
Anak-anak pada ujian semua. Jadi konsen ke belajarnya anak-anak. Belum bisa banyak up. sehari sekali aja ya. Terima kasih sudah mau menunggu.
**********
"Kau baik-baik saja?"
Julia tak menjawab, mulutnya seakan terkunci oleh bayangan-bayangan Maxilian yang melenguh puas saat diterjang badai kenikmatan. Mengingat bagaimana mata itu terpejam dan bibir yang mendesis penuh er*angan menahan gejolak membuat dadanya berdesir tak karuan. Seluruh ekspresi Maxilian jelas melekat di pelupuk matanya. Membuatnya tak dapat menahan diri.
"Julia," panggil Maxilian sekali lagi.
"Iy--iya." Julia tergagap.
Maxilian duduk di tepi ranjang, menyentuh kening Julia pelan. "Apa kau sakit?"
Julia menjauhkan wajahnya segera. Tangannya menyingkirkan tangan Maxilian. "A--aku baik-baik saja." aku hanya sedang mengingat semua yang kita lakukan, sambungnya dalam hati.
"Makanlah dulu, lalu minum obat agar keadaanmu lebih baik."
Kening Julia mengkerut, "Obat apa itu?" tanyanya penasaran. Sejak kejadian dengan Carlen, dia jadi lebih waspada.
"Obat agar kau bisa berjalan."
"O--oh,,"
"Kau bisa bangun lebih dulu? Tegakkan badanmu agar aku bisa membawamu ke meja makan."
"A--aku akan berusaha berj--"
Saat Maxilian sudah berjongkok untuk mengangkat Julia, ternyata dalam waktu yang bersamaan Julia juga menegakkan tubuhnya. Membuat wajah mereka berdekatan. Tatapan mata mereka bertemu dan ******* nafas mereka pun bersahutan. Dapat mereka rasakan nafas mereka satu sama lain.
Maxilian menelan ludahnya pelan. DIa tak mengerti kenapa sejak dia merasakan nikmatnya tubuh Julia, tubuhnya seakan menuntut lebih saat berdekatan dengan Julia. Ingin terus melakukan lagi sampai kembali mendapatkan puncaknya. Ia melihat bibir merah itu sedikit terbuka, terasa sangat menggoda.
"Julia, bisakah aku mencium bibirmu?" Maxilian memohon ijin.
Julia tertegun tanpa tahu harus menjawab apa. Tapi kemudian ia mematung saat merasakan deruan nafas hangat semakin mendekat. Lalu benda itu menempel sempurna di atas bibirnya. Ya, bibir Maxilian saat ini dengan lembut menciumnya. Ciuman dengan penuh perasaan dan sangat hati-hati. Menghisap dan mencecap seluruh pikirannya.
Julia membalas. Membuat Maxilian makin merapatkan tubuhnya. Dia memeluk tubuh Julia dengan lembut. Hingga terasa ciuman itu makin menuntut. Saat ciuman itu terlepas, wajah Julia memerah tak tertahan. Helaan nafas berat menggambarkan betapa ia menginginkan lebih.
"Bibirmu sangat manis."
Wajah Julia makin merona. Kata-kata sederhana itu begitu menghujam hatinya. Dia bahkan tak menolak saat bibir Maxilian kembali menjelajah lehernya, membuat bagian intinya menegang dan basah. Er*ngan tertahan saat tangan Maxilian meraba kulit punggungnya dan beralih ke dadanya. Namun ia terhenyak saat tangan Maxilian mulai bergerak di atas paha mulusnya, membuat hasratnya mengaduh.
"Ehm, Lian. Jangan," tolak Julia halus.
Maxilian tersentak. Dia menjauhkan tubuhnya cepat. "A-aku lupa kau masih sakit."
Julia tak tahu harus mengatakan apa. Namun wajah merona Maxilian saat ini terlihat sangat menggemaskan di matanya. "Aku lapar."
"I--Iya, kau tidur seharian. Ayo, aku akan menggendongmu."
Julia menurut namun tetap masih terlihat salah tingkah. Maxilian masih tetap berusaha bersikap tenang, walaupun sebenarnya tidak. Dia meletakkan Julia hati-hati melayani semua yang Julia butuhkan. Karena bagaimanapun juga dialah yang membuat semua ini terjadi.
Tidak lama kemudian terdengar suara bel pintu apartemen.
"Aku akan segera kembali" ucap Maxilian beranjak untuk membuka pintu.
"Ayoyo, kenapa kau lama sekali?" Mery masuk dengan tergesa. "Di mana cucu menantuku?"
__ADS_1
"Nenek." tahan Maxilian.
Mery menoleh, "Aku mendengar kalau cucu menantuku sakit."
"Untuk apa nenek kesini. Bukankah nenek sedang berduka?"
"Tentu saja aku berduka. Tapi aku tak bisa membiarkan cucu menantuku terluka."
Namun saat tatapan matanya beralih pada pintu yang mash terbuka, keningnya mengernyit. "Untuk apa mereka datang ke sini?" tatapannya beralih pada sosok yang berderet masuk dalam apartemennya.
Mery mengikuti arah pandang Maxilian. "Mereka sendiri yang ingin ikut. Sekarang katakan padaku, dimana cucu menantuku." tanyanya sambil melangkahkan kakinya masuk.
Di depan pintu, Rose dan Hanna tampak sedikit tak nyaman saat tatapan Maxilian menghujam.
"Kakak sepupu," ucap mereka bersamaan. Mereka saling menatap kemudian menunduk.
"Aku tak memiliki alasan membiarkan kalian masuk." ucap Maxilian menolak dengan tangan mendorong sisi pintu untuk menutup.
Hanna menahannya dengan sedikit kuat. "Aku ada janji bertemu dengan Julia."
Mata Maxilian menatap Hanna tajam Seakan mencari kebenaran atas kata-katanya. "Dia dalam keadaan tak bisa bertemu dengan orang asing. Dia butuh istirahat."
"kakak sepupu,aku bukan orang asing. Aku sepupumu!" Jawab Hanna dingin.
Maxilian tak menjawab, lalu tatapannya bergeser pada sosok Rose yang mematung. "Kalau kau, sepertinya tidak ada alasan yang bisa kau andalkan. Jadi kau bisa menemuinya lain kali."
"Apakah ini caramu? Apa ini caramu memperlakukan sepupunya sendiri?" tanya Rose memberontak. "Kakak sepupu, bagaimana kau bisa seperti ini? Kami sudah di apartemenmu, dan sekarang kau bahkan mengusir kami. Sangat kejam!"
"Rose," peringat Hanna sungkan. Dia tak menyangka bahwa Rose akan bersikap keras di hadapan Maxilian.
Maxilian menatap ke sosok neneknya yang sudah masuk ke apartmennya. Lalu beralih pada dua sepupunya yang masih menunggu di pintu. "Harusnya kalian saat ini sedang berduka. Lalu hal menarik apa yang menjadi alasan kalian ingin tahu tentang keadaan istriku? Berikan aku satu alasan atau kalian pergi dari sini."
"Kau tak perlu terlalu waspada. Kami tak akan menyakitinya." jawab Hanna tanpa ragu.
"Terakhir kali Carlen juga mengatakan hal itu beberapa tahun yang lalu."
Rose memucat saat nama Carlen disebut. Dia mundur tanpa sadar. Namun Hanna tertawa, "Aku tak memiliki urusan apapun dengan Carlen. Jadi tidak usah kau sangkut pautkan padaku."
Maxilian menatap Hanna, "Kau masuklah."
Hanna bernafas lega. Dia masuk tanpa menoleh ke belakang. Dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat masuk ke dalam apartemen Maxilian. Karena sangat tak mudah bagi siapapun bisa masuk ke dalam apartemen pribadi Maxilian tanpa alasan yang tepat.
Rose ikut melangkah masuk, namun suara Maxilian menginterupsi. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Rose menahan langkahnya dan menoleh. Tubuhnya bergetar pelan. "Kakak sepupu."
"Keluar!"
"Tapi.."
"Aku tak perlu mengulangi kata-kataku, kau pasti mendengar jelas."
Rose membeku saat tatapan Maxilian begitu menghujam. Bahkan tanpa perasaan pria itu menutup pintunya dengan keras. Tak membiarkannya masuk walaupun dia bersikap lembut. Remasan jari-jari tangannya pada tas jinjingnya menguat. Dia tak menyangka Maxilian bersikap kejam padanya.
Sementara itu Julia tersedak saat suara Mery memecah keheningan. Wanita tua itu meletakkan sekeranjang buah dan tas penuh belanjaan di atas meja.
"Ayoyo, cucu menantuku. AKu sudah mendengar semuanya." dia langsung memeluk tubuh Julia pelan. "Syukurlah kau baik-baik saja. Aku tak bisa membayangkan berduka untukmu juga." nada sedih itu menyiratkan kasih sayang.
__ADS_1
"Nenek, aku baik-baik saja."
Mery menyeret kursi tak jauh dari Julia lalu duduk di sana. Menggenggam tangan Julia dengan kasih. "Aku tahu kau mengalami hari yang berat. Karena itu aku datang. Aku minta maaf atas segala yang telah terjadi padamu. Keluarga Lunox berhutang banyak padamu."
"Nenek, aku tak melakukan apapun."
"Bagaimana bisa aku tak tahu cucu-cucuku. Julia, aku tak tahu harus berkata apa. Kau terluka tepat setelah hari pernikahanmu. Dan ini karena cucuku. Aku benar-benar malu mendengar semua. Carlen,.. Lian akan mengurusnya."
Julia tersenyum tipis. Melihat raut kekhawatiran Mery, hatinya menghangat. Sudah lama ia merindukan kehangatan keluarga. Dan wanita tua ini membuatnya kembali merasakan.
"Gadis baik sepertimu, pasti kau ketakutan. Kau terbawa arus dari perebutan kekuasaan. Untungnya kau adalah istri Maxilian, pria yang akan selalu melindungi miliknya. Tentang lainnya, keluarga Lunox sedikit rumit. Aku tak memiliki hak untuk menjelaskannya. Tapi kakekmu yang akan menjelaskannya. Sebagai gantinya aku akan memberikanmu lima persen saham yang aku miliki di cina. Dan aku akan mengembalikan saham Maxilian yang sudah kutahan."
"Mata Julia terbelalak, "Nenek, aku tak meminta apapun. Ini terlalu berlebihan."
Mery tersenyum, "Aku tahu kau akan mengatakan itu. Tapi sekarang, kau memiliki pin keluarga Lunox sebagai akses pemegang saham walau hanya lima persen."
Mery meletakkan sebuah pin berwarna emas di atas meja. Dia mendekatkan ke tangan Julia. "Jangan menolak. Itu sudah menjadi milikmu di saat kau memutuskan menikah dengan cucuku."
"Nenek." ucap Julia terharu. Dia mencoba bangkit namun kemudian rasa sakit menyadarkannya. "Ahk!" rintihnya.
"Ada apa? apa kau kesakitan? duduk, duduk.."
"Julia," sapa Hanna yang baru saja masuk dan sudah melihat neneknya panik.
"Nenek, aku baik-baik saja." ujar Julia menenangkan.
"Maxilian!" panggil nenek panik.
"nenek, tenanglah kakak ipar baik-baik saja," cegah Hanna.
Maxilian sedikit berlari masuk ke kamar. Pandangannya jatuh pada Julia. DIa mendekat, membuat Hanna menyingkir pelan. "Ada apa? apa yang sakit? jangan berdiri sembarangan. Ayo, kembali istirahat setelah minum obat."
Mery dan Hanna tertegun melihat sikap Maxilian memperlakukan Julia. Setelah membantu Julia mendapatkan obatnya, pria itu menggendong Julia tanpa malu lalu membawa Julia ke atas tempat tidur.
"Istirahatlah, aku akan menemanimu setelah mereka pergi."
Julia tak menjawab. Dia hanya mendesah dan meremas rambutnya pelan saat melihat Maxilian keluar dan menutup pintu kembali.
"Apakah ia baik-baik saja?" tanya Mery khawatir.
Maxilian mengangguk.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Itu," jawab maxilian ragu. Dia menggaruk kepalanya pelan. "Tidak apa-apa nek, kami bisa mengatasinya. Lebih baik nenek pulang sekarang."
"Tapi," ucap Mery menolak.
Maxilian menuntun pelan Mery menuju pintu keluar. Hingga Hanna pun mengikuti.
Mery hanya mematung setelah pintu apartemen itu tertutup rapat. "Anak nakal ini, beraninya dia mengusir neneknya."
Hanan tertawa pelan, "Nenek, kakak ipar butuh istirahat. Kita bisa mengunjungi besok, bagaimana menurutmu?"
"Ide yang bagus." Mery menoleh dan memegang tangan Hanna. "Ya sudah, ayo pergi. Kita harus akan tahu keadaannya."
Hanna mengerutkan keningnya, "Nenek, apa maksudmu?"
__ADS_1
"Ayo pergi menemui dokter yang merawat Julia. Lian tak memberitahuku keadaan Julia yang sebenarnya. Tapi bukan berarti aku tak mampu mendapatkan informasi apapun."
Hanna terbelalak namun kemudian tertawa. "Baiklah, ayo kita temui Jack."