
Ngetik ini sambil bercucuran keringat dingin. Hari menjelang period tidak mudah bagi otor. Jadi kalau besok belum bisa up harap dimaklumi.
*******************************
"Ayoyo, akhirnya kalian datang juga." sapa Mery dengan senyum bahagia. Seluruh cucunya berkumpul dan dia mendapatkan satu menantu yang cantik. Bagaimana dia tak senang?
"Nenek," sapa Julia dengan senyum ramah. Tatapan matanya teduh dengan penuh kasih sayang.
"Oh, jangan turun. Sepertinya kakimu begitu sakit cucu menantuku." Larang Mery saat melihat Julia menggeliat untuk turun.
"Nenek, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Maxilian langsung. Matanya tampak dingin menyapu kelima sepupunya.
Mendengar Maxilian melontarkan kata-kata dingin, tangan Julia langsung memukul ringan dada Maxilian. "Sayang, apa kau tak bisa bertanya dengan lembut pada nenek. Kau bisa menyakiti hatinya."
"Anak nakal ini. Kau benar-benar tak tahu terima kasih." protes Mery kesal tapi dia bahagia melihat Julia membelanya.
"Hai, kakak ipar." sapa Carlen lebih dulu dari yang lain. Dia maju dan menyodorkan setangkai mawar putih di tangannya pada Julia tanpa melihat ekspresi Maxilian yang kian dingin. "Bunga untukmu."
Ah bagaimana Julia bisa melupakan untuk menyapa ke lima sepupu Maxilian. Dia tersenyum manis dan tak memperlihatkan sikap waspadanya. Saat ini dia bisa lega karena Maxilian ada di sisinya. Tapi Carlen, apa yang pria ini lakukan?
Julia hanya menatap bunga yang terulur di depannya tanpa berniat mengambilnya. Melihat bunga itu mood Maxilian sangat buruk. Tapi dia segera melihat Carlen dan tersenyum tipis, "Aku tak menerima bunga dari pria selain suamiku, tapi kurasa nenek akan menyukainya."
Carlen membeku dan akhirnya memberikan bunga itu pada Mery. Perasaannya buruk karena Julia tak segan menolaknya di hadapan banyak orang. Rencananya jelas gagal hari ini.
"Hai Julia, kita bertemu lagi," sapa Rose dengan satu tangan melambai. "Nenek, kami tak sengaja bertemu di sebuah cafe. Saat itu aku melihat Carlen tengah minum bersamanya."
Kata-kata manja dengan penuh kasih yang terlihat tulus terucap dari bibir Rose sembari menggoyangkan lengan Mery beberapa kali lalu melirik Maxilian. Dia memperbaiki citranya dan langsung menyeret Julia dengan dalih pertemuan bersama Carlen. Seakan ingin memberitahu maxilian bahwa wanita yang dinikahinya itu bertemu dengan pria lain di belakangnya diam-diam.
Julia tersenyum tipis, melihat Rose dengan dingin. Gadis cantik ini tak memberinya waktu dan langsung menyerangnya. Dia mendongak, dan melihat Maxilian yang menunduk menatapnya. "Aku sudah menceritakan padamu bukan? Itu sebelum kejadian buruk terjadi." ada raut sedih terlintas, membuat wajah cantiknya sedikit murung. Menarik simpati semua orang hingga melupakan kata-kata Rose.
"Nenek, apa dia kakak iparku?" tanya gadis berlesung pipi dengan riang. Semangatnya membuat suasana di sekitar ikut riang. "Oh, dia sangat cantik. Kakak sepupu. aku Lindsey Camilla Lunox, dan dia," tunjuknya kemudian menarik kakaknya agar sedikit lebih maju. "Dia kakakku, Harvey, Harvey Jorge Lunox."
Julia tersenyum melihat perkenalan Lindsey yang sangat bersemangat. Dia beralih pada Harvey yang hanya menundukkan kepalanya sedikit dengan sopan. Tak ada emosi di sana, yang membuat Julia semakin waspada.
"Aku Hanna, Hanna Luisa Lunox. Sepupu, kau bisa datang padaku jika mengalami kesulitan."
Tatapan Julia jatuh pada gadis cantik bermata coklat yang berdiri di samping Mery. Ada senyum yang terlihat sangat akrab di matanya. Juga rasa waspada yang sama. Semua terasa familier membuat Julia menarik dua sudut bibirnya lebar. Mata hitamnya jelas menunjukkan emosi lain.
__ADS_1
"Sayang, kau memiliki sepupu yang banyak." memilih mengabaikan Hanna, Julia beralih pada Maxilian dan berkata seolah sangat iri.
"Nenek, sampai kapan kita akan berdiri di luar?" protes Maxilian mengerti sindiran Julia.
"Ayoyo, aku terlalu senang hingga lupa. Mari kita masuk, masuklah semua, dan biarkan pengantin kita mencoba gaunnya."
Semua berjalan masuk ke dalam sebuah gedung yang besar. Gedung itu memiliki dekorasi mewah dengan pajangan gaun pengantin di setiap ruang. Di dalamnya bahkan terdapat kursi keluarga yang dapat menampung mereka semua. Semua sisi ruangan terlihat nyaman dan tenang. Mereka semua duduk di kursi keluarga dan saling menatap satu sama lain.
"Kakak, kau harusnya menyiapkan gaun terbaik yang akan dikenakan kakak ipar." kata Lindsey sambil menatap Rose.
"Kau bisa tenang, nenek di sini untuk mengamatinya. Bukankah begitu nenek?"
Mery tersenyum, "Gadis baik."
Hati Julia mendingin saat tahu bahwa butik pakaian mewah ini adalah milik Hanna. Dia menatap Maxilian yang duduk di sampingnya dan terlihat tak terganggu. Kenapa pria ini tak memberi tahu dirinya bahwa tempat yang mereka kunjungi ini adalah milik salah satu sepupunya. Yah, sepertinya kesulitan satu per satu akan mendatanginya.
Julia menatap wajah sepupu suaminya satu persatu. Semua tampak hangat dan bahagia dengan senyum manis yang tampak tulus. Tapi dia tak sebodoh yang mereka pikir. Dari sudut matanya, dia bisa melihat bahwa semua yang ada di sini penuh kepalsuan. Senyum itu, canda itu, kehangatan itu, semuanya palsu. Ada banyak emosi yang bermain di mata mereka semua. Satu-satunya orang yang dapat menyembunyikan emosinya dengan baik adalah wanita bermata coklat yang kini tengah menatapnya dengan tatapan penuh perhatian. Hanna! sang pemilik butik ini.
Julia memilih diam dan tak ikut campur dalam obrolan ke lima sepupu Maxilian. Dia lebih suka mengamati dan menjadi penonton. Tapi saat Tomas tiba-tiba masuk dengan membawa sebuah sepatu hak tinggi, tatapan semua orang jatuh pada Maxilian lalu pada dirinya secara bergantian.
"Sayang, aku bisa melakukannya sendiri." belum selesai keterkejutan Julia karena Tomas yang datang membawakan sepasang sepatu, kali ini ia melihat Maxilian yang kejam tengah menunduk memasangkan sepatu hak tinggi di kakinya. Tentu saja dia menolak.
"Ulurkan kakimu." perintah Maxilian pelan. Entah kenapa itu terdengar lembut di telinga Mery dan ke lima sepupunya.
Julia tertegun hingga membuka mulutnya beberapa saat. Seorang Maxilian memasangkan sepatu di kakinya? Maxilian yang pernah mengancam sembari mencekik lehernya saat ini tengah bersikap lembut padanya?Meski dia tahu mereka berdua tengah bekerja sama dalam menampilkan hubungan keluarga yang bahagia tapi tetap saja, semua terasa sedikit berlebihan untuknya. Melihat Maxilian bersikap lembut dan perhatian, malah membuat Julia makin waspada.
Akhirnya Julia hanya menurut dan membiarkan Maxilian memasangkan sepatu hak tinggi di kakinya. Sepatu berwarna silver yang bertaburan batu permata itu tampak sangat cantik dan nyaman dipakainya. Julia tak tahu, dari mana Maxilian mendapatkan ukuran kakinya tapi yang jelas hal kecil yang baru saja suaminya lakukan telah menyentuh sudut hatinya.
"Ah kakak ipar. ini adalah sepatu desain terbaru yang sangat terbatas dari perancang terbaik di Paris." ucap Lindsey dengan mata berbinar. Dia melihat kaki putih Julia yang terlihat indah dengan sepatu mahalnya. Menoleh takjub kepada Julia dengan mata berbinar. "Kakak ipar, kau memiliki kaki yang indah. Ah, aku jadi menginginkannya."
"Oh sepatu itu.." ucap Hanna dengan mata penuh minat. "Kakak sepupu, dari mana kau mendapatkannya? Aku bahkan sudah memesannya tapi aku bahkan tak mendapatkannya. Tapi kau.."
Julia menatap dua wanita yang tampak sangat berminat dengan sepatu di kakinya. Tapi saat melihat Maxilian yang telah duduk dengan acuh di kursinya, Julia tersenyum tipis. Dia mendekat tiba-tiba dan melayangkan kecupan ringan di pipi suaminya.
"Terima kasih suamiku. Aku sangat menyukainya."
Maxilian menoleh dengan tatapan rumit. Dia melihat senyum Julia yang terlihat tulus dan tatapan mata yang berbinar. Lalu rasa basah di pipinya masih terasa hingga ke dasar hatinya. Rasa yang mampu menggetarkan hatinya. Namun pada akhirnya dia hanya memilih menganggukkan kepalanya dari pada menjawab dengan banyak hal.
__ADS_1
"Ayoyo, cucuku benar-benar sudah dewasa. Ah, aku bahkan tak tahu bahwa anak nakal ini memiliki sedikit perhatian." Merry cukup terkejut melihat semuanya. Ini adalah hal yang ditunggu-tunggu olehnya. Melihat cucu kesayangannya menikah dengan wanita cantik dan tulus mencintainya. Memberikan kehidupan yang dapat membuat jiwanya lebih manusiawi.
"Nenek, kini kau tak perlu khawatir lagi dengan kakak sepupu. Dia telah menjadi suami yang baik." hibur Hanna dengan mengelus jemari Merry.
"Kak Hanna benar. Nenek juga harus ingat kalau nenek masih memiliki cucu manis sepertiku. Aku tak akan membuatmu khawatir dengan kenakalanku." Kali ini Lindsey menimpali. Membuat Rose merasa muak pada kepalsuan seluruh orang yang tengah memuji Julia dan maxilian.
Rose melihat Julia dengan tatapan marah saat mendengar kata 'suamiku' itu keluar dari bibir Julia. Bahkan membuat Hanna, Lindsey bahkan Mery menatap iri. Dan dia lebih marah lagi saat melihat Maxilian bersikap lembut dan penuh perhatian pada Julia. Dia belum pernah melihat sikap Maxilian seperti itu terhadap wanita lain sebelumnya. Dan setelah melihat semua itu, membuat seluruh amarahnya menenggelamkan seluruh hatinya. Harusnya itu dia! Harusnya gadis yang menerima seluruh perlakuan lembut itu adalah dirinya.
Tapi kenapa gadis lugu seperti Julia yang mendapatkan seluruh cinta itu. Harusnya Maxilian terus bersikap dingin dan kejam pada semua wanita. Tapi kenapa sekarang dia berubah? Kenapa Maxilian rela merendahkan diri demi memasangkan sepatu ke kaki Julia? Apakah sebegitu besar pengaruh Julia sehingga dapat mengendalikan hati dan pikiran seorang maxilian? Dia tak bisa menerimanya!
"Oh kalian membuatku iri." ujar Carlen menatap iri pada Julia dan Maxilian.
Sedangkan Harvey hanya melihat datar sembari memperhatikan Julia untuk sementara waktu dan diam-diam juga memperhatikan Maxilian secara bersamaan. Mereka seakan melupakan niat awal mereka yang ingin melihat Maxilian dan Julia mencoba gaun pernikahan.
"Kakak ipar, jika kau tak menyukai sepatu itu, berikan padaku ya." pinta Lindsey dengan mata berbinar.
Julia tersenyum. "Kurasa sepatu ini akan menjadi langkah yang baik dari suamiku. Lindsey, maaf kau harus kecewa."
Lindsey awalnya cemberut tapi kemudian tertawa. Dia menunjuk tangan Julia dan bertanya, "Kakak, tunjukkan cincin pernikahan kalian. Aku ingin tahu seperti apa pilihan kakak sepupuku. Apakah itu tetap cincin termahal dan termewah yang hanya kau yang memilikinya?"
Cincin pernikahan?
Maxilian dan Julia saling bertatapan sesaat. Kemudian mereka sama-sama menatap Tomas yang mash berdiri di dekat pintu. Julia tersenyum, dia menarik tangannya dan menunjukkan jarinya yang kosong. Sontak semua tatapan jatuh pada Maxilian.
"Apakah kalian bisa melihatnya?" tanya Julia hingga membuat tatapan semua orang tertuju padanya.
"Jangan bercanda kakak ipar, aku tak melihat cincinya." timpa Hanna langsung.
"Aku juga, tapi kak, jari-jarimu sangat indah." tambah Lindsey. Dia menatap Mery dan menarik tangan Mery pelan. "Nenek apa kau melihat kakak ipar mengenakan cincin pernikahan?"
Maxilian hanya menarik teh yang sedari tadi tersaji di depannya. Dia tak berkomentar karena dia tahu Julia bisa mengatasi semuanya. Istrinya itu tidak bodoh.
Namun di mata Carlen, Harvey dan Rose semuanya berbeda. Ada sedikit senyum di bibir mereka. Menikah tanpa cincin pernikahan? Atau Maxilian yang tak memikirkan tentang itu? itu sudah jelas menampakkan situasi pernikahan yang mereka berdua jalani. Karena bukan pertama kalinya wanita merengek meminta cincin pernikahan yang akhirnya membuat jengah Maxilian hingga kemudian dicampakkanya begitu saja. Dan kali ini mereka semua yakin bahwa Julia akan merengek juga seperti wanita-wanita sebelumnya untuk meminta cincin pernikahan.
"Kalian tak melihatnya?" ulang Julia sekali lagi.
Semua menggeleng. Mereka menatap Julia aneh. Melihat itu Julia tertawa lalu menatap Maxilian. Dia mendekat, mengulurkan tangannya pada Maxilian dengan lembut. "Sayang, mereka tak dapat melihat cincinnya. Oh, aku lupa,"
__ADS_1