Kehidupan Baru

Kehidupan Baru
Tentang Maxilian


__ADS_3

Hanna menatap Julia lalu menggeleng diiringi dengan senyuman tipis. "Rose diasingkan, dan seluruh keluarga bibiku dihancurkan. Lalu keluarga Lindsey pun memiliki nasib yang sama. Yang lebih mencengangkan, perintah itu diturunkan langsung dari bibir kakekku. Apa kau puas? Maxilian mendapatkan dukungan dari kakek dan kini memegang hampir seluruh aset keluarga Lunox.


Senyum Julia terkembang. Matanya menerawang jauh dan entah kenapa rasa puas mengikutinya. "Yah, aku hanya seorang wanita lemah yang ketakutan, terluka bahkan dianiaya sampai hampir meregang nyawa."


Hanna tersedak seakan mengejek. Dia hampir tak percaya pada semua hal yang Julia lakukan. Jika saja ia tak mengenal baik Julia, maka ia pasti akan tertipu juga dengan semua yang ia katakan.


"kau berharap aku percaya?"


"Apa itu sebuah pujian?"


Hanna menahan tawa. Wanita di hadapannya ini benar-benar licik dan tak akan membiarkan waktu berlalu tanpa keuntungan. "Kau akan mendapatkan hadiah besar dari nenekku sebagai permintaan maaf karena luka di punggungmu. Apa kau puas?"


Julia tersenyum sinis tanpa minat. Ini mungkin bisa disebut bonus atau kompensasi. Namun satu yang sangat ia inginkan. Cina, ya, dia ingin sekali pergi ke cina untuk memperjelas semuanya. Ada dendam yang belum terselesaikan di sana.


"Kau terlihat tak bahagia, bukankah harusnya kau senang?" tanya Hanna hati-hati. Dia berusaha menebak hal apa yang sedang dipikirkan Julia.


"Aku ingin.."


"Seseorang datang." potong Hanna membuat Julia tak melanjutkan kata-katanya.


Dan benar saja, pintu ruangan itu terbuka setelah ketukan beberapa kali. Julia merubah lagi ekspresi wajahnya yang tadinya tenang menjadi malang. Wajah itu kembali muram dan tampak kesakitan. Ia harus menunjukkan tubuh lemahnya yang baru sadar dari tidurnya.


"Ayoyo, cucu menantuku, cucu menantuku yang malang. Kau pasti sangat ketakutan."


Hanna langsung menahan tawanya saat tahu itu adalah Mery dan diiringi Lucas di belakangnya. Ia menyingkir memberikan ruang pada kakek dan neneknya untuk melihat Julia lebih dekat. Melihat Mery yang langsung memeluk haru Julia dengan penuh ketulusan.


"Ayoyo, ayoyo cucu menantuku yang malang."


"Nenek," ujar Julia lemah dengan diiringi senyum lembut pada Mery yang memeluknya.


"Jangan katakan apapun, aku tahu kau pasti sangat ketakutan. Ayoyo, gadisku yang malang."


Pelukan hangat penuh kasih sayang menghantam sanubarinya. Entah sejak kapan ia tak pernah lagi mendapatkan pelukan hangat dan perhatian tulus dari seseorang. Kini Mery memberikan itu. Air matanya meleleh.


"Nenek." panggil Julia lembut dan seketika tangisnya pecah. Ia sesenggukan di pelukan Mery dengan keras.


Melihat itu Lucas berdehem dan makin mendekatkan dirinya. Ia sentuh pelan kaki Julia dan melihat mereka berpelukan. "Kau tenang saja, kakek sudah mengatasi semua. Julia, aku meminta maaf atas nama keluargaku."


Mendengar perkataan Lucas, tangis Julia makin sulit dihentikan. Ia hanya mengangguk pasrah melihat perhatian dan kasih sayang yang ia dapatkan dari ke dua orang tua ini. Situasi haru tersebut terjadi beberapa menit kedepan, hingga Hanna pulang lalu mery dan Lucas yang menggantikan menjaga Julia.

__ADS_1


"Apakah punggungmu masih sakit? Jeni bilang mereka menamparmu berkali-kali dan kau melindungi nyawanya. Meski begitu aku tetap menghukumnya."


"Nenek, aku tak bisa membiarkan Jeni terluka." jawab Julia lembut.


"Itu adalah tugasnya."


"Aku bahkan tak mengingat banyak hal sejak aku tak sadarkan diri." ujar Julia berusaha mengingat. Ia bahkan tak tahu siapa yang membawanya ke rumah sakit.


"Rose menggila, dan Zelin juga di sana. Maxilian datang sedikit terlambat, dan kau hampir kehabisan darah saat ia menemukanmu. Sedangkan Jeni sedikit kewalahan melawan sepuluh orang suruhan Zelin . Rose bahkan hampir menikam jantungmu jika saja Maxilian tak datang waktu itu. Julia, aku tak bisa bayangkan bagaimana takutnya kau saat itu."


Julia melihat bagaimana tangan Mery menyentuh, lalu menggenggam tangannya dengan penuh hati-hati. Ia tersenyum samar lalu menganggukkan kepalanya.


Mery menepuk tangan Julia lembut. "Benar, semua pasti ketakutan jika melihat kematian Lindsey yang mengenaskan. Aku tak menyangka bahwa Rose segila itu untuk menguasai semuanya.


"Nenek, itu..."


"Dia bahkan berani meracuni Lindsey, dan teh itu, apa kau sudah meminumnya? Kudengar dari jeni kau tak menyentuhnya karena kau waspada.


Julia mengangguk lagi.


"Anak baik, kau melakukan hal yang benar. Teh itu sudah Rose beri racun. Jadi akan sangat berbahaya jika kau meminumnya."


Lucas yang tadinya diam kini menyahut. "Itu benar, Maxilian sudah memastikannya."


Wajah Julia makin berbinar. "Nenek, apa yang terjadi pada Rose?"


"Dari awal dia hanyalah orang luar. Jadi ibunya mengeluarkannya dari daftar keluarganya. Dan kini Maxilian sudah menanganinya. Kau tak perlu khawatir, dia akan mendapatkan balasan yang bisa membuatnya jera.


"Maxilian menanganinya? Nenek, jangan terlalu keras padanya. Mungkin saja Rose terlalu mencintai Maxilian."


Mery mendengus. "Lihatlah siapa yang bicara? kau sudah dilukainya tapi kau masih menganggapnya baik. Dia menginginkan Maxilian dari dulu. Tapi aku bisa pastikan kalau lalat kecil sepertinya tak akan bisa terbang hinggap mendekati cucuku."


"Nenek."


"Ayoyo, cucu menantuku yang baik. Kemarilah, biarkan nenek memelukmu."


Lucas tersenyum melihat kedekatan Mery dan Julia. Ia memilih duduk di kursi tamu dan membiarkan keduanya bercerita hangat. Sedangkan Julia mendengarkan dengan tenang cerita mery, bahkan sesekali mereka tertawa bersama, atau mengerutkan kening saat tak mengerti tentang beberapa hal tentang keluarga Lunox ataupun tentang maxilian. Dia hanya bisa terpaku mendengarkan suara Mery yang bersahutan.


"Maxilian, dia sebenarnya bukanlah anak yang nakal. Dia hanya anak korban kekejaman orang tuanya."

__ADS_1


"Kekejaman orang tua?" tanya Julia memastikan.


Mery mengangguk. Ia mendesah dalam pada ingatan lama yang ia simpan. "DIa besar jauh dari jangkauanku. Dia pergi ke cina bersama ayah dan ibunya. Dan aku tak tahu bahwa ia mengalami kesulitan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak. Dan hal itu membuat putriku, ibu maxilian terguncang dan hampir gila."


Mata Julia terbelalak mendengar kenyataan itu. Memiliki anak? Apakah artinya anak itu adalah Aaron? Mereka benar-benar bersaudara?


"Setiap hari putriku pulang dalam keadaan mabuk lalu memukuli Lian kecilku. Anak nakal itu tak pernah memberontak sekalipun tubuhnya penuh luka. Dia hanya diam dan membiarkan tubuhnya menjadi pelampiasan ibunya. Dia hanya merintih meredam rasa sakit dalam diam. Dia, hatinya, terlalu terluka dan kecewa."


Mery menangis dan menunduk. Membuat Julia meraih tangan Mery dan menggenggamnya lembut.


"Nenek, mungkin saat itu Lian tak memiliki pilihan lain."


Mery mengangguk. "Kau benar. Ia benci ditinggalkan. DIa telah ditinggalkan ayahnya, itu kenapa dia tak akan pergi meski ibunya memukulinya. Tak peduli apapun dia mencoba bertahan dalam keadaan sulit yang panjang. Namun pada akhirnya dia tetap ditinggalkan ibunya dalam kematian."


Julia tertegun. Kenyataan ini meremas ujung hatinya. Dia tak bisa membayangkan sesulit apa keadaan maxilian saat itu. Tapi sekarang ia makin memahami kenapa Maxilian selalu dingin dan kejam. Pria itu mencoba melindungi hatinya agar tak kembali terluka.


"Nenek, dia tumbuh dengan baik. Dia telah menjadi orang hebat karena ia memiliki orang hebat sepertimu."


Mery kian menangis. "Anak nakal itu sulit diatur dan lebih menyukai kesendirian. Tapi aku tahu hatinya sangat kesepian. Dia hanya terbiasa tinggal sendiri hingga menjadi pribadi yang tertutup. Dia juga sangat keras kepala."


Julia tersenyum. Tanpa sadar ia pun ikut menangis. Menghapus air matanya, ia menatap wajah cantik Mery.


"Aku tak bisa memafkan diriku sendiri saat aku tahu dia hidup kesepian. Dipukuli setiap hari dan mencari nafkah sendirian. Cucuku, kesayanganku, hatinya terluka sangat dalam. Dia tak pernah mengeluh sekali pun, namun itu yang menambah lukaku. Aku ingin mendengar keluhannya sekali saja. Aku ingin dia bercerita tentang rasa sakitnya, tentang luka di tubuhnya dan sulitnya ia bekerja. Aku juga ingin mendengar bagaimana ia merindukan ayah dan ibunya. Tapi dia hanya diam, menanggung dan memendamnya sendiri. Anak nakal itu, aku ini adalah neneknya, kenapa dia tak bercerita padaku."


Dan kini tangis Julia ikut pecah. Dia tak tahu bahwa maxilian merasakan sakit sedemikian rupa. Dia tak tahu seburuk itu keadaan Maxilian. Dia tak tahu pria masa lalunya adalah orang yang sangat Maxilian benci.


"Julia, berjanjilah padaku." pinta Mery tiba-tiba. Dia meraih dua tangan Julia dengan tatapan memohon.


"Nenek, apa yang kau lakukan,"


"Berjanjilah bahwa kau tak akan meninggalkan Lian. Berjanjilah kau akan selalu berada di sampingnya dan menjaga hatinya. Aku bisa melihat kekhawatiran di matanya saat melihatmu terluka. Hatinya telah menerima dirimu, jadi aku tak bisa membiarkan dirinya kesepian lagi. Aku tak bisa."


"Nenek, aku..."


"Julia, kau harus berjanji padaku untuk menjaganya."


Pada akhirnya Julia menganggukkan kepalanya. "Aku akan berusaha."


Mery tersenyum dalam tangisnya. "Anak baik. Sekarang aku bisa tenang."

__ADS_1


Dalam pelukan hangat Mery, Julia masih membeku. Dia masih tak percaya dengan kenyataan yang baru ia dengar. Aaron dan maxilian adalah saudara. Apakah Maxilian akan menjadi penghalang untuknya balas dendam? Dan ayahnya. Apakah ayah Aaron yang juga ayah Maxilian akan ikut menghalanginya? Julia makin berpikir.


__ADS_2