Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Semut Kecil vs Serigala Lapar


__ADS_3

"Ayoyo, Maxilian, kau benar-benar nakal! Bagaimana kau bisa menyiksa cucu menantuku yang sedang sakit."


Mery mengetuk pelan keningnya dengan senyum yang lebar. Sedangkan Tomas langsung menghalangi pandangan Sely, lalu menutup pintu kamar lagi dengan rapat.


"Tuan, kami tak akan lagi mengganggu." ucapnya dari balik pintu kamar yang telah tertutup.


Sely masih berdiri menatap kosong pintu kamar yang tertutup saat Tomas, Lucas dan Mery berjalan ke samping dan duduk di bangku tunggu. Lucas berdehem sekali dengan tatapan canggung.


"Anak nakal itu, bahkan tak tahu tempat. Apakah dia tak bisa menunggu sedikit lebih lama?"


Mendengar itu Mery tersenyum malu-malu. "Ayoyo, mereka berdua masih sangat membara. Itu seperti api cinta yang berkobar terang di kala purnama. Ah, begitu indahnya.."


Mendengar kata-kata nyonya besarnya membuat Tomas menarik sudut bibirnya samar. Wajahnya terlihat kaku dan kelu. "Apakah tuan muda terlihat seperti itu? Tapi saat awal mereka bertemu, mereka tampak ingin saling membunuh satu sama lain." ujarnya dalam hati.


"Yah, kurasa kita akan segera memiliki cicit lagi."


Tomas kembali menoleh saat Mary mengucapkan hal itu. Dia memberikan senyuman yang sedikit terpaksa. "Apakah bisa seperti itu?" ujarnya tanpa sadar.


"Tentu saja!" sahut Mery tak terima. Matanya menatap Tomas tajam. "Tomas, apa kau berpikir mereka tak saling menginginkan?"


Tomas mengingat kejadian yang ia lihat beberapa saat lalu. Dia telah melihat tuannya bertelanjang dada dan memeluk erat tubuh Julia. Mereka terlihat tertarik satu sama lain. Bahkan dia melihat beberapa jejak kemerahan di leher Julia yang amat mencolok. Tapi benarkah itu? Tuan mudanya...tuan mudanya yang dingin dan tak tersentuh bisa tertarik dengan wanita dan melakukan hal seperti itu?


Itu tak mungkin!


Tentu dia akan membantah dan mengatakan tanpa ragu jika itu hari-hari yang lalu. Dia sangat mengenal tuan mudanya. Terlalu kejam terhadap wanita-wanita yang datang untuk merayunya. Tuan mudanya yang sempurna selalu menjaga dirinya dengan baik dan tidak pernah dekat dengan seorang wanita. Jikapun pernah, itupun dengan teman masa kecilnya. Sudah puluhan tahun yang lalu, saat tuan mudanya masih kecil.

__ADS_1


Tapi tadi, tuan mudanya..


Tomas mendesah frustasi tanpa sadar. "nyonya, aku tidak berani."


Mery menarik satu bibirnya puas. Wajah yang dingin menghujam Tomas kini menjadi lunak. "yah, kau benar, mereka saling berg****h, mereka saling mengingink--"


"Hentikan!" potong Lucas dengan sedikit batuk yang melirik istrinya risih.


Mendengar itu, Mery langsung memeluk tangan suaminya dengan manja. Membuat Lucas berdehem dan sedikit menarik tangannya. Tapi Mery telah memegangnya cukup kuat. "Sayang, bukankah itu benar? Kau sendiri melihatnya. Dia, cucu kita, dia sangatlah normal. Sebentar lagi kita akan punya cicit lagi."


"Anak nakal itu." ujar Lucas datar. Namun ada senyum tipis di kedua sudut bibirnya.


Melihat kemesraan nyonya dan tuan besarnya , Tomas kian menarik senyumnya paksa. Yah, sepertinya dia harus berhati-hati agar tak menyinggung nona mudanya. Bisa ia lihat kalau Julia mengantongi ijin dan restu dari kedua tuan besarnya. Bagaimanapun tak akan mudah melanggar perintah dari kedua tuan besarnya. Tapi saat ini nona besarnya telah masuk dengan sangat mudah, bahkan nyonya besarnya terlihat sangat menyayangi nona mudanya itu.


Sedangkan dalam ruangan, Maxilian dan Julia menoleh, terkejut. Mereka berdua lantas saling berpandangan dengan mata membulat. Seakan kesadaran datang bagai petir menyambar di siang hari. Julia berusaha menarik dirinya dari pelukan Maxilian, namun tangan pria itu meremas pinggangnya lembut, menggoda.


Tubuh Julia menegang saat bisikan lembut namun begitu menusuk terdengar di telinganya. Nafas hangat yang berhembus di telinganya itu berubah menjadi sangat dingin dan menusuk tulang punggungnya. Itu seakan menarik seluruh urat nadinya dan membeku dengan cepat. Dia bahkan terlalu terkejut menyadari apa yang terjadi tadi. Sesuatu hal terjadi terlalu jauh.


Melihat Julia yang terdiam kaku, satu bibir Maxilian bergerak ke atas sedikit. Sangat tipis hingga hampir tak terlihat bila tidak diamati dengan seksama. Dia menarik tubuhnya tiba-tiba dan melepaskan tangannya. Menatap wajah Julia yang masih memerah.


"Apakah kini kau sadar? Priamu ini sangat seksi hingga bisa membuat banyak wanita terpesona. Kau atau wanita lain--"


Plaakk!!


Tamparan keras itu tiba-tiba memecah suasana ruangan. Tangan Julia bergetar dan terasa panas. Dua sudut matanya berair dan tatapan panas.

__ADS_1


"Kau ba*****n!"


Maxilian terdiam dan menggerakkan gerahamnya sedikit. Merasakan sakit dan panas yang dirasakan di pipinya. Tatapan matanya langsung menusuk Julia tajam. Tangannya bergerak sangat cepat dan meraih leher putih Julia. Mencengkeram cukup kuat, membuat Julia sulit bernafas dan sesak.


"Kau berani menamparku lagi!"


Satu air mata lolos dari sudut mata Julia namun bibirnya tersenyum tipis. "Kau bahkan pantas menerima lebih dari itu!"


"Julia Brasco!"


"Lep--pashh.." ucap Julia terbata. Nafasnya terasa sesak seiring makin kuatnya genggaman Maxilian terhadap lehernya.


"Kenapa?" ucap Maxilian lirih dengan mendekatkan kembali tubuhnya ke tubuh Julia. "Bukankah kau menikmatinya? Yah, kau menikmatinya."


Julia mencoba memberontak dan memukul dada maxilian berkali-kali. Tubuhnya mencoba menjauh dari pelukan Maxilian. Tapi cekikin di lehernya oleh Maxilian tak akan semudah itu lepas. Bibirnya sangat susah untuk digerakkan namun dia masih tetap berusaha keras untuk mengeluarkan kata-kata.


"Ka-u sa-ma se-per-ti me-re-ka yangg ku-ke-nal. Breng-sekkk!"


Maxilian tertawa tanpa sadar. Tangannya lepas dan bergeser pelan menjauh dari leher Julia. Matanya menurun, melihat jejak-jejak merah di leher dan tulang selangka Julia yang baru saja ia tinggalkan. "Di sini." sentuhnya lembut. "Jika aku melihat pria lain meninggalkan jejak yang sama di leher dan di pundakmu, maka aku tak segan menebas lehermu!"


Julia menghela nafas berkali-kali saat cekikan di lehernya terlepas. Kepalanya bergerak ke samping menjauhi wajah Maxilian. Tubuhnya bergetar tanpa sadar. Matanya perlahan mencoba naik ke atas. Menatap mata Maxilian, kemudian menunduk saat melihat tatapan tajam yang menusuk.


Peringatan yang baru saja ia dengar seperti panggilan kematian. Di hadapan pria ini, dia seperti semut kecil di hadapan serigala lapar. Pria ini benar-benar berbahaya.


*****

__ADS_1


Mencuri sedikit waktu sambil merawat suami yang sedang opname di rumah sakit. Sekali lagi maaf kalau sedikit lama up nya


__ADS_2