
Lusi tertegun. Ia hanya bisa melihat bagaimana punggung Maxilian kian menjauh dan pergi. Tanpa sadar ia mengepalkan kedua tangannya. "Aku ingin tahu sejauh mana kau berusaha menyingkirkanku."
Pergi? Tidak! Aku tak akan pergi semudah itu. Tak ada yang bisa membuatnya pergi meski Maxilian itu sendiri. Akhirnya ia menutup pintu kamar dengan rapat dan kembali duduk di sofa. Senyumnya melebar dengan sebuah rencana manis yang tersusun rapi.
Tanpa Lusi sadari, ketidakhadirannya dalam sesi pemotretan kali ini telah menghancurkan dirinya sendiri. Dia tak tahu bahwa SM agency telah mendapatkan model pengganti. Dia masih berpikir bahwa semua orang pasti akan menunggunya. Hal-hal yang tak dapat ia kendalikan akan menjadi sebuah kejutan mencengangkan keesokan harinya.
**
Julia mengusap air matanya saat ponsel di sakunya bergetar. Dia melihat nama Maxilian tertera di sana. Dia bimbang, namun tangannya meng klik tombol jawab.
"Julia."
Nada suara Maxilian langsung terdengar tepat setelah Julia mengangkat teleponnya.
"Hmm,"jawabnya pelan. Dia berusaha menguatkan suaranya agar terdengar biasa saja.
"Ada di mana kau sekarang? Aku akan pulang sebentar lagi."
Julia mengeratkan pegangan tangannya pada ponselnya. Ia ingin tertawa saat mendengar Maxilian mengucapkan 'akan pulang' itu terdengar seperti lelucon.
Jadi ini yang ingin kau ucapkan? Maxilian, kau telah menetapkan pilihanmu! Batin Julia mendingin.
"Hmm, baiklah. aku akan menunggumu di atas."
"Kau baik-baik saja?"
"Tentu saja. Aku sangat baik. Sampai bertemu di rumah." Jawab Julia muak. Dia tidak mau mengeluarkan banyak kata untuk saat ini.
Pria itu. Jelas dia melihat segalanya. Namun dia mengatakan akan pulang. Julia tertawa miris saat ingatan di masa lalu terbayang. Pantas saja mereka bersaudara. Ternyata mereka berdua tidak ada bedanya. Keduanya telah menghianatinya di belakang.
"Apakah kalian anggap aku bodoh? maxilian, kau yang menentukan jalan, dan aku akan berjalan di atas jalan yang kau pilih. Kau ingin bermain? Jadi mari kita lihat, sampai seberapa jauh kau bermain? Sebagai gantinya, mari buat permainan ini semakin menarik."
Julia meletakkan ponselnya. Ia melihat bayangannya di cermin, menghapus sisa air mata yang masih tersangkut di bulu mata lentiknya, dan menyisir rambutnya. Setiap gerakan yang Julia lakukan terkesan pelan, namun emosi di dalam hatinya tampak membara. Kesakitan, luka sebuah penghianatan terasa meremukkan dunianya.
"benar, kita hanyalah kontrak. Jadi kau tak bersalah. Aku hanya tahu pilihanmu lebih cepat. Bukankah begitu?" ujar Julia lirih.
"Yang kurasakan bukanlah rasa cemburu. Ya itu benar, aku tidak cemburu. Itu pasti karena semua mengingatkanku pada hidupku yang dulu. Rasa saat melihat Aaron bersama Lusi. Aku hanya terlena akan kenangan buruk saja."
Hening, Julia merasakan lebih dalam lagi keadaan hatinya. Kemudian terbayang lagi bayangan Maxilian bersama wanita lain. Dia memegang dadanya tanpa sadar dengan kepala menggeleng pelan. Rasa sakit itu nyata, tapi dia juga tak akan percaya.
"Tidak, aku tak boleh seperti ini. Dari awal cinta adalah racun. Dan kali ini aku tak akan lengah. Julia, sadarlah, dia bukanlah pria yang bisa kau percaya."
Tepat setelah Julia mengucapkan itu, terdengar ketukan pintu. Senyum Julia terbenyuk saat meletakkan sisir di tangannya lalu mengenakan sedikit bedak padat di bawah matanya.
"Benar. Kau adalah Julia! Orang yang tak harus memiliki cinta."
Julia melangkahkan kakinya membuka pintu dan tersenyum saat melihat wajah Maxilian di balik pintu. Matanya tampak tenang seakan kejadian beberapa saat yang lalu tak pernah ada.
"Kenapa begitu lama?" tanya Julia manja dan terkesan biasa saja. Namun matanya jatuh tepat di bibir Maxilian yang terluka, hingga membuat hatinya teremas pedih.
"Aku sibuk dengan beberapa urusan."
__ADS_1
Hati Julia mendingin saat mendengar jawaban Maxilian. Dia membiarkan Maxilian masuk, namun tangannya bergerak lebih dulu. Dia memeluk pinggang Maxilian dengan lembut dari belakang.
"Terima kasih."
Maxilian terdiam. Ia melihat tangan Julia yang melingkar di perutnya.
"Kau sudah melakukan banyak hal untukku. Kenapa kau tak bercerita bahwa kau telah menghukum mereka? Kau bahkan telah membebaskan Ben dan membantu pamanku."
Maxilian tersenyum, dia berbalik dan menatap wajah Julia. "Anggap itu hadiah karena kau banyak terluka karenaku."
Sudut hati Julia mencibir. 'Hadiah? Apakah termasuk kehadiran wanita lain juga merupakan hadiah?' ucap Julia dalam hati.
"Jadi itu kompensasi untukku?" tanya Julia dingin. Ia melepaskan pelukannya degan cepat. Berjalan ke sisi ranjang dengan tatapan jijik terlintas cepat.
"Kau tak senang?" tanya Maxilian cepat.
Julia menggeleng. "Kupikir kau juga akan membebaskan paman Aston."
"Jika itu yang kau inginkan, maka segera kau dapatkan."
Julia tersenyum lebar. Dia bisa membayangkan bagaimana kebahagiaan paman Aston mendengar ini. Perlahan ia menjauh saat Maxilian akan memeluknya. Dia menghindar cukup cepat dengan rasa muak yang terlintas.
"Aku akan menyiapkan air mandimu."
Maxilian hanya melihat punggung Julia makin menjauh. Dia tak dapat melakukan apapun saat ini. "Bagaimana caraku menjelaskannya?" gumamnya pelan.
Lusi, Julia harus tahu tentangnya. Tentang teman masa kecilnya yang datang dari cina. Pada akhirnya ia hanya diam dan menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan semuanya.
**
Dia lantai atas, Julia baru saja duduk mengeringkan rambutnya. Tangannya terdiam saat tiba-tiba Maxilian meletakkan sebuah kotak cukup besar di hadapannya. Senyum pria itu mengiringi dengan manis dan merengkuh tubuh Julia lembut.
"Selamat ulang tahun."
Julia tertegun. Dia diam dan membeku saat ucapan itu terdengar merdu di telinganya. Apakah hari ini ulang tahunnya? Ya, dia kini hidup sebagai Julia. Dan hari ini tampaknya benar adalah hari ulang tahun Julia.
"Kau terkejut? Apakah kau lupa hari ulang tahunmu?"
Julia tersadar. Dia menatap Maxilian lewat kaca di depannya. Pria itu memeluknya dari belakang dan merengkuh tubuhnya. Kepala maxilian tertunduk dan mencium lekat lehernya. Menghisap kulit putihnya dan meninggalkan jejak merah yang sangat jelas.
"Li-an.."
"Kau harus membuat permohonan sebelum membuka kadonya." Maxilian bangkit, ia bersandar di meja rias. Satu tangannya menopang tubuhnya sedangkan tangan lainnya berada di dalam saku celana. Dengan balutan kemeja warna biru, tubuhnya tampak sangat menarik.
"Membuat permohonan?" Julia memicingkan matanya. "Tapi tak ada lilin yang kutiup."
"Kita bukan anak kecil lagi. Untuk apa harus memerlukan lilin dan sepotong kue."
Julia memutar matanya malas. Bukankah itu sudah adat untuk meminta permohonan saat ulang tahun? Tapi pria ini menganggap kalau ini adalah tindakan kekanakan.
Tiba-tiba saja maxilian merendahkan tubuhnya hingga berada tepat di depan wajah Julia. Aroma maskulin tercium hingga membuat wajah Julia menjauh karena refleks.
__ADS_1
"Jika begitu, anggap mataku sebuah lilin. Kau bisa membuat permohonanmu, lalu meniupnya."
Julia menatap tak percaya, namun pada akhirnya saat melihat tatapan Maxilian, dia pun tak menolak. Dia memejamkan matanya dengan tangan terkatup dan membuat permohonan.
"Tuhan, terima kasih kau memberikanku kesempatan kedua. Kumohon biarkan aku membalaskan dendamku dengan sangat tuntas."
Maxilian tersenyum melihat Julia memejamkan matanya dan mengatupkan kedua tangannya. Dia tahu gadis itu sedang membuat permohonan. Sambil menunggu ia melihat lekat wajah cantik istrinya. Semakin ia menatap, semakin ia tahu bahwa gadis di depannya ini sangat cantik walaupun terkesan dingin. Siapa yang tahu kekejaman yang ada di dalamnya? Gadis dengan pembawaan yang tenang namun menyimpan kecerdasan yang tak disangka.
Gadis inilah yang membuatnya dapat menyingkirkan semua musuhnya. Hingga membuat kekuasaan keluarga Lunox berada di dalam genggamannya. Tak peduli pada hal lainnya, dia hanya tahu tentang rasa terbiasa dengan kebersamaan mereka. Kehadiran seorang Julia tak akan pernah terganti oleh siapapun. Atau dia akan mencari sampai mati jika Julia mencoba pergi darinya.
"Sudah selesai?" tanya Maxilian pelan saat ia melihat mata hitam itu perlahan terbuka. Seakan takjub, dia pun tak menunggu jawaban Julia dan lebih memilih mengecup bibir Julia ringan.
"Semoga tuhan mengabulkan semua permintaanmu."
Julia terdiam. Dia hampir tertawa melihat sikap Maxilian pagi ini. Lalu pandangan matanya beralih pada sebuah kado di hadapannya. Tangannya bergerak, dan membuka bungkusan itu. Sekali lagi ia terdiam saat tahu bahwa itu adalah sebuah tas dari brand ternama dengan edisi terbatas. Melihat kecantikan tas itu, refleks tangannya terulur untuk menyentuhnya.
"Apa kau menyukainya?" tanya Maxilian datar.
Julia menggeleng. "Bukan begitu, aku hanya merasa ini sangat mahal dan aku.."
Julia sangat terkejut saat tiba-tiba tangan Maxilian terulur ke lehernya dengan tubuh yang makin dekat. Dia bahkan bisa mencium aroma tubuh Maxilian yang menenangkan. Rasa dingin menyentuh kulitnya saat sebuah kalung berlian kecil itu tersemat di lehernya.
"Aku tak memiliki cincin pernikahan, karena bagiku itu tak masuk akal."
"Kenapa begitu?"
"Karena benda kecil itu seperti alat untuk mengekang hidup seseorang."
Bagi Julia, itu hanya sebuah alasan untuk Maxilian tidak mengungkapkan statusnya. Apalagi dia tahu tentang Maxilian yang memiliki kekasih di belakangnya. Semanis apapun sikap Maxilian pagi ini, di matanya, maxilian hanya sedang memerankan akting yang akan menyakitinya nanti.
"Apakah ini ada hubungannya dengan cincin ibumu yang sepupumu maksudkan? Cincin itu pasti memiliki banyak cerita dan kenangan tersendiri bagimu."
"Kau sudah melihatnya. Sesuatu yang berharga bagi ibuku bukanlah cincin. Tapi sesuatu yang melingkar di lehermu. Kalung ini adalah sesuatu berharga yang ibuku miliki."
Julia tertegun. Tangannya tanpa terasa menyentuh kalung yang bergelayut di lehernya. Ia melihat berlian putih kecil namun sangat berkilauan.
"Cincin pernikahan ibuku sudah menghilang. Aku tak dapat menemukannya dalam waktu yang lama. Selain cincin itu, kalung ini adalah benda berharga kedua yang ibuku miliki."
"Lian, tidak. Maaf aku tidak bisa menerimanya." sahut Julia dengan tangannya yang mecoba melepas kalung itu lalu memberikannya kembali pada Maxilian.
Maxiliam terdiam. Pandangan matanya menajam ke arah Julia sebagai isyarat tanda tak setuju.
"Aku belum pantas mendapatkannya. Aku.."
"Kau adalah orang paling pantas!"
Julia diam lalu tertawa kecil. "Kenapa kau pikir aku adalah orang yang paling pantas? Lian, aku tak akan menerima kalung ini, namun aku akan dengan senang hati mengambil tas ini."
Maxilian menggenggam erat kalung di tangannya. Wajahnya tersirat emosi yang berusaha ditahannya. Namun ia hanya diam dan melihat Julia menyentuh tas pemberiannya.
"Ini..."
__ADS_1
"Julia mendongak. Menunggu maxilian menyelesaikan kata-katanya. "Ada sesuatu yang ingin kau katakan?"
Maxilian mengangguk namun menggeleng. Dia tak tahu bagaimana cara memulai cerita tentang teman masa kecilnya. Tadinya ia berpikir saat ia memberikan kalung itu, hati Julia bahagia sehingga Julia dapat menerima semua penjelasannya. Tapi sepertinya ini tidak sesuai prediksinya. Jadi ia hanya berdiri dan meninggalkan Julia yang juga diam dengan seluruh pemikirannya.