Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Masih Mencari


__ADS_3

Beberapa waktu selanjutnya, ia teringat dengan Ben. Dan tidak menunggu lama, ia menghubungi Ben.


"Kembalikan istriku!" ucapnya dingin dan penuh kemarahan saat teleponnya baru saja diangkat.


Ben mengerutkan kening tak mengerti. "Apa maksudmu?"


"Bukankah istriku pergi bersamamu!"


"Julia pergi? Tunggu dulu. Maksudmu adikku tak bersamamu? Apa kau gila! Bagaimana dengan bayiku? Apa kau menyakitinya lagi hingga ia melarikan diri darimu?"


"Kau yang gila! Dasar tak berguna!" maki Maxilian kesal sambil menutup teleponnya. "Enak saja dia menyebut anakku sebagai bayinya. Dia sudah bosan hidup rupanya."


Saat Maxilian menutup teleponnya, Ben tertawa keras. "Kau ingin mendapatkan adikku? Maka kau harus bisa menjadi pria yang patut dicintainya."


Sedangkan di tempat lain, Jack baru saja turun dari pesawat dengan sebuah tawa ringan. Sepanjang jalan ia hampir tak bisa menahan tawanya bila mengingat keadaan Maxilian saat ini. Saat ia melihat pesawat Julia lepas landas, maka ia pun segera mengajukan cuti dan memesan tiket tur liburan. Dia bahkan sengaja datang ke Indonesia agar Maxilian tahu bahwa ia sudah mengambil hukumannya.


"Kali ini aku akan melihat seberapa keras kau mencari istrimu dan mencari keberadaanku. Ah, aku sungguh bahagia dapat melihat wajah kejam itu berubah menjadi wajah kucing yang lucu. Mengeong merayu untuk mendapatkan makanannya. Hahaha, berkat Julia aku dapat menikmati hukumanku. Tunggu, apakah aku harus berkunjung ke cina juga? Lalu aku akan selfie bersama dengannya lalu akan kutunjukkan pada Lian. Oh Tuhan, cerdas sekali otakku. Baiklah, akan kupikirkan itu nanti."


**


Maxilian terus mencari jejak Julia tiap detik dengan memandangi cctv. Kepalanya tak dapat berpikir panjang saat ini. Dia hanya berharap mendapatkan petunjuk soal keberadaan istrinya. Hanna yang melihat keseriusan maxilian hanya menggeleng pelan.


"Apa kau belum menyadari kesalahanmu?" tegur Hanna dengan santai. "Jika aku menjadi jack, aku juga akan melakukan hal yang sama. Kurasa aku juga butuh liburan saat ini."


"Hanna."


"Ya, kakak sepupu." jawab Hanna tanpa beban.


"Keluar dari sini sekarang!"


Hanna bingung namun kembali duduk di hadapan Maxilian. "Kak, apa kau mengusirku dari rumahku sendiri?"


Maxilian tersadar namun tetap diam.


"Bebaskan dia, biarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan. Ini hanya saran."


Maxilian menoleh. "Ada banyak bahaya di luar sana. Aku tak akan membiarkan anakku terluka."


"Julia bukan anak kecil." balas Hanna cepat. Dan Maxilian langsung menatap tajam seakan tak suka dengan nada bicara Hanna.


"Dia bukan tahanan!"


"Aku tidak pernah menganggap dia tahanan."selanya dingin.

__ADS_1


"Tapi kau memperlakukannya seperti tahanan."


Maxilian kian mendengus dingin.


"Dia punya kehidupan. Dia punya keinginan. Dan dia berhak memilih jalan untuk bahagia. Bahkan dengan karirnya. Kau telah memutus jalannya hingga tak membiarkan ia berekspresi dan mengurung segala bentuk kreatifitasnya yang menjadi sumber kebahagiannya. Kau telah mengurungnya bagai burung dalam sangkar hanya untuk menjaga telur yang belum menetas. Lian, burungpun bisa pulang setelah dia meninggalkan sarangnya."


"Diam!"


"Jika burung yang kau pasung memiliki kesempatan untuk terbang bebas, maka dia tak akan melewatkannya. Namun setelah ia terbang tinggi, ia tak akan kembali lagi."


"Tidak! Julia tak akan melakukan itu!"


"Kenapa tidak? Ia bahkan tak mau melanjutkan pernikahan ini denganmu"


"Aku tak akan membiarkannya!"


"Dan dia akan terus lari. Lian, kau telah menghalangi jalannya. Kau bagaikan menggenggam butiran pasir. Semakin kau genggam erat pasir di tanganmu, maka kau akan makin cepat kehilangannya."


"Jika dia terus lari maka aku akan memotong kakinya!"


"Tidak! Dia tak akan pernah mau kembali! Tak akan!" ulang Hanna penuh penekanan.


"Aku pasti menemukannya dan membawanya pulang."


"Aku pastikan Julia tak akan kembali. Itu adalah anaknya. Dia berhak memilikinya sendiri. Bayangkan saja kalau dia memilih untuk memberikan nama keluarganya daripada nama keluarga Lunox di belakang namanya."


"Tidak boleh. Dia tak akan bisa selama aku masih hidup."


Hanna tertawa. "Kenapa tidak? Ibumu bahkan melakukan hal yang sama padamu dulu. Kenapa tidak dengan Julia? Laki-laki tak berperasaan sepertimu tak pantas menjadi seorang ayah."


"Hanna!!" teriak maxilian marah.


Hanna berjalan ke sisi pintu dan menatap maxilian tanpa takut. "Keluar!" usirnya. "Keluar dari rumahku sekarang juga."


Maxilian keluar dengan berat namun ia tak memiliki pilihan. Hanna menutup keras pintunya setelah Maxilian keluar. Lalu dengan cepat ia menghubungi Jack melalui salah satu media sosialnya.


"Di mana Julia?" tanya Hanna langsung.


"Apa Maxilian yang menyuruhmu?" jawab Jack dengan rasa bahagia dengan membayangkan pusingnya Maxilian mencari Julia.


Hanna mendengus. "Aku hanya akan berkata, dimanapun Julia berada, pastikan kau menutup akses untuk Maxilian bisa menemukannya. AKu di sini akan berusaha juga untuk membatasi jalannya. Kuharap kerja samamu."


Jack tercenung. "Apakah kau mampu?"

__ADS_1


Hanna tersenyum. "AKu tak akan mampu, tapi aku yakin kakek dan nenek mampu melakukannya."


Jack merasa permainannya makin seru. "Itu bagus. Dia ada di cina. Tutupi semua hal yang menyangkut tentang keberadaannya."


Hanna tersenyum saat lokasi Julia telah ia ketahui. "Kau bisa berlibur dengan tenang sekarang. Nikmatilah.."


Setelah telepon di tutup, Hanna segera menyambar tas jinjingnya menuju rumah utama keluarga Lunox untuk menemui kakek dan neneknya. Dia menceritakan semua hal yang telah maxilian katakan dan segala perlakuan Maxilian terhadap Julia hingga Julia memilih untuk pergi. Dengan ekspresi yang berlebihan dan sedikit memainkan nada bicara, Hanna dapat meyakinkan kakek dan neneknya. Tidak butuh waktu lama, hingga membuat kakek dan neneknya berdiri di pihaknya.


Lucas segera mengambil alih semua tugas pengawal tanpa sepengetahuan Maxilian. Apapun informasi yang pengawal dapatkan, akan berada di tangannya segera. Lucas akan memberikan perintah untuk pengawal itu memberikan informasi yang berbeda dari yang seharusnya kepada Maxilian. Seluruh jalan yang Maxilian tempuh telah dibatasi. Dan maxilian benar-benar telah kehilangan istrinya.


**


Julia berjalan dan menatap pintu rumahnya yang masih tertutup. Ia mengangkat kunci di tangannya dan menghela nafas berat.


"Huh, untuk apa aku memiliki kunci jika semua orang bisa masuk ke rumah ini. Aaron saja bisa masuk ke rumah ini kapan saja dia mau."


Dia membukanya pelan, udara segar di rumah itu ternyata menyesakkan dadanya. Tanpa sadar air matanya berurai. Memandang seluruh ruangan ini, membuatnya teringat semua kenangan hingga rindu begitu menyeruak.


"Ayah, ibu, aku pulang." ujarnya lirih.


Dia masuk melewati beberapa ruangan dan mendapati kekecewaan saat tahu hampir seluruh isi rumah itu telah berubah. Tak ada lagi foto keluarganya. Hanya ada foto Lusi dan Aaron yang tampak bahagia. Tanpa sadar hal itu membuatnya makin marah.


"Lusi, kau ingin merubah takdirmu hingga merenggut nyawaku dan mengemis cinta di depan Maxilian."


Melangkah ke lantai atas, ia menaiki tangga dengan sangat pelan. Berjalan tanpa meninggalkan suara. Dia mendapati sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka. Tangisan kesakitan dan er*angan terdengar jelas. Membuat Julia tersenyum, membuka pintu kamar itu dengan hati-hati dan melihat ke dalam dengan dingin.


Itu Lusi, yang tengah disetubuhi Aaron dengan paksa. Mencoba melarikan diri namun Aaron telah berhasil mengikat tangan gadis itu. Gadis itu meraung dan histeris karena kesakitan. Sedangkan Aaron nampak semangat dengan tatapan lapar. Pria itu bahkan sesekali menampar wajah Lusi dengan keras dan memanggil Lusi dengan sebutan binatang.


Melihat ketidakberdayaan Lusi, Julia tersenyum puas. Rasa sakitnya terobati saat dia membayangkan bagaimana kedua pasangan itu menghabiskan malam panjang selama beberapa hari di rumah ini. Dia ingin melihat reaksi Lusi saat dia tahu bahwa Aaron telah mengidap penyakit menular. Ia ingin tahu bagaimana hancurnya Lusi. Lewat tangan kekasihnya sendiri, hidupnya telah hancur berkeping-keping.


"Lusi, bagaimana rasanya mengetahui bahwa orang yang kau cintai telah menghancurkan seluruh hidupmu bahkan perlahan akan membunuhmu? Bukankah ini yang kau lakukan padaku? Tenang saja, aku tak akan sekejam itu padamu. Aku akan membiarkanmu pelan-pelan manikmati tiap detik penderitaanmu sebelum ajal menjemputmu."


Julia menarik tipis bibirnya saat Lusi tanpa sengaja mendapati dirinya menonton semuanya. Gadis itu berusaha berteriak meminta tolong. Semakin memberontak namun hal itu membuat Aaron makin ganas. Membuat Julia puas lalu menutup kembali pintu kamar lalu menguncinya pelan.


"Lusi, selamat bersenang-senang. Bukankah itu yang sering kalian lakukan dulu di belakangku? Nikmatilah kebersamaan kalian hingga maut menjemput kalian bersama."


Berjalan turun hingga akhirnya keluar dari rumah itu dan menyusuri jalanan bebas kota cina. Sengaja menyewa mobil dan berkeliling kota untuk menyambangi seluruh keluarga ayah ibunya di berbagai tempat. Namun semakin ia mencari, semakin ia tertegun dan lemas.


Tak ada satupun keluarganya yang tersisa.


Aaron dan Lusi telah benar-benar menghabisi mereka semua.


Julia menangis histeris. Berteriak tak terima hingga pada akhirnya berakhir di sebuah rumah duka. Dia menatap rak besar berisi foto keluarganya. Tap peduli siapa yang menempatkannya di situ, namun ia masih bersyukur mereka mendapatkan tempat yang layak. Dengan air mata yang mengalir deras, dia menunduk dalam.

__ADS_1


"Ayah, ibu, aku pulang. Maaf baru berkunjung. Apakah kalian terkejut? Tak peduli siapa aku, aku tetaplah putri kalian. Kali ini aku tak datang sendiri. Aku datang bersama cucu kalian. Ayah dan ibu pasti senang. Aku akan menjaganya dan mendidiknya menjadi orang yang hebat. Dan aku akan sering membawanya kemari menemui kalian. Jadi bahagialah di sana sekarang. Karena aku juga akan bahagia di sini untuk kalian. Aku mencintai kalian."


__ADS_2