
Mohon maaf kalau selow update. Saya masih di rumah sakit. Suami masih sakit. Terimakasih kepada pembaca yang setia menunggu. Kami anak rantau, jadi tidak ada sanak saudara yang bisa kami mintai bantuan untuk jaga anak- anak. Jadi bisa bayangkan betapa sibuknya saya. Sekali lagi minta maaf kalau ada keterlambatan update. Terimakasih
*****
Julia lupa bahwa saat ini mereka ada di rumah sakit. Dia terlena, hingga tatapannya terkunci pada tubuh Maxilian di hadapannya. Tangannya bahkan mulai bergerak pelan menelusuri setiap otot perut yang terbentuk. Dia tak menyadari, entah berapa lama waktu yang telah berlalu dan kapan tangan Maxilian telah terlepas dari tangannya. Dia hanya tahu, bahwa kini pemandangan di hadapannya sangat... seksi dan sangat menggiurkan hingga jiwa wanitanya terpesona.
Jari-jari lentiknya terus saja bergerak secara perlahan. Menelusuri setiap lekuk otot yang terbentuk. Pelan tapi pasti merasakan kehalusan kulit di bawah tangannya. Menatap lekat bulu-bulu halus yang terbentuk rapi dengan kulit sedikit gelap daripada warna kulitnya. Otot perut itu indah, dan terbentuk sempurna. Tak peduli seberapa banyak jari lentinya bergerak, semua terasa halus tanpa lemak.
“Ssshhh..”
******* pelan yang tertahan itu akhirnya lolos dari bibir Maxilian. Tubuhnya menegang saat dia merasakan sentuhan halus yang membelai perutnya. Itu bermain dan berpindah sangat pelan. Mengalirkan sengatan listrik yang aneh dan menjalar di setiap aliran darahnya. Membuat matanya berkabut merah, dengan tatapan berat dan nafas yang tak lagi tenang.
Julia tersentak saat ******* itu terdengar. Dia menengadah, menatap Maxilian yang menunduk menatap wajahnya. Tanpa kata, tanpa bicara, tapi kesalahan yang tak dia sadari adalah tangannya tetap berada di perut sixpack Maxilian.
Bibir coklat Maxilian mendesis, menahan sesuatu yang perlahan kian terasa liar. Dia bahkan memejamkan matanya sesaat dan kembali membukanya. Menatap gadis cantik yang lebih pendek darinya dengan tatapan berkabut. Nafasnya yang tak tenang itu mulai memburu seiring rasa liar yang kian tumbuh cepat menguasai kesadarannya.
“Menjauhlah dariku.” Ujarnya pelan. Tapi tatapan matanya tetap mengunci Julia tanpa berkedip sedikitpun.
“Aku..”
Julia tertegun. Peringatan halus nan lembut mengalun di telinganya. Dia menatap wajah tampan yang terlihat dingin dengan mata sedikit merah dan bibir coklat yang terkatup rapat. Sungguh, saat ini di matanya, ketampanan pria ini menjadi berlipat. Dia harus mengakui bahwa semua hal yang Maxilian miliki adalah terbaik yang pernah ia lihat. Pria ini, tak peduli seberapa banyak ia memandang, ketampanannya tak akan berubah.
__ADS_1
“Menjauhlah”
Peringatan lembut dan sangat pelan itu kembali Maxilian lontarkan. Dia berusaha sekuat tenaga menahan sesuatu yang liar di tubuhnya. Hanya karena sentuhan lembut yang ringan. Jiwa lelakinya bangkit bahkan kini menuntut lebih. Tapi dia tidak gila, meski gadis cantik di hadapannya ini adalah istrinya, dia tak percaya bahwa dirinya akan terlena begitu saja. Tapi saat ini, rasanya semua itu tak penting baginya.
“Angel..aku..” ujar Maxilian tertahan dengan memejamkan matanya sesaat.
Julia tertegun. Tubuhnya kaku saat bibir coklat yang tadinya terkatup rapat menyebut namanya, nama aslinya! Nama jiwanya! Lalu tatapan teduh yang berkabut itu seakan menarik kesadarannya. Membuatnya lupa akan rasa sakit sebelum kematiannya dan membuatnya lupa bahwa saat ini dia adalah Julia Brasco.
Dia terlena!
Dia terpesona!
Sudah berapa lama sejak dia mendengar seseorang menyebut namanya? Dan sudah berapa lama, dia bisa melihat tatapan teduh yang tulus? Entah kenapa itu mengingatkannya dengan cinta lamanya. Pada perasaan menggelora yang mampu menguasai jiwanya. Membuat rasa rindunya membuncah hingga tanpa sadar jari lentiknya kembali menyentuh tubuh berotot di hadapannya.
Gerakan itu kilat. Semua terjadi begitu cepat. Saat pada akhirnya tangan Maxilian menarik kembali tangan Julia hingga membentur tubuhnya. Wajahnya menunduk dan tiba-tiba mencium bibir Julia lembut. Awalnya seperti itu, tapi dia merasakan tolakan karena bibir gadis itu tertutup rapat. Membuat jiwa lelakinya yang terlepas menggigit bibir pucat gadis itu agar keinginannya terpenuhi.
Julia tersentak saat tiba-tiba sentuhan asing mencoba mengambil alih bibirnya. Dia menutup rapat bibirnya hingga gigitan keras membuatnya terkejut dan bibirnya terbuka. Lalu dia merasakan hisapan lembut pada bibirnya. Menarik jiwa wanitanya dengan sentuhan lembut yang menjelajahi seluruh bibirnya. Menari dan menggodanya untuk membalas hingga tanpa sadar dia pun merespon semuanya.
Ciuman itu awalnya lembut tapi kemudian berubah menjadi menuntut. Maxilian memeluk erat tubuh mungil di hadapannya dengan tangan yang perlahan mulai bergerak secara liar. Menelusup dan menyusuri pinggang kecil yang terasa sangat lembut. Matanya yang terpejam perlahan terbuka. Menyeret bibirnya untuk turun ke leher putih pucat dengan ciuman lembut yang terus saja menuntut. Satu tangannya bahkan mulai bergerak membuka satu persatu kancing baju yang Julia kenakan.
Semua terlena. Julia bahkan terpesona. Dia merasa sentuhan lembut yang ia terima seakan mendamba dan menginginkannya. Seakan memberi tahu bahwa tanpa dirinya, pria ini tak akan bisa bertahan hidup di dunia.
__ADS_1
Kecupan dalam itu meninggalkan bekas kepemilikan yang terlihat di kulit putih Julia. Bibir Maxilian terus menuntut hingga pelukan yang erat itu membuat bagian inti tubuhnya memberontak. Membuatnya mengerang pelan dengan nafas yang kian memburu. Dia tak menyangka bahwa setiap indera di tubuhnya menginginkan lebih. Lebih dan lebih lagi! Dia ingin mendengar ******* lembut yang mengalun di telinganya. Dia ingin meninggalkan semua tanda kepemilikan di tubuh putih seorang yang saat ini dipelukannya.
Bahkan sekarang dia ingin membuat gadis ini berada di bawah tubuhnya!
Di bawah kendalinya!
Di bawah perintahnya!
Dan di bawah...
Semua hal, setiap inderanya menginginkan kepuasan yang tak terbatas!
Kegiatan panas itu akan terus saja berlanjut jika saja pintu ruangan itu tak terbuka dan sebuah nama keluar setelahnya.
“Julia aku—“
Sely tertegun saat dia baru saja membuka pintu ruangan dan melihat dua orang saling berpelukan. Tidak! Itu salah! Dia melihat seorang pria yang bertelanjang dadda tengah memeluk Julia posesif seolah temannya itu sangat berharga. Dia bisa melihat jelas wajah merah Julia dengan bibir bengkak dan berapa banyak tanda merah yang terlihat jelas. Di leher, di tulang selangka, semua terlihat dengan tanda kepemilikan yang sangat kontras.
“A-Aku,” ucap Sely terbata. Tangannya gemetar tanpa sadar saat tahu seluruh kancing kemeja rawat Julia sudah terbuka. Dan tangan kekar itu memeluk erat pinggang Julia seolah tak ingin melepaskannya.
Keterkejutan kian naik saat tiba-tiba suara renyah diiringi batukan ringan itu terdengar. Jelas saat ini, pintu ruangan itu terbuka dan kehadiran Mery, Lucas, dan Tomas membuat suasana kian kaku. Mereka semua bisa melihat dengan jelas semua hal yang telah terjadi di dalam sana.
__ADS_1
“Ayoyo.. Maxilian. Kau benar-benar nakal! Bagaimana kau bisa menyiksa cucu menantuku yang sedang sakit?”