
Maaf kalau ada typo, ngetiknya sambil menahan sakit kepala. Kolesterol naik ini kaya nya.
**
"Imbalan apa yang kau inginkan?"
Hanna berbalik menatap senyum tipis Julia. Dia tertegun dengan ucapan Julia yang bicara sesuai dengan yang ada di dalam pikirannya. "Kau benar-benar orang yang lugas. Tapi aku takut kau tak bisa memenuhinya."
Julia sedikit menyipitkan matanya sesaat. Dia yakin Hanna menginginkan sesuatu darinya. "Sejak di gedung itu, kau mengatakan aku bisa datang padamu jika membutuhkan bantuan. Hanna, aku tak sebodoh itu."
"Tak hanya lugas, kau juga memiliki ingatan yang kuat. Sepertinya sepupuku mengalami kesulitan jika berhadapan denganmu."
Ada tawa tipis terlintas dari bibir Julia. Tatapan matanya lekat dan kedua tangan ia silangkan di atas dadanya. "Awalnya aku tak ingin ikut campur. Tapi karena mereka telah menyakitiku, maka aku akan membalas mereka dengan lebih kejam."
Tatapan Hanna menajam. Ia menatap lekat manik hitam itu penuh dengan emosi. "Kau tak takut meski kau hampir dibunuh?"
Julia menutup mulutnya menahan tawa. Tatapan geli penuh ejekan ditujukan pada gadis di depannya. "Apa itu juga peringatan?"
Hanna mencebik. Ia kembali menatap ke depan. "Kau benar-benar cerdas. Bisa membawa diri di semua kondisi. Bahkan membuat semua yang ada di sekitarmu berpihak padamu. Bahkan nenekku memberimu saham dan pin keluarga Lunox. Julia, tak semua orang diperlakukan istimewa oleh nenekku. Tak semua orang memegang pin keluarga Lunox."
"Bukankah itu sudah sangat jelas? Karena aku adalah istri Maxilian."
Hanna menghembuskan nafas. "Jangan sampai kau mengatakan itu di depan Rose." ucap Hanna tanpa sadar.
"Jadi itu Rose? Yang bekerja sama dengan sepupuku?"
Hanna tersenyum tipis. Dia mengangkat kedua bahunya. "kini bahkan Carlen sudah ditahan oleh kakak sepupu."
Julia mengernyitkan keningnya berpikir. "Jadi ini tentang Carlen dan Rose? Kau mau aku membantumu untuk membebaskan mereka?"
Hanna merasa takjub dengan ketajaman insting Julia. Wajah Julia tenang namun emosi jahat terlintas di kilatan matanya. Dia makin bertanya-tanya darimana gadis ini berasal? Kenapa ada seorang gadis yang setangguh Julia.
"Cukup kau ketahui Hanna, bahwa aku tak akan melepaskan Carlen maupun Rose."
__ADS_1
Hanna terhenyak. Ketenangan Julia tak sebanding dengan kekejamannya. Raut wajah Julia sangat nampak ketidakpedulian terhadap Carlen maupun Rose.
"Hanna, aku tidak sebaik itu. Aku tak akan melepaskan orang-orang yang sudah menyakitiku."
Hanna tertawa. Karakter Julia memang sangat kuat. "Bagaimana jika aku tambahkan informasi lain?"
Julia tak menjawab. Ia memilih menempatkan tubuhnya dengan nyaman sembari mengabaikan Hanna.
"Kau tak tertarik?" ucap Hanna.
"Hal yang kau inginkan pasti bukan itu."
"Wow, kau benar-benar peka. Karena kau terus menebak dengan tepat, maka aku tak segan lagi. Yang aku inginkan adalah pin di tanganmu, juga... Maxilian!"
Julia terkejut. Dengan ketampanan maxilian siapa yang tidak menginginkannya? Di tambah dengan harta melimpah, wanita mana yang tak mengejarnya. Tapi ini adalah sepupunya. Dia tahu kalau dia adalah istri kontrak. Tapi selama dia masih menjadi istrinya, ia tak akan membiarkan siapapun mendekati suaminya.
"Keluarga macam apa yang ada di hadapanku ini? Sungguh tak tahu malu!" hardik Julia.
Hanna tak tersinggung. Sambil merentangkan tangannya ia berucap, " Aku lebih baik mengatakannya lebih dulu, sebelum Rose yang bertindak melawanmu untuk mendapatkan Maxilian. Jangan kau lupakan Lindsey. Aku mendengar bahwa ia menginginkan tanganmu untuk ia jadikan koleksi bonekanya di rumah."
"Kau hanya membual. Sepupumu Janet saja sampai sekarang hanya menerima hukuman ringan. Dia hanya ditahan di rumah mewah dengan tenang."
"Hanna, bukankah kau terlalu banyak tahu?"
Hanna mencebik.
"Pin dan suamiku bukan barang yang mudah kalian inginkan. Ada apa kalian semua? Para sepupu suamiku ternyata sangat menjijikkan."
"Kau,," geram Hanna tersinggung.
"Sepupu wanita menginginkan saudaranya sendiri, dan sepupu pria ingin meniduri istri dari saudaranya sendiri. Apakah kalian waras?"
Hanna tak mengelak. "Rose, dia bukan darah asli keluarga Lunox. Dia hanya anak angkat. Dia tidak hanya menginginkan Maxilian, tapi juga seluruh hartanya. Tapi kemudian kau hadir dan mengacaukan segalanya."
__ADS_1
Julia menarik senyumnya sedikit. Ini adalah rahasia besar.
"Saat dia sudah terbiasa hidup nyaman, tapi bayangan akan dibuang kapan saja oleh keluarga Lunox, apakah kau pikir dia akan diam saja?"
Berjalan keluar balkon, Hanna kembali melanjutkan. "Lindsey, setelah kematian Harvey, apa kau pikir dia akan diam saja? Dia selalu tergantung oleh kakaknya untuk hidup nyaman tanpa dibebani perebutan kekuasaan. Tapi Maxilian membakarnya hidup-hidup, menurutmu apakah dia sekarang hanya menginginkan tanganmu? Aku yakin dia menginginkan seluruh tubuhmu untuk dijadikan koleksi bonekanya. Kau cukup cantik, dia sudah menargetkanmu sejak awal. Lindsey, siapa yang mengira kalau jiwa psikopat ada dalam tubuh gadis kecil itu. Dia tak akan pernah melepaskanmu."
"Bagaimana dengan dirimu?" tanya Julia tiba-tiba.
Hanna terdiam.
Julia tertawa, "Aku tahu kau tak menginginkan semua hal yang mereka inginkan."
"Bagaimana kau tahu?"
"Kau hanya ingin melihat reaksiku saat kau mengatakan ingin suamiku. Hanna, aku bisa melihat semuanya di matamu."
"Aku hanya ingin sepupuku mendapatkan seseorang yang tepat. Seseorang yang akan mempertahankan Maxilian dalam keadaan apapun. Dia memiliki kehidupan masa lalu yang berat. Namun saat melihat ia dengan kuat mempertahankan dirimu, aku sangat senang. Dia tak pernah memiliki hubungan yang begitu dekat dengan wanita. Dan aku bisa melihat bahwa kau tak menginginkannya, tapi di waktu yang sama tak membiarkannya terluka."
Julia menepukkan kedua tangannya berkali-kali. "Kau layak menjadi aktris."
"Hanna tersenyum dan menerawang jauh sebelum melanjutkan. "Kami hidup dan tumbuh bersama. Kau pasti tahu bagaimana perjuangan kami untuk layak menjadi pewaris. Aku sangat berterima kasih padanya, karena dia mau memikul beban ini, hingga aku bisa melakukan apapun yang kumau. Aku ingin menjadi artis besar. Latar belakang yang kumiliki selalu menjadi bayangan mengerikan bagi karirku. Tak peduli dengan segala kemampuan yang kumiliki, mereka semua selalu mengatakan bahwa aku bersinar karena nama besar keluarga.
"Memangnya apa yang salah? Kau tak bisa memilih dilahirkan dari mana? Kau hanya harus menjadikan ini sebagai batu pijakan."
Hanna hanya tersenyum tipis. "Bisa kuminta kau untuk melepaskan Carlen? Dia tak sekejam itu. Dia hanya ingin terlihat lebih baik dari Maxilian dalam segala hal. Kami... dibesarkan dengan sangat keras. Dia sebenarnya orang baik, hanya saja.."
"Maxilian tak akan melepaskannya." potong Julia dingin.
"Jika begitu, itu adalah tugasmu."
Julia tertawa. "Kenapa harus kau bebankan padaku? Aku tak pernah membuat kesepakatan denganmu. Informasi yang kau berikan tadi, sama sekali tak membuatku tertarik."
"kau!" ungkap Hanna terkejut. "Kau benar-benar licik." Hanna berpikir Julia orang yang mudah diajak bicara. Namun ternyata dia lebih licik daripada yang ia pikirkan.
__ADS_1
"Sejak awal aku sudah mengatakan, aku tidak peduli pada sepupu-sepupu suamiku. Tentang hubungan rumit kalian, aku tak peduli. Tapi seseorang yang telah menyakitiku, aku pasti akan membalasnya. Kau bisa melihat apa saja yang bisa kulakukan pada mereka."