Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Janet Berulah


__ADS_3

Sembari nungguin anak ekstra pramuka di sekolah. Bismillah..


**************


Maxilian tertegun mendengar jawaban Julia. Matanya menatap Julia penuh tanda tanya. Gadis ini, dari mana ia tahu bahwa cincin pernikahan milik ibunya sangat sederhana dan kini tengah berada di tangannya. Bagaimana gadis ini bisa tahu hal-hal yang ia simpan rapat dengan mudah? Apakah istrinya ini diam-diam menyelidikinya? Atau neneknya yang memberitahunya? Tapi cincin ibunya bukanlah hal yang bisa dipermainkan oleh gadis sepertinya.


Rose mengeratkan genggaman tangannya tanpa sadar. Kata-kata Julia bagaikan petir yang menyambar tubuhnya. Cincin pernikahan ibu Maxilian itu haruslah tetap tersimpan rapi. Tapi kenapa gadis seperti Julia bisa mendapatkannya? Semakin dia banyak mendengar, semakin ia tahu posisi Julia di hidup Maxilian. Dan itu makin membuat sakit di hatinya.


'Julia Brasco, kau harus kusingkirkan. Kau harus mati! Maxilian hanyalah milikku!' tekan Rose dalam hati.


Di tengah suasana yang tegang, tiba-tiba handphone Julia berdering. Dia mengalihkan tangan dan tatapannya pada layar segi empat yang berada dalam tasnya. Tanpa melihat tatapan seluruh orang, dia mengangkat teleponnya tanpa suara.


"Julia, apa kau mendengar tangisan wanita ini?"


Tubuh Julia membeku saat suara tangisan wanita yang dikenalnya mendominasi telinganya. Matanya menyala penuh waspada dengan amarah menggelora. "Apa yang kau lakukan padanya?"


"Jika kau ingin Maria selamat, maka kau harus datang menjemputnya. Aku akan mengirimkan lokasinya, namun pastikan kau tak memberi tahu siapa pun. Atau Maria akan mati pelan-pelan."


Telepon itu tertutup dan wajah Julia berubah pucat. Bibi Maria, kini tengah berada di tangan Janet dan sedang menangis pilu. Jika dia tak datang, maka bibinya sudah pasti tak selamat. Dia tak bisa membiarkan bibinya di tangan Janet.


"Kakak ipar, ada apa?" tanya Carlen ingin tahu karena terkejut melihat perubahan wajah Julia.


Julia berdiri dengan raut wajah putus asa. Ketenangan yang biasa ia tampilkan kini hilang digantikan dengan rasa ketakutan, Tangannya dengan cepat meraih tas nya. Sebelum dia melangkah, handphone nya bergetar sekali lagi. Membuat jantungnya seakan teremas kuat.


"Julia," panggil Maxilian ingin tahu.


Tapi Julia tak peduli. Dia berlari dengan sangat cepat dari ruangan dan langsung masuk ke sebuah taksi. Melihat hal itu Maxilian ikut berdiri, tapi tentu saja ke empat sepupunya tak akan mudah diatasi.


"Sepupu, dia membawa lari sepatu mahal yang kau belikan?" tegur Harvey dengan tenang.


Rose tersenyum, "Apakah sesuatu terjadi? Tapi sepupu, bukankah kau harus lebih khawatir pada nenek?"

__ADS_1


Maxilian menoleh, "Apa maksud kalian?"


Carlen menepukkan tangannya dengan raut senang. "Ah, mungkin kakek juga harus kau khawatirkan."


"Kalian menyentuh mereka?" tanya Maxilian dingin. Ada kilatan penuh peringatan yang tampak di matanya.


Rose tertawa. "Kenapa sepupu tidak pulang dan memastikannya?"


Maxilian mendengus dan melangkah. Dia menatap ke depan dengan penuh permusuhan. Saat keluar dari gedung, tangannya jelas menghubungi seseorang. "Jeni, hancurkan gedung yang baru kutinggalkan."


Di ujung telepon Jeni tertegun. "Bo--Bos, tapi nona muda--"


"Abaikan dia," Jelas Maxilian tenang, "Dia tahu hal apa yang harus dia lakukan."


Setelah itu dia menutup teleponnya cepat.Maxilian menatap lurus dan masuk ke dalam mobilnya. Matanya menatap arah Julia pergi. Ada banyak hal rumit di matanya, namun saat ini ekspresinya terlihat lebih waspada.


Dia tak mengerti mengapa semua sepupunya bertindak diluar batas kewajaran. Dan juga musuh-musuh Julia, mereka makin nekat. Dia bisa melihat kemarahan di mata Julia sebelum tergantikan dengan kecemasan. Lalu gadis itu tampak dingin dengan tatapan mata penuh dendam.


Jeni menatap kebakaran itu dari dalam mobilnya. Senyum tipis terukir di bibirnya dan dengan santai dia sedikit menoleh ke belakang. Sedangkan keramaian mulai memadat dan mobil polisi mulai berdatangan.


"Kalian tahu bukan, hal apa yang harus dikatakan?"


Tiga orang pria tengah duduk di belakang mengangguk patuh.


"Tak perlu khawatir bos," jawab salah satunya.


"Kebakaran terjadi karena aliran listrik yang konslet." timpa salah seorang lagi


Jeni tersenyum,"Kalian bisa keluar."


Tiga orang tersebut mengangguk, namun kemudian orang pertama berhenti dan menatap Jeni lekat.

__ADS_1


"Bos, bagaimana dengan nona Julia?"


"Nona Julia?" ulang Jeni memastikan. Pria itu mengangguk dan menunggu jawabannya. "Bos besar menyuruh kita tak mengawasinya."


"Tapi--"


"Itu perintah!" potong Jeni. Dia melirik tajam ke belakang. "ingat, kita dikontrak keluarga Lunox, jadi jangan banyak tanya. Pergi!"


Tiga orang tersebut akhirnya pergi, membuat Jeni menatap kebakaran gedung yang terletak seratus meter dari mobilnya. Asap hitam itu mengepul tinggi, membuat kota yang ramai kian padat menjadi kerumunan. Diam-diam dia tersenyum tipis, saat mengingat jati dirinya yang sebenarnya dan bagaimana keluarga Lunox menyelamatkannya.


Jeni adalah seorang buronan dari negara komunis, Keluarganya terbantai tak tersisa. Bertemu nyonya Mery yang begitu lembut dan penyayang membuatnya lepas dari kenangan buruk hingga bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Bahkan menjadi pemimpin di kelompoknya saat ini.


Dia memiliki orang-orang terlatih yang siap bekerja di bawah tangannya dan semua terkontrak oleh keluarga Lunox. Misinya untuk melindungi Julia jelas diketahui oleh semua bawahannya. Tapi saat ini keadaan sangat genting. Dia harus bergegas kembali sebelum Maxilian murka. Sedangkan Julia? Gadis itu, dia tak bisa berbuat apa-apa saat ini.


Awalnya dia berpikir bahwa nona mudanya yang satu ini, sangat berarti bagi tuan mudanya. Tapi saat tahu bahwa perlindungannya terputus saat Julia pergi terburu-buru dia jadi tahu, bahwa Julia tak begitu berarti. Meski begitu, dia bukan orang yang tak tahu terima kasih. Dia sangat tersentuh dengan sikap Julia yang memperlakukannya selayaknya teman. Tapi saat ini dia tak bisa melanggar aturan sang pemimpin. Jadi dia hanya bisa berharap Julia akan baik-baik saja.


Sementara itu, Julia baru saja sampai di sebuah rumah mewah dua lantai. Rumah dengan cat warna putih dan abu-abu itu terlihat sepi. Keadaan itu mengingatkannya pada rumahnya yang berada di cina. Bahkan mengingat semua rencana pembunuhan yang Aaron rencanakan untuknya. Membuatnya menggigil ketakutan namun juga penuh kemarahan.


Tak ada ekspresi apa pun yang terlintas di wajahnya untuk beberapa saat. Tapi di matanya jelas terlihat penuh dendam. Langkahnya pelan dan anggun, dia membuka pintu rumah itu pelan dengan kesuraman yang menusuk. Aroma debu dengan selimut kain tipis menutupi beberapa perabot di dalam ruangan itu. Bahkan beberapa sarang laba-laba menghiasi beberapa sudut di dalamnya. Seakan rumah itu lama ditinggalkan oleh penghuninya.


Matanya yang menatap pemandangan di sana, membuatnya tersenyum. Dia menatap ke atas, pada tangga tua yang tampak lusuh. Entah kenapa dia tak berminat untuk naik ke atas. Dia memilih berjalan, menarik salah satu kain putih dari sebuah sofa tunggal dan duduk di sana dengan tenang. Matanya menatap sekeliling, lalu dengan satu gerakan, dia menyandarkan punggungnya dengan santai.


"Keluarlah, aku sudah datang!"


hening! julia tersenyum tipis saat melihat tak ada siapa pun yang menjawab. Tapi dia tidak bodoh. Matanya menatap kembali pada anak tangga dengan lebih teliti. lalu pada lantai di bawahnya yang berdebu namun meninggalkan sebuah noda kental yang menggenang.


Minyak!


Di anak tangga hingga menetes jatuh ke lantai bawah!


Julia ingin tertawa, jika saja dia tidak tenang dan tak hati-hati mungkin dia saat ini sudah jatuh dan mati. Tulang-tulangnya patah dan lebih mengenaskan adalah tak ada yang tahu keberadaannya. Melihat rencana dangkal dan konyol itu, Julia tak bisa berhenti tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2