
“Itu benar!” jawab Julia tiba-tiba melerai perdebatan. “Aku telah menikah. Dan aku memang nona muda keluarganya.”
Tomas langsung menatap Julia saat kata-kata pengakuan dari bibir Julia membuat Sely terdiam. Dia menatap Julia menuntut penjelasan dengan pengakuan yang baru saja diungkapnya. Seolah olah dia tengah membuat pertanyaan melalui hatinya dan Julia haruslah tahu arti tatapan matanya.
Nona, kau tak bisa bercanda dengan kata-katamu.
Begitupun dengan Julia, dia menatap Tomas seakan memberitahu sesuatu.
Tolong aku, tolong aku untuk menyingkirkannya dari kamarku.
Sekilas tatapan Julia jatuh pada Sely, dan Tomas pun mengikuti. Perlahan Tomas tersenyum dan kini mengerti semuanya. Dia mengangguk tanpa sadar dan kian tersenyum lebar.
Sedangkan Sely tertegun. Menatap Julia lekat lalu pada Tomas bergantian. Dia menjadi semakin curiga pada dua orang di depannya. Seingatnya, Julia hanyalah memiliki satu kekasih, dan itu adalah Jordan. Lalu kapan Julia menikah? Dia tahu, bahwa Jordan dan Julia tak akan pernah menikah. Jadi kapan pernikahannya terjadi? Kenapa dia tak tahu? Julia yang dia kenal, tidaklah seperti ini.
Semakain dipikirkan, semakin dia curiga. Awalnya dia pulang, Julia memiliki pria lain yang khawatir pada keadaannya saat itu. Lalu pria itu bertengkar dengan Jordan. Dia mengingat lagi raut wajah Jason dan tanpa sadar mengepalkan tangannya. Apakah itu dia? Pikirnya. Apakah pria tampan itu yang menikahi Julia? Tapi kapan? Jika benar, lalu pria yang mengaku sebagai kaki tangan pria tersebut sudah pasti bisa membuktikan pria yang menjadi suami Julia adalah pria kaya raya. Dan dia... kenapa dia selalu tak bisa melampaui Julia?
Julia menatap Sely datar. Bibir tipisnya perlahan tertarik pelan. Sangat halus dan bahkan hanya bergeser sedikit. Dia bisa melihat amarah dan rasa tak percaya di mata Sely, dan dia tak akan membiarkan Sely merendahkannya dan berpikir bahwa dia telah jatuh. Karena itu, dia mengaku dan menerima lamaran yang Tomas berikan untuk tuan mudanya. Tak peduli apapun, saat ini menyelamatkannya harga dirinya jauh lebih penting. Lagi pula dia tak memilki apapun saat ini. Setidaknya dia tahu bahwa tuan mudanya Tomas memiliki saham perusahaan ayahnya sebanyak tiga puluh delapan persen. Mestinya tuan mudanya Tomas bukanlah orang yang miskin.
Itu cukup di mata Julia saat ini. Dia butuh tempat tinggal, dan cara yang bisa dia pikirkan saat melihat dan membayangkan kesenangan musuh-musuhnya adalah dengan menerima lamaran seorang tuan muda yang belum ia temui, namun ia tak peduli itu. Dia tak akan membiarkan kesenangan orang-orang yang telah menyakitinya bertahan lama. Pikirannya sudah jauh ke depan, dia bisa membayangkan bagaimana keterkejutan mereka semua saat tahu bahwa dirinya sama sekali tak terpuruk. Dan tetap bisa menjadi Julia yang sombong!
“Apakah ada masalah?” tanya Julia dengan tatapan mengunci Sely. Ada pergerakan senyum yang sangat tipis di bibirnya. Dan itupun hampir tak terlihat.
Tomas melihat tatapan kedua wanita yang ada di hadapannya. Lalu tatapan matanya jatuh pada Julia dan dia tertegun. Saat melihat senyum licik yang sangat tipis itu. Itu benar-benar mirip dengan tuan mudanya. “Wah, mereka benar-benar mirip.” Pikirnya. Lalu dia bisa menyadari satu hal. Dia menatap Sely dan tersenyum tipis. Wanita ini, adalah wanita yang menjadi alasan kenapa nona mudanya menerima lamaran tuan mudanya tanpa berpikir. Sepertinya dia harus menempatkan wanita ini untuk membuat kemajuan besar. Yah, dia akan memikirkan cara lainnya nanti.
“Julia,” Tekan Sely dengan menurunkan tangannya. Dia memperbaiki duduknya dan mengelus rambutnya yang berada di sisi telinganya. “Kau pikir aku akan percaya? Berhenti main-main, pernikahanmu, kenapa aku tak tahu sama sekali?”
__ADS_1
Julia tahu benalu mangga di hadapannya ini tak akan percaya dengan mudah. Tapi dia adalah Angel Zhao, dia tak akan sebodoh Julia. “Oh, kau tak percaya? Kenapa tidak?!”
Sely tertawa kecil. Tatapan matanya jatuh pada mata Julia yang tampak jenaka. “Julia, aku sangat mengenalmu bertahun-tahun. Kau berbohong! Kau tak mengenal pria itu!”
Kini Julia ikut tertawa sesaat lalu diam. Dia menatap Tomas tanpa mempedulikan kata-kata Sely. “Kapan suamiku pulang? Aku kecelakaan dan dia masih pergi bekerja? Apakah dia ingin melihatku mati?”
Tomas tergagap dengan pertanyaan Julia yang tiba-tiba serius. “Nona, tuan masih memiliki sedikit urusan. Dia akan segera kembali dari Nivada. Tentu, dia sangat ingin cepat kembali, tapi beberapa rapat penting tak bisa dia tinggal.”
Julia sama sekali tak puas dengan jawaban Tomas. Dia adalah nona muda dari tuannya. Dan beraninya tuan mudanya membiarkannya malu di hadapan teman benalunya ini. Melirik Sely dan tersenyum, tiba-tiba Julia menjadi kesal.
“Apakah rapat itu lebih penting dari istrinya?”
“Itu-itu tuan,” Tanggap Tomas gugup. Dia melirik Sely yang tersenyum penuh kemenangan lalu menatap raut wajah Julia yang kesal. “Nona, tuan akan segera kembali.”
“Hentikan,” Pangkas Sely tiba-tiba menahan tawa. Dia menatap Julia dan Tomas bergantian sambil menahan tawa. Julia, kau belum menikah, kau berbohong padaku kan? Sandiwara kalian buruk sekali. Aku tak percaya bahwa dirimu telah menikah.”
Sely menatap Julia lama. Mencari kebenaran dari semua hal yang Julia katakan. Sialnya dia tak melihat ekspresi aneh lainnya. Tatapan acuh tak acuh itu meremas hatinya. Tanpa sadar dia mengeratkan katupan giginya.
Melihat Sely yang diam, Julia tersenyum lebar. “Kenapa? Apakah kau masih tak percaya? Yah, itu tak penting untukku.”
Tomas ikut tersenyum mendengar semuanya. Dia cukup puas dengan jawaban Julia. Sepertinya nona mudanya ini punya bakat untuk membuat suasana hati seseorang hancur dalam permainanya.
“Kapan dia akan kembali? Aku ingin bertemu dengan suamimu.” Tanya Sely langsung. Dia masih tak percaya dengan kata-kata Julia. Dia yakin semua yang dikatakan Julia adalah kebohongan.
Julia tak berharap pertanyaan Sely akan langsung pada ketidaktahuannya. Tapi dia masih tersenyum, saat tangannya terulur pada Tomas dan dengan manis dia bertanya. “Biarkan aku menelepon suamiku. Aku tak bisa membiarkan orang lain berpikir bahwa pernikahanku adalah drama, bukan?”
__ADS_1
Tomas yang tak siap menjadi sedikit gugup. Dia tahu semua terjadi dalam waktu cepat. Dan tuan mudanya, belum tahu semua ini. Dia melirik Sely yang tersenyum ke arahnya saat melihatnya tak bereaksi dengan sangat natural. Senyum wanita itu, entah kenapa dia juga menjadi kesal. Dia mengambil ponselnya dan berniat keluar kamar. Dia harus memberi tahu tuan mudanya terlebih dulu agar drama ini menjadi sempurna.
“Ke mana kau pergi?” Tegur Sely tiba-tiba. Tomas bahkan belum melangkah tapi dia telah tahu semuanya. Dia tak akan membiarkan Julia mendapat jalan keluar. Drama pernikahan yang Julia ceritakan, harus dia bongkar secepatnya.
“Itu,” ucap Tomas dengan menatap Julia.
Julia tersenyum, wajahnya menunjukkan rona pucat tapi bibirnya masih tersenyum lemah. “Berikan teleponnya padaku! Aku akan menyuruh suamiku pulang.”
“Bagus,” ungkap Sely menunggu.”Aku akan selalu datang menjengukmu sampai aku melihat suamimu. Julia, kau tahu kan? Aku adalah sahabatmu. Aku harus melihat apakah suamimu memperlakukanmu dengan baik atau tidak. Aku tak bisa membiarkanmu menderita.”
Julia ingin sekali tertawa lepas saat kata-kata ‘aku harus melihat suamimu memperlakukanmu dengan baik atau tidak’ itu tercetus dari mulut Sely. Hatinya ingin sekali bersorak riang tapi salah satu sudut hatinya kian kesal. Melihat suamiku? Teriaknya dalam hati. Apakah kau orang tuaku yang harus memastikan hidupku?! Kenapa kau bertindak seakan-akan harus melihatku menderita. Sely, sahabat macam apa kau ini.
Julia tak mengatakan apapun dan hanya menerima benda persegi panjang dari tangan Tomas. Dia hanya melirik Tomas sesaat sebelum menempelkan benda tersebut ke telinganya. Nada tersambung terdengar hingga saat sebuah suara terdengar, Julia sontak menatap Tomas sekali lagi lalu beralih pada Sely yang mengawasinya.
“Tomas.”Jawab Maxilian di seberang sana.
Julia tersenyum tanpa sadar, dia bisa meraba dari suara berat yang baru saja dia dengar. Bahwa setidaknya, tuan muda dari pria yang bernama Tomas ini tidak terlalu buruk.
“Kapan kau pulang?” tanya Julia tiba-tiba.
Hening, tak ada jawaban yang terdengar hingga Tomas mulai berkeringat dingin. Dia berharap agar tuannya mengerti dengan semua perubahan yang belum dia laporkan.
Di ujung sana, Maxilian mengerutkan keningnya saat suara wanita terdengar. Dia menjatuhkan teleponnya lalu memeriksa sekali lagi nomer yang tertera di ponselnya. Tapi itu benar. Tak ada kesalahan. Lalu, suara siapa yang baru saja dia dengar?
Merasa tak ada jawaban, Julia menggigit bibir bawahnya tanda sadar. Dia melirik Sely yang tersenyum seakan penuh kemenangan. Jadi, tanpa menunggu keheningan yang mungkin saja terus berlanjut, dia melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
“Istrimu kecelakaan dan kau masih berpikir untuk melanjutkan perjalanan bisnismu? Suamiku, apakah kau benar-benar tak peduli pada istrimu?”
Maxilian kian mengerutkan kening. Tapi saat mendengar kata ‘kecelakaan dan suami’, satu sudut mulutnya tertarik sedikit. Itu sangat tipis hingga hampir tak terlihat bahwa dirinya tengah menyeringai. “Hmm, aku akan segera pulang.”