Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Julia Yang Bodoh Sudah mati


__ADS_3

"Apa yang harus kuketahui? Bukankah semua sudah jelas? Kau mengusir sahabatmu dan menyakiti hatinya. Julia, kau tak perlu terlihat baik di mataku. Aku mempercayai Sely, karena aku sangat mengenalnya. Dia pasti sangat ketakutan semalaman. Aku bahkan tak bisa membayangkan, kenapa kau begitu tega membiarkannya sendirian dan mengusirnya di pagi hari. Julia, kau benar-benar tak punya perasaan!"


"Sudah selesai?" Tanggap Julia dingin. Dia melirik Ben tak berminat, lalu berujar pelan. Ben, tak perduli apapun yang dikatakan Sely padamu, tapi itu adalah hakku! Ini adalah rumahku dan akupun berhak mengusirmu! Apa kau ingin tahu hal apa yang diminta oleh kekasihmu itu? Dia ingin tidur di kamarku lalu mengirimku tidur di kamar tamu. Mengatakan takut tidur sendirian, namun memintaku untuk bertukar kamar. Setelah melihatku enggan, dia mengatakan bahwa dia tak keberatan jika harus tidur bersamaku. Hahahaha sangat lucu sekali."


Tak memberikan Ben kesempatan menyela. Julia kembali melanjutkan. "Aku benar-benar ingin tahu, hal apa yang telah dia katakan padamu. Aku mengusirnya? Benar, aku memang berharap dia pergi. Tapi tidakkah kau merasa sangat tidak wajar? Dia baru saja pulang dari Texas, tapi tak mengunjungi rumah orang tuanya. Dia menangis pada keluargaku setelah aku mengusirnya? Ben katakan padaku apakah kau pernah ke rumah Sely? Aku sahabatnya tapi aku bahkan tak pernah mendengarnya menceritakan tentang keluarganya."


Mata Ben terbuka sesaat dan turun. Dia tampak berpikir dan merenungkan semua kata-kata Julia. Semua itu benar, dia tak pernah mendengar tentang keluarga Sely.


Melihat Ben yang sedikit bingung, Julia tertawa kian yakin. Dia turun dari anak tangga terakhir dan berjalan melewati sepupunya. Duduk di ruang keluarga dan melihat Ben yang masih berdiri kebingungan.


"Kini kau sadar? Biar aku jelaskan padamu. Dia mencoba menjadi ratu di rumahku! Bagaimana bisa seorang tamu meminta kamarku dan menyuruhku untuk tidur di kamar tamu. Bagaimana bisa seorang sahabat tak mengunjungi temannya yang tengah sekarat berjuang antara hidup dan mati? Bagaimana bisa seorang teman marah dan kesal hanya karena aku tak membiayai kuliahnya dan membayar sewa apartemennya? Apakah aku ini adalah tambangnya? Apaakah aku ini sebuah aset mewah di matanya? Ataukah aku ini orang tuanya yang harus melakukan semua? Ben, apa kau berharap agar aku tetap diam dan terlihat bodoh seperti beberapa bulan lalu?"


Ben membalikkan badannya gemetar. Telinganya jelas mendengarkan semua kata-kata Julia. Matanya yang tampak bingung kini menyala hebat. Dia mendekati Julia, dan mengacungkan tangannya. "Julia, hentikan omong kosongmu! Sely tak mungkin seperti itu! Tidak, dia adalah orang yang baik. Dan tak mungkin seperti itu. Kau tak berhak merendahkannya!"


Melihat kebodohan Ben, Julia membeku. Awalnya dia pikir sepupunya akan sadar. Tapi dia tak menyangka bahwa sepupunya ini akan sangat bodoh hingga bisa di manfaatkan Sely. Sely, si rubah betina.


"Oh, kini kau membela kekasihmu dan mengatakan sepupumu ini bicara omong kosong? Ben, seberapa bodohnya dirimu hingga percaya pada Sely semudah itu! Apakah kau tahu, bahwa selama ini, dia hidup dari uang ayahku? Dari uang warisanku!"


"Tidak! bantah Ben tak percaya. "Dia tidak seperti itu!"


Melihat kerasnya Ben, Julia tertawa miris dan sedih. Dia menatap sepupunya itu dengan tatapan mengasihani. "Kau bisa tutup mata dan telinga dengan semua yang kukatakan, tapi kau juga harus tahu, bahwa Sely tak sebaik yang kau kira. Sely, kekasihmu itu, dia tak mencintaimu. Dia hanya memanfaatkanmu karena matanya tak akan pernah tertuju padamu. Dan kau juga harus tahu bahwa dia dan Jordan memiliki sebuah hubungan gelap yang menjijikkan!"


Plakkk!! Suara tamparan itu memecah suasana yang sedikit panas menjadi sunyi. Tangan Ben masih terangkat di udara. Dia melihat wajah Julia yang telah tertunduk dengan rambut menutupi sebagian wajahnya. Rasa bersalah menghampirinya saat melihat Julia sama sekali tak bereaksi pada tamparannya. Hingga dia menggennggamkan tangannya kelu dan menurunkannya pelan.


"Aku tak ingin kau mengatakan hal yang buruk tentangnya lagi! Sely, dia tak akan serendah itu! Dan tamparan ini, harusnya itu menyadarkanmu!"


Ada jeda beberapa saat hingga suasana hening itu mendominasi. Helaan nafas marah Ben terdengar memburu meski tatapan matanya tampak menyesal. Dia melirik tangan yang telah dia gunakan untuk menampar pipi Julia. Lalu beralih pada Julia yang masih saja diam. Tiba-tiba dia merasa bahwa semua ini haruslah tidak seperti ini. Tapi saat ini amarahnya begitu besar hingga dia tak bisa mengalah.


"Aku pergi, dan pastikan kau meminta maaf padanya. Aku tak ingin mendengar kau melakukan itu lagi" Dia baru saja mencoba melangkah pergi, sebelum tawa Julia yang terdengar membuatnya berhenti dan membalikkan badan.

__ADS_1


"Meminta maaf padanya? Kenapa aku harus meminta maaf pada orang yang mencoba membodohiku? Kau pikir aku akan melakukannya? Sungguh hal yang tidak akan mungkin terjadi."


Ben tertegun, melihat senyum sinis itu, tatapan benci yang berapi-api dengan riak ombak kemarahan yang besar. Namun mata itu menatapnya dingin dan beku. Menarik setiap sel di tubuhnya. Lalu kemudian membakarnya dengan api kemarahan yang berkobar. Julia, dia tak tahu, sejak kapan sepupunya ini bisa mendominasi dan memojokkannya hanya dengan tawa sinis. Membekukan tubuhnya hanya dengan tatapan dingin.


"Akan kuingat tamparan darimu. Ben, saat aku membukakan matamu, saat itu kau akan menyadari betapa bodahnya dirimu karena menjadi budakk Sely!"


Dan kata-kata itu sukses memprovokasi Ben. Pria itu melangkah dan mengayunkan tangannya sekali lagi. "Kau!!"


Julia tak berkedip sama sekali saat tangan sepupunya terangkat di udara. Dia yakin rasa sakit dan panas akan kembali dia rasakan. Dia bahkan sudah siap untuk menangkis tamparan tersebut, tapi nyatanya tangan itu tak juga sampai di pipinya. Namun kata-kata seorang pria terdengar di dekat telinganya.


"Jangan mencoba menyentuhnya!"


Sontak Julia dan Ben menoleh pada asal suara. Terlihat Jason tengah menahan tangan Ben dengan tatapan sinis. Hal itu membuat Ben menarik tangannya kasar.


"Jangan ikut campur urusan kami!" Teriak Ben tak suka.


Jason sama sekali tak memperdulikan kata-kata Ben dan lebih memilih Julia lebih dulu. Matanya meneliti wajah putih yang tak jauh darinya, dan hatinya kian dingin sejak tahu ada garis tangan yang memerah di pipi gadis tersebut. Pria ini telah benar-benar menampar Julia!


Julia mundur dan menjauhkan wajahnya. Dia menyentuh pundak Jason lembut. Membuat tatapan Jason teralih padanya. "Aku baik-baik saja." yakinnya membuat mata Jason sedikit rileks.


"Oh Julia, kau benar-benar hebat sekarang.," Tegur Ben dengan senyum sinis. Dia ingat pria ini, hanya sekali lihat, Ben sudah pasti ingat, bahwa pria ini adalah pria yang dia temui beberapa saat lalu. "Julia, apakah dia kekasihmu?"


"Apakah itu menjadi urusanmu?" Sambut Jason dingin. Pria ini, sejak awal dia tak menyukainya. Dan rasa tak sukanya kali ini kian bertambah karena melihat pria ini meninggalkan tamparan di pipi Julia. "Pengecut!" ujarnya tiba-tiba.


"Apa katamu!" Ben dengan cepat menerjang Jason, dan Jason berusaha mengimbangi. Tapi tiba-tiba Julia berdiri di tengah-tengah antara mereka berdua.


"Stop!" Teriak Julia memperingatkan. Dia menatap Jason dan menggelengkan kepalanya. "Jangan membuat keributan di rumahku." Lalu dia beralih pada sepupunya. "Ben, hentikan tindakanmu, aku tak akan membiarkanmu melakukan hal lebih dari ini."


"Kini kau membelanya!" Ujar Ben dan Jason bersamaan. Itu terdengar kompak dengan nada sinis yang sama. Membuat keduanya saling menatap tajam lalu membuang tatapan jijik maisng-masing.

__ADS_1


Julia menoleh pada Ben dan Jason. Lalu memilih menatap Ben lebih lama. "Kau sudah selesai? Sekarang kau bisa pergi dari rumahku."


Mendengar kata-kata dingin itu, entah kenapa Jason sedikit membaik. Dia mundur selangkah dan tersenyum sinis pada ben yang terlihat tak terima.


"Julia, kau mengusirku?"


"Apakah aku memintamu tinggal?" balas Julia sarkastik. "Kau benar-benar lucu!"


"Sely benar. Kau benar-benar berubah. Kau--"


"Aku adalah diriku sendiri!" Bantah Julia tak suka. "Kau tak berhak mengkritikku bahkan memerintahku sesukamu! Selama ini aku diam, tapi jika dia berulah sekali lagi, maka jangan salahkan aku yang mengambil tindakan."


"Kini kau berganti mengancamnya! Julia, seberapa banyak perubahanmu? Apakah kau orang yang sama? Apakah kau--"


"Jadi kau masih berharap aku seperti dulu? Ben, kau bisa memintaku untuk tidak perduli, tapi kau tak bisa memintaku untuk menjadi orang bodoh! Jika aku adalah orang yang sama dan tak berubah, maka kau akan  mati membusuk di penjara! Jangan lupa, aku adalah orang yang melepaskanmu beberapa hari lalu!"


Ben tertegun, dia kehilangan kata-katanya. Sedangkan Jason mendengar semuanya dan mencoba mencerna hubungan keduanya. Tampaknya Jason lupa kalau pria di hadapannya adalah sepupu Julia.


"Jika aku masih orang yang sama, maka paman tak akan mendapatkan semua hartanya. Bibi masih akan tinggal di rumah yang sempit, dan aku bisa pastikan bahwa aku akan membiarkan kau membusuk di dalam penjara! Jadi dimana letak kesalahan perubahanku?"


Saat kata-kata itu lolos dari bibir Julia, Jason terlihat terkejut sesaat dan berpikir. Saat kata paman, bibi dan bandingan dengan pria itu, dia meraba semuanya. Pria ini adalah salah satu kekasih Julia. Ataukah dia  selingkuhan Julia? Apakah ada yang salah selama ini? Tapi dia cukup jelas mendengar percakapan mereka yang terlihat sangat intim.


Apa ini? Apa aku salah mengerti tentangnya selama ini? pria ini, sebenarnya adalah sepupu Julia dan bukan selingkuhannya?


Ben terlihat kelu dengan wajah yang bingung. Matanya bergerak dengan wajah yang bingung. Matanya bergerak pelan dengan bibir terbuka ingin mengatakan sesuatu. Tapi nyatanya, suaranya seakan tenggelam dan tak keluar. Nafasnya bahkan tercekat di tenggorokannya. Dia tak menduga bahwa semua hal yang Julia katakan akan berkaitan dengan keluarganya.


"Jadi jangan mencoba mengkritikku! Kau bahkan tak mengenalku dengan baik."


"Ju--Julia, aku tak berusaha untuk membandingkanmu dengan--"

__ADS_1


"Kau bisa pergi sekarang. Juliamu yang bodoh telah mati! Jadi jangan berharap bahwa aku akan datang dan meminta maaf pada Sely! Karena aku tak akan membiarkan siapa pun menginjak harga diriku lagi dan lagi. Tak akan membiarkan siapapun memanfaatkan bahkan meski merangkak di bawah kakiku!"


Julia selesai saat dengan tajam melirik pintu dan menatap Ben tajam. Dia menggelengkan kepalanya sedikit agar Ben segera angkat kaki dari rumahnya. Dan akhirnya, sepupunya itu hanya bisa pergi begitu saja. Dan suasana kembali hening. Julia membalikkan badannya pelan, menatap Jason yang terlihat tidak nyaman. Dia mendekat dan bertanya pelan, "Apakah paman juga mengirimmu hari ini? Ini masih sangat pagi."


__ADS_2