Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Meraba Lemak Perut


__ADS_3

Mata Maxilian bergeser saat melihat raut bingung dengan ekspresi marah yang perlahan terlihat. Dua sudut bibirnya berkedut dengan satu tangan menutup telinganya. Memejamkan mata, dia mendengus kasar. “Jangan berteriak!” peringatnya langsung.


Julia mengalihkan tatapan matanya dari pintu yang tertutup ke wajah tampan yang sedang duduk di kursi roda. Jari telunjuknya kembali mengarah pada Maxilian. “Kau! Ka—Kau pria berlemak, kenapa kau ada di sini! Dan apa ini, kenapa kau duduk di kursi roda?”


Kata ‘pria berlemak’ itu membangkitkan rasa tersendiri bagi Maxilian. Dia telah memperketat olah raganya akhir-akhir ini untuk memastikan otot tubuhnya. Dia sudah memastikan bahwa  perutnya rata dan hanya tertutupi otot, bukan lemak. Tapi wanita di hadapannya ini lagi-lagi memanggilnya pria berlemak.


Melihat Maxilian yang diam, Julia mulai waspada. Dia mengingat semua ancaman serta semua hal yang telah terjadi di antara mereka. Dia ingat bahwa pria di hadapannya ini haruslah baik-baik saja, tidak lumpuh seperti yang terlihat saat ini. Tapi kenapa Tomas mengatakan kalau tuan mudanya lumpuh? Memikirkan ini, dia tersenyum tipis.


“Kau, aku yakin kakimu baik-baik saja. Kenapa kau tak turun dari kursi rodamu itu?” Tak menunggu reaksi Maxilian, Julia kembali melanjutkan. “Oh aku tahu, kau pasti tak ingin memperlihatkan lemak tubuhmu bukan?”


Hening, Maxilian hanya diam dan menatap bibir tipis di hadapannya itu bergerak dan selalu mengeluarkan kata-kata tajam. Matanya melirik meja nakas dan melihat sebuah surat, handphone dan kartu kredit. Tanpa banyak kata, tangannya terulur dan memeriksa surat tersebut. Melihat tanda tangan di bawah sana, entah kenapa hatinya puas.


Julia cukup terkejut saat melihat Maxilian bergerak pertama kali. Pria yang seperti patung itu tiba-tiba bergerak dan mengambil sesuatu. Saat tahu bahwa tujuannya adalah sebuah surat yang baru saja dia tandatangani, dia refleks bergerak untuk merebut surat tersebut.


“Berikan padaku!”


Maxilian mengangkat tangannya dan menghalangi Julia untuk mendekat. Tapi karena tempat tidur yang tinggi, itu membuat tubuh Julia terjun begitu cepat dan hampir saja jatuh jika tak tertahan dengan satu tangan Maxilian yang tengah menghalanginya. Mereka saling menatap dengan jarak yang cukup dekat.

__ADS_1


“Aku tak akan menikah dengan pria sepertimu. Tidak, berikan surat itu dan aku akan merobeknya!”


Maxilian melihat kilatan kemarahan di mata Julia. Lalu pada bibir tipis yang lagi-lagi mengeluarkan kata-kata tajam. “Kau sudah menandatanganinya, wanita murahan.” Itu pelan, menusuk dan di tekan. Semua kata-kata yang keluar di bibirnya terasa dingin hingga menusuk tulang.


“Apa kau bilang tadi pria berlemak?” ekspresi Julia berubah ganas saat kata wanita murahan itu terdengar.


“Aku lupa siapa yang telah memanggilku dengan sebutan suami beberapa hari yang lalu. Itu sangat manja dan....menjijikkan!”


“Apa?” Julia menggenggam kedua tangannya tanpa sadar. Dia menatap mata Maxilian yang tajam lalu pada lingkar panda di bawah mata pria tersebut. Wajah yang terlihat dingin dengan ketampanan yang sempurna. Dia


yakin, tuhan pasti membutuhkan beberapa hari untuk menciptakan pahatan wajah seperti ini karena pasti dibuat dengan sangat hati-hati dan penuh dengan cinta sehingga menghasilkan aura dan ketampanan yang sempurna. Tapi kenapa? Kenapa ketampanan di hadapannya ini adalah pria yang membuatnya kesal setengah mati.


“Apa!!” ungkap Julia yang seakan tersadar.


Wah pria di hadapannya ini tidak hanya tampan dan menyebalkan tapi juga sangat percaya diri. Tertawa kecil, Julia menarik tubuhnya sedikit menjauh. Dia menatap Maxilian dengan ujung matanya. “Aku hanya sedang mengukur, seberapa tebal lingkar matamu dan seberapa banyak noda hitam di kulit wajahmu. Tapi kau pikir dirimu tampan? Hahaha biar kuberitahu, kau terlihat sangat memuakkan.”


Maxilian menarik bibirnya ke bawah. “Itu artinya kau menjadi istri seorang pria yang memuakkan.”

__ADS_1


“Istri? Siapa? Aku?” tanya Julia mengejek dengan jari telunjuk mengarah pada dirinya sendiri. “Aku membatalkan pernikahan itu. Sudah kukatakan, aku tak akan pernah menikah dengan pria berlemak sepertimu!”


Ini sudah ketiga kalinya Maxilian mendengar kata ‘pria berlemak’. Dia tiba-tiba berdiri dan menarik satu tangan Julia dengan cukup keras.


“Ah!” teriak Julia terkejut dan menatap Maxilian tak mengerti. “Apa yang kau lakukan!”


Maxilian menahan satu tangan Julia dengan cukup kuat. Satu tangannya membuka kancing kemejanya pelan. Perlahan kancing-kancing kemeja itu terbuka menampilkan perut ratanya dengan otot-otot yang menonjol sempurna.


“Akan kubiarkan matamu memperbaiki diri.” Maxilian menarik tubuh Julia kian dekat hingga membentur tubuhnya. Akhirnya selang infus Julia di tangan terlepas seiring tubuh Julia yang jatuh dalam pelukan Maxilian.


“Apa yang kau lakukan!” Hardik Julia mencoba menarik diri. Tapi pegangan di tangannya itu kian kuat terasa dan membuat kulitnya membiru.


Tak menjawab, Maxilian menarik satu tangan Julia yang lain dan meletakkan di atas perutnya. Memaksa gadis itu untuk meraba otot perutnya yang sempurna. “Perhatikan baik-baik dengan matamu! Dimana letak lemak tubuhku!”


Julia mencoba menarik tangannya namun tangan kekar itu menarik tangannya paksa untuk tetap berada di atas kulit seorang asing baginya. Dia terus memcoba hingga tarikan tangan itu kian kuat dan akhirnya tangannya benar-benar jatuh di atas perut Maxilian.


Maxilian tak bicara, tapi dia menunduk dan melihat Julia yang memalingkan muka. Dia terus menahan tangan Julia dan tangan satunya memaksa tangan Julia untuk menjelajahi tubuhnya. Melihat Julia berusaha mencoba menarik tangan dan tubuhnya, membuatnya menarik lebih kuat tangan Julia hingga akhirnya jarak di antara  mereka benar-benar terkikis.

__ADS_1


Tubuh Julia sekali lagi menabrak tubuh Maxilian. Itu membuatnya menoleh tanpa sadar dan matanya jatuh pada otot-otot perut pria di hadapannya. Sekilas, dia bisa melihat dan merasakan bagaimana perut itu terasa keras namun halus. Membuat wajahnya memerah tanpa sadar dengan perasaan aneh yang campur aduk. Hidungnya bahkan bisa mencium aroma tubuh pria di hadapannya yang sangat lembut. Julia sangat menyukai aroma ini. Aroma yang membuatnya terhanyut.


Julia lupa bahwa saat ini mereka ada di rumah sakit. Dia terlena, hingga tatapannya terkunci pada tubuh Maxilian di hadapannya. Tangannya bahkan mulai bergerak pelan menelusuri setiap otot perut yang terbentuk. Dia tak menyadari, entah berapa lama waktu yang telah berlalu dan kapan tangan Maxilian telah terlepas dari tangannya. Dia hanya tahu, bahwa kini pemandangan di hadapannya sangat... seksi dan sangat menggiurkan hingga jiwa wanitanya terpesona.


__ADS_2