
Jessi memegang pipinya saat Jasson memegang pundak untuk membantunya berdiri. "Siapa dia? Siapa dia hingga ayahmu sangat ketakutan?"
Jasson diam, perasaannya mendingin dan kekalutan pun ia rasakan. "Ibu, apakah kau benar-benar tak tahu siapa dia? Apakah kau benar-benar tak tahu keluarga Lunox?" tanyanya sekali lagi.
Jessi menggeleng. "Seberapa hebat keluarganya hingga dia begitu sombong? Aku sangat membencinya. Ingin rasanya kucabik-cabik tubuhnya,"
Jasson tersenyum getir. Mendudukkan ibunya di kursi dan mengelus rambut ibunya. "Ibu, sepertinya harapanmu tak mungkin terwujud." Lalu tangannya bergerak meraih pelan tangan ibunya, dan mende*sah pelan. Ini benar-benar aneh. Sejak kapan Julia mengenal pria itu. Siapapun orangnya, tidak akan pernah mau berurusan dengan keluarga Lunox. Dan bagaimana ceritanya sampai-sampai Julia bisa menjadi istri pria itu. Pria dengan latar belakang yang sangat mengerikan.
"Jessi menarik tangannya dengan cemberut. "Sekarang jelaskan semuanya, kenapa keluarga kita tak bisa menuntutnya? Dia bahkan masih sangat muda. Mana mungkin dia memiliki kekuasaan besar untuk membungkam keluarga kita?"
Jasson menelan ludahnya getir. Ibunya ini ternyata benar-benar tak tahu. "Ibu, bukankah kau sudah mendengar Julia yang sedari tadi memperingatkanmu? Keluarga suaminya bukanlah keluarga yang mudah kau jangkau. Tak peduli sekeras apa usaha kita, mereka sangat jauh dari kita."
Jasson menjelaskan dengan sangat lembut. Ibunya merasa bahwa keluarga mereka adalah keluarga kelas atas yang tidak ada bandingnya. Namun ada beberapa keluarga yang tak dapat mereka sentuh dengan mudah. Dan kali ini mereka melakukan kesalahan dengan menyinggung keluarga Lunox. Salah satu keluarga yang tak mudah dihadapi. Dia bahkan mendengar bahwa keluarga ini memiliki segudang pengacara terbaik di seluruh dunia.
"Omong kosong!" maki Jessi marah. "Gadis itu sangat sombong. Ibu tidak akan pernah memberi restu kamu memperistrinya."
Jasson tersenyum getir. Mana mungkin itu terjadi. Julia sejak awal tidak pernah menunjukkan ketertarikan padanya. Walaupun dulu Julia sempat melamarnya, namun ia yakin lamaran itu omong kosong belaka. Entah kutukan apa yang ada dalam dirinya, hingga ia mendapat sial dalam kehidupan ini.
"Ibu, itu tak akan terjadi.Apa kau tak melihat bagaimana pria tadi? Maxilian bukan orang yang mudah dihadapi."
"Maxilian, Maxilian terus. Kenapa kau selalu menyebutnya seperti itu."
"Ibu, ia adalah Maxilian Jade Lunox. Apa kau tahu World Jewelry Centre? Atau Palazzo, Luxury International Hospital, Green Valley Ranch, dan beberapa resort di seluruh benua Amerika lainnya."
Jessi membelalakkan matanya tak percaya. Sepotong besi bagai dihantam ke atas kepalanya. Kemarahan yang tadinya mendominasi, kini menciut seketika. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ia menyinggung seorang sepertinya? Bahkan telah mengancamnya dan..
Melihat wajah ibunya yang pucat, Jasson tahu bahwa kini ibunya sudah mengerti. "Sekarang ibu sudah mengerti bukan?"
"Jasson, dia.. dia.. tidak, Ini tidak mungkin."
__ADS_1
"Ibu benar. Dia adalah pewaris utaman dan pemimpin keluarga Lunox saat ini. Maxilian Jade Lunox, suami Julia Brasco."
Seketika tubuh Jessi lemas. Kini ia sadar tentang kata-kata Julia yang mengatakan keluarga suaminya bukanlah keluarga yang bisa ia sentuh. Tapi bagaimana bila keluarga Lunox benar-benar melayangkan tuntutan terhadap hinaannya kepada Julia? Apa yang harus ia lakukan? Kali ini tidak ada yang bisa mencegah kehancuran keluarganya.
Sementara itu Julia dan Maxilian tengah duduk bersama di ruang utama apartemen. Mereka duduk berhadapan namun dengan posisi yang berbeda. Jika maxilian duduk dengan menyandarkan tubuhnya santai, Julia duduk dengan memiringkan sedikit tubuhnya dan kaki yang ditekuk di atas sofa sejajar dengan pantatnya.
"Apa kau harus datang ke sana?" Pertanyaan awal sebagai pembuka keheningan suasana dari Maxilian kepada Julia.
"Mereka baik pada awalnya, tapi entah mengapa menjadi tak terkendali."
"Tuntutan untuk mereka sudah diurus."
"Apa kau benar-benar akan menuntut mereka? Ayolah Lian.. itu bukan masalah besar. Tidak perlu menanggapi terlalu jauh."
"Bukan masalah besar? Julia, apa kau belum menyadarinya? Kau bukan lagi seorang Brasco. Kau adalah seorang Lunox sekarang. Dan tidak akan semudah itu orang menghina keluarga Lunox. Aku tak akan membiarkan mereka menginjak harga diri keluarga Lunox sesuka hati mereka."
"Lupakan, aku ingin bertanya hal lain padamu. Untuk apa kau menemui Carlen hari ini?"
Julia menganggung. Minatnya langsung berubah. "Lian, penawarnya ap.."
"Kenapa kau ingin menyelamatkannya?"
"Kurasa dia tak seburuk itu. Kurasa ia memiliki alasan unt.."
"Julia!" potong Maxilian. "Kau bilang ia tak seburuk itu? Dia yang hampir membunuhmu dan merusak hidupmu! Kau masih berpikir ia tak terlalu buruk? Dia sakit Julia. Jiwanya sudah sakit begitu lama. Jika kau membebaskan dia, apa kau bisa menjamin ia tak akan melakukan sesuatu yang lebih buruk?"
"Tapi,"
"Julia, apakah kau bodoh atau terlalu baik? Pemikiranmu tentang semua orang baik, itu harus diubah. Kau sekarang adalah bagian keluarga Lunox. Di mana banyak pihak yang ingin menghancurkan dengan segala cara. Bahkan selalu ingin memanfaatkan nama besar keluarga Lunox untuk kepentingan segelintir kelompok. Jika kau tak membunuh, maka kau yang akan terbunuh."
__ADS_1
Julia terdiam. Dia menunduk. Apakah semua harus seperti ini? Dia pikir dia sudah begitu kejam, tapi sepertinya rasa empati dan simpati masih mendominasi di dasar sanubarinya. Maxilian benar, dia tak boleh lemah. Semua orang yang mengganggunya, harus musnah.
Maxilian yang melihat Julia menundukkan kepalanya, merasa sedikit tak nyaman. Ia kemudian berdiri dan mendekat. Ia memeluk tubuh Julia pelan.
"Aku tak bermaksud keras padamu. Tapi aku berusaha menyadarkanmu tentang posisimu yang sebenarnya. Kau adalah istriku, dan akan selalu berdiri di sisiku, jadi jangan sampai kau meletakkan kepercayaanmu kepada siapapun yang kau jumpai. Percayalah, para sepupuku tak sebaik yang kau pikirkan."
Julia mengangguk. Tubuhnya kaku saat Maxilian memeluknya tiba-tiba. "Hmm, aku mengerti."
Maxilian melepaskan pelukannya dan mengelus pipi Julia. "Aku juga mendengar kau memberikan perintah pada Tomas dan Jeni."
"Hm, itu.." Bagaimana ia lupa dengan Maxilian yang sudah pasti tahu tentang segala yang ia lakukan di luar sana.
"Untuk apa racun itu?"
Tatapan Julia menajam. "Apakah sulit mendapatkannya?"
Maxilian menggeleng. "Itu sangat mudah. Kuharap kau berhati-hati menggunakannya, jangan sampai melukai dirimu sendiri."
Ah, perhatian itu membuat sudut hatinya tersentil. "Aku tahu, aku akan hati-hati."
"Semua ular dan bubuk penarik ular-ular itu sudah diturunkan. Kurasa sekarang sudah bekerja pada Janet."
Mata Julia berkedip dua kali. "Secepat itu?"
Maxilian mengangguk. "Aku tak akan ikut campur dengan apapun yang kau lakukan di luar."
Ada riak bahagia terlintas di wajah Julia. Membuat Maxilian tersenyum tanpa sadar. Melihat bibir merah itu tertarik, dia sangat menyukainya. Sejak Julia menjadi wanitanya, ia makin ingin menguasai seluruh hidupnya tanpa sisa. Dia akan memberikan apapun dan melakukan apapun untuk memasung hidup Julia. Wanita ini hanya miliknya, dan tak akan pernah sedikit pun memberikannya kesempatan untuk melarikan diri.
Kemudian ia dekatkan bibirnya untuk menyentuh dan menye*sap lincah bibir merah itu. Bibir yang sedari tadi tersenyum. Senyum yang sebenarnya biasa saja, namun sangat menggoda di matanya. Julia Brasco.. kau adalah canduku.
__ADS_1