
Dua hari berlalu, dan Julia diperbolehkan untuk keluar rumah, tentunya dengan seijin suaminya. Mery bahkan menugaskan satu supir wanita terbaik keluarga Lunox untuk mengantar dan menjaga Julia kemanapun dia pergi. Seperti siang ini, Julia menyusuri pusat perbelanjaan terbesar di Las Vgas dengan bodyguard wanita yang juga menjadi supirnya. Mereka berdua berjalan beriringan dengan santai.
Melakukan perawatan hingga membeli pakaian dengan harga tertinggi dan kualitas tertinggi pula. Julia tertawa bahagia saat berkali-kali menggunakan kartu hitam pemberian Maxilian. Bahkan kini bodyguard Julia memiliki pakaian segudang yang Julia pilihkan. Dia merubah supir dan penjaganya itu menjadi teman wanita pertamanya setelah menikah dengan Maxilian.
"Nona, ini terlalu banyak."
"Tidak, ini belum seberapa." Kata Julia yang masih sibuk memilah beberapa pakaian di gantungan toko. "Oh ya,, siapa namamu?"
"Jeni, Jenifer Richard."
"Oh baiklah. Jeni selama kau mengawalku, aku tak ingin kau memakai pakaian hitam itu. Aku ingin kau memakai pakaian biasa dan bertindak seperti temanku."
"Tapi nona, itu tak pantas."
Julia berjalan menuju kasir dan memberikan kartu kreditnya. Dia menoleh pada Jeni yang mulai membawa belanjaannya. "Itu pantas karena aku yang menginginkannya. Kembalilah setelah kau meletakkan semua barang. Aku akan menunggumu di cafe malaya sugar sebelum kita melakukan perawatan tubuh."
"Nona." Seru Jeni kaget. "Tapi barusan kita telah melakukan perawatan."
"Julia menggeleng. "Itu untuk rambut dan kuku. Kali ini untuk seluruh tubuh. Nenek telah merekomendasikan tempat yang bagus untuk melakukan itu."
Jeni mengingatnya dan mengangguk."Iya nona, saya ingat."
"Pesankan tempat itu untukku dan kau harus ikut."
__ADS_1
Jeni menggeleng keberatan. "Nona, ini sudah cukup." dia mengangkat barang belanjaan ke atas. "Aku tak bisa menerima lebih dari ini," tentu saja ia menolak untuk melakukan semua itu. Dia sangat tahu betapa mahalnya perawatan di sana. Jika dia tak salah, itu menghabiskan gajinya setahun bekerja di rumah keluarga Lunox hanya untuk sekali melakukan perawatan.
Melihat itu Julia tersenyum. "Tapi kau akan bosan menungguku."
Terlihat ragu Jeni menimbang sesuatu dan akhirnya bicara. "Jika begitu, bisakah aku pergi ke suatu tempat? Itu tidak jauh dari perawatan nona."
"Kemana kau akan pergi?" tanya Julia ingin tahu.
"Itu tempat pelatihan taekwondo dan beberapa beladiri lainnya nona."
Julia mengangguk, kemudian Jeni pergi terlebih dahulu. Menyusuri keramaian pusat perbelanjaan. Julia akhirnya duduk di dalam cafe malaya sugar. Dia menikmati minuman dingin yang ia pesan sambil membuka ponsel yang baru ia dapatkan saat di rumah sakit.
"Apa ini, kenapa hanya ada nomernya saja?" keluhnya saat hanya melihat nomer ponsel Maxilian di handphone nya.
"Kau bisa memiliki nomerku juga." sahut sebuah suara berat yang tiba-tiba. Pria ini duduk di hadapan Julia dengan senyum manisnya. Julia menoleh dan mengerutkan keningnya. "Aku tak mengenalmu." dia berdiri dan akan pergi, tapi pria itu tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan aneh.
Julia tertegun. Dia berbalik dan menatap pria yang masih duduk tersenyum padanya. "Aku Carendello Lunox."
"Lunox... maaf Maxilian tak pernah memberitahuku kalau dia memiliki.."
"Tentu saja tidak." potong Caren cepat. Dia berdiri dan menarik tangan Julia agar kembali ke tempat duduknya. "Kakak ipar, minumanmu bahkan belum habis. Tapi kau langsung pergi setelah melihatku. Apakah sepupuku yang melarangmu untuk--"
"Tidak." potong Julia cepat. "Suamiku tak pernah mengatakan apapun." Julia tersenyum tipis. Memperhatikan wajah pria di hadapannya dengan seksama. Lalu keluar kata-kata dalam hatinya, keluarga Lunox, kenapa mereka semua berwajah tampan.
__ADS_1
Ada rasa iri di hatinya meski wajahnya saat ini terlihat tak biasa. Julia memperhatikan lagi pria di hadapannya itu dengan intens saat pria itu memesan sebuah minuman dingin yang sama dengannya. Pria tampan bermata abu-abu itu benar-benar tampan. Ketampanan yang hampir setara dengan yang dimiliki Maxilian. Bedanya, ketampanan Maxilian terlihat dingin sedangkan pria ini tampak manis dan bersahabat.
"Oh aku tak tahu jika sepupuku tak mengatakan apapun pada istrinya. Kakak ipar, dia memperlakukanmu dengan baik kan?" tanya Carlen terlihat khawatir. Tatapan matanya teduh dengan senyum tipis yang tak pernah pudar.
"Julia tertawa, mengaduk minuman dingin di hadapannya. "Dia sangat baik padaku."
Carlen meminum minumannya sedikit. Memperhatikan Julia dengan lebih teliti. "Apa kau tak penting untuknya? Kenapa dia tak memberi tahu kami jika kalian menikah. Apakah kami yang berlima ini tak penting atau kau hanya istri sesa--."
"Itu karena aku tak ingin tahu tentang kalian semua." potong Julia tenang. Dia menatap mata abu-abu di depannya dengan tegas. "Jadi kalian berlima, atau kau sendiri, bagiku tidaklah penting. Aku tak menikahi kalian. Aku hanya menikahi Maxilian."
Carlen tertegun. Jawaban cepat, singkat yang membuatnya terkejut. Dia tak menyangka bahwa Julia memberi jawaban seperti itu. Gadis ini telah mematahkan seluruh sandiwaranya. Kebanyakan gadis yang dijodohkan dengan Maxilian akan bermanis-manis dengan semua saudara Maxilian untuk memperoleh perhatian. Saat dia mendekati wanita-wanita itu, dia akan membakar hubungan Maxilian dengan wanita-wanita itu kemudian Carlen akan mengambil alih segalanya.
Tapi gadis di hadapannya ini terlihat tak peduli jika dia mengatakan kalau dia adalah sepupu Maxilian. "Kakak ipar, kau, kenapa kau begitu kejam seperti sepupuku?" tanya Carlen meneruskan sandiwaranya. Pertanyaan itu jelas ringan, namun mempunyai maksud memberitahukan tentang kekejaman Maxilian.
Mendengar itu Julia tersenyum. Dia tahu kekejaman Maxilian. Dia tahu bagaimana suami kontraknya itu meski baru menikah satu minggu. Jadi dia melirik sekitar, kemudian kembali menatap Carlen datar. "Pernahkah kau mendengar pepatah bahwa pasanganmu adalah cerminan dirimu? Jadi kupikir itu tak ada bedanya denganku. Sama sekali tak menjadi masalah."
Carlen menepukkan tangannya takjub. "Wau, kurasa aku tahu alasan sepupuku menikahimu. Kakak ipar, kau benar-benar keren. Tapi aku belum tahu siapa sebenarnya kakak iparku ini."
Julia tersenyum tipis pada setiap bualan dari pria di hadapannya ini. Belum tahu tentangnya? Mungkin dia berpikir Julia wanita bodoh. Kalau Pria ini tak tahu tentang dirinya, mana mungkin dia datang ke hadapannya saat ini.
"Carlen kau sangat buruk." Jelas Julia terus terang. "Kau tahu bahwa aku istri Maxilian, tapi kau bilang belum mengenalku? Apakah itu masuk akal? Aku yakin informasi tentang diriku telah kalian kantongi jauh sebelum kau menemuiku."
Carlen tersenyum tipis. Dia mengangguk tanpa alasan. Sepertinya gadis di hadapannya ini cukup cerdas untuk menghindari jebakannya. Dia menjadi makin semangat namun bibirnya terkatup rapat saat melihat seorang wanita datang dan mengbungkuk pada Julia.
__ADS_1
"Nona, tua muda datang dan menunggumu di mobil." ujar Jeni sopan. Meneliti Carlen waspada lalu memperhatikan Julia memastikan keadaan nona mudanya.
Julia berdiri dan menatap Carlen. Dia berjalan tanpa mengucapkan sepatah katapun dan membiarkan Carlen memanggil namanya beberapa kali. Jelas dia sendiri juga waspada terlebih Maxilian telah memberi tahu tentang keluarga Lunox yang sulit ditangani.