Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Ancaman Ben


__ADS_3

Dikit dulu ya.. lambungnya lagi rewel.


**


"Jangan khawatirkan aku, ini hanya berlangsung tiga bulan. Selama tiga bulan ini aku akan berperan sebagai istrinya yang baik. Aku juga sedang berjuang mengumpulkan uang untuk hidup setelah berpisah darinya."


Ben memandang pilu sepupunya. Dia menyadari dirinya yang lemah tak berdaya untuk melawan Maxilian. "Apa kau sudah menyusun rencana?"


"Aku akan pindah ke negara cina. Aku punya teman disana."


"Teman? laki-laki atau perempuan?"


"Kau itu sudah seperti seorang ibu saja."


"Tentu saja aku harus bertanya detail. Karena hanya aku yang kau miliki saat ini."


Julia mendengus. "Tentu saja teman wanita. Aku tahu kemana aku harus pergi. Jadi kau tidak udah terlalu banyak berpikir."


Ben mengangguk. "Jika aku sudah keluar dari penjara, aku akan membantumu. Ayah selalu datang menemuiku di penjara. Dia bercerita bahwa ia tak dapat menemuimu dengan mudah meski kita memiliki hubungan darah. Apa terjadi sesuatu? Apakah ia memperlakukanmu dengan baik?"


Julia mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja, keluarganya juga baik. Kakek neneknya memperlakukanku seolah aku cucu kandung mereka sendiri. Bahkan mereka memberikanku saham lima persen keluarga Lunox di cina. Dan juga mereka memberikanku kuasa untuk masuk ke dalam rapat penting perusahaan mereka.


"Mereka melakukan semua itu?" tanya Ben terkejut.


Julia mengangguk. "Tapi aku tak akan menggunakan semua itu. Aku tidak mau membuat mereka kecewa saat mereka tahu kenyataan tentang pernikahan kontrak kami."


Ben mengangguk. "Berapa lama kontrak itu?"


"Tiga bulan, dan ini sudah berjalan dua bulan. Tak lama lagi aku akan berpisah darinya."


Ben bangun, menepuk pundak Julia pelan. "Kau sudah melakukan yang terbaik. Tapi ingat untuk melindungi dirimu sendiri. Jangan publikasikan pernikahan kalian. kau tahu dari segi manapun, dirimulah yang akan dirugikan. Kau hanya akan dikenal buruk bila menjadi mantan istrinya. Dan dia, hanya seorang duda kaya raya yang berkuasa. Posisinya sebagai pemimpin keluarga Lunox akan membuat pandangan orang berbeda."


Julia tertegun. Dia merasa tersentil dengan kata-kata Ben. "Kau benar. Aku hampir lupa menjaga nama baikku. Kau adalah satu-satunya yang tahu mengenai ini. Kuharap kau bisa menutup mulutmu."


"bagaimana Sely?"

__ADS_1


"Kondisi jiwanya terguncang hebat. Sepertinya tidak akan kembali normal."


Ben tertawa. "Bukankah itu yang kau inginkan? Aku tahu bagaimana perasaanmu. Dikhianati dan hampir mati. Bahkan seluruh keluargamu menjadi korban penghianatan sahabatmu itu. Aku tak akan melarang. Tapi berjanjilah padaku. Jangan berbuat sesuatu dengan gegabah selama aku masih di dalam penjara. Kelak, aku akan mendampingimu mencari jalan di setiap masalah.


"Cih, sekarang kau bertindak seolah olah kau menjadi kakak terbaik. Mengesalkan."


Julia berdiri dan pergi. Dia kembali sibuk dengan setumpuk berkas perusahaan untuk membantu Maxilian. Namun hal yang tak diduga adalah, maxilian tahu Julia menemui Ben dan menangis. HIngga keesokan harinya di sinilah ia berada.


Ben bingung saat sipir penjara mengatakan ada seseorang yang datang menemuinya. Ben tak mengerti kenapa Julia datang lagi setelah pertemuannya kemarin. Namun Ben berdiam kaku, saat ia melihat seorang pria tampan yang tengah duduk di samping Julia. Melihatnya tajam seolah ingin mencabiknya. Membuat perasaannya tak nyaman, meski ia menyadari kalau pria di depannya ini adalah suami kontrak sepupunya.


Julia tak mengerti mengapa ia harus duduk di sini berdampingan dengan Maxilian. Dia hanya melihat tatapan mata dua pria di depannya ini seakan akan saling melempar panah. Aura membunuh pada masing-masing pria ini membuatnya bertanya-tanya. Apakah ia melakukan kesalahan? Sejak ia pulang kerumah, maxilian menjadi sangat dingin padanya.


"Ehem. maxilian, mari kuperkenalkan, ia adal..."


"Jadi ia orangnya?" potong Maxilian dingin. Matanya berkilat penuh amarah. Namun ia berusaha menahan diri dengan diam menatap Ben dingin.


"Maksudnya?" tanya Julia tak mengerti.


"Oh, jadi dia orangnya." Giliran Ben yang bicara. Tawa sinisnya terdengar dengan tatapan mata menghujam. Ia menyadari kharisma yang Maxilian miliki. Namun ia tak akan segan. Pria ini telah membuat hidup sepupunya sulit. Jadi ia akan memperingatkan Maxilian sebagai seorang kakak yang melindungi adiknya.


ben terdiam, namun detik berikutnya ia tersenyum. "Hanya itu kemampuanmu? Sebagai seorang pria, kau ternyata cukup pengecut. Aku tak akan membiarkanmu terus mempermainkan sepupuku!"


"Penjara sangat cocok untuk pembual sepertimu. Apa kau sendiri baik sebagai seorang saudara? Sepertinya kau lebih suka mati membusuk di penjara."


Julia terbelalak. Ancaman Maxilian tak pernah main-main. Dia baru saja akan berdiri, sebelum akhirnya Ben berdiri lebih dulu dan meraih kerah kemeja Maxilian. Membuatnya terkejut namun pada akhirnya dia tetap duduk setelah pundaknya ditekan oleh tangan Maxilian agar tetap diam.


"Jika aku tahu sekali lagi sepupuku terluka karena sepupumu yang gila, aku tak akan melepaskanmu!"


Maxilian melepaskan tangan Ben dari keras bajunya dengan kasar. Ekspresi wajahnya kian mendingin. "Khawatirkan dirimu sendiri. Jangan dekati istriku. Apalagi membuatnya menangis!"


Ben kembali duduk dan berpikir tentang yang terjadi saat ini, "Jadi karena Julia yang menangis? " tanya Ben dengan rasa lega saat pria ini datang mengancamnya hanya karena mengetahui tentang Julia yang menangis. "Bagaimana jika bukan aku yang membuatnya menangis? Bagaimana kau mengobati traumanya yang selalu menghadapi kematian akibat ulah keluargamu!"


"Ini urusanku, aku tak butuh pendapatmu!"


"Jika begitu berikan dia kebebasan!" pinta Ben tanpa takut. Dia melirik Julia yang bingung karena tak mengerti arah pembicaraan mereka. Kebebasan, adalah sesuatu yang paling Julia rindukan. Ingin sekali ia lepas dari genggaman maxilian.

__ADS_1


"Kau memerintahku atau memintanya dariku?"tanya Maxilian dingin. Tatapan matanya mengunci Ben tanpa bergeser sedikit pun. Ia tahu kata-kata Ben bukanlah keinginan pria itu seutuhnya. Kebebasan yang Ben minta jelas tentang Julia dan dirinya.


"Kau atau Julia yang harus bebas?"


"Bagaimana kalau keduanya?"


Senyum tipis terlintas. Maxlian makin habis kesabaran. "Kau benar-benar tak tahu diri! Tuan Benjamin, sepertinya kau akan sangat kecewa. Julia, kita pergi." Dia berdiri dan meninggalkan Julia yang mematung.


"Apa? Tapi kenapa? Aku bahkan belum mengerti arah pembicaraan kalian." ujar Julia meminta penjelasan. namun Maxilian tak membiarkannya terus bicara.


"Pulanglah," perintah Ben sambil berdiri. Matanya mengunci tubuh Julia dengan lembut. Ada rasa prihatin untuk segala yang dialami sepupunya. Ia tahu bahwa pria itu tak akan semudah itu melepaskan sepupunya. Apa yang terjadi pada Julia adalah penjara yang sebenarnya.


Ucapan Maxilian. Tatapan mata Maxilian. Sudah dapat dipastikan bahwa pria itu tak akan pernah melepaskan Julia meski kontrak pernikahannya mereka usai. Lewat sikap Maxilian tadi, adalah sebuah pemberitahuan bahwa Julia akan selamanya bersamanya, meski harus mati membusuk bersamanya.


Julia berbalik saat suara Ben terdengar. "Julia, dia tahu kalau aku sudah mengetahui tentang kontrak pernikahan kalian,"


**


Selama perjalanan pulang, Maxilian hanya diam. Tak peduli seberapa banyak Julia bertanya, ia hanya diam tak berminat untuk menjawab.


Akhirnya Julia lelah dan ikut terdiam. Dia menatap jalanan pulang dan mengerutkan keningnya saat tahu arah yang mereka tuju berbeda. Menoleh, akhirnya dia kembali bersuara.


"Lian, ini bukan jalan pulang. Kemana kita akan pergi?"


Lagi-lagi Maxilan terdiam. Dia hanya fokus menyetir hingga akhrinya mereka sampai di bandara.


"Turun."


Julia turun dan mengikuti maxilian dari belakang. Di depan, Tomas sudah membungkuk dalam saat melihatnya. Namun akhirnya Tomas tetap bicara pada maxilian dengan semua laporan yang tak ia mengerti. Karena merasa curiga, ia membalikkan badan untuk pergi kembali. Namun yang terjadi, Maxilian memegang tangannya lalu menariknya paksa.


"Lian, lepaskan."


Maxilian hanya diam dan tetap berjalan ke depan. Dia bersikap tenang dan dingin di waktu bersamaan. Tak peduli tatapan orang lain karena ia menarik tangan istrinya dengan paksa. Mata dan tubuhnya hanya fokus ke arah depan. Menyeret tangan Julia meski gadis itu memberontak ingin melepaskan diri.


"Maxilian, kubilang lepas!"

__ADS_1


__ADS_2