
Di sebuah ruangan salah satu rumah sakit besar di negara itu, Jack menatap segan pada Mery dan Hanna yang duduk dengan tatapan intimidasi padanya.
"Katakan yang sebenarnya, keadaan cucu menantuku."
"Jack, yang bertanya adalah nenek. Jadi kau harus bicara jujur." tambah Hanna dengan senyum manis.
Jack menghela nafas dan bertanya, "Keadaan seperti apa maksudmu?"
"Semua." jawab Mery tegas.
Jack berpikir, lirikan matanya jatuh pada Hanna kemudian kembali lagi pada Mery. "Dia terkena racun yang dicampur dengan obat perangsang tingkat tinggi. Jika Julia tidak menemukan kepuasannya, maka obat itu akan memutuskan seluruh saraf lalu mati."
Hanna dan Mery terkejut dengan mata terbelalak. Mereka tak menyangka sebesar itu efek dari racun tersebut. Nyawa Julia benar-benar menjadi taruhannya.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Jack kumohon lakukan segala cara untuk menyelamatkan cucu menantuku." ucap Mery sembari menarik dan menggenggam tangan Jack.
Jack tersenyum dan mengelus tangan Mery. "Nenek, aku hanya dokter. Tak ada obat penawar untuk racun itu. Karena racun itu ternyata diramu khusus. Penderita akan sembuh dengan sendirinya setelah mendapatkan kepuasan. Dan aku belum memeriksanya dari kemarin."
"Apa! Kenapa kau belum memeriksanya? Nyawa cucu menantuku dalam bahaya. Kumohon, lakukan sesuatu."
Jack melepaskan tangan Mery dan menegakkan tubuhnya. "Maxilian tidak mengijinkanku untuk memeriksanya."
Mendengar alasan itu, Mery melonjak marah. "Anak nakal itu. Aku sudah tahu kalau dia senakal itu. Dia bahkan berani mengusirku dari apartemennya."
"Hanna mengelus lengan Mery lembut. "Nenek, jaga emosimu."
"Kapan nenek menemuinya?" tanya Jack ingin tahu.
"Sudahlah itu tidak penting. Sekarang yang terpenting adalah mengetahui alasan kakak sepupu melarangmu untuk memeriksa kakak ipar." sahut Hanna penasaran.
Mendengar pertanyaan yang terlontar dari Hanna dan Merry, Jack mendengus sebal. "Itu, itu karena Maxilian mengatakan bahwa istrinya tidak bisa berjalan."
"Apakah racun itu telah menyerang saraf kakinya sampai-sampai dia tidak bisa berjalan?" tanya Hanna masih belum mengerti.
Jack merapatkan tubuhnya dan sedikit menyender di tepian meja. "Sakitnya itu tak ada hubungannya dengan racun. Terakhir kali aku memeriksanya, dia sudah membaik. Namun rasa sakit yang sekarang ia alami karena... ah aku agak sulit menjelaskan."
"Jack bicaramu terlalu bertele-tele. Kau tak bermaksud mengatakan cucu menantuku lumpuh kan?"
__ADS_1
Jack manarik bibirnya tersenyum tipis. "Nenek, sebelumnya aku minta maaf mengatakan ini. Tapi rasa sakit yang dialami cucu menantumu di karenakan oleh ulah cucumu sendiri."
"Karena kakak sepupu?"
"Karena Lian? Beraninya anak itu menyakiti cucu menantuku! Aku akan menarik kembali saham yang baru saja kuberikan padanya!" ungkapnya dengan berdiri dan siap pergi.
Jack menahan kepergian Mery, "Nenek, bukan itu maksudku. Ini tidak seperti yang kau bayangkan."
Mery terhenti dan menatap Jack heran. Sedangkan Hanna sudah membawakan tas Mery.
"Ini mungkin rasa sakit yang berakhir bahagia. Nek, sepertinya kau akan mempunyai seorang cicit."
"Cicit?" tanya Hanna dan Mery bersamaan.
"Jadi maksudmu... sakit kakak ipar yang sekarang dikarenakan.."
Jack mengangguk. "Yah, Maxilian mungkin terlalu liar dan kasar. Maksudku, Julia terluka dan kesulitan berjalan. Mungkin untuk satu minggu ke depan. Aku sudah memperingatkan Maxilian untuk menahan diri satu minggu ke depan. Jadi, jadi kita.."
"Hanna ayo pergi. Kita harus belanja keperluan rumah. Aku akan membeli susu dan makanan sehat untuk cucu menantuku. Ayoyo, cucu menantuku yang malang, dia pasti kesakitan karena ulah anak nakal itu. Ayoyo, aku akan jewer telinga anak nakal itu. Ayo pergi." ucap Mery sambil menarik tangan Hanna tanpa menunggu Jack berkata lagi.
Hanna tersenyum kikuk sambil menganggukkan kepalanya saat Mery menyeretnya. Wajahnya merona saat Jack menjelaskan penyebab sakitnya Julia. Bahwa Julia tak bisa berjalan karena malam panjang yang ia habiskan bersama sepupunya.
Keesokan harinya, suara bel apartemen telah membuat Maxilian memaki. Pria itu berjalan keluar dengan piyama yang tidak terkancing semuanya. Dia mengerutkan keningnya saat lagi-lagi ia melihat Mery dan Hanna muncul di balik pintu dengan banyak belanjaan yang tak ia tahu apa isinya.
"Nenek."
"Kau anak nakal!" Mery dengan cepat mengangkat wortel yang ada di tangannya untuk ia pukulkan ke punggung Maxilian berkali-kali.
"Ahk! nenek, hentikan. Apa yang kau lakukan! Itu sakit."
Hanna hanya tertawa melihat semua itu. Perasaannya menghangat untuk sementara waktu. Dia masuk dan langsung menuju ke dapur.
Sedangkan Mery menghela nafas berat setelah berlarian mengejar cucunya. Tangannya mengacung ke arah Maxilian. "Aku sudah tahu semuanya. Kau, kau yang telah membuatnya terluka. Kau, kau ini benar-benar nakal! Tak peduli seberapa besar rasa sukamu pada cucu menantuku, tetapi kau harus bisa lebih peduli padanya. Kenapa kau tak bisa menahan diri? Kenapa kau membuat kesulitan untuk cucu menantuku?"
Wajah Maxilian memerah. Dia berdehem dengan malu. "Nenek, Itu.. Itu..bukan masalah besar. Tidak perlu kau bersikap histeris. Ahk! Ahk.. iya.. iya...aku tahu, aku tahu."
Tak mendengar alasan Maxilian, Mery kembali memukul Maxilian. Semua itu terhenti setelah suara batuk pelan terdengar dan Lucas masuk tiba-tiba.
__ADS_1
"Kakek."
Mery menoleh lalu menatap Maxilian sekilas. "Di mana cucu menantuku? Aku akan membawanya pulang. Aku tidak akan membiarkan kau mendekatinya satu minggu ini."
"Nenek, itu tidak mungkin. Aku yang membuatnya seperti ini, jadi aku yang akan merawatnya. Aku.."
Maxilian terhenti saat menyadari bahwa dia telah banyak bicara di hadapan kakek dan neneknya karena membahas Julia. Keadaan yang belum pernah terjadi ini, sangat memalukan baginya.
"Duduk." tegur Lucas dingin.
Maxilian menurut dan Mery mengikuti. Mereka duduk di ruang utama.
"Panggil Julia."
Maxilian menoleh, "Tidak, jangan melibatkan istriku."
"Anak nakal ini!" maki Lucas kesal. Dia mengangkat tongkatnya dan akan memukul Maxilian namun terhenti saat Maxilian mengangkat kedua tangannya untuk melindungi kepalanya.
Terbatuk pelan, Lucas melirik ruangan lain yang tertutup. "Aku ingin bertemu Julia."
"Dia sedang istirahat."
"Anak nakal ini! Lihatlah pada siapa kau bicara." Kali ini Mery sudah tak dapat menahan kekesalannya lagi.
"Sekarang kau tahu bertanggung jawab?" tanya Lucas dingin. "Kami akan merawatnya. Aku akan menjauhkan calon cicitku dari kekasaranmu."
"Kening Maxilian mengernyit, "Kakek, apa maksudmu?"
"Kau masih bertanya?" tanya Lucas pada intinya.
Maxilian mengalihkan pandangannya dengan wajah merah. "Itu, aku hanya lepas kendali. Dan, dan dia juga tak kesakitan saat itu. Lagipula ini adalah urusan rumah tanggaku. Jad,..."
"Lihatlah!" potong Mery tak tahan. "Aku tak tahu bahwa kau sangat liar! Anak ini.. anak ini benar-benar nakal!"
Lucas terbatuk pelan dengan perasaan tak nyaman. "Benar, masa muda kami juga bersemangat seperti kalian, tapi kali ini aku tak bisa membiarkan cucu menantuku menderita. Kami akan menjaganya selama tiga bulan pertama agar keturunan keluarga Lunox dapat berkembang baik. Jangan berharap kau bisa mendekatinya!"
Perdebatan antara Maxilian dengan kakek dan neneknya berlangsung panjang dan alot. Tak ada yang mau mengalah hingga akhirnya Julia keluar di bantu Hanna. Saat melihat Julia yang tampak baik-baik saja meski wajah penuh keringat, saat ini Lucas dan Mery merasa lega dan lebih percaya. Hingga akhirnya Maxilian mengantarkan pulang keduanya, dan meninggalkan Julia bersama Hanna.
__ADS_1
Di balkon kamar yang nampak sepi membuat langkah Hanna leluasa. Dia memunggungi Julia sembari bertanya, "Aku tak percaya kakak sepupu benar-benar menyentuhmu."
Julia tersenyum tipis. Matanya tampak bening dengan semua ekspresi datar yang tak disembunyikan. "Imbalan apa yang kau inginkan?"