
Tertegun, Carlen bahkan terduduk lemas. Ini adalah kejutan tak terduga. Di masa seperti ini, seorang gadis normal yang telah menikah dengan Maxilian tak menyebut nama Maxilian saat rasa sakit menyerang. Seberapa tampan Maxilian, dia tahu. Ada banyak gadis rela berlutut hanya untuk menikah dengan seorang Maxilian meski mereka semua tahu bahwa Maxilian adalah orang yang dingin dan kejam.
Tapi gadis ini, Julia Brasco, sama sekali tak pernah menyebut nama sepupunya walau hanya sekali. Lalu apakah yang dikatakan gadis ini benar adanya? Bahwa hubungan antara gadis ini dan sepupunya tak seperti yang ia pikirkan. Bukankah semua ini sudah menjelaskan semuanya, bahwa gadis ini mencintai pria bernama Aaron bukan sepupunya.
Carlen sangat lemas saat tahu rahasia kecil yang baru saja ia dapatkan. Sebenarnya ada seorang gadis yang tak mencintai seorang Maxilian meski kini ia telah menjadi istrinya. Kini matanya benar-benar terbuka, dia melihat Julia lebih jelas. Mendekat, dan langsung menggendong tubuh Julia di depan tubuhnya. Dia tak bisa membiarkan gadis ini mati begitu saja. Saat Julia menyebut nama pria itu di sela rasa sakitnya, dia tahu rasanya. Dia sangat tahu rasa sakit yang Julia rasakan, juga tahu rasa sakit yang Maxilian dapatkan.
Langkah Maxilian sangat lebar memasuki rumah mewah yang tampak sunyi. Dia membuka pintu rumah dengan kasar dan menelisik setiap sudut ruangan. Hal pertama yang dia temukan adalah janet. Gadis itu tampak tak sadarkan diri tergeletak di lantai. Matanya melebar sekali lagi dan hal kedua yang ia temukan adalah sepatu Julia yang tampak masih berkilau meski talinya telah terputus.
Dia berjalan, mendekati sepatu itu dan mengambilnya. Sepatu ini ada disini tapi dia tak melihat keberadaan Julia. Menggenggam erat sepatu itu di tangannya, dia menoleh saat mendengar Janet mengerang pelan.
Janet baru sadar dan merasakan punggung bagian belakangnya terasa sakit hingga membuat kepalanya pusing. Terduduk dia memijit kepala melalui sela rambut panjangnya yang tampak kusut. Dia tak menatap sekitar, namun suara asing yang dingin itu cukup membuat tubuhnya membeku.
"Di mana Julia?"
Janet mendongak, menatap pria tinggi yang terlihat sangat tampan dengan tangan memegang sepatu yang talinya telah terputus. Menyipitkan matanya dia mengingat bahwa pria ini adalah pria yang sama yang telah dicium dan dipeluk oleh Julia saat berada di atomic bar. Kenapa pria itu mencari Julia?
"Aku tak tahu," jawab Janet sambil mendengus kesal.
Namun tangan Maxilian bergerak sangat cepat mencengkeram rahang Janet keras. "Itu dirimu! kau yang membuat Julia lari ke sini! Jadi dimana Julia?"
Janet mencoba melepaskan cengkeraman di rahangnya yang makin lama makin menyakitkan. "Aku tidak tahu. Atau mungkin saja dia sudah mati."
Cengkeraman itu kian kuat. Maxilian menatap Janet tanpa berkedip. Bibirnya terkatup rapat namun kekuatan cengkeramannya kian bertambah.
"Lep--pass," ujar Janet kesakitan.
"Kau yang menyakitinya saat rapat pemegang saham bukan?" tanya Maxilian dingin. Tangannya menghempaskan Janet kuat hingga Janet tersungkur.
Janet bangun dengan tangan memegang rahangnya pelan. Menatap Maxilian dengan penuh kebencian. "Itu hanya luka goresan yang tak berbekas. Tapi dia menuntut keluargaku seakan aku telah membunuhnya."
"Jadi itu benar? Kau melukainya dan sekarang mencoba membunuhnya? Keluarga Khiel, mulai saat ini tidak akan pernah ada di dunia."
Mata Janet terbelalak, "Apa maksudmu?" tanya nya memburu.
Namun Maxilian hanya melangkah dengan menghubungi seseorang. "Tomas,, keluarga Khiel, mereka tak ingin hidup di dunia ini."
Janet berdiri, dan meraih tangan Maxilian dari belakang. "Apa yang kau bicarakan!"
Brakk!
Itu sangat cepat, Maxilian menghempaskan tangan Janet keras saat Janet menarik lengan bajunya. Membuat Janet terhempas dan menabrak sofa.
__ADS_1
"Jangan menyentuhku!"
Tatapan penuh peringatan dan jijik membuat Janet tertegun. Dia tak berani bergerak meski merasakan sakit di tubuhnya karena terbentur sofa. Pria ini memperlakukannya dengan sangat kasar. Namun mata itu terus menghujam dingin padanya sampai dia meringkuk ketakutan.
Suara derap langkah kaki yang memburu membuat Maxilian menoleh. Jeni masuk dan terlihat sangat terburu-buru.
"Tuan muda, ini buruk."
Maxilian tak menjawab selain menunggu laporan selanjutnya.
"Nona Julia dibawa kerumah sakit oleh tuan Carlen. Itu rumah sakit di bagian pinggiran kota. Saya telah mengirimkan titik lokasinya."
Maxilian tak berekspresi. Dia hanya melangkah keluar dan dengan sangat cepat mobil Maxilian melaju cukup kencang. Sedangkan Jeni menatap Janet dengan teliti.
"Kau, apa kau mengenal nona Julia?"
Janet mendongak lalu mengangguk. "Aku sepupunya."
Sudut mulut Jeni tertarik pelan. "Nona, lewat sini, aku akan mengantarmu pulang."
Janet berdiri, dia mengikuti Jeni tanpa banyak bicara. Namun dia cukup waspada mengingat Jeni adalah orang yang mencari keberadaan Julia. Namun siapa yang menyangka bahwa Jeni akan membawanya ke sebuah rumah mewah yang sangat sunyi.
Janet menatap rumah mewah di depannya dengan senyum tipis. "Bisa aku bertanya sesuatu?"
Jeni tak menjawab dan hanya menoleh menatap Janet. Membuat Janet langsung menyuarakan pertanyaannya.
"Pria tadi, mengapa mencari sepupuku?"
Jeni mengerutkan keningnya dan merasa aneh. Namun kemudian dia mulai menyadari sesuatu dan bibirnya kian tersenyum tipis. "Apakah nona Julia tidak memberitahu sesuatu? Bahwa nona Julia telah menikah dengan keluarga Lunox?"
"Itu aku tahu."
"Pria yang nona maksud adalah tuan muda Maxilian Jade Lunox. Suami dari sepupu anda, Julia Brasco."
Janet langsung menoleh dan menatap Jeni tak yakin. "Dia pemegang utama bisnis keluarga Lunox?"
Jeni mengangguk. "Nona bisa menunggu nona mudaku di rumah ini. Pastikan nona hanya tinggal didalam rumah dan jangan pernah mencoba untuk keluar kemanapun."
Janet hanya mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Dia masuk ke dalam rumah, dan Jeni menutup pintunya sebelum pergi. Senyumnya terkembang sangat lebar. Dia menatap pintu rumah itu sekali lagi dan merasa geli.
"Dasar bodoh," makinya pelan, "Sebentar lagi kau akan hidup penuh ketakutan."
__ADS_1
**
Julia baru saja turun dari mobil Carlen. Tubuhnya sangat lemah dan menggigil kedinginan. Bibirnya terkatup rapat dengan wajah merah yang terus berkeringat. Sesekali batuk ringan terdengar diiringi darah yang terus mencoba keluar.
Carlen terlihat sangat khawatir. Wajahnya pucat dan mulai ketakutan. Tak peduli pada tatapan semua orang yang sedang melihatnya bertelanjang dada. Saat ini kondisi Julia lebih penting. Hingga dia berteriak dan terus meminta agar dokter melakukan segala hal yang terbaik.
Beberapa perawat datang dengan seorang dokter muda yang langsung menangani kondisi Julia. Hal utama yang bisa dilakukan Carlen hanyalah menunggu di luar pintu saat para perawat dan dokter itu membawa tubuh Julia masuk ke dalam ruang icu.
Langkah lebar kaki lainnya terlihat memasuki lorong rumah sakit. Maxilian menatap lurus dengan dingin saat tahu bahwa mobil Carlen benar-benar terparkir di rumah sakit itu. Perasaannya mulai memburuk sejak tahu bahwa Julia benar-benar ada di rumah sakit ini.
Derap langkah kaki yang lebar namun ringan itu membuat Carlen menoleh tanpa sadar. Dia tertegun saat melihat Maxilian melangkah menuju ke arahnya tanpa ekspresi yang jelas. Tubuhnya perlahan mundur, saat jarak di antara mereka mulai dekat. Namun pertanyaan Maxilian ternyata jauh lebih cepat hingga Carlen tak dapat menghindar.
"Apa yang kau lakukan pada istriku?" tanya Maxilian dingin dan menatap tajam pada Carlen. Dia jelas melihat Carlen tak mengenakan pakaian dan ada noda darah di sebagian wajah dan tubuhnya. Entah kenapa kali ini perasaannya memburuk. Dia menatap pintu icu yang tertutup lalu kembali pada Carlen.
"Carlen, kau memberikanku alasan untuk bisa menghancurkanmu terang terangan!"
carlen tak bersuara. Sorot matanya menajam dan sama sekali tak takut pada ancaman Maxilian. Dia baru saja akan bicara sebelum pintu ruangan icu terbuka, membuat Maxilian dan Carlen menoleh bersamaan.
"Keluarga pasien?" tanya sang dokter muda dengan tatapan saat melihat Maxilian ada di luar ruangan tersebut. "Tuan Lunox, apa yang anda lakukan di sini?" tanyanya heran melihat Maxilian yang menatap Carlen penuh peringatan.
"Aku suaminya."
"Apa?" ungkap dokter itu terkejut. Matanya beralih ke Carlen dengan diam.
"Aku akan membuat perhitungan nanti jika satu jengkal saja kau menyakiti istriku! Jangan harap akan ada yang menolongmu!"
Carlen diam mendengar peringatan Maxilian. Begitupun dokter itu. Maxilian melangkah masuk ke dalam ruangan. Kini hanya Carlen yang duduk menunggu di luar. Diam dan meremas rambutnya sendiri dengan kasar.
Erangan pelan itu terdengar samar. Beberapa alat perawatan telah terpasang. Saat ini Julia tampak sedikit tenang meski dahinya masih mengernyit menandakan rasa sakit yang masih terasa. Noda darahnya pun telah dibersihkan.
Maxilian membeku, dia menatap Julia yang terlihat sangat lemah. Satu kepalan tangannya mengerat, beberapa kabut emosi pun terlintas di matanya.
"Apa yang terjadi pada istriku?"
Dua orang perawat yang berada di dalam sebelumnya keluar setelah dokter mengisyaratkan dengan matanya. Selanjutnya dia menoleh pada Maxilian.
"Dia istrimu?"
Maxilian tak menoleh, "Jack, saat ini kau hanya berprofesi sebagai dokter istriku. Bukan sebagai temanku!"
Jack terhenyak, dia lupa kapan terakhir mereka bertemu. Tapi dia yakin, dia tak pernah melihat Maxilian semarah ini. "Istrimu, keadaannya sangat buruk. Dia di racun."
__ADS_1