
"Apa!" bentak Julia menantang. Dia bahkan sudah setengah berdiri dengan bertumpu pada dua lututnya. Menunjuk Maxilian dengan berani. "Biar kujelaskan padamu, kamu itu harus segera konsultasi ke psikiater. Penyakit jiwamu itu sudah akut. JIka kau tak segera melakukan itu aku akan malu nantinya, karena mempunyai suami sakit jiwa. Kau sepertinya tak menyadari bagaimana dirimu sendiri. Dan apa itu tadi? Hidup bersama selamanya? Hah..kepalamu sepertinya terbentur. Mari aku benturkan kepalamu sekali lagi."
"Pelankan suaramu." peringat Maxilian dingin.
"Kini kau menyuruhku diam? Wah kau benar-benar menyebalkan. Dengar ya, di mataku sudah terlalu banyak pria tampan yang sudah banyak kutemui. Aku mengenal beberapa pria tampan tapi sayang sekali tak ada satu pun dari mereka yang membuatku jatuh hati. Kini kau mengatakan aku menggodamu? Dengan apa aku menggodamu?Bahkan jika kau membuka seluruh pakaianmu di hadapanku, kau tetap terlihat berlemak di mataku."
Duar! itu seperti gunung meletus tanpa peringatan. Tatapan Maxilian menajam dengan penuh kebencian. Lagi-lagi hinaan itu didengarnya. Gadis seperti Julia telah berani menghina harga dirinya tanpa sungkan. Membuatnya lupa diri dengan rasa jijik yang baru saja ia rasakan. Ia berpikiran untuk segera memberi gadis ini pelajaran.
Nafas Julia terengah engah sampai membuat dadanya naik turun. Membuat tubuhnya yang hanya tertutup kain tipis itu terekspos. Dia tak menyadari sebelumnya hingga jemari yang tadinya teracung di depan wajah Maxilian, telah ditarik dengan paksa.
"Ah."
Maxilian menarik tangan Julia dan langsung membalikkan tubuhnya hingga akhirnya gadis itu berada tepat di bawah tubuhnya. Emosinya tersulut dengan tatapan penuh lahar api yang meletus. Hal itu membuat Julia terkejut hingga suaranya tercekat di tenggorokan.
"Meski aku membuka seluruh pakaianku? Julia Brasco, apa kau sadar dengan kata-katamu?"
Julia tersadar, matanya berkedip sekali menampilkan bulu matanya yang lentik. Belum sempat bibirnya yang terkatup terbuka, suara dingin itu jatuh menimpali lebih dulu.
"Bukankah sudah kubilang jaga kata-katamu di sini karena kita sedang diawasi."
"It-itu.." ucap Julia ragu. Dia benar-benar melupakan semua itu karena tak bisa menahan kendali.
"Kau sering melihat pria tampan lainnya? Siapa? Apakah salah satu dari dua pria yang bertengkar konyol untukmu? Katakan padaku? Agar aku bisa mengukur pria baik menurut pandanganmu."
"Itu," benar, siapa yang akan dia jadikan poros sebagai pria terbaik untuknya? Aaron? atau para artis dan model kenalannya saat dia menjadi Angel? Tapi kini dia bukanlah Angel. Dia hanya gadis lugu yang tak tahu dunia luar. Gadis pemalu yang tak pernah memiliki circle pertemanan elite. Apakah dia harus menyebutkan nama mereka semua?
"Itu bukan urusanmu!" sambut Julia dingin setelah tak dapat mengatakan semua.
"Julia, kau benar-benar wanita yang sulit di prediksi. Aku sudah menyelidiki semua tentangmu. Jika kau menyebutkan satu saja nama pria, maka bisa kupastikan kehancurannya dan seluruh keluarganya."
"Kau melakukan semua itu untukku? Wah aku sangat tersanjung."
"Apa kau bangga? priamu ini mencoba melindungimu dari godaan pria lain." ujar Maxilian sarkastik. Dia mencoba menahan tangannya untuk meremukkan tulang tangan Julia. Melihat gadis di bawah tubuhnya itu tiba-tiba tersenyum, perasaannya menjadi buruk.
"pff." tahan Julia. Dia hampir saja meledakkan tawanya jika tak sadar Maxilian tengah menatapnya. "Apa aku pernah meminta hal itu tuan Maxilian? Kau terlalu berlebihan."
__ADS_1
Hembusan nafas itu menyapa wajah Maxilian dikala tawa Julia tertahan. Dia menatap leher Julia yang masih menimbulkan bekas. Lalu turun pada dada putih yang membusung. Tersenyum tipis, tiba-tiba tangannya bergerak menyentuh tulang selangka lalu turun menuju dada.
"Damn! Maxilian apa yang coba kau lakukan!" pekik Julia waspada.
Jemari Maxilian tertahan dengan mata yang menatap bibir merah di bawahnya. "Kenapa? Bukankah kau sering mengalaminya? Di sini, di sini, atau di--"
Jemari Maxilian mulai mendekati dada, matanya tampak berkilat penuh minat saat melihat kulit putih yang lembut namun segar. Satu tangannya yang lain meraba perut rata di bawahnya sekilas, lalu tiba-tiba berpindah ke paha mulus dan kian bergerak ke atas dengan lamban.
"Kau gila!" maki Julia tak tertahan. Dia memberontak dan berkali-kali ingin memukul Maxilian.
Api kemarahan terpancar di wajah Maxilian dengan jelas. Tangannya dengan cepat menahan tangan Julia kuat. "Kenapa? Bukankah kau sering mengalaminya? Ataukah mereka lebih buas?"
Julia tertegun. Sudah cukup semua hinaan! Dia menarik tangannya namun tak mendapatkan hasil. Tangannya tetap dalam genggaman kuat tangan Maxilian. "Kau pikir aku serendah itu? Aku tak semurah itu untuk menjual keperawananku! Tidak akan. Terlebih pada pria sepertimu."
Bibirnya bergetar penuh penekanan. Matanya yang biasanya tenang kini menampakkan luka mendalam. Membuat mata hitam bening itu mengeluarkan kristal-kristal bening yang mengalir ke pipi. Meski begitu, dia tak mengeluh.
Melihat air mata itu, tatapan Maxilian meluruh. Tangannya tanpa sadar melepaskan tangan Julia yang ia genggam. Dan tubuhnya dengan sigap beralih ke samping. "Itu..aku--"
"Jika kau berpikir aku sama seperti gadis-gadis yang kau temui di club malam, maka maaf kalau mengecewakanmu. Kau bisa mencarinya di luar dan kita bisa segera mengakhiri pernik--"
Cup! ucapan Julia terhenti saat tiba-tiba Maxilian mengecup bibirnya. Dia mematung dan kembali menatap Maxilian yang tengah terbaring santai.
"Tapi,"
"Tidurlah, sudah malam."
Julia bingung mendengar suara lembut Maxilian. Pria itu bahkan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Lalu pergi begitu saja meninggalkannya sendiri di kamar.
**
Sementara itu di sebuah apartemen, Sely menatap bayangannya di depan cermin. Menyisir rambutnya dengan tatapan kosong. Ini belum genap satu hari setelah pertemuannya dengan Maxilian. Tapi wajah dingin pria itu datang menghantui ingatannya. Lengkap dengan rasa malu luar biasa.
"Apakah aku kurang cantik? Ataukah aku melakukan kesalahan?" ucapnya tanpa sadar mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
*Flashback*
__ADS_1
"Maxilian."
"Sely."
Senyum lembut pada wajah tampan itu mengalihkan dunianya. Dia menggenggam tangan besar itu dengan rasa penasaran yang menyelimuti dirinya. Tak berniat melepaskannya, dia mencoba bersikap manis dengan memberikan senyum terbaiknya untuk menyedot perhatian Maxilian.
Awalnya masih terlihat baik-baik saja, pria ini menyambut jabatan tangannya dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya.
"Aku salah satu teman terbaik Julia." ungkapnya dengan senyum malu-malu. "Tapi aku sama sekali tak tahu bahwa dia sudah menikah. Dia tak memberi tahu apa pun tentangmu, jadi maaf jika aku tak mengenalmu dari awal."
Bersikap lembut dengan menonjolkan karakter terbaiknya sebagai sahabat Julia namun menggulirkan kesalahan pada Julia sekaligus. Sely benar-benar telah memikirkan semua dengan matang. Dia ingin memberitahu pria itu bahwa Julia tidak mengumumkan kabar bahagia itu sehingga sahabat dekatnya sendiri tidak tahu, apalagi orang lain.
maxilian memaksakan senyumnya. Dia melirik Sely sesaat kemudian beralih pada Julia yang diam-diam keluar dari ruangan itu. Gadis itu, apa yang telah ia rencanakan? Dia ingin mengejar pada awalnya, tapi saat melihat Sely mengajaknya sedikit bicara, dia mengurungkan niatnya.
"Aku tak suka terlalu di kenal banyak orang."
Mendengar jawaban itu Sely mendongak. "Oh, tapi kini aku mengenalmu." Ungkapnya dengan senyum manis. Sosoknya tampak cantik dan ramping dengan dua pipi merona alami. Dia benar-benar seperti seorang putri. "Tapi kau tak perlu khawatir, Julia tak pernah pergi keluar sembarangan. Dia sangat polos dan lugu. Pertemanannya sangat sedikit dan yang kutahu dia hanya mencintai seorang pria. Tapi kini aku melihatnya menikah dengan pria yang berbeda." Lagi-lagi dia memainkan karakter lugunya. Dia menyuarakan tentang kepolasan Julia sekaligus menambahkan hal buruk tentangnya. Bahkan dengan sengaja menyebut pria lain yang dicintai Julia untuk menarik minat Maxilian agar dapat merenggut perhatiannya. Dia ingin melihat dimana letak menariknya Julia di mata Maxilian.
Maxilian menatap Sely dengan datar. Senyumnya berubah menjadi katupan rapat. Dia terlihat tak berminat dan merasa kian bosan dengan celotehannya yang tak penting. "Aku mengenalnya lebih dari siapapun."
"Itu," ungkap Sely ragu.
Sely sebenarnya tak menduga jawaban Maxilian. Terlebih nada ketus dengan sorot mata dingin yang menusuk. Tak ada lagi senyuman di sana, kecuali tatapan datar tak bersahabat. Hal ini cukup membuatnya terkejut dan tertegun melihat sikap Maxilian yang berubah setelah Julia pergi meninggalkan ruangan itu. Tidak, mana mungkin perkiraannya benar. Pria ini ramah padanya hanya saat di hadapan Julia.
"Apa ada lagi yang mau kau bicarakan? Aku akan menyusul istriku."
"Tunggu.."
Sely tanpa sadar memegang tangannya untuk menahan Maxilan pergi. Langkah lebar Maxilian membuat tubuh Sely terputar menjadi sedikit oleng dan akhirnya tubuhnya terjatuh tepat di atas tubuh Maxilian yang mencoba menahannya.
Hening! Sely tersenyum penuh arti saat hal ini membuat jaraknya makin dekat dengan pria tampan yang kini masih memegang pundaknya agar tetap stabil. Aroma parfum lembut menyapa indera penciumannya hingga dia merasa hal itu bukan masalah pada awalnya. Berharap bahwa kali ini suara penuh kekhawatiran menyapa telinganya.
"Apa kau selalu bertindak serendah ini?"
ucapan Maxilian yang tiba-tiba itu begitu menusuk telinga dan hati Sely. Tubuhnya menegang saat remasan pundaknya terasa menyakitkan. Pria itu telah meremas kuat pundaknya bahkan mendorong tubuhnya untuk menjauh. Dia terhuyung, dan terkejut bahkan tak bisa melakukan apa-apa selain menatap pria tampan yang kini tengah membersihkan pakaian kerjanya.
__ADS_1
"Sangat menjijikkan."
Itu adalah kata-kata terakhir yang Sely dengar sebelum Maxilian pergi meninggalkan ruangan itu. Tubuhnya sontak luruh ke lantai dengan debaran jantung yang kuat. Dia bahkan merasa tak memiliki kekuatan hanya untuk sekedar menopang tubuhnya. Perlahan air matanya menggenang dan luruh perlahan. Dia menoleh dan mengamati ruangan itu telah kosong selain dirinya. Pria itu.. pria itu telah menghina dirinya!