Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Teman Masa Kecil


__ADS_3

Setelah pemotretan itu, Julia mendapat tawaran untuk menjadi model tetap SM agency. Namun saat ini Julia masih  belum dapat menentukan langkah. Dia tak ingin terburu-buru dan terlihat bahwa dirinya sangat membutuhkan pekerjaan.


Di sinilah Julia. Rumah besar berlantai dua dan sangat luas. Rumah yang baru dibeli oleh Maxilian sangatlah mewah. Namun tak sekalipun ia berkeliling rumah itu untuk melihat seberapa mewahnya. Karena itu sudah pasti melelahkan. Jadi ia hanya turun sesekali menuju dapur di lantai satu atau ke taman untuk menemukan suasana yang menenangkan.


Malam ini dia merasa kesepian. Ia menunggu kedatangan Maxilian. Ia memutuskan pergi ke arah dapur untuk satu botol air mineral dan meneguknya. Tubuhnya tertegun saat melihat seputung rokok yang masih berasap tertinggal di meja dapur. Mendekati untuk memastikan, berpikir kalau Maxilian sudah pulang lebih dulu dari pada dirinya. Namun dimana pria itu? Kenapa dia tak melihatnya? Ataukah ia baru pulang dan Julia tidak mengetahuinya karena berada di lantai atas? Dan yang lebih aneh lagi adalah sejak kapan Maxilian merokok? Dia tahu kalau Maxilian bukanlah perokok.


Ia beranjak memeriksa sekeliling. Ia menuju ke arah samping dapur, ia buka pintu itu. Ternyata ada taman kecil di depannya. Namun ada bagian rumah yang dipisahkan oleh taman mini yang berhubungan dengan ruang makan dan dapur utama. Itu seperti dua rumah yang dijadikan satu.


Ia berjalan pelan, sedikit mengendap dan berusaha untuk tak mengeluarkan suara. Masuk, ia lihat ada dapur dan sebuah bar mini yang baru ia lihat. Rumah barunya ini seperti mempunyai labirin di dalamnya. Dan ia baru menyadari segala kemewahan yang ada di seluruh sudut rumah ini.


Julia menghentikan langkahnya saat mendengar sebuah suara pelan. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan mengerutkan kening. Menoleh untuk memastikan. ia sedikit mendongakkan kepalanya ke arah pintu yang sedikit terbuka. Karena penasaran, ia akhirnya mencondongkan tubuhnya dengan hati-hati.


Terkejut. Ia benar-benar melihat sosok Maxilian duduk di sana tengah memunggunginya.


"Pulanglah."


Julia menggigit bibir bawahnya saat suara Maxilian terdengar. Entah kenapa ada nada lembut di balik ucapan Maxilian.


"Lian, kau kejam. Kita sudah lama tak bertemu dan kau bahkan hanya memeluk tubuhku. Apa kau tak merindukanku?"


Tersentak. Julia membelalakkan matanya dengan kedua tangan yang menutup mulutnya yang terbuka. Dia hampir saja berteriak saat mendengar suara wanita yang menjadi lawan bicara Maxilian.


"Kita bisa bertemu lain kali."


Julia menepi, menyembunyikan tubuhnya. Tanpa sadar tubuhnya bergetar dan gelombang besar menggulung hebat di dalam tubuhnya. Dia hampir tak bisa mempercayai bahwa suaminya saat ini sedang bersama dengan seorang wanita yang tampak tak terima saat suaminya menyuruhnya pulang.


"Siapa?" lirih Julia. Dia harus tahu siapa wanita itu. Siapa wanita yang bisa membuat suaminya berucap dengan lembut. Karena itu ia mencondongkan tubuhnya hati-hati untuk melihat lebih dalam dan mendengar semua pembicaraan mereka.


"Kau tak bisa tinggal di sini."


"Lian!"


Maxilian terdiam saat melihat raut wajah cantik di depannya tengah memajukan bibirnya sedikit dengan wajah kesal. Meski begitu ia tak menyerah.


"Pulanglah."


Belum selesai rasa ingin tahunya, tubuh Julia membeku saat melihat gadis itu duduk di pangkuan suaminya dan mencium bibir suaminya. Julia benar-benar bagai tersihir saat tahu semua hal di depannya dengan jelas. Gadis itu dengan lugas tengah mencium bibir suaminya.

__ADS_1


Dan suaminya tampak tak terkejut atau menolak. Yang artinya keduanya sudah saling mengenal dekat dan saat ini sedang berciuman. Seketika tubuh Julia lemas. Matanya panas dan seluruh hatinya mendingin.


Julia tak bergerak ataupun bernafas. Tatapannya kosong dengan mata mengunci setiap gerakan di sana. Awalnya gadis itu duduk di samping Maxilian, lalu bergerak menuju pangkuan Maxilian, dan sekarang nampak dengan tak tahu malu telah mencium Maxilian. Julia melihat jelas gadis yang berada di pangkuan suaminya itu menumpukan kedua tangannya di leher suaminya. Memeluk erat lehernya suaminya erat dengan rambut panjang yang menutupi sebagian wajahnya.


Julia tak dapat menguasai dirinya. Entah mengapa semua hal yang terjadi di depannya mengingatkan tentang segala yang sudah Aaron lakukan padanya dulu. Dia merasa melihat hal yang sama namun dengan dua orang yang berbeda. Membuat seluruh luka yang tersimpan kini terkuak dan kembali teriris tanpa bisa ia cegah.


Mundur perlahan, ia berlari dengan tangan menyenggol gagang pintu hingga pintu itu tertutup keras. Berlari menuju kamar. Memasuki kamar, ia membanting pintu lalu menguncinya rapat. Tubuhnya luruh ke lantai dengan tangisan pelan yang ia sendiri masih belum menyadari kenapa perasaan dan hatinya sesakit ini.


**


Sedangkan di dalam ruangan lain, Maxilian menatap gadis cantik yang merajuk karena ia mengusirnya. Teman kecilnya itu masih selalu bersikap manja padanya. Ini adalah pertemuan ketiga mereka sejak mereka berpisah belasan tahun yang lalu.


"Maxilian, kau memintaku pulang?"


Maxilian tak berekspresi. Dia hanya menatap gadis di hadapannya yang berubah dalam waktu cepat."Aku mendengar bahwa kau telah bertunangan."


"kau mempercayainya?"


"Kenapa tidak?"


karena kau tak pernah muncul lagi, jadi aku.."


Lusi adalah teman dan tetangga saat Maxilian dulu tinggal di cina. Mereka tumbuh bersama. Kedekatan mereka berlangsung lama hingga janji-janji manis terucap dari mulut kedua anak kecil itu. Namun maxilian hanya melihat itu dari sudut teman saja. Kenangan masa kecil.


Berita terbaru yang ia dapatkan, saat ini Lusi tengah bertunangan dengan saudara tirinya yang tak pernah ia anggap ada. Kenyataan memiliki ayah yang sama, membuat kebenciannya pada Aaron begitu besar. Hingga kabar pertunangan Aaron dengan Lusi membuat kebenciannya memuncak. Jadi ia merasa kedua orang itu tak patut mendapatkan perhatiannya.


Tapi dia tak menyangka Lusi tengah berada di hadapannya dan bernostalgia dengannya. Meski begitu ia tahu batasannya. Ia menjadi sedikit acuh saat menyadari bahwa wanita di hadapannya ini adalah wanita dari saudara tirinya. Satu hal itulah yang membuatnya merasa harus menjauhi Lusi.


"Lian, aku tak punya pilihan. Aku hanya ingin kau, paman, dan Aaron hidup bahagia. Bukankah kau terlalu kejam pada mereka?"


"Jadi kau menemuiku ingin menyampaikan pesan mereka?"


"Lian..."


"Pergilah."


"Tidak." geleng Lusi kuat. "Aku akan menginap. Di mana kamarnya? Oh, ataukah aku tidur di kamarmu?"

__ADS_1


"Lusi!" tekan Maxilian keras. Membuat Lusi duduk patuh. "Jangan lewati batasanmu! Pergilah!"


Lusi tertegun. Ia tak menyangka bahwa Maxilian membentaknya keras. Ia tak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini sebelumnya.


"Pulanglah."


Ucapan Maxilian kembali terdengar dan keheningan kian terasa. Lusi menghela nafas berat dan menatap pria itu. Wajah tampan itu mengingatkannya pada Aaron, tapi ia tahu bahwa Maxilian lebih segalanya daripada Aaron. Dan ia tak bisa melepaskannya dengan mudah.


"Lian, kau kejam. Kita sudah lama tak bertemu dan kau bahkan hanya memeluk tubuhku. Apa kau tak merindukanku?"


Kali ini Lusi merubah taktiknya. Ia tahu kalau Maxilian tak akan pernah bisa melihatnya bersedih, apalagi menangis. Jadi ia menggunakan cara ini untuk merubah keputusan Maxilian.


"Kita bisa bertemu lain kali." jawab Maxilian malas.


Lusi terkejut, namun ia masih tak mau mengalah. "Aku akan tinggal di sini."


"Kau tak bisa tinggal di sini."


"Lian!"


"Pulanglah."


Lusi mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Ia menatap maxilian yang terlihat dingin. Pria ini sudah banyak berubah. Bahkan ia tak goyah saat melihat matanya yang hampir menangis. Maxilian bahkan tak mengijinkannya menginap malam ini. Jangankan menginap, menyentuh ujung jarinya saja tidak. Terlihat jelas rasa jijik yang terlintas di mata maxilian untuknya, namun ia masih berusaha untuk tak mempercayainya.


Maxilian adalah kekasih masa kecilnya. Dan kali ini ia akan memberitahu dunia bahwa hanya dia yang pantas bersanding dengan Maxilian. Nama maxilian juga akan membuat karirnya melejit. Namanya makin gemilang di dunia entertaiment. Dan dia akan menjadi ratu dalam keluarga Lunox yang kaya raya dan seluruh dunia akan ada dalam genggamannya. Membayangkan itu membuatnya makin berapi-api. Namun niatnya menciut saat melihat bahwa Maxilian terlihat tak tertarik sedikit pun dengannya.


Dia bangkit dan menghentakkan kakinya. Melangkah maju untuk mendekati Maxilian. Dengan gerakan cepat ia langsung mencium maxilian dengan lembut. Namun hal yang ia dapatkan adalah sebuah penolakan. Maxilian bahkan tak membuka bibirnya dan membiarkan lidahnya masuk. Maxilian bahkan mendorong tubuhnya hingga harga dirinya terluka.


Lusi tak menyerah. Ia kemudian duduk di pangkuan maxilian, meraih lehernya dan kembali mengambil alih bibirnya. Ia memaksa agar maxilian membalas ciumannya, namun lagi-lagi sebuah penolakan ia terima. tak peduli seberapa keras usahanya, maxilian tetap mendorong tubuhnya menjauh.


Hingga terdengar suara keras pintu terbanting. Membuat maxilian tanpa sadar berdiri dan langsung memeriksa sekitar. Dan tubuh Lusi yang tengah berada di pangkuan Maxilian pun jatuh ke lantai.


"Lian!" bentak lusi terkejut. Dia sungguh tak terima.


Maxilian melangkah tiba-tiba dan membuak pintu ruangan. Memeriksa sekitar namun hasilnya nihil. Tak ada siapapun disana. Kembali menatap Lusi yang telah berdiri. Dia mengacungkan jarinya tanda peringatan.


"Hari ini aku akan membiarkanmu. Namun tidak lain kali. Lusi, perbaiki tingkahmu atau Aaron akan tahu segalanya."

__ADS_1


"Lian!"


"Satu lagi. pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi!"


__ADS_2