Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Misterius


__ADS_3

Di kursi belakang sebuah mobil BMW warna hitam, Maxilian duduk dengan tenang tanpa ada yang bicara. Mobil itu melaju membelah jalanan kota Las Vgas sore ini tepat setelah jam kantornya. Tomas yang tengah mengemudi tampak diam setelah melihat raut wajah dingin tuan mudanya. Suasana hening dan dingin yang tercipta di sekitar membuat Tomas sedikit tertekan.


"Sore ini nona melakukan perawatan tubuh yang sempat tertunda sejak dua minggu yang lalu tuan." Cerita pembuka Tomas sajikan untuk mencairkan suasana. Dia melirik ekspresi tuan mudanya yang datar dari balik kaca di atas kepalanya.


Maxilian tampak tak terusik. Seakan kabar yang Tomas berikan tak penting baginya. Namun meski begitu, bibirnya yang terkatup rapat akhirnya terbuka dan mengeluarkan suara, "Pagi ini,"


"Nona pergi ke kantor polisi untuk menemui sepupunya terkait kasus penusukan yang sempat menyeret nama nona."


Tatapan Maxilian bergeser. Ingatannya berputar pada kejadian beberapa hari yang lalu. Di mana ia melihat seorang pria cukup tampan tengah membela Julia mati-matian. "Pria itu,"


"Namanya Benjamin Casson. Anak satu-satunya dari seorang dokter yang bernama Samuel Casson. Mereka adalah saudara dari mendiang ibu nona Julia."


"Apa yang mereka bicarakan?" Tanya Maxilian ingin tahu."


"Nona hanya memberi tahu bahwa nona tak akan menolong tuan Benjamin."


"Apakah dia tak berpikir untuk mengeluarkan saudaranya dari penjara?"


"Saya melihat pengacara muda berbakat dari keluarga William berkali-kali mencoba menemui nona Julia."


Ingatan Maxilian tertuju pada seorang pria tampan di dalam bar yang membela Julia mati-matian, dan juga pria itu sempat menemui Julia di rumah sakit. Pria itu, apa dia sadar tengah menawarkan bantuan pada istrinya? Ataukah mereka mempunyai urusan lain? Mengingat bagaimana pria itu begitu peduli pada istrinya, entah kenapa hatinya makin mendingin.


"Tuan,"panggil Tomas pelan karena melihat Maxilian diam. "Apakah tuan akan membantu nona untuk melepaskan sepupunya?"


Mendengar pertanyaan dari Tomas, minat Maxilian tiba-tiba turun. "Tidak, kenapa aku harus mengeluarkan sepupunya?" tatapan matanya jatuh dalam ketidakpedulian. Mengeluarkan sepupu Julia? Untuk apa dia melakukannya? Untuk apa dia harus ikut campur kalau akan ada orang lain yang selalu peduli pada istrinya? Setidaknya dia ingin aman untuk tiga bulan mendatang di masa pernikahan kontrak mereka.


Tomas tak menjawab dan memilih menyerahkan beberapa kertas. "Tuan, aku melihat nona membuang kertas ini di tong sampah."


Maxilian menerima kertas kusut dari tangan Tomas. Membukanya dan hanya melihat beberapa gambar tangan degan nama yang berbeda. "Apa ini?"


Meski tak yakin, Tomas mencoba untuk menjelaskan. "Semua nama yang tertulis di sana adalah orang-orang yang berhubungan dengan nona beberapa tahun terakhir. Namun ini sedikit aneh."

__ADS_1


Maxilian mendongak, menatap lurus pada punggung Tomas dan kembali menatap kertas di tangannya. Sely, Janet, Jordan, Hendri. Nama ini tertulis di gambar di sebelah kiri. Lalu bagian kanan, hanya terdapat gambar beberapa orang tanpa nama.


"Apa yang terjadi pada Sely?" tanya Maxilian mulai curiga.


"Itu," ucap Tomas ragu-ragu. Dia melirik tuan mudanya dan kembali menatap lurus jalanan di depan. "Dia gila. Nona menemuinya setiap hari. Setidaknya dua puluh lima menit atau lebih."


"Apa yang dilakukannya di sana selama itu?"


"Nona hanya diam melihat nona Sely yang terus berteriak dan meronta."


"Apakah keadaannya membaik?"


Tomas mengerutkan keningnya. Selama dia mengantar Julia mengunjungi Sely, dia juga bisa melihat keadaan Sely terus semakin memburuk setiap harinya. Dia yakin bahwa dia telah melakukan hal terbaik untuk kesembuhan Sely karena Julia yang memintanya. Tapi anehnya keadaan Sely bukannya membaik, namun semakin parah.


"Nona Sely, keadaannya makin memburuk setiap harinya."


Tangan Maxilian tak bergerak dari tempatnya saat mendengar penuturan Tomas. terbesit pemikiran yang tak berani ia ungkapkan. Tapi ia melihat jelas gambar yang Tomas berikan, gambar wajah kartun dengan nama Sely telah ia coret. Apakah itu artinya istri kontraknya memiliki sesuatu yang tak ia tahu? Semakin ia berpikir semakin ia ingin tahu.


"Nona terlihat tenang seperti biasa. Dia tak melakukan banyak hal selain melihat nona Sely yang terus histeris."


"Selidiki ini lebih lanjut. Dapatkan apa pun dan laporkan padaku."


"Saya mengerti tuan."


Bagaimana dengan saham kita di perusahaan Brasco?"


"Nona meminta agar dia menangani ini sendiri. Penuntutan nona Janet juga sempat tertunda dan akhirnya gagal. Itu karena bukti yang nona Julia miliki kurang kuat. Lalu nona juga memegang sebuah undangan pernikahan dari nona Janet."


"Apa yang dia rencanakan?" gumam Maxilian pelan.


"Saya rasa tuan juga harus hadir di sana. Keadaan perusahaan Brasco memburuk karena nona menarik seluruh investasi kita di sana. Beberapa kali tuan Hendri datang ke rumah utama untuk mencoba bertemu dengan nona. Meski begitu nona tetap tak keluar dan membiarkan pamannya berlutut selama satu jam. Saat itu tuan dan nyonya besar ada di sana. Tapi mereka juga membiarkan tuan Hendri berlutut."

__ADS_1


"Oh, benarkah? Alasan apa yang Julia katakan pada kakek dan nenek sampai mereka membiarkan seorang tamu berlutut?"


Mendengar itu Tomas tertawa kecil. "Nona mengatakan bahwa tuan Hendri adalah paman yang buruk. Yang tak menginginkan nona menikah dengan tuan. Nona mengarang cerita bahwa pernikahan tuan dan nona tak mendapatkan restu karena paman nona tak tahu siapa tuan."


Maxilian diam. Dia mengukur seberapa pentingnya Julia di mata kakek dan neneknya lalu menghubungkan semuanya. Meski terdengar berlebihan tapi dia tak menyangka bahwa istrinya itu menggunakan namanya berkali-kali sebagai alasan. Tentu saja kakek dan neneknya akan marah kalau tahu bahwa mereka tak mendapat restu. Dan apa yang akan terjadi selanjutnya dia sudah tahu.


Maxilian menarik satu sudut bibirnya tanpa sadar. Dia tak menyangka bahwa Julia sangat cerdas dalam melangkah. Gadis itu tampak polos, namun yang sebenarnya tak terlihat semestinya. Ada banyak misteri tentang dirinya. Banyak hal yang tersimpan dari dalam dirinya. Dan ia harus lebih waspada atau dia akan berakhir di manfaatkan untuk menciptakan situasi seperti yang Julia inginkan.


"Tuan, kita sudah sampai." ujar Tomas sambil mematikan mobilnya.


maxilian turun dan melihat jeni yang berada di luar gedung. Dia menghampiri dan Tomas mengikuti dari belakang. Melihat kedatangan Maxilian yang tiba-tiba, Jeni menunduk hormat.


"Tuan." sapa Jeni sopan.


"Di mana nona mudamu?"


Jeni menatap pintu bangunan yang tertutup dan kembali menundukkan kepalanya. "Nona masih melakukan perawatan."


"Katakan padanya, aku menunggunya."


Dengan patuh Jeni menunduk sejenak dan melangkah namun kemudian suara Maxilian terdengar lagi.


Aku akan mencarinya sendiri. Kau bisa pergi dengan Tomas sekarang."


Langkah Maxilian terlihat mantap saat memasuki pintu bangunan tersebut. Dia di sambut baik dan langsung diantarkan pada ruangan di mana Julia berada. Membuka pintu, indera penciuman Maxilian di sambut dengan aroma lembut yang menenangkan. Dia melangkah hati-hati dan melihat tubuh Julia tengah tertelungkup dengan tubuh di balut masker. Rambut golden brown nya terlihat terikat tinggi dan menampilkan kulit leher yang putih dan mulus.


Maxilian berjalan sangat pelan. matanya mengunci wajah Julia yang terpejam. Ruangan itu memiliki dua bangku untuk bersantai dan satu tempat perawatan. Dihiasi bunga-bunga yang belum mekar dengan udara sejuk dan segar yang membuat pikiran tenang. Dia memilih untuk duduk di salah satu bangku dan menyilangkan kakinya dan bersandar pelan.


Sosoknya yang tampan dan tenang mampu membius setiap ornamen dalam ruangan. Dari balik mata coklatnya yang dingin, dia memiliki sejuta kekejaman yang tak pernah terungkap. Jari-jari lentiknya jatuh menyangga kepalanya, dengan bibir yang terkatup rapat. Maxilian, menunggu gadis yang tengah terlelap itu untuk bangun.


Ada banyak hal yang dia pikirkan. Terutama tentang ingatan tentang dirinya dan Julia. Tanpa sadar meraba dadanya pelan. Dia tak mengerti mengapa dia bisa lepas kendali hanya karena satu sentuhan ringan yang dilakukan Julia padanya. Apakah karena terlalu lama dia tak menyentuh wanita? Atau karena Julia yang telah berhasil menggodanya?

__ADS_1


Pemikiran yang terus berputar itu tak dapat ia temukan jawabannya. Sejak sentuhan ringan di rumah sakit saat itu, dia harus mencoba mati-matian untuk menghindari sentuhan Julia lagi. Tangannya terkadang tanpa sengaja merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Atau saat ia melihat bibir Julia yang sedikit terbuka saat dia terlelap. Ingin sekali ia menghisapnya. Bahkan saat ini, saat dia melihat leher jenjang Julia yang putih dan mulus, ingin sekali ia gigit sampai meninggalkan jejak kepemilikannya. Dari semua itu, dia menyadari bahwa terkadang dia tak bisa mengendalikan dirinya. Nafsunya, keinginannya, dan kepuasannya.


__ADS_2