Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Kehaluan Janet


__ADS_3

Tanpa menunggu lama, Jeni maju dan mendorong pintu itu dengan sedikit tenaga. Pintu itu terbuka dan Janet mundur beberapa langkah.


"Kau!" tunjuk Janet pada Jeni. "Apakah dia tahu kalau kau datang ke sini bersamanya?"


Jeni mengabaikan kata-kata Janet. Jeni berbalik dan menepi, "Nona, masuklah."


"Tidak! kau tidak boleh masuk! Aku akan melaporkanmu padanya!" tahan Janet sambil berteriak.


Namun Julia tak mempedulikan Janet, dia terus melangkah memasuki rumah dan mengedarkan penglihatannya. Rumah mewah ini bergaya modern klasik yang sangat asri di sekitar halamannya. Pencahayaan yang bagus membuat rumah ini makin nyaman. Antara klasik modern dan penataan taman dengan gaya tropical. Di tambah dengan penataan perabot rumah dengan kualitas terbaik. Pantas saja Janet sangat betah tinggal di rumah ini. Karena rumah mewah ini sangat nyaman meski terlihat sepi.


Julia duduk di sebuah sofa dengan menyilangkan lutut kakinya satu sama lain.Tubuh tegapnya bersandar namun tetap menampilkan keanggunan. Dia meletakkan tas mewahnya tak jauh dari tempatnya duduk. Duduk tenang di sana sembari menikmati suasana rumah, hingga Janet ikut duduk tak jauh darinya. Menatapnya tajam dengan penuh kebencian.


"Untuk apa kau ke sini?" tegur janet ketus. Tangannya disilangkan di dada dengan ekspresi wajah yang angkuh.


Julia sedikit tertawa. "Apa yang salah dengan aku yang menyambut tamuku? Sebagai pemilik rumah bukankah wajar aku menyambut tamuku? Terlebih tamuku ini telah melakukan tindakan kriminal."


Mata Janet terbelalak. Mulutnya terkatup rapat dengan tubuh bergetar. "Julia, perhatikan kata-katamu!"


"Apa yang salah? Bukankah itu benar? Janet, apa kau berpura-pura amnesia?"


Janet mengeluarkan des*ahan mengejek. Bibirnya tertarik dan memutar matanya malas. Lalu tatapannya kembali jatuh pada sosok Julia. "Harusnya kau bersyukur bahwa kau baik-baik saja. Tapi itu tak akan berlangsung lama. Kau tetap akan mati di tanganku. Dan aku tegaskan sekali lagi. Ini bukan rumahmu!"


Cih mana mungkin ini rumahnya. Sudah jelas Maxilian mengutus Jeni untuk menyuruhnya tinggal di rumah ini. Jadi ini tidak ada hubungannya dengan Julia. Tawa mengejek pun akhirnya keluar dari mulutnya.


Julia hanya menatap datar kepada Janet yang tertawa tanpa alasan. Ada senyum samar melintas. Janet, hari ini adalah hari terakhir kau tertawa.


"Sekarang pergi! Pergi dari sini!" paksa Janet untuk mengusir Julia. Ada rasa puas pada diri Janet saat melihat Julia diam tak bisa menjawab kata-katanya.


Jeni yang menyaksikan kekonyolan Janet, hanya tersenyum sinis. Awalnya ia tak percaya bahwa Maxilian telah begitu memperhatikan Julia. Namun setelah ia tahu bahwa Julia adalah pemegang pin keluarga Lunox, maka itu adalah sebuah kenyataan yang jelas.


"Nona Janet." sela Jeni geli. "Tolong jangan membuat saya tertawa."


"Apa?" tanya Janet tak mengerti. Ia melirik Jeni dan Julia bergantian.


"Apakah sudah selesai?" tanya Julia dengan datar. "Janet, apa kau lupa kalau Maxilian adalah suamiku?"


Janet mencibir dan masih dengan yakin pada pemikirannya.


"Dan kau mengusirku dari sini? Apa otakmu terbalik?" tambah Julia dingin. Dia menggelengkan kepalanya tak mengerti.


"Lalu kenapa jika dia suamimu? Dia yang menyuruhku tinggal di sini!" jawab Janet dengan senyum manisnya.


"Oh benarkah?" tanya Julia dengan nada yang seolah-olah berminat dengan ucapannya.


Janet tersenyum penuh arti. Wajahnya berseri penuh arti dan kepalanya mengangguk tanpa ragu. Melihat Julia tak berkutik membuat ia makin sombong.


"Kau yakin dia menyuruhmu tinggal?" tanya Julia memastikan. Terlihat tenang namun yang sebenarnya ia mencoba untuk menahan tawanya yang hampir meledak.

__ADS_1


"Jika tidak, kenapa ia membawaku ke rumah mewah ini? Menyembunyikanku bahkan mengunjungiku beberapa hari yang lalu. Julia, apa kau terkejut?" ucap Julia memprovakasi. Dia yakin Julia akan kesal dengan ucapannya. Karena itu ia semakin semangat untuk mengumbar kehaluannya.


"Wau, Janet, kau benar-benar luar biasa."


"Tentu saja. Seharusnya kau sadar bahwa sia-sia kau datang ke sini untuk mengusirku. Karena suamimu sendirilah yang memintaku tinggal."


"Yah, karena kau menginginkannya. Maka kau bisa tinggal." ucap Julia dengan santai.


Di mata Janet, ucapan Julia terlihat seperti kepasrahan. Membuatnya makin besar kepala. "Kenapa? Apa kau marah? Menangislah dan tuntutlah suamimu."


Julia menggeleng pelan. "Kenapa aku harus melakukan itu?"


mengibaskan rambut panjangnya, kemudian tertawa. "Yah, kurasa suamimu tak lagi mencintaimu. Diam-diam dia telah menyembunyikanku dan mengunjungiku. Aku yakin dalam beberapa waktu ke depan, dia akan menikahiku."


Mendengar itu membuat Jeni membekap mulutnya dan keluar dari ruangan itu. Dia tak tahan lagi untuk segera tertawa. Namun tetap ia memilih untuk bersikap sopan terhadap nona mudanya dengan minta ijin keluar ruangan.


"Kau akan mendapatkannya." jawab Julia dengan datar. Mata hitamnya masih melekat melihat senyum Janet yang terlihat bodoh di hadapannya.


"Ada apa denganmu? Apa kau pasrah dengan itu semua? Yah, kau memang selalu begitu dari dulu. Jadi kali ini juga bukan masalah besar bagimu. Kau bisa kembali pada Jordan jika kau mau. Dia pasti menerimamu."


"Aku baru tahu jika kau sangat menyukai suamiku."


"Bagaimana mungkin tidak? Dia menempatkanku pada keadaan yang lebih baik dari yang dulu aku miliki. Pakaian, tas , sepatu, segala aksesoris mewah, ada di sini. Bukankah suamimu begitu perhatian padaku?"


kata-kata terakhir Janet, membuat Julia menyimpulkan sesuatu. "Ya, dia sedikit perhatian."


kata-kata dingin itu terasa menghujam. Dia ingin melihat Julia meratapi nasibnya yang selalu gagal. Ya, dia tak akan membiarkan Julia sebelum melihatnya menderita sampai kematian mendatanginya.


Suara ketukan lantai terdengar, Jeni kembali masuk dan melihat tatapan Janet yang menghujam. Namun nona mudanya tetap terlihat tenang. Mendekat, kemudian menunduk untuk menyampaikan pesan.


"Nona, tuan muda menunggu di rumah untuk mendiskusikan pembelian rumah-rumah baru."


Tatapan Janet beralih. Julia pun menoleh. "Rumah baru?"


"Baru-baru ini tuan memindahkan barang-barang berharganya dari Nivada ke Las Vgas. Sepertinya tuan sedikit tertarik dengan perumahan Lambo Regency. Ini adalah kawasan elit di kawasan pusat kota."


"Pusat kota?" tanya Julia memastikan.


Jeni mengangguk. Janet menatapnya tertegun. Julia menoleh, kembali menatap Janet dan tertawa. "Janet, suamiku mengajakku pindah rumah ke tempat termewah di negara ini."


"Itu tidak mungkin! Dia.."


"Oh biar kuceritakan semua agar kau jelas. Baju, sepatu, dan segala yang kau gunakan di sini adalah barang-barang yang aku tolak dari sekian seleksi yang ia berikan padaku. Dan maksud dia membuatmu tinggal disini bukan karena ingin menyembunyikanmu, tapi memberimu pelajaran. Karena saat pertama kau masuk ke rumah ini, dia telah menghancurkan keluargamu, bahkan memusnahkan mereka semua."


"Apa?" Janet terkejut. Wajahnya memucat dengan rasa tak percaya.


"Oh satu lagi. Kau ingin tinggal disini? Baiklah, kau bisa tinggal di sini selamanya. Karena setelah malam ini, aku yakin kau akan terus menderita dan memilih untuk mati. Atau menjadi gila. Kau ingin melihatku menangisi hidup bukan? Oh itu lebih tepatnya dirimu sendiri. Yah, sesuai permintaanmu. kau akan mendapatkannya."

__ADS_1


"Tidak, ayah tak mungkin. Ayahku baik-baik saja! Kau pembohong! kau pasti mempengaruhi suamimu untuk menghancurkan keluargaku!" teriak Janet dengan wajah marahnya. Karena terkejut dan gugup, ia mencoba menyerang Julia namun Jeni menghalanginya hingga akhirnya yang bisa ia raih adalah tas Julia.


"Hati-hati nona." peringat Jeni melindungi Julia.


Melihat Janet memegang tasnya Julia tertawa. "Janet, apa memang hobimu menginginkan barang orang lain? Apa kau tak punya malu?"


"Julia tutup mulutmu!" teriak Janet.


Namun Julia terlihat tak terganggu. "Apakah semua barang milikku selalu terlihat menarik di matamu? Dari perusahaan, warisan, barang-barang yang kugunakan, mantan tunanganku, bahkan sekarang suamiku. Tas itu? Jika kau sangat menginginkannya, aku akan memberikannya padamu. Karena aku orang yang sangat dermawan."


"Julia! Kau!" urat di lehernya kian ketara saat Janet berteriak. Julia sudah sangat keterlaluan dengan terus menghinanya. Maju, dia mencoba untuk menyerang Julia lagi, namun lagi-lagi Jeni melindunginya.


"Jangan menyentuh nona mudaku!" peringat Jeni dingin. Dia tak segan-segan menyakiti siapapun yang menyakiti nona mudanya. Karena nona mudanya adalah orang yang berarti bagi keluarga Lunox.


Julia menyeringai, berdiri dengan anggun. Melihat Janet yang lepas kendali dan ingin menyerangnya, dia sangat bahagia. Melirik Janet sekali lagi dan tersenyum. "Aku akan berkunjung satu minggu lagi. Jeni, ayo pergi."


"baik nona."


"Tunggu! Berhenti di sana Julia! Tunggu!" Janet mengejar Julia. Namun Jeni menahannya lalu mendorong tubuh Janet hingga terjatuh. Kembali berdiri, ia mencoba mengejarnya lagi, namun tak bisa.


Blam!


Pintu tertutup keras. Janet jatuh luruh ke lantai dengan perasaan tak percaya. Semua kata-kata Julia terngiang di telinganya. Keluarganya hancur tepat ketika ia pertama memasuki rumah ini. Dan pria itu membuatnya ia terkurung di dalamnya agar Julia dapat mendatanginya sesuka hatinya.


"maxilian." geramnya tanpa sadar. Tangannya mengepal erat. Air mata berjatuhan. Ia pikir Maxilian memberikan segala kemewahan ini untuk menyenangkannya. Ternyata semua barang-barang yang ia gunakan adalah pembuangan dari barang-barang milik Julia. Ia pikir Maxilian menaruh hati padanya. Itu benar-benar sesuai dengan angan-angannya. Namun siapa sangka ini adalah jebakan untuknya. Maxilian sengaja mengurungnya untuk membuat Julia menyiksa batinnya. Kenapa? Kenapa Julia selalu beruntung? Apa kelebihannya sehingga Julia memiliki segala sesuatu yang tak ia miliki.


Kini apa yang harus ia lakukan? Dia sekarang sendiri. Benar-benar sendiri di rumah ini. Apakah Julia akan melakukan apa yang telah ia ucapkan? Bagaimana mungkin Jordan tak mencarinya?


"Jordan." gumamnya tanpa sadar. Selama ia di sini, ia sempat melupakan tunangannya. Tapi kali ini, orang yang bisa menolongnya hanya Jordan. Ya, Jordan.


Dia berlari menuju telepon rumah. Namun ia terkesiap saat mengetahui semua sambungan telepon terputus. Tubuhnya lemas dan terjatuh ke lantai dengan tangannya yang masih memegang telepon. Tatapannya jatuh pada pintu rumah itu.  Berlari dan berusaha keluar dari rumah itu. Namun pintu itu terkunci.


"Julia! Julia! Julia! buka pintunya! Aku tak akan memaafkanmu bila terjadi sesuatu pada ayahku! Julia...!!"


Julia melangkah diikuti Jeni di belakang. Menatap kunci di tangannya, ia menjadi sedikit tenang. Saat mendengar suara pukulan pintu berulang-ulang, ia berhenti dan berbalik.


Janet, ini baru awal. Batin julia.


Jeni ikut berhenti. "Nona, apa yang akan nona lakukan padanya?"


Melirik Jeni sekilas. Senyum tipis terlintas. "Dia selalu menyebutku ular berbisa. Jadi aku akan memberikan itu padanya. Kudengar ada bubuk yang sangat disukai ular. Dapatkan itu dan taburkan di seluruh halaman rumah. Karena rumah ini ada di daerah pinggiran, pasti akan banyak ular."


"Apakah nona ingin Janet mati karena ular-ular itu?"


"Tidak, mati terlalu bagus untuknya. Aku ingin dia menangis ketakutan. Merasakan cemas dan putus asa. Itu baru hukuman ringan untuknya. Dia harus menerima yang lebih dari aku alami dulu."


"Segera nona. Ular-ular itu akan dikirim malam ini. Sedangkan serbuk itu akan diambil alih oleh anak buah tuan muda." Jeni mengangguk patuh. Dia tak menyangka nonanya ini berhati dingin. Membalas Janet dengan merusak mentalnya.

__ADS_1


__ADS_2