
BAB 8
Bertemu Bibi
"Julia!" Sebuah suara yang tampak khawatir terdengar. Membuat Julia menoleh dan menatap wajah yang terlihat sangat terkejut. Wajah pamannya Samuel. "Paman" senyum Julia mengembang. Julia menatap pamannya yang mengambil alih perban yang tadinya dipegang perawat untuk membalut lukanya.
"Apa yang terjadi?" Aku baru saja mengantarkanmu pulang dan sekarang kau kembali lagi kesini dengan kepala yang berdarah. Julia tertawa kecil. Dia mendengar nada kekhawatiran pamannya. Dia yakin pamannya juga sangat kesal dengan yang dialaminya saat ini. Karena hanya dia satu-satunya keponakannya.
"Ini hanya kecelakaan kecil paman, tenang saja, aku baik-baik saja" "Gadis nakal! Apa ada hubungannya dengan Janet? Aku melihat dia juga terluka. Janet dibawa ke ruang operasi karena hidungnya patah." "Apa hidungnya benar-benar patah?" Samuel mengangguk. Dan itu membuat mata julia berbinar senang. "Apa yang terjadi?" "Hal sepele paman.. aku hanya memberikan balasan atas apa yang sudah dia berikan padaku." ujar Julia.
"Ehm..." Paman samuel menghela nafas. Dia menatap Julia yang penuh rasa benci saat bercerita tentang Janet. Baiklah kalau begitu, kau pulang saja ke rumah paman. Bibimu pasti senang kalau kau datang.
__ADS_1
Setelah selesai diobati, Julia pulang kerumah pamannya. Julia sudah sangat merindukan bibi nya. Bertahun-tahun sejak orang tuanya meninggal, dan berbagai macam masalah silih berganti datang, Julia dan keluarga pamannya tidak pernah bertemu.
Julia terpaku menatap rumah di depan matanya. Rumah yang sangat... tidak layak untuknya. Tidak bisa dibayangkan keluarga pamannya, seorang dokter di rumah sakit besar tinggal di rumah yang kecil dan sederhana. "Paman, apa yang kita lakukan disini? ayo kita pulang." Julia menarik tangan pamannya untuk segera pergi dari sana. "Julia, apa maksudmu. Ini adalah rumah paman. Ayo masuk..." Julia tertegun mendengar kata-kata pamannya. "Jangan bercanda paman..." ucap Julia tak percaya. "Paman tidak bercanda. Keadaan tidak seperti dulu lagi Julia."
Julia masih saja menganggap ini sebuah lelucon. Dia masih ingat benar dimana dan bagaimana bentuk rumah pamannya. Rumah dua lantai minimalis bergaya eropa modern yang apik. Berhalaman luas dan ditanami berbagai bunga karena bibinya sangat suka berkebun. Garasi besar yang bisa menampung 4 mobil di dalamnya. Dan beberapa pelayan yang melayani keluarga pamannya.
Sebelum Julia berbicara lagi, ada suara menginterupsi yang terdengar dari dalam rumah. "Sayang, kau sudah pulang?" Itu adalah suara bibinya, Maria Casson. Terdengar lagi suara bibinya. "Sayang kenapa kau tidak mas--" Julia terpaku melihat wanita cantik yang baru saja keluar dari rumah.
"Ju..Julia, desis wanita itu. Terkejut.. tetapi rasa rindu lebih mendominasi perasaannya. Air mata menggenang memenuhi matanya. Satu kedipan saja pasti air mata itu akan luruh juga. "Tante" panggil Julia. Julia terisak sebelum akhirnya dia berlari mendekati bibinya. Saat Julia sudah berada di hadapan bibinya, tak segan Julia menghamburkan pelukannya pada bibinya. "Oh tuhan Julia... tante sangat merindukanmu." maria membalas pelukan Julia dengan erat. Keduanya menangis sebagai ungkapan rasa rindu.
"Nanti akan tante ceritakan semuanya, sekarang makan dulu. kau sangat kurus sekarang." Bibi Maria berucap. Paman Sam mengangguk sambil tersenyum
__ADS_1
Untuk pertama kalinya setelah kehidupan barunya, Angel merasa memiliki keluarga yang perduli. Dia jadi teringat dengan keluarganya di Cina. Bagaimana keadaan orang tuanya. Apakah orang tuanya memikirkannya juga. Dan siapa yang akan menjaga mereka. Teringat itu, dia merasakan penyesalannya makin membuncah.
Setelah makan malam selesai, mereka duduk di ruang keluarga yang sempit. "Paman, ceritakan padaku apa yang sudah terjadi? Kenapa paman dan tante tinggal di rumah kecil ini?" Maria menatap Samuel dan menganggukan kepalanya. Paman Sam menghela nafas dan mulai menceritakan semua.
Julia, semua berawal dari dua tahun lalu. Saat kau menuntut keluarga kami dan menjebloskan ben ke penjara. Bahkan bisnis keluarga Casson juga bangkrut. Semua yang kita miliki hilang. Julia tertegun. Dia meremas tangannya sendiri. Rasa bersalah menjalar dalam hatinya. Dia mengutuk perbuatannya sendiri. Dialah yang menyebabkan semua penderitaan pamannya. "Julia...kau bodoh sekali." gumam Angel. "Tapi paman, bukankah paman adalah seorang dokter. Paman seharusnya punya gaji."
"Paman tidak di gaji. Rumah sakit membekukan gaji paman."
Bagaikan disambar petir, Julia membuka matanya lebar setelah mendengar jawaban pamannya. Julia menggeleng dan makin kuat meremas tangannya sendiri. "Pamanmu Hendri mengeluarkan perintah itu, dan kau sudah menandatanganinya." "Paman...aku tidak pernah menandatangani apapun, apalagi tentang pembekuan gaji paman." ujar Julia. "Setelah kau memenjarakan Ben, kau juga menandatangani dokumen tentang pembekukan gaji paman." Julia menyahut " tidak! tidak paman...percayalah padaku, aku tidak pernah melakukan itu semua" "Paman tau... Saat itu hendri mengatakan kalau kau ingin kami pergi dari negara ini. Tapi paman menolak. lalu Hendri memberikan syarat, kalau paman masih boleh bekerja di rumah sakit dengan syarat tidak mendapatkan gaji. "Julia...apa yang sudah kau perbuat.." batin Angel.
"Julia, Ben bukan pembunuh. Dia tidak mungkin membunuh orang tuamu. Dia sangat menyayangi orang tuamu. Kalian tumbuh bersama, kau pasti tau bagaimana Ben begitu menyayangi kalian semua." ujar paman Sam.
__ADS_1
"Paman sam...maafkan aku. Aku bodoh, aku buta. Aku tidak bisa membedakan kebohongan dan kebenaran. Aku minta maaf..." julia bicara sambil terisak.
"Tidak Julia...ini bukan salahmu sayang..." potong tante Maria. Tante Maria merasakan perasaan bersalah Julia. Julia yang menatap tante maria yang juga menatapnya dengan lembut makin merasa bersalah. Sekarang yang dihadapan paman bibinya bukannya Julia, yang ada di hadapan mereka adalah jiwa Angel. Seorang Angel yang akan merubah semua keadaan yang tidak semestinya. "Baiklah Julia...mari kita perbaiki semua" batin Angel.