Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Tahanan


__ADS_3

Sedang tidak enak badan. Slow ya... maaf sudah menunggu dan terima kasih sudah menunggu.


**


Julia terdiam, tak menjawab hanya mengangguk. "Kau membuatku takut." kata Julia tiba-tiba. "Apa kepalamu terbentur? Maxilian yang kukenal bukanlah orang yang mau memohon sesuatu. Katakan padaku, apa yang sebenarnya kau pikirkan?"


Maxilian tercenung. Dia seakan diingatkan hingga tersadar. Kemudian ia menggerakkan tangannya ke atas perut istrinya yang masih rata. "Nak..ini ayah." Ada senyum manis terukir di bibirnya. Dia mendekatkan bibirnya pada perut Julia "Kau harus kuat karena ayah menunggumu di sini. Jangan menyusahkan ibumu, kau mengerti?"


Julia mengernyitkan keningnya dengan tatapan tak percaya. Entah bagaimana hal sederhana yang di lakukan Maxilian ini sangat menyentuh hatinya.


"Jangan khawatir, ibu akan selalu melindungimu."


"Kau lihat? Dia anak kita, yang akan selalu ada bersama kita, menggandeng tangan kita dan bersenda gurau dengan kita, dan akan..."


"Aku tak akan menerima lamaranmu sebelum aku membalaskan dendamku." potong Julia dingin.


Maxilian terdiam, ada sesuatu yang menusuk hatinya. Dia menatap mata hitam Julia dengan ekspresi rumit. "Sudah kukatakan, aku akan melakukan apapun untukmu. Kau hanya perlu diam dirumah dan menjaga anak kita."


Julia mendengus. "Itu bukan pernikahan. Itu adalah sebuah penjara. Lian, aku bukanlah pabrik anak untukmu. Anak ini adalah anakku, aku bisa menjaganya."


"Julia"


"Lian, hentikan. Kau sama sekali tak pantas bersikap manis."


"Kau tak menurut?" tanya Maxilian dingin. Dia sangat paham dengan sifat keras kepala istrinya. "Aku tak akan biarkan kau bergerak, karena anakku jauh lebih penting. Jadi diamlah di rumah dan kau akan menerima semua laporan."


"Jika begitu, aku memilih tidak. Kontrak kita, aku ingin tetap berjalan. Aku akan bekerja menjadi model seperti dulu. Aku akan menjadi ibu yang baik untuk anakku. Aku akan merawatnya dengan caraku sendiri!"


"Julia!" teriak Maxilian frustasi. Dia akan melanjutkan kata-katanya sebelum pintu kamar terbuka lalu Mery masuk diikuti Lucas, Hanna dan dua orang pelayan wanita.


"Ayoyo, kau berteriak dengan cucu menantuku?" sapa Mery dingin. Dia segera memukul kepala Maxilian tanpa ragu. "Kau anak nakal! Kau berteriak pada cucu menantuku yang sedang sakit! Kemari kau! Akan kuberi pelajaran!"


"Au nenek! itu sakit." elak Maxilian menghindar.


Julia yang awalnya sudah dalam keadaan emosi, kini tersenyum melihat kedatangan Mery. "Nenek, hentikan." lerainya lembut.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Lucas ingin tahu.


"Bukan masalah besar. Kakek tak perlu khawatir." jawabnya pada Lucas yang berjalan mendekatinya.


"Apakah kau masih merasakan sakit? Apakah cicitku baik-baik saja?"


Hati Julia menghangat saat melihat raut wajah khawatir Lucas yang berkata lembut. "Hmm, kurasa dia baik-baik saja. Kakek, aku akan menjaganya."


"Oh sayang, cucu menantuku yang malang. Oh cicitku, apa kau juga kesakitan? tanya Mery mendekat setelah puas memukuli Maxilian.


Julia menoleh dan tersenyum lembut. "Nenek tak perlu khawatir."


"Ayoyo, kau pasti mengalami hari yang buruk. Aku sudah melihat semua lewat cctv. Harusnya kau tak perlu melindungi dia." lirik Mery pada Maxilian. "Kau hamil, bagaimana bisa kau melindungi suamimu yang tak tahu diri."


"Nenek." peringat Maxilian keberatan.


Julia melirik Maxilian sekilas kemudian kembali ke Mery. "Nenek, aku tak tahu kalau aku hamil. Aku hanya tak ingin dia terluka."


"Ayoyo, lihatlah, Lihatlah istrimu yang sakit karena ulahmu dan kau masih berteriak padanya. Dasar anak nakal! Tak tahu diri! Kemari kau!"


Julia tertawa kecil dan menyentuh tangan Mery lembut "Nek, yakinlah aku baik-baik saja. Dia juga baik-baik saja."


Mery memeluk Julia lembut. "Ayoyo, cucu menantuku, kau pasti sangat kesakitan."


Melihat bagaimana tegarnya Julia, Lucas terbatuk pelan. Dia menoleh melihat Hanna yang sedari hanya melihat semuanya dengan senyum hangat. "Hanna, pergi hubungi Tomas. Katakan padanya untuk menahan pria yang menendang cucu menantuku."


Hanna mengangguk cepat. "Kakek tenang saja, aku akan menghubungi Tomas segera."


"Dan wanita itu," ujar Mery menggantung. Dia menatap Maxilian dingin. "Kirim ia keluar dan jangan biarkan dia kembali ke.."


"Nenek," sela Maxilian. "Aku akan mengurus mereka sendiri. Aaron dan lusi, aku akan mengurus mereka dengan caraku."


Mendengar itu, entah mengapa hati Julia menjadi sesak. Itu terdengar seperti pembelaan di telinganya. Dia yang terlalu sensitif atau karena ia belum bisa mempercayai Maxilian.


Lucas terbatuk ringan dan menatap Hanna. "Pergi, hubungi Tomas. Aku akan menemui Aaron."

__ADS_1


Hanna mengangguk sekali lagi. "Aku akan segera menghubunginya."


Mery menggenggam tangan Julia dan mengelusnya. 'Kau tak perlu khawatir. Kami akan mengurusnya."


"Nek," ujar Julia tak tahu cara mengungkapkan perasaannya.


Mery mengangguk. "Oh benar. Aku mendengar sesuatu dari mulut Aaron tentang kontrak. Kontrak apa itu?"


Julia menatap Maxilian dan mereka saling memandang. "Bukan apa-apa nek. Nenek pasti salah mendengar." ujar Maxilian.


"Julia, aku tak bisa percaya ucapan yang keluar dari mulut anak nakal ini." jawab Lucas melirik Julia.


"Itu, itu hanya kontrak kerja. Ya, kontrak kerjaku sebagai model. Kontrak kerja itu berhubungan dengan Lusi. Hal itu pula yang menjadi masalah untukku dan Lian. Jadi.."


"Ya Julia benar. Itu adalah kontrak kerja yang sebenarnya juga belum kusepakati. Nenek dan kakek bisa menanyakan itu pada Hanna juga. Dia juga tahu tentang itu."


"Melihat ketegangan itu, Hanna berusaha melerai juga. "Ah iya nek. Aku sendiri yang menyaksikannya. Kakek dan nenek tahu kan kalau Julia sekarang model. Dia akan selalu berkutat tentang kontrak kerja. Apalagi dia sebagai pengganti Maxilian juga  dalam rapat perusahaan di kala maxilian tidak bisa menghadirinya."


Lucas melirik Hanna sesaat lalu kembali pada Julia. "Apakah itu benar?"


Julia mengangguk tanpa ragu. "Kakek tak perlu khawatir"


Namun di mata Mery itu berbeda. Dia mendengus jengkel pada Maxilian. "Anak nakal ini! Kau berani membuat cucu menantuku bekerja keras sampai membuat kontrak! Apa kau gila! Dia cucu menantuku dan kau membuatnya menggantikanmu di rapat perusahaan? Kau pasti sudah bosan hidup!"


Mery berjalan dan kembali memukuli Maxilian berkali-kali. Maxilian menghindar namun tak mengeluh. Baginya tidak masalah asal kakek dan neneknya tidak mengetahui perihal kontrak yang sebenarnya di maksud Aaron.


Melihat maxilian yang tak bisa melawan, Hanna tertawa kecil. Dia mengamati semua orang di dalam. Suasana hangat ini, benar-benar sangat dirindukannya. Hatinya menghangat.


"Hentikan." lerai Lucas membuat Mery berhenti. "Berikan ia pelajaran yang lain."


Mery mengangguk. "Benar, Julia aku akan menambahkan saham milikmu yang berada di cina menjadi dua puluh persen. Dan kau juga akan mendapatkan saham keluarga Lunox yang berada di Nivada sebesar sepuluh persen."


Lucas mengangguk. "Aku akan mengurus beberapa surat untuk resort dan hotel dan beberapa hunian untuk calon cicitku. Aku juga akan memberikan sahamku padamu sebesar sepuluh persen."


"Wow! Julia kau menang banyak!" seru Hanna memeluk Julia hangat.


"Nenek.." seru Maxilian keberatan. "Bagaimana kau bisa memberikan semua itu dengan mudah. Aku cucumu, dia istriku. Dia tak akan bisa mengurus semuanya sendiri. hanya ak..."


"Diam!" sela Mery ketus. Dia mendekati Julia dan memeluknya. "Cucu menantuku tak seharusnya bekerja. Dia hanya akan duduk manis dan melakukan hal-hal yang ia sukai tanpa ada yang bisa melarang. Bukankah begitu Lucas?"


"Kakek...nenek..." sela Maxilian sambil menatap kakek dan neneknya mengiba.


"Cucu menantuku, kau bisa tenang sekarang. Oh, dan satu lagi. Kau tidak harus melahirkan anak laki-laki. Berikan saja kami cicit perempuan yang cantik agar rumah tak sepi. Biarkan Lian yang mengurus semua pekerjaan sampai tua. Aku tidak mau cicitku harus bekerja seperti ayahnya dan memiliki wajah sedingin ayahnya. Itu sangat menyebalkan."


"Ya, cicit perempuan terdengar lebih baik. Aku akan bisa bermain dengannya setiap hari." seru Lucas tak kalah semangat.


"Nenek...kakek.." seru Maxilian sekali lagi. Sedangkan Julia hanya tertawa.


Melihat itu Hanna menepuk pundak Maxilian beberapa kali. "Kakak sepupu, sepertinya kau akan sangat sibuk hingga kau menua. AKu turut prihatin atas nasibmu."


"Diam kau." balas maxilian kesal, namun itu membuat Hanna makin terbahak.


Julia melihat semua dan tersenyum lagi. Kehangatan ini adalah hal yang sangat ia rindukan. Jika orang tua kandungnya tahu, akankah mereka juga menyayangi cucu mereka ini? Akankah mereka juga akan seantusias ini? memikirkan ini, membuatnya makin merindukan ayah dan ibunya yang ada di cina.


**


Tiga minggu kemudian Julia yang berada di kamarnya yang begitu tenang bernafas lega saat Maxilian pergi menghadiri rapat penting. Sejak kembali dari rumah sakit, Maxilian benar-benar membatasi ruang geraknya hingga Julia merasa terpenjara. Jeni yang berjaga hari ini tampak tenang dan berdiri patuh, Melihat itu Julia berkata pelan.


"Jeni, bisa kau bantu aku untuk membeli sepatu kecil ini?" tanyanya sambil menunjukkan sebuah sepatu bayi berwarna merah dari ponselnya."


Jeni mendekat lalu tersenyum saat melihat gambar sepatu tersebut. "Nona, saya akan membelinya, setelah nona Hanna datang."


"Pergilah dan dapatkan sekarang. Tak perlu menunggu Hanna. Aku akan baik-baik saja."


"Tapi nona.."


"Cepatlah kembali."


Mendengar itu Jeni tak lagi membantah, lalu pergi meninggalkan Julia sendiri. Julia berbaring dan mengelus perutnya beberapa kali.


"Sayang, apakah kau baik-baik saja di sana?" tanya Julia lembut. "Apa kau merindukan kakek dan nenekmu di cina? Bagaimana kalau kita menjenguk mereka di sana."

__ADS_1


Julia turun dari lantai dua dan mematikan cctv seluruh ruang tengah. Matanya bergeser pada sebuah kunci yang masih terpasang dan senyum lega terukir di sana. Entah Jeni yang lupa ataukah takdir yang berpihak padanya. Hari ini semua orang nampak sibuk mempersiapkan pesta pernikahan. Hingga ia dapat mengendap tanpa diketahui.


Saat mengendap keluar, dia tertegun saat sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Jantungnya berdegup kencang namun kemudian merasa lega saat wajah Jack terlihat saat pintu mobil itu terbuka.


"Julia, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau... Julia?"


Julia memilih segera memasuki mobil Jack tanpa aba-aba. Wajah paniknya terlihat jelas membuat Jack kebingungan. "Jack, aku akan menjelaskan nanti. Sekarang bawa aku pergi terlebih dahulu."


"Tapi Julia..."


"Aku mohon padamu. Ini tentang hidupku. Aku akan menjelaskannya nanti. Ayo bawa aku keluar dari rumah ini terlebih dahulu."


Jack menurut dan menjalankan mobilnya. "Ada pengawal di sisi pintu gerbang. Turunkan tubuhmu."


Julia menurut hingga mereka bisa luput dari pengawasan para pengawal. Menuju jalan bebas, Julia duduk dengan nyaman dan menghela nafas dalam.


"Bisa kau antarkan aku ke bandara?" pinta Julia lirih.


Jack menoleh sesaat lalu kembali menatap ke depan. "Julia, kau akan pergi? Kemana? Jangan main-main, pesta pernikahan kalian dua hari lagi."


Julia menoleh, tersenyum getir. "Jack, apakah aku tampak bahagia di matamu? Aku tertekan. Maxilian, dia...aku bahkan tak boleh menginjakkan kakiku di ruang tamu. Aku bukan tahanan, aku ingin hidup bebas seperti yang kumau."


Jack membelalakkan matanya. "Tunggu, maksudmu..."


"Ya, saat kau datang memeriksaku, dia akan membawaku keluar. Itupun dengan banyaknya pengawal di sana. Apa kau tak lihat? Apa itu masuk akal? Jika mengandung anak keluarga Lunox sesulit ini, aku lebih memilih memberikan nama belakang keluargaku untuk anakku. Sikap Lian sangat berlebihan hingga membuatku sangat tertekan."


Jack tercenung. Dia tak menyangka Maxilian berbuat hal gila seperti itu pada istrinya.


"Kami hanya menikah secara kontrak. Walaupun pernikahan ini terdaftar resmi, namun ada kontrak yang kami telah tanda tangani. Dan hari ini adalah hari terakhir kontrak kami. Aku tak mau tinggal lebih lama di rumah keluarga kaya sepertinya. Aku ingin hidup sederhana dan melakukan apapun yang aku suka."


"Julia, aku tak dapat mengatakan apapun untuk ini semua. Aku benar-benar terkejut mendengarnya. Tapi sepertinya langkahmu tepat. Aku akan membantumu keluar. kemana kau akan pergi?"


Julia menatap Jack tak percaya.


"Kau bisa percaya padaku. Aku tak akan membiarkan kau tertangkap dengan mudah."


"Cina. Aku akan pergi ke cina."


"Apa kau memiliki keluarga di sana?"


"Keluarga?" ulang Julia getir. Dia menggigit bibir bawahnya dengan ragu.


"Kau memiliki uang?"


Julia mengangguk dengan pertanyaan ini.


"Bawa kartuku." ujar Jack kemudian. Dia membuka laci mobilnya dan mengeluarkan dua kartu miliknya. "Kau tak boleh menggunakan kartumu karena maxilian akan dengan mudah melacak keberadaanmu. Gunakan ini untuk keperluanmu. Sekarang kita ambil vitamin untuk kandunganmu terlebih dahulu. Ingatlah untuk hati-hati dalam setiap langkahmu. Pastikan untuk dapat mengelola stres karena itu berdampak buruk pada kandunganmu."


Julia tertegun, dia menerima dua kartu itu dengan tangan gemetar. "Jack, dengan apa aku membalasmu?"


Jack tertawa kecil. "Apakah itu sebuah pertanyaan?"


Julia mengangguk kecil.


"Tidak, dengan membantumu keluar, secara tidak langsung sudah memberikanku imbalan. Aku ingin lihat kehebohan yang akan terjadi pada maxilian saat tahu kau sudah pergi darinya. Kau tahu dia kan? Selama aku berteman dengannya, dia selalu dingin dan entah mengapa itu terlihat sosoknya makin keren. Walaupun dia sangat tampan, tapi dia adalah pria kejam. Entah mengapa para wanita menyukai pria seperti itu."


Julia tertawa tanpa sadar mendnegar itu. "Yah kau benar. Bahkan aku takut saat melihatnya bersikap sangat lembut. Bagaikan malaikat datang ingin mencabut nyawaku."


Julia tertawa. "Ingin kuceritakan sebuah rahasia tentang dirinya?"


"Kau tahu Lusi bukan?"


Julia menatap Jack dengan datar, "Kekasih masa kecilnya kan?"


"Kekasih masa kecil? apa dia mengatakan itu padamu?"


Julia menggeleng tanpa sadar. Dan Jack juga melakukan hal yang sama.


"Gadis itu sama sekali bukan siapa-siapa. Bukan teman atau kekasih masa kecilnya. Gadis itu menderita trauma dan delusi yang sangat tinggi. Karena merasa bersalah, maxilian membiarkan gadis itu berada di sekitarnya.


"Trauma?"

__ADS_1


Jack mengangguk. "Dia hanyalah salah satu penggemar Maxilian saat kami kuliah. Dalam janji kencan, Maxilian terlambat datang dan melihat gadis itu sudah diperkosa hingga jiwanya terguncang. Maxilian berusaha menyembuhkannya dengan sebuah kebohongan. Dan kau tahu, sampai saat ini gadis itu tak tahu kejadian yang sebenarnya. Gadis itu gila. Julia, kau harus hati-hati dengannya."


Tanpa sadar tangan Julia terkepal kuat. "Oh, jadi seperti itu?"


__ADS_2