
Maxilian membawa mobilnya dengan sangat cepat. Pikirannya goyah saat mendengar rintihan Julia. Berusaha tenang meski tak bisa. Saat mobil baru saja terparkir di halaman rumah sakit, dia turun dengan Julia berada di dalam gendongannya. Melewati keramaian dan berteriak.
"Seseorang! Tolong istriku! Cepatlah!"
Jack yang tengah bersiap, sedari tadi sudah menunggu Maxilian. Dia menyentuh pundak Maxilian dan memintanya untuk meletakkan Julia di atas ranjang pasien. Namun Maxilian menggeleng kuat.
"Bawa dia ke ruangannya sekarang Jack! Aku akan membawanya sendiri. Cepat beritahu ruangannya!"
"Corta, 115."
Maxilian menggangguk lalu kemudian mendekap tubuh Julia. Ia berlari, melewati keramaian dengan sangat cemas. "Julia, bertahanlah."
Ada raut khawatir yang sangat terlihat jelas. Keringat dingin menghiasi wajahnya. Jantungnya seakan teremas hingga sesak. Ingatannya berputar pada saat ia melihat ibunya tak terselamatkan. Dia tak mau mengalami hal itu lagi. Tidak, dia trauma. Dia tak mau kehilangan lagi.
"Letakkan." ujar Jack dengan nafas memburu. Dia ikut berlari mengejar Maxilian.
"Lian, letakkan dan keluarlah." tekannya sekali lagi.
Maxilian meletakkan tubuh Julia dengan hati-hati. Beberapa perawat datang dengan membawa selang infus dan peralatan medis lainnya.
"Tidak! Jack, kau harus menanganinya sendiri."
Jack mendesah namun ia tak menolak saat melihat mata Maxilian yang memerah. Pria itu nampak kacau dengan baju yang bernoda darah. Tangannya memegang tangan Julia lembut dan menciumnya beberapa kali.
"Kalian keluarlah, aku yang akan menanganinya sendiri."
Dengan hati-hati, dia memasang selang infus di tangan Julia. Setelah itu ia mulai melakukan pemeriksaan lainnya. Sedangkan Maxilian duduk terdiam sambil memegang erat tangan Julia.
"Kapan dia terakhir datang bulan?" tanya Jack membuka suara.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Maxilian tak menjawab pertanyaan Jack.
"Lian!" tekan Jack dingin. Dia menyuntikkan sebuah obat dalam selang infus Julia dengan hati-hati.
"A-aku tak tahu. Apakah terjadi sesuatu?"
"Dia hamil."
Hening. Tenggorokan Maxilian tercekat dengan tatapan kosong setelah mendengar ucapan Jack. Bagai melayang di udara, otaknya membutuhkan waktu lama untuk mencerna itu. Rasa dingin dan hangat juga entah perasaan apa lagi yang sulit untuk dijelaskan, begitu menggelitik hatinya. Mengernyitkan kening.
"Mak-maksudmu?"
"Kau masih tak mengerti? Perlu aku jelaskan?" tanya Jack kesal. Terlebih saat dia melihat raut wajah Maxilian yang tampak bingung. Temannya ini tampak seperti orang yang bodoh.
"Setelah kau membuatnya tak bisa berjalan satu minggu, kau masih tak tahu maksudku? Maxilian kemana otak cerdasmu kali ini? Atau kau tak mau bertanggung jawab?"
"Kau!" geram Maxilian cepat.
Jack tersenyum. "Bagus kau sadar. Istrimu hamil dan saat ini mengalami pendarahan. Apa yang sudah kau lakukan hingga membuatnya seperti ini? Trisemester pertama adalah waktu yang sangat rentan. Bersyukurlah karena janinnya masih kokoh menempel dan baik-baik saja. Aku tadi sudah memberikan obat penguat kandungan. Meski terlihat baik, tapi aku tak menjamin janin itu gugur."
"Gu-gur? A-anakku? Tidak! Tidak boleh! Jack, lakukan sesuatu! Selamatkan anakku."
Jack mengangguk. "Aku tahu, sekarang biarkan para perawat membersihkan istrimu. kau ikutlah denganku."
Maxilian mengikuti Jack dari belakang. Beberapa perawat masuk dengan rasa takut saat tatapan tajam Maxilian menghujam mereka. Di ruangan Jack maxilian duduk dengan mengusap wajahnya. Perasaan dan kemarahannya meluap hingga tak bisa diungkap dengan kata-kata.
"Apa yang terjadi? Kenapa istrimu.."
"Jack, aku tak tahu kalau dia hamil. Dia tadi melindungiku dari..."
Jack mengernyitkan keningnya saat melihat Maxilian tak melanjutkan kata-katanya. Pria itu hanya berdiri dengan wajah penuh kemarahan. Jadi ia hanya diam saat melihat Maxilian menghubungi seseorang di dekat jendela ruangannya.
"Tomas, aku.."
__ADS_1
"Tuan muda, saya mendengar nona terluka. Tuan dan nyonya besar tengah dalam perjalanan menuju rumah sakit."
Maxilian mendesah, kini dia tampak sedikit tenang. "Benar, istriku terluka. Aku ingin kau urus Lusi dan Aaron."
Di ujung sana Tomas mengangguk dan terlihat ragu untuk bicara. Namun saat teleponnya akan terputus, dia menyela. "Tuan, ini tentang nona Julia."
"Katakan."
"Nona sebenarnya telah menyiapkan seorang wanita untuk tuan Aaron. Dan..sepupu nona Julia saat ini bersama saya."
Maxilian berpikir sejenak dan akhirnya mengatakan, "Biarkan aku bicara dengannya."
Beberapa saat kemudian suara Ben terdengar.
"Apa kau tak bisa menjaga adikku!"
"Perhatikan kata-katamu. Apa rencanamu?" Balas maxilian kesal.
"Apa yang terjadi pada adikku?"
"Dia hamil. Anakku."
"Kau benar-benar baj**ngan! Kau sudah selalu membuatnya terluka! Kini masih berani menghamilinya! Apa kau sadar yang telah kau lakukan!"
"Aku akan menjaganya. Kau tenanglah."
"Pegang janjimu! Awas saja kalau kau membuat adikku terluka lagi."
"Kau tak perlu mencampuri urusanku. Sekarang jelaskan apa yang kalian rencanakan sebelumnya."
"Julia berniat membuat keduanya salah paham. Seorang wanita aku siapkan untuk Aaron. Saat aku melihat Aaron, aku juga tahu kalau Aaron mulai tertarik dengan Julia. Jadi.."
"Ganti wanita itu. Ganti dengan wanita yang memiliki penyakit menular."
"Apa?"
"Ada harga yang harus dibayar karena telah menyentuh wanitaku. Dan tidak ada ampun karena mencoba menggugurkan calon bayiku!"
"A-apa maksudmu! calon bayiku akan gugur? Apa yang telah dilakukannya! Cepat katakan padaku!"
"Calon bayiku?" potong Maxilian mengoreksi kata-kata Ben. "Dia anakku, bukan anakmu! Koreksi kata-katamu atau kubuat kau membusuk di penjara!" peringat Maxilian kesal. Dia menutup teleponnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya. "Harusnya aku tak mengeluarkannya dari penjara. Kenapa dia begitu sangat menyebalkan."
Mendengar itu semua membuat Jack tersenyum. Dia mengenal Maxilian sebagai karakter yang kaku dan tak berperasaan. Namun tadi, dapat ia rasakan arti penting seorang Julia baginya. Apalagi melihatnya begitu panik saat melihat Julia kesakitan.
"Jadi itu masalahnya?" tanya Jack ingin tahu.
Maxilian berbalik, dia menatap Jack sebelum menempati kembali tempat duduknya. "Apa kau tak punya pekerjaan lain selain menguping pembicaraanku."
"Ini ruanganku. Bagaimanapun dia adalah saudaramu, tidak perlu terlalu kejam padanya."
"Aku tak bisa membiarkannya. Lusi bahkan di sana dan berkali kali mencoba merayuku. Aku sangat lelah."
"Wanita ular itu?" tanya Jack tak terkejut dan Maxilian hanya terdiam. "Kupikir ini juga salahmu. Maxilian, kau sudah menikah. Dan saat ini istrimu telah hamil. Anakmu dalam bahaya kalau wanita itu menggila."
"Kau benar. Dan aku sangat lelah. Aku tak akan membiarkan semua terjadi."
"Semua orang tahu kalau Lusi sebenarnya bukanlah teman masa kecilmu. Dia hanya salah satu penggemarmu. Kau tak datang saat dia meminta untuk bertemu hingga akhirnya ia diperkosa dan jadi gila. Dia menganggap dirinya adalah teman masa kecilmu saat dia melihat fotomu dengan seorang gadis kecil. lalu ia berhayal kalau itu adalah dirinya. hanna pun sudah sering memperingatkanmu, mungkin saja traumanya sudah sembuh total. Dia artis sekarang, jadi jujurlah dan selesaikan semuanya."
"Aku sudah memikirkan itu."
Jack kecewa seketika dengan reaksi Maxilian. "hanya memikirkan? Jika Julia melihat reaksimu, aku yakin dia akan sangat kecewa. Suaminya memikirkan kesehatan wanita lain di saat istrinya tengah berjuang mempertahankan bayinya. Andai aku ayah Julia, aku akan membawanya jauh darimu seumur hidup. Istrimu itu sangat cantik, tidak..tidak.. istrimu itu istimewa."
"Kau terlalu banyak bicara. Kudengar Indonesia butuh dokter muda berbakat di sana un.."
__ADS_1
"Hei baj**ngan! Keluar dari ruanganku!
Maxilian mencibir dan berdiri. Meninggalkan ruang Jack dan kembali ke ruangan Julia. Duduk, dan menggenggam erat tangan Julia dan melihat wajah wanitanya yang masih menutup mata.
"Maaf."ujarnya pelan. "Aku akan menjadi suami yang baik. Aku tak akan membiarkan anak kita pergi. Dan aku tak akan membiarkan anak kita merasakan hal yang aku rasakan dulu. Bertahanlah..kumohon.."
Suara itu membuat Julia terbangun. Dia membuka matanya dan melihat Maxilian menundukkan kepalanya dan menggenggam erat tangannya.
"Lian." ujar Julia lemah.
"Diamlah, jangan banyak bergerak. Dalam perutmu ada bayi kita."
"Ba-bayi?"
Maxilian duduk tegak dan tersenyum hangat. "Hm, selanjutnya kau tak boleh pergi kemanapun dan melakukan apapun."
"Tapi aku baru saja menyetujui kontrak dengan SM agency unt.."
"Julia, apakah itu sangat penting untukmu?" potong Maxilian hati-hati. "Apakah penting untuk menjadi artis dan mengalahkan Lusi?"
Saat melihat sorot mata Maxilian yang terlihat tak peduli, dia menarik tangannya dari genggaman Maxilian. "Aku tak bisa melepaskannya."
"Tapi kau hamil. Kenapa kau sangat ingin melihatnya hancur?"
"Ayo berpisah. Aku ingin kembali ke cina." pinta Julia tiba-tiba. Matanya jatuh pada Maxilian. Hatinya terluka saat mendengar Maxilian menyuruhnya melepaskan Lusi.
"Apa?" ungkap Maxilian terkejut.
"Kau akan melindungi kekasih masa kecilmu bukan? Bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku adalah Angel Zhao?"
Maxilian tertegun. Dia diam tak berekspresi.
"Bagaimana jika aku bukanlah Julia yang sebenarnya? Apakah kau akan tetap memintaku untuk melepaskannya? Hanya karena dia kekasih masa kecilmu?"
"Julia, dengan.."
"Lian, aku adalah Angel! Aku tak bisa membiarkan mereka lepas begitu saja. Bagaimana aku bisa melepas mereka setelah membuatku sangat menderita? Tidak! Aku tak bisa! Aku tak bisa membiarkan.."
"Julia hentikan." pinta Maxilian mengingat kondisi lemah janin istrinya. "Jangan bebani pikiranmu. Kau bisa menyakiti anak kita."
Julia menggeleng dan menangis. Dia merasakan seluruh dunia seakan runtuh dan dia sedang berusaha menahannya. "Lian, aku tak bisa membiarkan mereka. Tidak! Mereka harus merasakan apa yang dulu kurasakan. Mereka har.."
"Ssttt.." bujuk Maxilian memeluk tubuh Julia. "Aku akan melakukannya. Aku akan melakukannya untukmu. Katakan saja apa yang kau inginkan, aku akan melakukannya untukmu. Ingatlah, ada bayi kita di sini. Jangan menyakitinya. Aku tak ingin kehilangan kalian."
Julia terdiam. Dia terharu dengan perhatian Maxilian. Ada seorang pria yang begitu memperhatikannya. Apakah dia dapat memegang perkataan Maxilian?
"Lian, aku..."
"Aku tahu, aku tahu. Berhentilah menangis. bayi kita akan ikut menangis." Ia peluk lembut sambil mengelus punggung Julia hati-hati. Setelah Julia tenang, dia menunduk dan mensejajarkan wajahnya pada wajah Julia. "Jadi, kau benar Angel?"
Julia menatap, kemudian mengangguk lalu menggeleng.
"Aku akan diam mendengarkan. Kau hanya cukup menceritakannya."
Julia diam. DIa menghela nafas dan mulai menceritakan segalanya. Luka, derita, penghianatan, penyesalan, dan seluruh cerita jalan hidupnya. Bahkan tanpa sadar ia mengepalkan genggaman tangannya dan Maxilian menyentuh genggaman itu untuk membuatnya tenang kembali. Semua meledak di dalam cerita itu hingga air mata luruh tak terbendung.
"Aku harus kembali ke cina." Aku harus.."
"Sstt.." bujuk Maxilian pelan. "Percayalah padaku. AKu akan melakukannya untukmu. AKu tak akan membiarkan siapa pun menyentuh apalagi menyakitimu. Kau hanya perlu berada di sisiku. Julia ataupun Angel, aku tak peduli. Yang harus kau ingat adalah, kau istriku, ibu dari anak-anakku. Aku akan menghancurkan siapapun yang menyinggungmu. Tapi sebelum itu menikahlah denganku, menikahlah denganku dengan benar. A-aku tak akan membiarkan anakku lahir tanpa ayah yang jelas. Julia..a-aku.."
Maxilian tak dapat menyelesaikan kata-katanya. Dia sangat emosional hingga tak dapat menyelesaikan kata-katanya. Dia hanya mendekat dan memilih untuk mencium bibir Julia dengan lembut. Dia tak ingin anaknya tumbuh tanpa ayah seperti yang dialaminya. Dan ia tak ingin bibir manis ini menyebut nama pria lain, tak peduli itu karena dendam atau alasan apapun. Dia tak akan terima.
"Kedepannya, aku tak ingin kau menyebut nama pria lain di depanku. Tidak, Angel atau Julia Brasco, aku tak mengijinkanmu untuk menyebut nama pria lain meski itu pria dari masa lalumu. Jika kau melakukannya, maka aku akan menghancurkannya hingga kau sadar hanya akulah pria dalam hidupmu. Hanya namaku yang pantas kau sebut, karena aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia. Kau mengerti?"
__ADS_1