
WARNING!! Zona dewasa ya! bocil skip aja! Jangan sampai dewasa sebelum waktunya
**********************
Tanpa sadar Sely mengeratkan genggaman tangannya lalu melemparkan sisir yang ia pegang ke arah cermin. Tatapan sinis Maxilian masih terbayang dengan jelas. Kenapa? Kenapa ini tak berhasil dengan Maxilian? Cara ini berhasil pada Jordan dan Sam. Tapi kenapa tidak dengan Maxilian. Ingatannya kembali tertuju pada wajah pria lain yang juga menatapnya dengan sinis. Tatapan sinis Maxilian sama dengan yang dilakukan pria tersebut. (ada yang bisa menebak siapa pria itu?)
Sely mengingat kembali tentang Julia. Tentang bagaimana temannya itu berubah. Berubah terlalu banyak hingga dia tak sadar bahwa Julia seperti bukan orang yang dikenalnya. Tatapan Julia terhadapnya, adalah tatapan dingin dan jijik. Tatapan Julia dan Maxilian terhadapnya pun tidak jauh berbeda. Kenapa mereka semua mempunyai sikap yang sama terhadapnya.
Arggh..Prang!! Kaca di depannya pecah saat ia tanpa sadar melemparkan botol parfum yang ia miliki ke kaca. Pecahan itu sangat banyak hingga menggores tangannya. Darah mulai keluar, namun Sely tak mempedulikannya.
Sementara itu di tempat lain, Jordan terlihat menikmati beberapa teguk minuman keras hingga janet datang dan menghentikannya. Janet membawa Jordan pulang ke apartemen. "Apa yang terjadi padamu?" tanya Janet kesal karena mendapati sikap aneh Jordan akhir-akhir ini.
Jordan hanya memejamkan mata meski ia mendengar apapun yang dikatakan Janet. Dia tak mempedulikan sama sekali ocehan yang Janet keluarkan untuknya.
"Jordan, kita akan segera menikah. Kenapa sikapmu seperti ini? Apakah terjadi sesuatu yang tak kutahu?" cecar Janet sembari membuka sepatu, kaos kaki serta pakaian Jordan. Dia memperlihatkan perhatiannya selayaknya istri yang baik. Namun saat ini Jordan hanya diam tak menjawab.
"Jordan, kenapa dengan wajahmu? Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu menj--"
__ADS_1
"Berisik!" potong Jordan kesal.
Janet membahas luka di wajahnya yang mengingatkannya pada kejadian hari ini. Di mana dia bertemu Julia dan bertengkar dengan Jason. Lalu dia melihat Julia nya telah ternoda. Julia nya telah berubah, wanitanya itu kini memiliki pria lain. "Kenapa? Kenapa?" Jordan mengamuk tanpa sadar.
Janet terkejut dan mundur. Dia melihat Jordan dengan rasa takut dan keterkejutan yang merayap. Pria itu tampak marah dan menatapnya dengan ganas. Membuatnya mundur ketakutan meski tangan pria itu terulur untuk meraih tangannya.
Dia mengingat semua perkataan Julia yang membuat perasaannya kian buruk. Dia tak mengerti kenapa gadis pemalu seperti Julia yang selalu mencintainya tiba-tiba berubah membencinya. Dia tak mengerti kenapa gadis lugu seperti Julia memiliki pria lain, bahkan rela disentuh oleh pria lain. Jejak kepemilikan yang ia lihat membuatnya sangat marah, kenapa harus pria lain yang melakukannya, kenapa jejak itu bukan darinya! Bahkan dengan santai Julia mengatakan bahwa ia telah menikah. Dan itu bukan dengannya!
"Menikah?" ungkap Jordan dengan tawa kecil.Dia menelisik wajah Janet yang beringsut mundur menjauhinya. Tatapannya menajam dan menusuk saat mengingat kata-kata Julia. Julia benar, karena wanita inilah Julia menjauhi dan meninggalkannya. Karena ia tergoda dengan Janet, Julia berubah. Dan karena ia mengikuti cara kotor Janet, ia merebut semua harta yang Julia miliki. Semua karena Janet! Dia bahkan setuju untuk menikahi wanita ini.
"Janet," panggil Jordan lembut namun dingin.
"Pernikahan?" ulang Jordan dengan wajah yang kian menggelap. Harusnya pernikahan itu adalah dirinya dengan Julia. Minggu ini, benar, harusnya adalah pernikahannya dengan Julia. Bukan Janet! Sial! Kenapa semua menjadi seperti ini? Kenapa Julia menikah lebih dulu dan pria itu bukan dirinya! Hal-hal itu semakin membuatnya murka. Dia meraih tangan Janet cepat dan menariknya dengan keras.
"Ahh! Jordan apa yang kau lakuk--"
Belum selesai kata-kata Janet, Jordan sudah memeluk Janet erat. Sangat erat hingga ia merasa tulang-tulangnya akan remuk.
__ADS_1
Tatapan Jordan menggelap, harusnya ia memeluk Julia saat ini. Harusnya dia... semakin dia banyak berpikir, semakin dingin perasaannya. Dan semakin ia memeluk erat Janet, semakin kuat halusinanya bahwa orang yang ia peluk saat ini adalah Julia.
Jordan dengan rakus mencium bibir Janet kasar. Membuat Janet terbelalak karena gerakan Jordan yang menggebu-gebu. Ciuman itu sangat dalam, menari-nari hingga mengeluarkan suara kecapan yang nyaring. Tak membutuhkan waktu lama, rasa takut Janet menghilang. Kini dia membalas ciuman itu dengan dalam. Membiarkan lidahnya bermain dan saling menghisap satu sama lain.
Jordan tersenyum tipis, hatinya yang dingin kini mencair dan kian hangat. Julia membalas ciumannya dan membuat tangannya berani menyelinap di balik baju wanitanya dan bermain dengan kulit punggung yang halus. Perlahan tangan itu melepaskan kait bra gadisnya hingga benar-benar terlepas.
Ciuman panas itu beralih, Jordan menyeret bibirnya turun untuk menciumi leher putih itu dengan rakus. Dia harus menggantikan tanda-tanda merah itu dengan kepemilikannya. Jadi berkali-kali ia menghisap kulit putih itu hingga meninggalkan warna merah di berbagai tempat.
"Ahh Jordan." Lenguh Janet lirih. Matanya memerah dengan aliran darah yang menggelora. Dia merasa seluruh tubuhnya panas dan menginginkan sentuhan yang lebih di berbagai tempat. Dia tak pernah melihat Jordan yang begitu lembut namun menggebu dalam waktu bersamaan. Membuatnya melayang dan merasa seperti sangat diinginkan.
Mendengar lenguhan itu, hati Jordan tak bisa tak bahagia. Satu tangannya mulai bergerak menelusuri paha mulus itu dan semakin naik ke atas. Sedangkan satu tangannya yang lain merobek baju Janet dengan sekali tarik. Matanya berkilat penuh nafsu saat melihat tubuh putih mulus di depannya dengan banyak tanda kepemilikannya. Membuatnya bangga tak terkira. Benar, harusnya sejak awal Julia adalah miliknya. Dia tidak akan membiarkan siapa pun memilikinya.
Jordan semakin bergerak ganas. Kedua tangannya bermain sangat liar menelusuri setiap titik sensitif Janet hingga lenguhan Janet berkali-kali terdengar. Membuat pikiran Jordan makin melayang dan tubuhnya makin memanas.
Entah sejak kapan kini keduanya mulai terlepas dari semua pakaian mereka. Tak ada satu pun penghalang membuat mereka berdua saling memeluk untuk menghangatkan dari dinginnya ac. Jordan dengan hati-hati menembus kewanitaan Janet. Namun saat dia merasakan tak ada penghalang di sana, pikirannya berubah menjadi buruk. Dia dengan cepat dan ganas menghujam Janet tanpa ampun. Memebuat Janet memekik kesakitan hingga air mata tanpa terasa mengalir.
Jordan tak pernah melakukan sesuatu yang kasar seperti ini padanya. Tapi kini dia merasa seluruh tubuhnya remuk dalam hujaman dan remasan yang sangat menyakitkan. Jordan terlihat sangat bernafsu hingga tak dapat dikendalikan. Semakin cepat gerakan Jordan, semakin keras teriakan Janet. Dia berkali-kali memohon agar Jordan berhenti menyudahi semuanya. Tapi sepertinya semua harapannya sia-sia karena dia merasa Jordan begitu menikmati kegiatan itu hingga terus terdengar lenguhan nikmat yang keras dari bibir Jordan. Sangat keras, seperti kerasnya tangan Jordan yang meremas pinggangnya sampai terasa mau patah.
__ADS_1
"Ohh Julia.." lenguh Jordan puas dan dia jatuh di atas tubuh Janet. Kemudian terlelap dengan sangat damai. Tanpa menyadari bahwa Janet telah menangis dan mendorongnya ke samping. Malam ini janet menangis histeris di samping Jordan. Dia sangat terluka dengan segala yang dia dapatkan hari ini dari kekasihnya.