Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Lamaran Dadakan


__ADS_3

Sedikit intermezo


Selamat pagi,siang,sore atau malam untuk para pembaca. Minggu-minggu ini hari terberat bagi penulis. Suami sakit, antri kamar inap di rumah sakit dua hari belum dapat juga. Akhirnya kami pulang lagi dan berusaha rehat di rumah saja. Kebetulan walaupun kami stay di kota kecil di pulau Jawa, Tapi jujur fasilitas kesehatan di sini sangat kurang menurutku yang sudah terbiasa stay di kota besar. Tidur ga nyenyak krn terus memantau kesehatan suami, takutnya pingsan tanpa sepengetahuan orang. Setelah empat hari menjalani hari yang penuh kewaspadaan, akhirnya sekarang sudah bisa bernafas lega. Tapi sayangnya belum sehari bahagia, mendung datang lagi. Sekarang gantian anak yang demam tinggi dan muntah. Plus kemarin jari tanganku teriris pisau.


Mau ngetik susah banget karena jari sakit. Belum lagi masih memantau anak sakit dan suami yang dalam masa pemulihan. Baca komen antusias kalian semua, jujur penulis sangat bahagia. Menjadikan lokomotif untuk penulis agar lebih semangat lagi. Ngetik ini tu rasanya snut snut.. hiks tp ditahan demi kalian semua. Love u all...


**


Julia mengedipkan matanya dua kali, dia menatap Hendri dan Janet bergantian. Ada ekspresi sedih di sana, dengan mata berbinar penuh harapan. Itu membuat wajah mungilnya sangat menggemaskan. Membuat semua mata yang menatap terpana tak percaya.


"Jason, bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan pada ayahmu, jika ayahmu menuntut pamanku dan Janet?" Tanya Julia tiba-tiba dengan tangan bergerak menarik ujung jas Jason. Gerakan itu sangat pelan dengan hentakan kaki ringan yang sangat manja dan terlihat seperti anak kecil yang ketakutan. Tapi semua orang di sana yakin, bahwa hal itu bukanlah inti dari apa yang telah terjadi.


Jason cukup terkejut saat melihat ekspresi tersebut. Terlebih saat wajah cantik itu menunduk seakan ketakutan dengan menarik ujung jas nya pelan. Suara hentakan kaki yang lembut itu menggelitik hatinya. Dia tak bisa tak tertawa, tapi juga terhibur dengan semua. Tapi, dia tak bisa mengeluarkan tawanya, jadi dia hanya terbatuk ringan dan berkata. "Yah, apa yang bisa kulakukan juga. Ayahku pasti akan menuntut mereka. Kau lihat, aku terluka."


"Jason," panggil Julia lembut. "Apakah mereka akan di penjara? Bisakah kau tak memperberat tuntutanmu hingga hukuman mereka tak terlalu berat?"


Semua orang tampak terpaku saat nada manja Julia terdengar sekali lagi. Di antara mereka bahkan sudah ada yang tertawa pelan. Melihat hal apa yang Julia katakan, mereka semua tak bisa bergidik ngeri. Nona muda di depan mereka, terlihat manja dan seakan perduli tapi nyatanya semua kata-kata yang keluar hanyalah memicu penjelasan tentang semua hal yang akan terjadi kemudian.


Tomas yang berdiri tidak jauh tampak sangat terhibur. Dia tak bisa tak melebarkan bibirnya membentuk senyum yang cukup tampan di wajahnya. Dia telah melihat banyak wanita di dunia, tapi dia belum pernah melihat wanita  yang bisa membalikkan fakta dan bersandiwara dengan sangat baik di depan semua. Gadis ini terlihat sangat peduli namun nyatanya mengantarkan kematian pada dua orang yang telah menyakiti perasaannya. Benar-benar unik dan menarik.


"Mendapati pertanyaan yang manja tersebut, Jason tampak berpikir sejenak. Lalu menggelengkan kepalanya. "Mereka menipumu juga menyakitiku. Bukankah mereka harus di penjara?" Tanyanya datar tanpa memiliki ekspresi peduli di wajahnya.

__ADS_1


Jason hanya melihat mata Julia yang berkilauan lalu pada ekspresi sedih yang hambar. Lalu ekspresi sedih itu berubah cepat di depan matanya menjadi ekspresi dingin yang tak menyimpan kepedulian. Sangat dingin, terluka dan penuh kesepian. Membuatnya berpikir dalam dengan semua pertanyaan yang mulai berdatangan. Gadis di depannya ini, ada berapa banyak emosi yang coba disembunyikan. Kenapa gadis ini tak mengijinkannya untuk membaca semua emosinya?


Julia menoleh ke belakang, menatap Hendri dan Janet yang tampak pucat. Dia kembali menatap Jason dan menyeringai. "Kuharap kau memenjarakan mereka seumur hidup!"


Usai mengatakan itu Julia menatap para anggota keamanan. "Kalian, seret Janet keluar dari sini! Kantorku bukan panggung sandiwara untuknya. Bisa-bisanya dia mengaku sebagai diriku dan berniat mengacaukan perusahaanku!"


"Julia!" sela Janet tak terima. Tubuhnya hampir melompat tinggi menggapai Julia, namun Hendri menahannya. "Lepas ayah! Biarkan aku memberinya pelajaran! Bagaimana bisa dia memperlakukanku seperti sampah! Bagaimana dia bisa mengusirku di hadapan semua orang! Ayah, ayah, ayah.."


Hendri menatap Julia tajam dan mendengus pelan, menahan tubuh putrinya sekuat tenaga. "Julia, kau akan menyesali hari ini!" Langkahnya menjauhi ruangan tanpa menunggu anggota keamanan mendekat. Dia menarik Janet yang terus saja memberontak tak ingin pergi.


Julia mengangguk tanpa ragu. "Paman, katakan itu setelah kau selesai berurusan dengan pengacara keluargaku."


Sepeninggal Hendri, rapat pemegang saham kembali di mulai dengan Jason yang selalu membimbing Julia untuk mengambil semua tindakan. Dia banyak menceritakan hal agar Julia mengerti tentang bisnis. Dan hal itu tak luput dari penglihatan Tomas. Dia menggerakkan matanya tajam tanpa beralih meski rapat pemegang saham baru saja selesai. Semua orang keluar dari ruangan, menyisakan dirinya, jason, dan Janet di sana.


Tuanku ingin menikahimu


Tuanku ingin menikahimu


Kata-kata itu terus saja berulang di kepala Julia dengan sangat jelas. Kesadarannya seakan kosong lalu tiba-tiba terisi penuh. Tawa Julia meledak kemudian, menyisakan tatapan mengejek. "Maaf tuan, apa kau yakin pada kata-katamu?"


Sedangkan Jason tiba-tiba menegang. Pertanyaan itu sangat sensitif di telinganya karena mengingatkan lamaran Julia untuknya. Sontak hal itu membuatnya meneliti ekspresi wanita di sampingnya. Dia ingin tahu jawaban serta bagaimana Julia menanggapi lamaran ini.

__ADS_1


Mendengar tawa Julia, Tomas tersenyum. "Nona, kau tak akan menyesal menikahi tuan mudaku. Dia adalah seorang yang sempurna. Dan dia ingin menikahimu. Kau akan menyesal jika tak menerima tawaran ini."


"Oh benarkah?" tanya Julia di sela tawanya. Dia mengetukkan ujung jarinya beberapa kali di atas meja. Dia menghentikan tawanya lalu menatap tajam Tomas. "Kau pikir pernikahan itu sebuah mainan? Kau bilang dia sempurna bukan? Tapi tuan, kau lupa satu hal. Tuanmu yang sempurna, belum tentu cocok untukku. Bagaimana jika dia tak cocok untukku."


Ada senyum sinis yang terukir tipis. Julia tak tahu siapa tuan muda yang pria ini bicarakan untuk melamarnya. Tapi dia tahu satu hal, pria tampan di hadapannya ini, adalah orang kepercayaan dari pemegang saham terbesar saat ini. Meski dia tak bisa menyinggungnya, tapi jika untuk kehidupannya yang berharga, maka dia juga tak akan segan.


Tomas tersenyum tipis, kesombongan Julia telah menyentil sudut hatinya. "Nona, apakah kau tahu siapa tuan muda yang aku layani? Kau berani mengatakan bahwa tuan mudaku tak cocok untukmu tanpa berpikir panjang. Itu bukankah berarti kau baru saja menolak lamaran ini?"


Julia tertawa lagi. Pria di hadapannya ini sepertinya juga tak mudah dihadapi. Dia melirik Jason sekilas yang menatapnya lalu beralih menatap Tomas lagi. "Apakah itu penting? Siapa tuan mudamu, aku tak ingin mengetahuinya. Tapi, kurasa aku bukanlah orang yang bisa kau tekan hanya karena sebuah pernikahan."


Tomas menepukkan tangannya semangat. Dia merasa calon nona mudanya sangatlah sombong dan tegas. Tak membiarkan orang lain menekannya meski tanpa berpikir. panjang. "Nona, aku akan menyampaikan semua hal yang kau sampaikan. Tentang kesusahanmu sesudahnya, aku menganggap itu sebagai proses untuk jalanmu menuju rumah utama keluarga kami."


Menuju rumah utama keluarga kami? Menggelikan!


Julia tak bisa berhenti tertawa dalam hati, pria di hadapannya ini benar-benar tak tahu malu! Bagaimana mungkin pria itu menyebut kesusahan selanjutnya adalah jalannya menuju rumah utama keluarga mereka. Lagipula siapa yang akan datang ke rumah utama keluarganya. Dia sangat yakin, bahwa dia tak akan datang ke rumah utama apa lagi menjadi nyonya dari keluarga mereka.


"Kita pulang," ajak Jason tiba-tiba.


"Hmm," jawab Julia sambil berdiri. Dia mengikuti Jason yang mulai melangkah dari belakang, sebelum akhirnya langkah Tomas sejajar dengan langkahnya. Dia mengernyitkan keningnya saat Tomas tersenyum lebar.


"Nona, cobalah kau pikirkan. Atau kau tidak ingin tahu terlebih dahulu siapa tuan mudaku? Dia tak seburuk seperti yang ada dalam pikiranmu. Dia,,"

__ADS_1


"Aku menolak!" potong Julia dingin.


"Nona, kau bisa memiliki saham tuan mudaku di perusahaan ayahmu ini. Itu tidak sedikit tapi tiga puluh delapan persen. Jika itu juga menjadi milikmu, maka bisa dipastikan kau adalah pemegang suara utama yang mutlak."


__ADS_2