
Liburan ini banyak banget acara. Bener-benar sulit membagi waktu. Terima kasih yang sudah mau menunggu.
**
Aaron membeku. Tubuhnya bergetar dengan mulut yang terkatup rapat. Tidak mungkin, dia pasti salah dengar, Gadis ini sudah menyukainya semenjak kuliah, bahkan selalu memandang dari jauh saat dia memiliki hubungan dengan Angel. Hingga akhirnya dia mengetahui perasaan Lusi saat kedekatan yang tak disengaja. Minimnya waktu Angel karena kesibukannya, membuat hubungan mereka makin subur. Lalu akhirnya mereka menyusun rencana untuk kenyamanan masa depan mereka.
"Lusi.." gumam Aaron dingin. Dia menarik tangan Lusi dan mengajaknya pergi."Kau pasti mabuk. Ayo kita pergi."
Namun Lusi menghempaskan tangan Aaron. Satu tangannya bahkan terangkat dan terjatuh pada pipi Aaron dengan keras. Tamparan itu terdengar keras.
"Jangan menyentuhku! Kita sudah berakhir!"
Hanna membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak menyangka kalau Lusi akan menampar Aaron di hadapan umum. Namun matanya jatuh pada Julia. Ia melihat Gadis itu duduk tenang dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajahnya menampilkan ekspresi datar namun masih nampak cantik. Namun akhirnya ia sadar, saat satu sudut bibir Julia terangkat tipis membentuk senyum kemenangan.
"Lusi! Beraninya kau menamparku!" bentak Aaron dengan menatap nyalang pada Lusi.
"A-aaron.." ujar Lusi terbata.
Maxilian hanya melihat semuanya dengan tenang. Dia hanya menoleh pada Julia sesaat dan manarik tangan Julia tiba-tiba. "Ayo pulang."
Julia menoleh saat Maxilian berdiri dan menarik tangannya. Dia baru saja beranjak sebelum Lusi memisahkan genggaman tangan mereka dan gadis itu memeluk tubuh Maxilian erat. Dia tertegun saat Lusi menempel di tubuh suaminya bagai lintah. Melihat ini, dia makin berminat. Apa saja usaha Lusi kali ini? Karena dia akan merampas segalanya dan membuat Lusi melihat segala yang ada di gengamannya makin lama makin pergi darinya.
"Lian, kau tidak boleh bersamanya. Kau harus menikahiku." rengek Lusi dengan memeluk tubuh Maxilian erat.
Maxilian mengerutkan keningnya. "Aku sudah menikah dan aku tak akan pernah berpisah dengannya."
"Tidak! Lian, kau tetap harus menikah denganku!"
"Lusi! Aku akan menyeretmu! Ayo pergi!" teriak Aaron geram. Ia tak habis pikir dengan rengekan Lusi untuk menikah dengan saudara tirinya.
"Tidak!" tolak Lusi memberontak. Dia menatap Maxilian dengan tatapan memohon namun dia tertegun saat melihat tatapan mengejek Julia. Wanita itu menatapnya dengan tatapan penuh provokasi.
"Lepas! Lepaskan aku Aaron! Aku tak akan kembali padamu! Aku tak mau menikah denganmu!"
"Lusi Zhao!" geram Aaron kesal.
"Biar aku perjelas, aku tak akan menikah denganmu! Aku tak akan menikah dengan pria jahat sepertimu!"
"Pria jahat?" tanya Aaron memastikan.
"Apa kau harus bertanya? Kau lebih tahu segalanya. Kau bahkan telah membunuh sepupuku!"
Julia tersenyum tipis, melirik sekitarnya yang tengah ditonton oleh kerumunan. Dia tak menyangka kalau Lusi akan menghancurkan dirinya sendiri dan juga Aaron. Jadi dia hanya duduk kembali dan menonton kembali sambil menikmati minuman yang dia pesan.
Aaron menahan tawanya dan mengangkat tangannya ke depan wajah Lusi. "Bukankah itu dirimu? Kau merayuku agar menghianati kekasihku! Kau merangkak ke atas ranjangku saat kau tahu kalau Angel bukanlah gadis yang bisa kusentuh sebelum pernikahan. Kau menggodaku dan membuatku menyetujui rencanamu untuk membunuh Angel dan merampas seluruh hartanya. Kau bilang ini semua untuk kelangsungan masa depan kita! Ternyata kau menjadikanku batu loncatan untuk karirmu, menggantikan tempat Angel di agency nya. Tenyata aku buta karena telah jatuh cinta pada wanita ular sepertimu!"
__ADS_1
Hening. Semua menatap Lusi yang berdiri kaku. Lusi menatap Aaron dengan tatapan tak percaya. "Apa? Aku menggodamu? Apa kau gila!"
Aaron tertawa sekali lagi. "Lusi, sudah cukup sandiwaramu. Apa kau pikir saudara tiriku akan menikahimu meski kau memutuskan pertunangan kita? Mimpimu terlalu tinggi! Biar kuperjelas! Terlepas dari kebencian kami, namun kami memiliki darah yang sama! Dia tak akan menikahi wanita menjijikkan sepertimu! Jika dia mau, belum tentu dengan keluarga Lunox yang lainnya!"
Hanna melirik Julia dengan senyum tipis. Dia tahu kejadian ini tak luput dari campur tangan Julia. Dia mengangkat botol anggur di sampingnya lalu menuangkan pada gelas Julia tiba-tiba.
"AKu tak tahu bahwa kau benar-benar sesuatu."
Julia melirik Hanna dan kian tersenyum. "Kau akan tahu, akhir dari setiap orang yang memiliki masalah denganku."
Lusi menggeleng. Ia beralih pada maxilian dan berlari untuk kembali memeluknya. Namun Maxilian mundur dan menjauh. "Lian, itu tidak benar. Kau tahu bukan...aku tak mungkin melakukan itu. Aku..."
"Aku tak berminat mendengar ceritamu. Silahkan selesaikan sendiri masalahmu." jawab Maxilian dingin.
Lusi tertegun dan kecewa. Namun Julia menutup mulutnya untuk menahan agar tawanya tak meledak. Membuat tatapan mata Lusi terarah padanya.
"Kau! Itu pasti karenamu! Kau yang telah mencuci otak kekasih masa kecilku! Kau yang.."
"Hentikan!" potong Hanna tak tahan. "Lusi, apakah kau tak punya malu? Tidakkah kau sadar dimana kau saat ini? Selamat..kau sukses menghancurkan dirimu sendiri."
Lusi terdiam dan tersadar. Dia menoleh dan berputar menatap sekitarnya. Benar saja, seluruh orang telah berkumpul untuk menonton dirinya. Tubuhnya bergetar, dan akhirnya luruh ke lantai. Selamat tinggal untuk karir cemerlangnya.
Melihat itu Julia memutar tubuhnya, melihat Lusi yang luruh ke lantai tak bersuara. Dia menatap dengan penuh kebencian. Lalu tatapannya jatuh pada Aaron.
Aaron menoleh dengan tatapan penuh tanya. "Kau, siapa dirimu yang sebenarnya?"
"Aku? Aku adalah salah satu teman Angel. Gadis yang begitu bodoh, karena jatuh cinta pada pria sepertimu. Tapi bila kupikir sekali lagi, kau dan Lusi adalah pasangan yang serasi. Kalian sama-sama serigala berbulu domba."
"Diam! Apa yang kau tahu tentangku! Semua yang Angel katakan tidaklah benar!"
"Oh, apakah kau tahu apa yang telah ia katakan? Sebelum dia kecelakaan dan menjemput kematiannya?"
Kini Hanna dan Maxilian ikut menatap Julia. Hanna terkejut saat Julia telah mengakui berteman dengan Angel. Dia tak mengira bahwa Julia sangat tahu tentang kehidupan artis besar itu. Sedangkan Maxilian yang melihat tatapan Julia yang penuh dengan amarah, makin mencurigai sesuatu. Ingatannya berputar dan kecurigaannya terlintas. Apakah Julia adalah Angel?
"Aaron semakin mendekat. "Kau semakin banyak bicara!"
Julia kemudian menatap Lusi. "Angel bilang, dia menyesal mencintai pria yang salah. Dia bahkan mengatakan bahwa tunangannya telah berselingkuh dengan sepupunya. Bekerja sama untuk membunuhnya dan keluarganya dan merampas seluruh harta kekayaannya. Kalian juga yang telah membuat berita skandal palsu tentang dirinya. HIngga dia dibuang oleh keluarganya sampai akhirnya ia kehilangan nyawanya."
Kata-kata Julia tenang namun sangat jelas. Hal itu cukup membuat semua orang yang ada di sana mendengar semua. Ditambah dengan ekspresi wajah Julia yang penuh luka. Seakan dia sedang menceritakan kisah hidupnya sendiri. Apalagi tanpa sadar lelehan air mata di pipi Julia menegaskan kesakitannya. Dan hal itu disadari oleh Maxilian, Hanna , dan Lusi.
"Meski dia mati, tapi aku tak akan tinggal diam. Aku akan menjadi tangannya untuk membuat kalian merasakan sakit yang ia rasakan!"
"Diam!" teriak Lusi histeris. "Omong kosong! Dia sudah mati!"
"Sudah cukup! Itu adalah omong kosong! Diamlah atau aku akan menamparmu!"
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan pada istriku?"seru Maxilian dingin. Dia melangkah berdiri tepat di hadapan Aaron. "Apa kau baru saja mengancam istriku?"
"Istri kontrakmu." tawa sinis terlintas di bibir Aaron.
"Oh, apakah kau juga tahu bahwa tunanganmu itu mencoba merangkak naik ke ranjangku? Kau baru saja dicampakkan dan kau masih bisa peduli urusanku?"
"Aku baru tahu kalau kau bisa banyak bicara. Bagaimana rasanya dipukuli ibumu sendiri? Bagaimana rasanya melihat ayahmu meninggalkanmu dan hidup bahagia bersamaku? Kau tahu? AKu selalu ingin mendengar kau memanggilku adik, namun kesombonganmu terlalu tinggi. Kemalanganmu kehilangan ibumu adalah hiburan untukku dan ibuku."
Maxilian mengeratkan genggaman tangannya. "Setidaknya hiduplah dengan baik dan jangan mempermalukan dirimu sendiri. Dan soal ayahku. Aku tidak pernah menganggapnya ada."
"Kau anak tak tahu diri."
"Tak tahu diri? Pantaskah ia disebut ayah? Bukankah kau sangat kaya? Kau bisa menghidupinya dan katakan padanya untuk tidak terus mengemis padaku,"
"Kau.."
"Dan satu lagi. Kembalikan seluruh harta Angel Zhao. Apakah kau begitu miskin hingga harus menipu gadis polos untuk sebuah kekayaan yang tak seberapa? Biarkan aku berderma. Berapa banyak uang yang kau butuhkan agar kau tak perlu lagi menjadi baj**ngan yang menjijikkan!"
Julia tertegun. Dia tak menyangka kalau Maxilian akan berdiri untuk membelanya. Bahkan membela Angel juga. Perasaannya menghangat. Dia berdiri untuk melerai pertengkaran mereka. Dia ingin mengatakan pada Maxilian "Ayo pulang."
Namun semua sangat cepat. Saat dia melihat kaki Aaron melayang menendang suaminya. Dia menggeleng, seakan tak rela jika Maxilian kembali tersakiti. Rasanya sudah cukup. Pria ini sudah memiliki banyak bekas luka di tubuhnya. Dan seharusnya, Maxilian tak boleh lagi terluka.
"Lian!"
Tubuh Maxilian mundur saat tendangan Aaron berhasil mengenai perutnya. Sepertinya ia harus memukul Aaron untuk menuntaskan amarahnya.
"Hentikan bicaramu! Dia juga ayahmu! Kita memiliki darah yang sama baj**ngan!!"
Maxilian tertawa kecil. "Setidaknya aku tak perlu menipu gadis kecil hanya untuk sebuah harta. Kau dan ibumu sama. Sama-sama manusia rendah!
"Kau!"
Aaron maju mengangkat tinju dan kakinya. Itu sangat cepat, sebelum dia melihat Julia yang tiba-tiba maju dan memeluk tubuh Maxilian erat. Yang akhirnya pukulan itu mendarat tepat di atas punggungnya.
"Julia!"
Hanna dan Maxilian berteriak kencang bersamaan. Julia memejamkan matanya, saat merasakan sakit di punggungnya, hingga merayap ke perutnya dengan hebat.
"Li--Lian... perutku."
Maxilian terbelalak saat melihat darah mengalir di paha Julia. "Julia, Julia kau berdarah." tangannya dengan cepat mengangkat tubuh Julia dan berlari memecah kerumunan. "Minggir semua!" bentaknya kesal.
Hanna bahkan sangat panik. Dia segera menghubungi Jack dan memerintahkannya menyiapkan sebuah kamar dengan cepat. Berlari, namun sejenak tertahan. Ia menoleh menatap wajah Aaron yang masih mematung. Ia mendekat dan berdiri di hadapan Aaron dan menampar pipinya dengan keras.
"Ini hanya peringatan! Jika sesuatu terjadi pada calon cicit nenekku, kakekku akan mengebirimu dengan senang hati. Kau benar-benar menjijikkan!"
__ADS_1