan terlihat tegar melewati keramaian menuju tempat parkir mobilnya. Dia mendesah dan merasa bersalah. Dengan mata menatap sebuah ponsel yang tergeletak di rerumputan. Mengambil ponsel tersebut, dia menoleh dan mencari sosok Julia yang mulai memasuki mobil sport merahnya.
"Mobilmu, itu juga bukan lagi milikmu," ada nada sedih dalam ucapannya, tapi saat ini dia tahu, bahwa dia tak dapat melakukan apapun. Ayahnya telah memastikan bahwa semua dokumen yang baru saja dilayangkan di meja kerja ayahnya adalah sah! Di mana ada tanda stempel Julia yang merupakan pewaris sah keluarga Brasco yang sebenarnya.
"Jordan," ucapnya lirih. Kau benar- benar menjijikkan.
__ADS_1