Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Dia Istriku


__ADS_3

Kalo ada typo dimaklumi ya.. Aku kaya kejar target banget. Kerjaan rumah banyak. Makasih sudah sabar menunggu.


**


Julia berpikir sejenak saat berada di dalam mobil. "Jeni, kita pulang nanti. Bawa aku ke rumah paman Sam."


Namun sebelum mobil berjalan, dering ponsel dari Julia terdengar. Dia mengangkatnya dengan cepat.


"Julia, ini aku paman Aston."


Julia menjauhkan teleponnya dan memastikan bahwa nomer yang aisng ini adalah paman Aston. Mungkin ini nomer baru paman Aston.


"Ya paman, apa kabar?" tanya Julia sopan.


Ada kekehan terdengar pelan. Membuat Julia merasa lega.


"Ini kabar baik. Aku menghubungimu untuk mengundangmu makan malam dirumahku malam ini. Apakah kau ada waktu?"


Julia terdiam sesaat. "Aku hanya memiliki beberapa pekerjaan."


"Julia, aku minta maaf karena tak dapat membantumu mengatasi masalah yang baru kau hadapi. Jasson juga tak mengatakan apa-apa. Jadi malam ini aku memiliki sesuatu yang penting yang ingin kubicarakan."


"Baiklah, aku akan datang."


"Hemm, paman akan menunggumu."


Julia menutup telepon dan menatap Jeni yang di depan. "Dari mana pengacara Aston mendapatkan nomerku?"gumamnya pelan. "Jeni, kita kerumah pengacara Aston dulu."


"Tapi nona, tuan muda tengah menunggu nona."


"Aku akan mengiriminya pesan pendek."


Mendengar itu Jeni mengangguk patuh. Dia mengemudi menuju rumah utama keluarga Aston William. Saat Julia sampai, hari sudah menjelang petang. Julia turun, sedangkan Jeni menunggu di mobil. Awalnya dia ingin ikut, namun Julia memastikan bahwa semua akan baik-baik saja.


Ketukan pintu itu terdengar lembut dari luar. Julia menunggu menunggu di depan pintu dengan wajah sedikit senang. Dia telah menukar pakaiannya menjadi gaun di bawah lutut berwarna merah maron, Menampilkan lekuk tubuh yang ramping dan kaki jenjangnya. Meski Julia tak menyadari, namun memang kenyataannya dia makin cantik daripada sebelumnya. Wajahnya makin bersinar karena Maxilian menjamin semua yang ia butuhkan. Dari pakaian, sepatu, bahkan aksesoris, Maxilian sendiri yang memilihkannya. Dan Julia tidak menyadari sama sekali, dia hanya tahu kalau itu semua adalah pekerjaan desainer keluarga Lunox.


Pintu bercat hitam itu perlahan dibuka. Julia tersenyum lebar namun kemudian membeku saat wajah cantik dengan make up tipis itu berdiri di depannya. Menundukkan kepala, Julia menyapa dengan sopan.


"Selamat malam bibi."


Wanita itu menatap Julia dari atas hingga bawah. Mengerutkan keningnya saat tahu semua hal yang Julia kenakan adalah barang branded dengan harga tak biasa. Bukan hanya apa yang dikenakannya, namun dari aroma parfumnya saja, dapat tercium mahal. Semua yang melekat di tubuh Julia adalah barang-barang milik kalangan atas.


"Kau Julia?" ada nada tak percaya dalam kata-katanya. Julia yang ia tahu adalah seorang gadis yang kehilangan semua harta warisannya dan sekarang telah miskin. Lalu darimana gadis itu mendapatkan semua barang mahal ini? Memikirkan itu, senyumnya membeku. Gadis ini, dia tak akan membiarkannya menempel pada keluarganya.


Melihat urat wajah istri paman Aston yang menyusut, membuat Julia hati-hati. "Paman Aston mengundang makan malam, tapi tampaknya aku ada sedikit urusan. Bibi, tolong sampaikan maafku pada paman Aston."


Istri Aston hanya diam tak bicara. Dengan wajah kesal, ia membuka sedikit pintunya. "Tunggu!" Tahannya saat tahu Julia mengambil langkah balik yang membuat langkah Julia tertahan.


"Aku tak tahu apa yang kau pikirkan sampai menginginkan pernikahan dengan putraku. Tapi kau harus tahu bahwa aku menolakmu sampai akhir!"


Pernikahan? Dengan putranya? Julia menahan tawa. Ada apa ini? Dari mana kabar itu muncul. Namun dia menarik senyum lembut dan menjawab sopan. "Bibi, pasti ada salah paham disini."


"Jangan berpura-pura!"


Julia membuka mulutnya tak percaya. Sebenarnya ada apa ini? Namun sebelum menjawab lagi, ada suara lain menginterupsi dengan hangat.


"Julia, apa itu dirimu?" Di iringi pintu yang terbuka lebar. Sosok Aston muncul dengan senyum hangat. "Oh, itu benar dirimu. Ayo masuklah, kami sudah menunggumu."


Julia tersenyum sedikit dan menatap wanita itu ragu. Melihat hal itu Aston mengalihkan pandangannya pada istrinya. "Jessi, Apakah kau tak menyuruhnya masuk."


Jessi tersenyum lembut. "Sayang, dia baru saja datang." menatap Julia dengan senyum ramah. "Masuklah, setidaknya tinggallah sebentar meski kau memilki urusan lain yang tertunda."


"Dia ada urusan?" tanya Aston pada Jessi. "Julia, kau.."


"Paman, aku akan tinggal sebentar." potong Julia cepat. Dia jelas tahu maksud dari kata-kata Jessi, namun dia akhirnya memutuskan tinggal sebentar untuk memastikan sesuatu.


"Baguslah, ayo masuk." ujar paman Aston.


Julia mengangguk. Paman Aston memang selalu baik padanya. Jadi Julia tidak tega untuk menolak undangannya. Julia duduk di meja makan dan tersenyum kaku saat melihat Jasson menatapnya tajam. Membuat bibirnya terkunci rapat karena merasa tidak nyaman. Jika di pikir-pikir ini adalah pertemuannya sejak satu bulan yang lalu di rumah sakit. Jasson tampak sedikit kurus namun tetap saja ketampanannya tak berkurang.


Jessi ikut duduk tak jauh dari Aston. Sedangkan Julia duduk tepat berhadapan dengan Jasson. Dia merasa berat mengangkat sendok sejak makan malam di mulai. Tatapan matanya jatuh pada makanan di atas piring yang sedari tadi hanya ia aduk tanpa ia nikmati.


"Julia, apa kau baik-baik saja?'


Julia menoleh, menatap Aston yang meletakkan sendok dan mengelap mulut. Seketika ia meletakkan sendoknya dan sedikit mendorong piringnya ke depan, menandakan bahwa ia telah selesai. "Aku baik-baik saja paman."


"Di mana kau tinggal sekarang? Kenapa begitu susah mencarimu?"

__ADS_1


Julia mengerutkan kening lalu pandangannya jatuh pada Jasson yang telah menjawab pertanyaan Aston.


"Ayah, dia sangat baik. Tidak perlu mengkhawatirkannya."


Jessi ikut menimpali. "Bukankah kau sudah melihatnya. Dia baik-baik saja."


Suasana ini, Julia sangat membencinya. Namun dia tetap menarik lembut bibirnya. "Paman, aku hidup dengan baik. Tidak perlu khawatir."


Aston tersenyum lembut. "Paman menyesal karena tak tahu kesulitan yang kau alami. Dan paman sudah memikirkan solusinya. Menikahlah dengan Jasson."


"Ayah."


"Sayang."


Julia tertegun saat mendengar semuanya. Aston yang tulus namun berbeda dengan sikap Jasson dan Jessi yang sangat keberatan. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Aston menyuruhnya menikah dengan Jasson.


"Diam!" Aston menggertak sambil menggenggam erat kepalan tangannya.


Julia menatap Aston dan Jasson bingung. "Paman, aku tak mengerti maksudmu."


"Seorang wanita datang dan memberiku banyak informasi tentang dirimu. Julia, kau tak perlu bekerja dengan cara yang salah. Berhentilah, dan menikahlah dengan putraku."


"Pekerjaan? pekerjaan apa?" tanya Julia ingin tahu. Dia tak memikirkan kata-kata yang lain. Tapi sepertinya ada orang lain yang membunuh karakternya. Sehingga membuat nama baiknya hancur.


"Apapun yang terjadi, aku tak akan menerimanya sebagai menantuku! Mana mungkin seorang wanita simpanan menjadi istri anakku. Sayang, apa kau sudah gila?" serbu Jessi dengan tatapan penuh luka saat berhadapan dengan Aston. "Dia putraku. Jadi adalah wajar kalau aku akan mencarikannya istri baik-baik dan dari keluarga terhormat."


"Istri simpanan?" ulang Julia memastikan. Dia menatap Jessim Jasson dan Aston bergantian. Jasson, bukankah dia sudah tahu kalau dirinya sudah menikah? Tapi kenapa pria itu hanya diam saja dan tak menjelaskannya.


"Jessi." tegur Aston tak nyaman.


"Lihatlah pakaiannya. Kau masih berpikir dia menderita? Kurasa dia memang berbakat menjadi istri simpanan pria tua di luar negeri." hardik Jessi kesal.


Julia tersenyum miris. Dia menatap Jessi tak suka. "Bibi, tolong perbaiki kata-katamu."


Aston menatap Julia tak ngaman. "Julia, aku tahu kau mengalami masa sulit. Kau bisa datang padaku bila membutuhkan uang. Tapi bukan dengan cara seperti ini. Tinggalkan semua, dan menikahlah dengan Jasson."


Julia masih diam berusaha mencerna semua. Dia sedikit terguncang dengan kabar yang ia dapat hari ini.


"Ayah, ia tak akan meninggalkan pria itu dengan mudah. Lupakan semua. Lagipula aku tak mencintai wanita sepertinya."


Lagi, penolakan Jasson menarik perasaan Julia. Dia menatap pria di depannya lalu beralih pada Jessi yang menatapnya jijik dan pada Aston yang menatapnya prihatin.


Apa ini? Oh tuhan, rasanya ia ingin tertawa keras. Kenapa sekarang orang-orang ingin sekali mengetahui segala urusannya?  Kenapa mereka semua percaya rumor yang belum tentu benar. Menatap Aston dengan sayang, dan kemudian menatap Jasson dengan enggan. Dia ingin tertawa sekali lagi. Tapi dia masih bisa berpikir tenang.


"Paman, katakan padaku, siapa yang mengatakan aku menjadi simpanan pria tua?"


Aston mencoba mengingat. "Seorang wanita dengan penampilan mewah. Dia bilang kalau dia temanmu. Dia menceritakan kisahmu dan merasa kasihan padamu. Sebagai temanmu, dia sudah melakukan langkah yang tepat."


"Oh," ucap Julia dengan tawa kecil. "Paman, aku tak memiliki teman. Kurasa kau tahu itu. Satu-satunya temanku sedang dirawat di rumah sakit jiwa saat ini. Paman, kau tak bermaksud percaya dengan perkataan orang gila bukan?"


"Hati-hati dengan kata-katamu Julia!" peringat Jasson dingin.


Pandangan Julia beralih ke Jasson. "Kini di mana kesalahanku? Jasson, kau tahu identitas suamiku, kenapa kau tak menceritakannya pada paman."


Aston beralih pada Jasson. "Jason,"


Jasson mendesa*h. "Aku hanya tahu siapa kaki tangannya. Dan itu mungkin saja, bahwa dia adalah orang kaya yang usianya sudah tua."


"Kau yakin?" tanya Julia sekali lagi. Pria tua yang kaya raya. Kata-kata yang membuatnya ingin tertawa.


"Apa maksudmu? Kenapa aku harus mencari tahu semua tentangmu. Dengan siapa kau menikah, bukanlah urusanku." ucap Jasson sinis.


Julia kian tersenyum lebar. "Dan kenapa kalian mengurusi masalah pribadiku?"


Hening. Julia bersandar dengan anggun dengan tatapan lembut. Sosoknya cantik namun penuh keangkuhan. Begitu menarik hingga Jasson tak dapat mengalihkan pandangannya.


Mendapati semua diam, Julia menatap Aston. "Paman, kau tak perlu khawatir, aku bukanlah seperti yang kau pikirkan. Jadi, maaf, aku tak bisa menikah dengan Jasson."


"Julia," sela Aston tak setuju.


Menolak penolakan yang tegas dari Julia, Jasson menepikan tatapannya. "Aku juga tak akan menikah dengan wanita sepertimu."


Julia terhenyak. "Wanita sepertiku? Jasson, aku ingin tahu. Menurutmu, wanita seperti apa diriku?"


"Tak perlu bertanya pada putraku!" sela Jessi tak suka. "Kau sangat buruk. Baguslah kalau kau benar sudah menikah. Jadi menjauhlah dari keluargaku!"


"Jessi!"bentak Aston marah.

__ADS_1


"Paman, hentikan semuanya. Siapa suamiku, kalian tak akan dengan mudah menjangkaunya. Terkait dengan berita tentangku, kurasa paman harus memastikannya terlebih dahulu. Soal wanita yang mengaku menjadi temanku itu, seperti juga tidak sesuai dengan yang paman pikirkan."


"Kau sangat sombong!" seru Jessi tak suka. "Memangnya siapa suamimu sampai kau bisa sesombong ini?"


Juloia tertawa. Dia melirik Jessi dan tak menanggapi. Dia lebih suka menatap Aston. "Paman, sudahi semuanya. Aku sangat berterima kasih atas undangan makan malamnya. Aku pamit sekarang."


"Julia," tahan Aston lembut. "Coba kau pikirkan sekali lagi. Wanita paruh baya itu datang dan menangis padaku. Menunjukkan fotomu dan menyewaku untuk menuntutmu. kau simpanan suaminya kan?"


"Apa?" tanya Julia terkejut. "Wanita paruh baya?"


Aston mengangguk.


"Paman, mungkin dia salah orang."


"Lihatlah dia mengelak. kau sangat menjijikkan Julia." tegur Jessi jijik namun Aston melirik sinis padanya untuk menahan diri.


Aston menggeleng. "Aku sudah memastikannya. Sekarang, kau berhentilah main-main. Menikahlah dengan Jasson."


"Siapa menikah dengan siapa?"


Suara berat nan dingin itu memecah suasana. Semua orang menoleh pada asal suara dan terkejut. Julia sontak berdiri dan Jasson pun mengikuti.


"Maxilian." tegur Julia tak percaya.


"Siapa yang mengundangmu masuk?" kali ini Jasson terlihat lebih dingin.


Aston sontak ikut berdiri dan Jessi pun mengikuti. Melihat ketegangan yang terasa, Jessi tak dapat menahan lagi. matanya menatap Maxilian dari atas hingga bawah dan bungkam.


Maxilian menjatuhkan tatapannya pada Julia dan mendekat. Namun sebelum dia sampai, dia melirik Jasson sesaat.


"Kenapa kau di sini?" tanya Julia gugup. Dia menarik tangan pada Maxilian cepat. "Ayo kita pulang."


Namun tangan Maxilian beralih menarik tangan Julia hingga tubuh gadis itu jatuh ke pelukannya. "Biar aku jelaskan karena mereka yang begitu ingin tahu. Bahwa aku adalah pria tua yang menjadikanmu simpanan."


"Apa?" sahut Aston, Jasson, dan Jessi terkejut.


"Aku tak tahan lagi mendengarnya. Kalian mengundang istriku makan malam lalu menghinanya, dan berusaha menjodohkannya dengan putra kalian." Maxilian berkata langsung ke inti.


"Maxilian, hentikan." uvap Julia khawatir. Dia sangat tahu bagaimana Maxilian bila marah.


"Siapa menginginkan siapa?" tanya Jessi tak mau kalah. Dia menatap sinis Maxilian. "Sayangnya aku tak akan menikahkan putraku dengan wanita penghibur sepertinya. Tak hanya menjadi simpanan, tapi juga menjadi istri pria lainnya juga. Julia, kau benar-benar luar biasa!"


Usai Jessi mengatakan itu, Maxilian menarik tangan Julia dan meminjamnya untuk menampar wajah Jessi keras.


"Maxilian." ucap Julia menarik tangannya terkejut. Gerakan itu sangat cepat hingga ia tak menyadarinya.


"Jessi."


"Mama, kau tak apa? apa yang kau lakukan?" bentak Jasson pada Maxilian.


Maxilian hanya tersenyum tipis. Dia meletakkan tangannya pada pinggang Julia. "Jangan takut, aku ada di belakangmu. Kau bebas melakukan apapun." bisiknya pada telinga Julia.


"Apa yang kau lakukan!" teriak Jessi histeris. Dia tak menyangka akan mendapatkan tamparan.


Maxilian tersenyum, ia melirik Aston. "Pengacara Aston, kau bisa menuntutku di pengadilan atas tamparan itu."


"Maxilian," ungkap Aston menggelap.


"Berani-beraninya kau menginginkan istriku untuk menjadi menantumu!"


Jasson sangat terkejut. Pria ini, pria ini adalah pria yang pernah ia lihat di atomic bar. Dia tak menyangka bahwa Julia menikah dengan pria ini.


"Aku tak tahu bahwa kau adalah suami Julia." jelas Aston dingin.


"Sayang, dia menamparku. Tuntut dia, masukkan dia ke penjara." rengek Jessi pada suaminya.


Maxilian menatap datar. "Aku akan menunggu tuntutanmu nyonya. Sederet pengacara Lunox akan siap untuk melawan suamimu."


"Apa?" ucap Jasson dan Jessi terkejut. Sedangkan Aston hanya menahan amarahnya.


"Aku hanya akan memberitahu, bahwa aku juga akan memberikan tuntutan yang sama. Mencemarkan nama baik istriku, sama dengan mencemarkan nama baik keluarga Lunox. Kalian bisa menghubungi pengacaraku untuk langkah selanjutnya." peringat Maxilian dingin. Matanya menatap tajam Jasson dengan mengeratkan rahangnya marah.


"Maxilian." lerai Julia lembut.


Maxilian menoleh. "Ayo pulang, makanan di sini tidak cocok untukmu."


Maxilian berjalan lebih dulu dan menarik tangan Julia. Julia hanya mengikuti dan sekali lagi menoleh ke belakang. Menundukkan kepalanya untuk pamit pada Aston dengan perasaaan tak nyaman.

__ADS_1


Setelah kepergian Maxilian dan Julia, Aston menampar Jessi sekali lagi. Membuat wanita itu terkejut dan menatapnya tak percaya.


"Aku sudah memperingatkanmu untuk diam. Tapi kau mencari masalah dengan mulutmu! Apa kau tak tahu keluarga Lunox? Jika tidak, maka bersiaplah untuk hancur karena dia telah menyatakan akan menuntut kita."


__ADS_2