
Julia teringat kembali perkataan Maxilian, 'Jika ada yang harus meminta tanggung jawab itu adalah aku. Karena kau telah meletakkan hak milikmu padaku. Maka kau jangan pernah berpikir untuk lari. Karena sejak saat ini, seluruh tubuhmu adalah milikku.'
Kata-kata terakhir yang Maxilian ucapkan membuatnya makin pusing. "Tanggung jawab? Aku? Apakah dunia ini sudah terbalik? Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu?
"Ahk!!"
Julia menyugarkan rambutnya kasar. Matanya bergerak liar menatap pakaian yang berserakan di lantai. Melihat pakaian Maxilian yang bercampur dengan pakaiannya, membuat semburat merah di wajahnya. Makin banyak tebakan di pikirannya tentang apa saja yang ia perbuat bersama Maxilian. Makin banyak ia berpikir dan membayangkan, semakin merah wajahnya.
"Apakah aku dan dia benar sudah..? Ya tuhan Julia, tamat sudah riwayatmu. Kau berkata tak mau menikah, tapi kini kau berakhir menyerahkan segalanya pada pria itu. Dan itu tak hanya sekali, tapi enam atau tujuh kali. Ahkk!! ini gila! Bagaimana dia bisa sekuat itu?"
Julia menarik selimutnya dan terus meremasnya dengan kesal. Kadang ia menggigit selimut di tangannya dan tangannya terus menarik. Hingga tanpa sadar akibat tarikan tersebut, kaki putihnya terlihat hingga batas lutut. Sedangkan kaki satunya yang tertekuk menampilkan pahanya yang mulus. Di atas kulit paha itu, beberapa tanda merah juga tercetak jelas. Namun sejauh ini Julia belum sepenuhnya sadar bahwa tubuhnya juga penuh dengan jejak kepemilikan Maxilian.
"Kau baik-baik saja?"
Suara yang sedikit serak dan lembut itu menyapa lamunannya. Julia terperanjat dan melihat Maxilian yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan handuk yang membungkus pinggang, dan rambut basah yang masih mengeluarkan tetesan air. Pria itu menatapnya lembut, membuatnya mundur sedikit ke tepi ranjang dengan hati-hati tanpa merubah posisi kakinya.
"Iy--iya. Aku baik-baik saja." jawab Julia ragu. Matanya mengalihkan pandangan ke sisi lantai. Dia tak berani menatap mata Maxilian yang terlihat aneh di matanya.
"Kau tak ingin mandi?"
Julia menoleh saat perhatian kecil itu terdengar mengerikan. Dia meremas selimut yang menutupi tubuhnya. Melihat Maxilian yang masih menatapnya lekat dari samping tempat tidurnya. Dan benar, ia dapat melihat jejak merah di sepanjang dada, perut, pinggang bahkan perut bawah Maxilian. Seketika wajahnya merah padam dan segera ia tundukkan wajahnya dan meremas bibirnya.
'Sia*lan bibir ini. Apa yang sudah kulakukan dengan bibir ini?' tanya nya dalam hati.
Maxilian mengerutkan keningnya saat melihat Julia menunduk hingga rambutnya menutupi wajah gadis cantik itu. Dia berjalan menghampiri dan berdiri di samping Julia. Matanya melihat kaki putih yang tak tertutup selimut itu terekspos sempurna. Membuat nafasnya tertahan dengan ingatan liar yang telah mereka lakukan semalam. Seketika tubuhnya menegang, namun ia tetap memperhatikan wajah cantik yang tertunduk itu.
"Kau pasti tak bisa berjalan?" ujarnya perhatian.
Tanpa aba-aba dia menggendong tubuh Julia hati-hati. Membuat gadis itu terperanjat dan menjerit lalu mengalungkan tangannya ke lehernya secara refleks.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Julia panik.
"Membantumu membersihkan diri. Kau pasti tak bisa berjalan."
Tapi Maxilian hanya diam dan tetap membawa tubuh Julia ke kamar mandi. Meletakkan tubuh Julia pelan dan lembut ke dalam bath up yang berisi air hangat.
"Kudengar air hangat bisa meringankan rasa sakitnya. Jadi aku.." ucap Maxilian ragu. Dia bingung harus berkata apa.
Perhatian kecil Maxilian itu membuat Julia merona. Dia melihat maxilian yang kebingungan lalu pada otot perut tubuh yang menonjol. "Kau bisa meninggalkanku sendiri. Aku bisa..ahkk," rintih Julia kesakitan saat dia mencoba menggerakkan badannya untuk melebarkan kaki.
__ADS_1
"Apakah sakit?" tanya Maxilian langsung berjongkok.
Julia tak menjawab selain mendesis kesakitan. Rasanya sungguh buruk hingga dia merasa terkoyak di bagian bawahnya.
"Biarkan aku melihatnya."
Julia menggeleng cepat. "Tidak, aku.."
"Jangan membantah!"
Maxilian langsung meletakkan tangannya pada pinggang dan kaki Julia. Mengangkat gadis itu hati-hati dan ia dudukkan di atas kloset. Dia berjongkok dan menyentuh kaki Julia.
"Julia, biarkan aku melihatnya."
"Kau gila? Aku.."
"Aku sudah melihat seluruh tubuhmu berkali kali semalam." potong Maxilian membuat Julia bungkam.
"ya tuhan rasanya aku hampir gila." batin Julia malu.
"Buka kakimu. Aku ingin melihatnya."
Maxilian mendongak. Dia melihat wajah Julia yang memerah. Tersenyum tipis, dia tahu saat ini Julia sangat malu dan sungkan dengannya. Tapi kesehatan gadis itu bukanlah hal yang bisa ia abaikan begitu saja. "Jadi jika aku membiarkan kau melihat milikku, maka aku bebas memeriksa milikmu, begitu?"
"Apa?" tanya Julia terkejut. "Si--siapa yang menginginkan itu?"
Maxilian tak menggubris, dia berdiri dengan tangan melepas handuk yang menutupi pinggangnya. "Kau bisa melihatnya."
"Ahhkk!! apa yang kau lakukan? Dasar mesum!" tak sampai melihat maxilian membuka handuk, Julia sudah menutup wajah dengan tangannya.
Maxilian mengangkat satu alisnya, dia hampir tertawa saat melihat reaksi Julia. Dia dapat memaknai bahwa Julia berpikir kalau dia tak menggunakan ****** *****. Tapi sayangnya dugaan Julia salah, karena dia memakai ****** *****. Jadi saat melihat reaksi Julia dia pun segera berjongkok dan membuka paksa kaki Julia dengan lebar.
"Biarkan aku melihatnya."
"Maxilian! Apa yang kau li-"
"Julia, ini buruk! " potong Maxilian berdiri. Wajahnya terlihat khawatir.
"Apa?" awalnya Julia akan marah, namun saat melihat ekspresi Maxilian yang serius, dia jadi ingin tahu. Merapatkan kakinya kembali, dia melihat Maxilian yang menatapnya serius. "A-apa yang terjadi? Aku baik-baik saja."
__ADS_1
Maxilian menggeleng, "Kau tidak baik-baik saja. Milikmu terluka. Kita harus pergi ke rumah sakit. Ayo-"
"Tidak! Tidak mau. Aku baik-baik saja." Tolak Julia kekeh. Dia mencoba berdiri dengan pelan dan Maxilian membantunya.
"Aku tak yakin kau bisa berjalan."
Mendengar itu wajah Julia memucat. "Jangan bercanda, aku..ahkk." erangnya menahan sakit dan membatalkan untuk berjalan.
"Sekarang kau percaya?" tanya Maxilian lirih. Dia kembali membantu Julia duduk di kloset.
"Apakah itu parah?" tanya Julia lirih. Dia menunduk dan menggigit bibir bawahnya menahan sakit.
Maxilian berjongkok di depan Julia. "Yah, itu tak hanya lecet, kurasa," ucapnya bingung dan menggantung. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal hingga air yang masih ada di rambutnya ikut turun. "Kurasa aku terlalu kasar semalam." sambungnya hati-hati. "Aku minta maaf."
Julia memerah. Seliar apa mereka semalam? Kenapa dia tak dapat mengingat apa pun. Ya tuhan, mau kutaruh mana mukaku. batinnya.
"Itu," ucap maxilian ragu. "ya.. semalam kau sama sekali tak merasa kesakitan. Kau sangat menikmatinya, dan aku, aku, aku.."
"Lian, cukup." tahan Julia malu. Sungguh dia tak dapat mengucapkan apapun selain rasa malu yang dirasakannya sekarang.
Maxilian menggenggam tangannya dengan lembut. "Aku benar-benar minta maaf. Aku akan membawamu ke rumah sakit."
Julia menggeleng sekali lagi. Matanya jatuh pada tangannya yang berada di dalam genggaman Maxilian. "Tidak, aku baik-baik saja. Itu." ucapnya ragu. "Kurasa akan baik dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Jadi kau tak perlu terlalu khawatir. Kita tak perlu ke rumah sakit."
Maxilian terlihat ragu. Dia menyentuh pipi Julia pelan. "biar kubantu kau membersihkan diri."
Belum sempat Julia menjawab, Maxilian sudah mengangkat tubuh Julia hati-hati ke dalam bath up. Julia melihat bagaimana Maxilian menyiapkan sendiri air hangat di bath up untuk dia gunakan mandi. Melihat Maxilian yang begitu perhatian, membuat hatinya sulit percaya.
"Lian, aku bisa sendiri."
Maxilian menoleh, melihat Julia yang sama sekali tak menatapnya. "Jangan menyentuhnya. Panggil aku saat kau siap. Aku akan menunggumu di depan pintu."
"Hmm."
Dengan mengenakan celana jeans pendek dan kemeja pendek berwarna biru, Maxilian menunggunya di depan pintu. Bersiap kalau-kalau Julia memanggilnya. Sembari menunggu Julia, Maxilian menghubungi Tomas. Dia menyuruh tomas untuk menghubungi dokter keluarga Lunox. Namun Tomas tetap menyarankan agar Jack tetap mengambil alih, akhirnya dia menurut.
Tomas juga tidak lupa untuk menceritakan semua yang dia lakukan. Caren telah ditahan sementara oleh anak buahnya, sementara yang lain tengah berduka karena kematian Harvey. Keluarga Janet dan Hendri juga sudah ditangani hingga saham keluarga Jordan kini beralih menjadi milik keluarga Lunox. Janet yang masih ada di tangan Jeni untuk ia serahkan pada nonanya. Begitupun Jordan dan Jasson yang berkali-kali datang mencari keberadaan Julia. Semua telah Tomas laporkan kepada maxilian.
Maxilian menutup teleponnya lalu kembali berdiri di depan pintu. Tepat saat itu Julia memanggilnya dan ia pun masuk membawa Julia kembali ke atas tempat tidur. Untuk pertama kalinya Julia tak bersuara saat Maxilian membantunya mengenakan pakaian dalam dan lain-lain. Setelah itu ia memilih diam dan tertidur karena merasa seluruh tubuhnya sakit.
__ADS_1