Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Masalah Baru


__ADS_3

"Nona, kau bisa memiliki saham dari tuan mudaku di perusahaan ayahmu ini. Itu tidak sedikit tapi tiga puluh delapan persen. Jika itu juga menjadi milikmu, maka bisa dipastikan kau adalah pemegang suara utama yang mutlak."


"Aku tak tertarik."


"Nona, kau tak bisa menolaknya. Tuan mudaku bukanlah orang yang bisa kau tolak seperti ini. Dia tak akan terima jika kau--"


"Tapi aku sudah menolak lamarannya!"


"Nona dengarkan dulu. Tuan mudaku bisa memberikan semua hal yang kau butuhkan. Dia juga sangat tampan hingga..-"


"Jika dia tampan, dia tak akan kesulitan menemukan pasangan!" sanggah Julia cepat. Dia berhenti dan menatap Tomas kesal. "Sudah kupastikan, aku tak cocok dengan tuan mudamu. Aku merasa tuan mudamu pastilah sangat berlemak hingga tak tahu malu."


"Nona,,kau baru saja menghina tuan mudaku."


"Tuan," protes Jason mulai gerah. Dia menarik tangan Julia hingga tubuh gadis itu membentur dadanya dan tepat membelakanginya. Tangannya bergerak merengkuh pundak Julia dari belakang. Dia menundukkan wajahnya hingga jatuh di pundak Julia. "Dia adalah calon istriku. Jadi hentikan lamaran tuan mudamu atau aku akan menuntutmu! Kau benar-benar mengganggu ketenangan kami."


Julia cukup terkejut tapi kemudian senyum yang dia paksakan keluar. Menatap Tomas dengan tatapan bersalah, dia menunduk sesaat sebagai permintaan maaf.


Tomas membeku, dia melihat tangan Jason yang memeluk pundak Julia dalam rengkuhan hangat. Lalu pada pandangan Julia yang tak biasa. Seketika perasaannya menjadi jelek. "Nona, aku akan menyampaikan semuanya pada tuan mudaku. Maka aku permisi."


Jason dan Julia sama-sama menatap kepergian Tomas. Menit berikutnya, Jason mendorong Julia sedikit dan melepaskan tangannya. Kembali melangkah dengan sangat tak peduli pada Julia yang tertinggal. Ekspresinya masih tetap tenang, seperti beberapa saat lalu, tak terjadi apapun antara dia dan Julia.


Begitupun dengan Julia, dia dengan kasar menarik tubuhnya dari pelukan Jason. Dia melangkah seperti semua dan memasuki lift yang sama dengan Jason. Tak ada satu pun kata-kata yang terucap antara keduanya. Mereka sama-sama melangkah dalam diam dan berpisah di mobil masing-masing.


**


Sementara di rumah utama keluarga Lunox, foto Julia telah melayang dan mendarat di tangan putih dengan kulit yang masih terlihat segar. Garis-garis halus dan kerutan itu sama sekali tak terlihat meski usianya tak lagi muda. Wanita ini cantik dan segar.


Meski usianya lima puluh tujuh tahun, nenek dari Maxilian Jade Lunox, Mery, saat ini tengah duduk dengan santai sambil melihat sebuah foto yang baru saja dia terima. Kacamatanya tampak menggantung cantik di hidung dengan guratan mata yang samar.


"Siapa namanya?" tanya seorang kakek yang berumur enam puluh tahun pelan. Tatapan tegas dengan badan yang masih segar dan bugar menunjukkan bahwa kondisi pria berumur ini sangat sehat.


Mery melirik pria yang duduk berseberangan dengannya. "Julia Brasco, putri semata wayang dari keluarga Brasco."


"Kau yakin Maxilian mengatakan akan menikahi gadis ini?"


Mery diam sesaat, dia tersenyum samar. "Gadis ini terlihat baik. Lucas,coba kau lihat. Dia sangat cantik. Hanya saja tak ada tatapan cinta di hatinya. Itu seperti sudah mati."

__ADS_1


Lucas menerima foto dari tangan Mery dan melihatnya dengan pelan. Memperhatikan setiap inci foto wajah Julia. Dia tersenyum samar dan bergumam. "Apa ini? Kenapa aku melihat ekspresi maxilian di wajahnya?"


Mery terkekeh. "Ini pertama kalinya cucu kita menyatakan ingin menikahi seorang gadis meski bukan dari keluarga yang sama, gadis ini tidaklah terlihat buruk. Tapi cucuku itu sangat berharga. Aku tak bisa menyerahkan hidupnya begitu saja. Bagaimana aku bisa mati dengan tenang, jika Maxilian tak bahagia."


Lucas meletakkan foto Julia di meja. Dia pun ikut terkekeh. "Sangat aneh, sangat aneh. Maxilian, dia bukan orang yang seperti ini. Tapi sekretaris Tomas mengirimkan foto gadis ini? Apakah jangan-jangan mereka sudah menikah lebih dulu?"


"Apa yang kau bicarakan?"


Lucas diam sejenak dan berkata, "Cucumu itu sangat kurang ajar sebelumnya. Dia bahkan tak pernah mengunjungi kita meski kita sudah tua. Berapa banyak gadis yang telah kita jodohkan dengannya. Tapi tak ada satu pun yang berhasil. Sekarang, cucu kurang ajar itu tiba-tiba menyerahkan foto seorang gadis dan berkata ingin menikahinya."


Mery tiba-tiba tersadar. "Ya, kau benar. Bagaimana bisa aku lupa. Atau jangan-jangan gadis ini mengandung cicit kita. Cicit kita yang selama ini kita nantikan. Cicit dari darah daging keluarga Lunox.


Lucas tampak terkejut dengan pemikiran Mery, tapi dia tak bisa tak gugup jika hayalan mereka menjadi kenyataan. Rasa senang membanjiri pikirannya dan untuk sesaat mereka berdua saling bertatapan penuh rasa syukur. "Apa yang kau tunggu? Pergi, pergi lihat cucu menantu kita. Kau harus memastikan dia sehat agar cicit kita tumbuh menjadi anak yang cerdas."


Mery mengangguk setuju dengan kata-kata suaminya. "Karena mereka akan segera menikah, Maxilian pasti akan menjadi ayah dalam waktu dekat. Sekarang aku bisa mengerti kenapa mereka ingin menikah dalam waktu dekat. Usia kehamilan cucu menantu kita pasti sudah mulai membesar. Anak yang nakal itu, kenapa berbuat tak senonoh pada anak gadis keluarga baik-baik. Aku akan menjewer kupingnya jika aku mendapati cucu menantuku sengsara.


Lucas mengangguk setuju. "Ya, ya, ya kau benar. Cucumu yang nakal itu memang kurang ajar. Pergi, ayo pergi lihat menantu kita. Dia pasti merasa kesulitan di kehamilan pertamanya.


Mereka berjalan beriringan sebelum akhirnya Lucas berhenti dan bertanya "Tunggu, apakah kita perlu menyiapkan kamar bayi sekarang?"


Mery ikut berhenti dan memukul kepalanya pelan. "kau benar, kau benar. kita butuh kamar bayi segera. Pergi beritahu kepala pelayan rumah tangga untuk mengatur kemarnya. Ohh cicitku yang malang. Ibumu pasti sangat kesulitan karena memiliki suami nakal seperti ayahmu."


**


Rumah utama keluarga Samuel Casson itu terlihat tenang dari luar, tapi semua sangat berbanding terbalik saat Sam dengan keras menampar pipi Ben tanpa segan. Maria sesenggukan menangisi semua yang terjadi. Sementara Ben terduduk dengan menundukkan kepala dalam.


"Kau puas?" tanya Sam marah.


"Sayang pelankan suaramu. Kita bicarakan baik-baik. Maria terlihat panik saat melihat amarah di mata suaminya. Namun dia juga tak akan membela Ben karena kesalahan putranya itu benar-benar fatal. Kini, bahkan perasaannya menjadi sangat cemas dan sedikit ketakutan.


"Sayang.."


"Jangan halangi aku untuk memberinya pelajaran! Pergi, dia harus belajar dari kesalahannya."


Maria menatap Ben yang menunduk sesaat sebelum akhirnya naik ke lantai dua menuju kamarnya. Dia menahan nafas, saat rasa getir merambat di hatinya. Bagaimana mungkin mereka baru saja kembali ke rumah utama mereka dan hidup sedikit lebih baik berkat bantuan Julia. Tapi kini mereka semua bisa kembali ke dasar kapan saja karena kesalahan putranya yang telah buta.


Di lantai bawah, ruang keluarga, Ben masih menunduk tanpa berani mengangkat kepala. Entah berapa banyak tamparan yang dia terima, dia tak melawan dan hanya menunduk kian dalam.

__ADS_1


"Kau puas?" tanya Sam dingin. Dia melemparkan jas kedokterannya ke lantai tepat di depan Ben. "Itu, kau juga bisa menjualku, atau ibumu untuk kau jual kalau dia minta!"


"Ayah!" ujar Ben sedikit gemetar. Dia masih tak mengerti kenapa ayahnya sangat marah dan semua menjadi kian buruk saat dia kembali dari rumah utama sepupunya.


"Kau..!"


Plakk! Teriakan di iringi tamparan yang tepat membuat Ben ambruk ke samping. Memperlihatkan wajah yang bengkak dengan bibir pecah yang berdarah.


"Kau masih tak mengerti? Kau masih tak mengakui kesalahanmu? Apa kau buta! Atau kau memang bodoh!"


Ben terdiam menunduk takut dan menundukkan kepalanya diam. Tapi kini rasa sakit yang menjalar dengan rasa tak terima mulai muncul di hatinya. Dia perlahan mengangkat kepalanya pelan dengan tatapan menuntut penjelasan. "Ayah, aku selalu diam. Tapi kali ini aku hanya melakukan apa yang kuanggap benar."


"Sam langsung menghujani tatapan putranya dengan amarah yang tak bisa di tahan. Tapi dia juga telah memukul putranya sendiri berkali-kali. Jadi dia hanya tertawa tipis dan berkata, "Hal apa yang benar sesuai katamu?" Katakan padaku, hal benar apa yang ada di kepalamu. Jika kau sedikit saja salah, maka aku tak akan segan menendangmu dari anggota keluarga Casson!"


"Ayah." seru Ben tak terima. Dia menatap mata ayahnya tak percaya. "Bagaimana kau bisa mengeluarkan aku dengan begitu mudah. Aku hanya datang ke rumah Julia dan menegurnya dengan sebuah tamparan karena dia mengusir kekasihku dan menghinanya hingga dia menangis. Dia, Julia, telah berubah sangat banyak hingga aku tak bisa mengenalinya. Dia--"


"Apa!!" potong Sam terkejut dan terperangah. "Kau bilang kau menamparnya? kau menampar Julia?!"


Ben mengangguk dan mulai mundur waspada saat melihat ayahnya sangat terkejut dan berapi-api. Namun setelah beberapa menit, ayahnya sama sekali tak bergerak selain terduduk dan linglung di lantai, membuatnya bingung dan tak tahu harus berkata apa.


"Ayah, aku tahu aku tak tahu diri. Tapi--"


"Kita sudah tamat." potong Sam lagi. "kau, bisakah aku berharap agar kau hidup di penjara saja. Kau tahu? Kau baru saja mengacaukan segalanya. Dan saat ini kita sudah tamat."


"Ayah, apa maksudmu?" tanya Ben tak mengerti dan mencoba mendekat.


"Pergi, pergilah dengan kekasihmu. Mulai sekarang kau bukan lagi putraku."


"Ayah, bagaimana kau bisa--"


"Kekasihmu mencurinya! Semua! Semua hal yang sama sekali tak kau mengerti!"


"Ayah, jangan bercanda. Di mana Sely, aku akan menemuinya. Dia, apa yang dia lakukan pada kita hingga kau menamparku seperti ini."


"Dia sudah pergi. Dengan tanda pengenal milik Julia. Dan semua, saat ini telah usai."


Ben mengerutkan alisnya tak mengerti. "Ayah, aku tak mengerti kata-katamu."

__ADS_1


Sam menatap putranya marah, tapi juga sedih dalam waktu bersamaan. "Apa kau tahu? Julia memiliki sebuah cap tanda diri sebagai pemilik keluarga Brasco, di mana itu bisa digunakan sebagai pengganti tanda tangannya yang sah. Kau tahu ada di mana cap tersebut? Aku, aku yang menyimpannya. Tapi sekarang telah tiada. Tanda pengenal itu menghilang! Aku baru menyadarinya, kedatangan kekasihmu itu ke sini adalah untuk mencuri itu dariku. Dia ingin menghancurkan Julia. Tidak, dia juga membawa tanda pengenal sah dari keluarga kita. Dan satu jam yang lalu, aku telah mendapatkan kabar bahwa semua aset kita telah berganti nama menjadi orang lain. Kekasihmu, kekasihmu telah menjual semua aset keluarga kita!"


__ADS_2