Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Pria Masa Lalu


__ADS_3

Aku tu terlalu banyak kegiatan, jadi giliran mau nulis lagi aku harus baca tulisan terakhir karena aku sudah tidak ingat dengan bab yang sudah up. Setelah itu berdiam diri sejenak, mencoba merangkai jalan cerita selanjutnya biar klop dan nyambung sama bab sebelumnya. Karena terlalu banyak yang ingin aku tuangkan di dalam tulisan namun tidak bisa karena tidak adanya waktu luang untuk nulis banyak. Akhirnya otakku konslet. Dengan usia yang tidak lagi muda, namun mempunyai anak-anak yang usianya masih kecil, tidaklah mudah. Dan di saat ada readers yang memberikan komen positif, ternyata bagus juga untuk jiwaku. Merasa ada orang begitu merindukanku.


Kalian kangen kan.. kalau sehari aja aku gak up? Jawab iya dong.. kalau engga, aku ga mau up.


**


Sampai di sebuah tempat yang sangat luas, terdapat hamparan pesawat yang berjejer rapi. Julia kian bertanya-tanya kemana Maxilian akan membawanya. Ingin sekali melepaskan genggaman Maxilian, namun tidak berhasil. Kekuatan Maxilian begitu menguasai hingga menyakitinya.


Menaiki tangga pesawat, Julia merasa tubuhnya terbanting saat Maxilian menghempaskan tangannya. Tubuhnya oleng namun kakinya dapat menahan tubuhnya. Baru saja ia akan berteriak, namun Maxilian dengan dingin berjalan melewatinya dan duduk tenang di kursi. Dengan menyilangkan kakinya, Maxilian terdiam dengan pandangan lurus ke depan.


Julia hanya diam dan berusaha mengendalikan diri. Dia memegang pergelangan tangannya yang memerah dan sedikit pedih. Sepertinya kakinya pun sedikit terkilir hingga ia sulit untuk berjalan dengan seimbang. Maxilian yang menghempaskan tubuhnya di pintu pesawat, sama sekali tidak mempedulikan atas apa yang sedang Julia rasakan. Akhirnya ia hanya berjalan pelan, memilih tempat duduk di bagian terdekat dan tentu saja menjauhi Maxilian adalah pilihan terbaik.


Julia memejamkan matanya saat pesawat lepas landas. Namun kembali terbuka untuk melihat kaki dan pergelangan tangannya. Kenapa sikap Maxilian begitu dingin setelah mendatangi Ben di penjara? melirik maxilian yang duduk berseberangan dengannya, ia makin berpikir.


Di lihat dari sisi manapun pria yang menikahinya ini benar-benar tampan. Hidung mancung dan bibir kecil yang mengatup rapat. Dua alis hitam yang tampak rapi dengan cantiknya membingkai dua mata yang sedikit sipit. Lingkaran hitam di bawah mata terlihat jelas. Namun entah kenapa itu membuatnya makin menawan. Rahang yang kokoh dengan rambut sedikit berantakan akibat terpaan angin, membuat tampilannya mendekati sempurna.


Julia merutuki penglihatannya. Apa yang melekat di tubuh Maxilian cukup membuat semua orang tunduk pada semua perintahnya, terutama wanita. "Ah, Julia, apa yang kau pikirkan?"


Julia menghela nafas dan menatap sekeliling. Terhenyak, saat menyadari kalau di dalam pesawat ini hanya ada dirinya, Maxilian, Tomas, dan beberapa awak pesawat. Akhirnya ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur.


Maxilian pindah dari duduknya setelah melihat Tomas berniat memindahkan tubuh Julia ke tempat istirahat di sisi belakang pesawat. Ia membiarkan gadis itu tidur di pundaknya. Ia pun ikut tertidur sejenak sebelum akhirnya ia menyadari kalau tujuan mereka tak lagi jauh. Meninggalkan Julia hati-hati, ia bangun dari duduknya dan mendekati Tomas untuk membahas sesuatu.


Satu jam kemudian, Julia terbangun dan mendapati pemandangan cantik di bawah sana. Setelah pesawat menukik turun dan pada akhirnya berhenti. Setelah pintu terbuka, ia berjalan dalam diam mengikuti Maxilian dari belakang. Maxilian sampai sekarang tak berbicara padanya. terkecuali ia mendapati kepala Maxilian yang menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa dirinya tak tertinggal.


"Ahhkkk." pekik Julia berhenti. Dia kembali merasakan rasa sakit pada pergelangan kakinya hingga ia hanya duduk dengan tiba-tiba. Memeriksa, dan ia mendapati pergelangan kakinya telah bengkak dan membiru. Julia mendesah, menunduk dan menatap ke bawah. Ia menoleh ke arah Maxilian yang masih terus berjalan cepat untuk ukuran langkahnya yang sempit. Kini ia hanya pasrah apabila Maxilian meninggalkannya hingga ia tersesat tak tahu arah.


"Merepotkan saja."


Kata-kata dingin itu terdengar begitu menusuk. Namun sebelum Julia menanggapi, tubuhnya telah melayang dan berakhir di gendongan suaminya. Mendongak ia mendapati wajah tampan Maxilian yang dingin. Tak mau mempedulikannya, Julia pun memasang wajah acuh, namun meletakkan tangannya pada leher maxilian agar tak terjatuh. Terdiam, ia hanya menyembungikan wajahnya dan menempelkan kepalanya pada tubuh Maxilian.


"Lian, kemana kita akan pergi?" tanyanya penuh harap agar mendapat jawaban walaupun tak yakin.


Benar saja, maxilian hanya diam. Pria itu terus berjalan dengan tatapan lurus ke depan. Tomas dan beberapa orang mengikutinya di belakang. Julia makin kesal dan ingin meluapkannya, namun terhenti karena tiba-tiba ada suara lain yang hadir di sana.

__ADS_1


"Ayoyo, apakah Julia tidur?"


"Nenek." ujar Julia terkejut. Kepalanya keluar dari tubuh Maxilian dan tertegun saat melihat Mery, Hanna, Rose dan juga Lindsey.


'Ada apa ini?' batinnya kaget.


"Oh kakak sepupu, kau membuatku iri." tegur Hanna terus terang.


Julia hanya tersenyum dan berusaha melepaskan diri. Tapi tidak bisa karena Maxilian terus mempertahankannya. "nenek, aku..."


"Tomas, di mana mobilnya?" potong Maxilian dingin.


"Nenek, lihatlah, aku sangat iri." hanna kembali mengulang kata-katanya dengan senyum menggoda. Julia paham dan itu membuatnya kian merona.


"Liburan ini seperti kita menonton live streaming mereka berbulan madu." kali ini Lindsey ,mengatakannya dengan penuh candaan.


"Nenek, kakinya terluka, aku akan membawanya ke hotel."


"Biar mereka saja yang tempati nek." Maxilian berucap namun ditujukan kepada para sepupunya.


Maxilian pergi melenggang tanpa mendengar jawaban dari neneknya. Melihat itu membuat Rose menggenggam erat kepalan tangannya. Bagaimana bisa Maxilian tak menanggapi candaan dari para sepupunya? Dan wanita itu, wanita yang berada dalam gendongannya, membuatnya makin tak terkendali.Tak sabar rasanya ingin segera mencabik-cabik tubuhnya.


Hanna yang melihat gelagat aneh Rose mampu memahami apa yang telah Rose rasakan. Melihat Maxilian menggendong hangat Julia, rasa cemburu jelas terlihat di matanya. Karena itu ia akan menyiram minyak di atas api lilin agar menjadi kobaran api unggun.


"Nenek, apa kita perlu menyiapkan dokter?" tanya Hanna dengan nada khawatir.


Mendengar itu Mery tertawa. Dia mencubit pinggang Hanna pelan. Entah mengapa akhir-akhir ini Hanna begitu perhatian padanya dan Julia. Membuatnya sangat senang. "Ayoyo, bagaimana aku bisa lupa? cepat siapkan dokter pribadi kita, aku takut kakak iparmu tak bisa berjalan lagi."


"Nenek, kekhawatiranmu begitu berlebihan. Julia hanya sedikit terkilir. Untuk apa harus menyiapkan dokter pribadi? Lagipula liburan ini, bukankah untuk menghiburku yang telah kehilangan kakak? Kenapa juga kakak dan kakak ipar harus tinggal terpisah dari kita? Bukankah it--"


"Ah nenek, mereka pasti belum tahu." potong Hanna dengan sengaja. Ada tawa kecil yang ia sengaja, hingga Rose dan Lindsey menoleh. "Luka yang kami bicarakan adalah luka lain. Bukankah begitu nek?"


Mery mengangguk setuju dan tersenyum. Rose mengerutkan kening dan memandang Hanna untuk meminta penjelasan."

__ADS_1


"Luka lain?"


Hanna mengangguk. "Luka yang dialami Julia adalah ulah kakak sepupu. kakak sepupu membantai habis kakak ipar semalaman. Kakak sepupu bermain begitu liar sampai membuat kakak ipar kesulitan berjalan. Ah, nenek, bagaimana aku harus mengatakannya." ujarnya dengan malu-malu sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Rose membeku. "Membantai habis semalaman? kakak sepupu? hahaha itu tak mungkin." ucapnya tanpa sadar.


Hanna membuka tangannya, dan menatap Rose datar. "Kenapa tak mungkin? Aku dan nenek bahkan sudah berbicara dengan dokter yang menanganinya langsung. Bahkan nenek dan kakek bersikeras membantu untuk merawatnya. Namun kakak sepupu menolak kami. Dia bilang akan merawat istrinya sendiri. Ah,, manis sekali kakak sepupu."


Kata-kata itu bagaikan anak panah yang menghujam seluruh tubuhnya hingga akan runtuh. Tubuhnya sedikit terhuyung dengan ekspresi tak terlukiskan. Dia tiba-tiba berbalik dengan kesal. "Aku akan pergi lebih dulu."


Malam harinya, tidak ada yang menyangka kalau Mery akan mengadakan acara makan malam di luar. Julia mengenakan gaun hitam panjang yang menutup betisnya namun masih terlihat jelas lekuk tubuhnya. Gaun yang terbuka di bagian belakangnya, tertutupi oleh rambut panjangnya yang sengaja ia gerai. Make up tipisnya membuat wajahnya makin cantik bagai seorang peri.


Dengan menahan rasa sakit di kakinya, ia mencoba menyeimbangkan tubuhnya saat melangkah. Pengalamannya menjadi artis membuat ia harus berpenampilan sempurna dalam keadaan apapun juga. Tak peduli sesakit apapun kakinya, ia harus tetap terlihat cantik terlebih di hadapan para sepupu Maxilian.


Kedatangan Julia yang begitu menawan membuatnya menjadi pusat perhatian. Ia terus melangkah dengan hati-hati dan mendekati meja yang ditempati nenek beserta para sepupu Maxilian. Di sebuah meja, ia melihat Rose yang begitu intens menatapnya sengit. Senyumnya terkembang, dan dengan sengaja berteriak pelan saat kakinya tak sengaja oleng yang menyebabkan tubuhnya hampir jatuh.


Maxilian menoleh dan baru saja akan mengulurkan tangannya, namun ternyata dia hanya bisa meraih udara dan tertegun saat melihat sosok pria yang dengan cepat menahan tubuh istrinya. Pria yang sangat familier dalam hidupnya. Pria yang membawa kehancuran bagi keluarganya. Tanpa sadar ia menggenggam erat tangannya dan menatap Julia dengan tajam.


Julia memejamkan matanya saat kakinya yang terluka tak mampu menahan tubuhnya yang akan terjatuh. Awalnya ia akan melakukan dengan sengaja, namun siapa sangka rasa sakit di kakinya kian bertambah kuat. Dia pun hanya pasrah sebelum akhirnya ada sebuah tangan hangat yang menyentuh pundak dan lengannya. Menahan tubuhnya agar tak terjatuh.


Dia pikir itu Maxilian, tapi ternyata bukan. Dia pikir dapat membuat hati Rose panas dengan kedekatannya dan Maxilian, tapi tak di sangka takdir membawa kejutan lebih dulu. Sebuah kejutan yang tak pernah ia bayangkan. Sebuah kejutan yang tak ia harapkan saat ini.


"Nona, kau baik-baik saja?"


Mata Julia terbuka saat suara tak asing itu terdengar. Dia segera menarik tubuhnya cepat. Tanpa menoleh ke belakang dan tak ingin tahu siapa penolongnya. Dia lebih memilih menatap Maxilian yang saat ini menatapnya tajam.


Namun suara yang baru saja terdengar, itu sangat nyata. Suara yang membuat jantungnya berdebar dengan darah mendidih penuh kebencian. Tapi ini Nivada, Jadi mana mungkin.


"Nona."


Julia berbalik pelan. Wajahnya memucat dan tatapannya terkunci saat pria yang selalu ada di pikirannya ada di hadapannya. Jantungnya teremas sesak. Rasa yang campur aduk di pikirannya saat bertemu dengan pria ini. Pria ini, pria yang membuatnya memiliki alasan untuk hidup kembali dan balas dendam!


"Aa--Aaron.." lepas bibir Julia pelan tanpa sadar.

__ADS_1


__ADS_2